The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 23 Photo Pre-Wedding



Langit yang cerah dengan matahari yang sedikit bersembunyi di balik awan putih dengan angin yang bertiup begitu sejuk, seolah mendukung sesi photo pre-wedding Sall dan Sanchia di taman belakang mansion siang ini. Tapi cerahnya langit, terkalahkan oleh senyum Sall yang tidak berhenti terpancar dari wajahnya yang diliputi kebahagiaan.


Setiap pose yang diarahkan sang Photographer, begitu dinikmati Sall yang betah berlama-lama memandangi sang calon istri yang begitu cantik saat mengenakan beberapa gaun yang disediakan desainer, sesuai konsep yang diminta oleh Tim Wedding Organizer.


Di sela-sela pemotretan, Sanchia mengerutkan keningnya karena Sall yang justru memandanginya, saat photographer meminta mereka sama-sama melihat ke arah kamera.


"Honey, photographernya meminta kita melihat ke arah kamera."


"Oh..Oke Babe.."


Sall lalu melihat ke arah kamera, sama seperti yang dilakukan Sanchia. Pose yang dilakukan Sall dan Sanchia begitu memukau photographer dan Tim WO yang ikut mengatur sesi pemotretan ini.



Tapi baru beberapa photo yang diambil, Sall sudah kembali memandangi Sanchia, seolah Sanchia adalah objek yang lebih menarik untuk dia pandangi. Tingkah Sall ini sempat membuat sang photographer menghela nafasnya karena sedikit kesal, tapi ekspresi penuh cinta yang ditunjukkan Sall justru terlihat alami dan mengagumkan bagi sang photographer, juga bagi siapapun yang melihatnya.


Sesi pengambilan photo pre-wedding hanya menghabiskan waktu 3 jam saja, karena Sall dan Sanchia hanya menggunakan 4 dresscode saja, termasuk 2 baju pengantin yang akan mereka gunakan saat hari pernikahan nanti. Sall dan Sanchia tidak ingin repot jika harus berkali-kali berganti pakaian, karena itulah mereka hanya meminta 1 pakaian untuk akad nikah dan 1 lagi untuk resepsi di hari yang sama.


Tim WO baru pulang setelah melakukan final meeting dengan kedua calon mempelai tentang acara pernikahan nanti. Memastikan semuanya berjalan lancar sesuai konsep yang diinginkan oleh Sall dan Sanchia, sebuah pernikahan sederhana, namun elegant dan hangat.


Hari sudah menjelang petang, dengan langit yang mulai menggelap. Selesai membersihkan diri, Sall dan Sanchia menyandarkan tubuhnya masing-masing di sofa ruang keluarga di lantai 2.


"Capek sekali ya Honey, kenapa berphoto saja begitu menguras tenaga."


Sall lebih mendekatkan dirinya pada Sanchia yang terlihat begitu kelelahan. Perlahan Sall memijat lengan dan juga bahu Sanchia, sampai Sanchia memejamkan matanya karena merasa nyaman dengan pijatan Sall.


"Sekarang sudah enakan?"


Sanchia membuka matanya dan tersenyum manis ke arah Sall yang juga mengulas senyum di wajah tampannya.


"Iya, enak Honey.. Terima kasih ya. Gantian ya, sekarang biar aku yang memijatmu."


"Tidak Babe, aku tidak lelah kok."


Senyum dan sikap Sall yang lembut, membuat Sanchia meleleh dan begitu bahagia memiliki calon suami sebaik Sall. Hati Sanchia menghangat dipenuhi rasa bahagia juga rasa syukur, karena sesungguhnya menikah dengan Sall yang dulu begitu diidolakannya, tidaklah pernah dibayangkannya. Meskipun kebersamaan mereka dimulai dengan skenario Tuhan yang sama sekali tidak Sanchia duga.


"Honey, karena kamu sudah memijatku, aku akan memasak makan malam untukmu. Kamu mau makan apa Honey?"


"Benarkah? Kalau begitu aku ingin dibuatkan makanan Korea Babe.. Bisakah?"


"Tentu saja bisa Honey. Baiklah, nanti aku akan memasakannya untukmu."


Sall mengelus pelan pipi Sanchia seraya menatapnya dengan pandangan penuh cinta yang selalu membuat Sanchia seakan melayang dan berbunga-bunga.


"Terima kasih ya Babe."


"Sama-sama Honey."


************************


Di meja makan terhidang berbagai makanan khas Korea yang sengaja Sanchia masak atas permintaan Sall. Tentu saja masakan itu bukan hanya untuk Sall, tapi untuk semua anggota keluarganya juga.


Tatapan kagum tidak hanya ditunjukan Sall, saat melihat berbagai jenis masakan Korea yang menggugah selera. Melainkan juga dari Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva, Kevin dan juga Alrico yang memandangi semua masakan Sanchia satu persatu.


"Sayang, ini semua, kamu yang masak?"


Ekspresi malu yang ditunjukkan Sanchia, memancing senyuman nakal Nieva dan Kevin yang saling berpandangan penuh arti.


"Jadi ceritanya, Kakak sedang belajar menjadi istri yang baik buat Kak Sall ya?"


"Ih apa sih kamu Nieva."


Wajah Sanchia memerah menahan malu, karena perkataan Nieva. Namun Sall justru merasa senang  dengan ekspresi Sanchia yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Berbeda dengan Sall, Alrico terlihat tidak rela melihat ekspresi Sanchia, karena Alrico begitu membenci laki-laki yang membuat Sanchia bersikap malu-malu seperti itu.


'Chia.. Aku tidak suka melihatmu bersikap malu-malu di depan laki-laki itu. Karena aku tidak suka, jika kamu menunjukkan sisi manismu pada laki-laki lain.' Kesal Alrico dalam hati.


"Wah Sall, Sanchia nampaknya begitu bersemangat menunjukkan semua kemampuannya untuk membuatmu terkesan."


Lemparan gulungan tisue mendarat tepat di kepala Kevin, disertai tatapan tajam dari Sanchia. Namun Kevin bukannya takut, tapi dia malah menjulurkan lidahnya seolah meledek sang kakak ipar yang mulai kesal dengan kelakuannya.


Suasana penuh canda berlanjut selama makan malam. Tentu saja kali ini Sanchia-lah yang lebih banyak menjadi objek ledekan. Seolah Kevin dan Nieva sedang membalas dendam untuk membuat Sanchia mati kutu di depan calon suaminya. Tapi Sall justru menyukai candaan-candaan Nieva dan Kevin terhadap Sanchia, karena Sanchia terlihat lebih  manja dan menggemaskan.


"Waw.. Semua masakanmu enak sekali Babe.. Bulgogi, kimbap dan bibimbap-nya bahkan lebih enak dari semua yang pernah aku makan. Jjamppong-nya juga mantap sekali Babe.."


Sanchia tersipu malu mendengar pujian Sall padanya, hal ini semakin membuat Kevin dan Nieva lebih gencar menggoda Sanchia. Mereka sebetulnya heran melihat sikap Sanchia yang begitu berbeda di depan Sall. Tidak ada lagi Sanchia yang tegas, ketus atau galak. Mereka justru dibuat terkejut dengan perubahan sikap Sanchia saat ini, yang menjadi lebih manja, pemalu dan manis.


Semua orang terlihat bahagia, kecuali Alrico yang sejak awal hanya diam, berusaha terlihat biasa saja. Meskipun hatinya mati-matian menutupi perasaan cemburu dan marah karena kejadian tadi pagi. Alrico masih merasa kecewa terhadap Sanchia, meskipun lebih merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, yang tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Sanchia. Apalagi ternyata Sanchia sudah mengetahui perasaannya, entah drai mana.


Alrico meletakkan sumpitnya dengan perlahan, lalu pamit untuk kembali ke kamar lebih dulu.


"Saya duluan ke kamar ya. Terima kasih Sanchia, makan malamnya samgat enak."


"Iya, sama-sama Al.."


Senyum Sanchia yang biasanya membuat hati Alrico berbunga-bunga, kini justru seakan meremas jantungnya begitu keras. Alrico segera pergi menuju kamarnya dengan dada yang bergemuruh menahan marah dan kecewa, tekadnya untuk membatalkan pernikahan Sanchia dan Sall begitu kuat, karena perasaannya terhadap Sanchia pun tidak luntur sedikitpun.


'Aku harus bisa menemukan kelemahan laki-laki itu, karena aku tidak mau kehilangan Sanchia lagi. Aku harus membatalkan pernikahan mereka, aku tidak rela Sanchia menjadi milik orang lain. Karena dia adalah cinta pertama dan cinta sejatiku.' Batin Alrico.


************************


Image Source : Instagram Toni Mahfud & Im Jin Ah (Edited)


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


(IG : @zasnovia #staronadarknight)