The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 12 Maafkan Aku..



Udara pagi dan semilir angin yang sejuk,  menemani langkah Sanchia menyusuri taman bunga di belakang mansion milik Sall. Sanchia sesekali melirik ke arah pintu belakang mansion, berharap sosok kekasihnya muncul dan menemaninya berjalan-jalan pagi ini. Tapi ternyata, yang ditunggu tidak juga muncul, sehingga Sanchia memilih masuk ke dalam mansion dan mencari Sall langsung ke kamarnya.


Sanchia mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Sall beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. Lalu Sanchia memegang pegangan pintu kamar Sall dan mencoba membukanya perlahan, namun ternyata kamar Sall juga terkunci dari dalam.


'Apa Sall tidak ada di kamarnya ya?' Tanya Sanchia dalam hati.


Sanchia masuk ke dalam kamarnya, dan berjalan menuju ruangan Walk in Closet dengan terburu-buru. Bukan untuk berganti baju, tapi rasa khawatirnya akan keadaan Sall, membuatnya memberanikan diri membuka pintu rahasia yang menghubungkan kamarnya dan kamar Sall.


Ruangan Walk in Closet milik Sall adalah pemandangan pertama yang dilihat Sanchia begitu membuka pintu rahasia itu. Sanchia melanjutkan langkahnya dengan perlahan menuju kamar Sall yang terletak di sebelah kiri ruangan Walk in Closet. Alangkah terkejutnya Sanchia, saat menemukan Sall yang terkulai  tidak sadarkan diri, dengan posisi meringkuk di atas permadani kamar, ditemani beberapa botol wine yang isinya sudah habis tidak bersisa.


"Apa-apaan kamu Sall?"


Sall yang perlahan membuka matanya, seketika terkejut saat pandangan matanya mulai fokus menangkap sosok Sanchia yang duduk tepat di hadapannya.


"Babe.. Apa yang kamu lakukan disini?"


"Harusnya aku yang bertanya sama kamu Sall. Apa sebenarnya yang kamu lakukan?"


Sall berusaha menegakan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya pada bagian samping tempat tidur.



"Kamu minum-minum? Kenapa? Aku tidak suka Sall."


Tangan Sall terulur dan menggenggam tangan Sanchia dengan erat, seraya menatap sendu wajah Sanchia yang terlihat begitu kesal.


"Maaf Babe.. Aku sudah mengecewakanmu."


Rasa terkejut sedikit tergambar dari raut wajah Sanchia, setelah mendengar perkataan Sall, namun rasa kesal belum sepenuhnya pergi dari hati Sanchia.


"Kenapa harus seperti ini? Apa kamu memikirkan apa yang kita bicarakan tadi malam?"


Sall mengalihkan pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan mata Sanchia yang begitu mengintimidasi.


"Jawab aku Sall..!!"


Lidah Sall kelu, pikirannya begitu kalut, tapi sesungguhnya dia tidak ingin menunjukannya di hadapan Sanchia.


"Honey.. Jawab aku!"


Seketika pandangan Sall beralih memandang wajah Sanchia dengan air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Panggilan sayang yang pertama kali didengar Sall dari mulut Sanchia, begitu membuat perasaan Sall bahagia.


"Maafkan aku Babe.. Aku terlalu takut kehilanganmu."


Terbayang lagi pembicaraan tadi malam yang sukses membuat Sall galau semalaman.


************************


FLASHBACK ON


Sall terkejut saat mendengar perkataan Sanchia yang memintanya agar menemui Papa Sanchia untuk meminta restu. Sall menundukan kepalanya seraya memijit-mijit keningnya.


"Tidak bisa Sall, yang bisa menikahkan aku, hanyalah Papaku. Kalau bukan Papa yang menikahkan, aku takutnya tidak sah."


"Babe, tolong jawab pertanyaanku!"


Anggukan kepala dari Sanchia, tetap tidak menghapus ragu dalam hatinya. Pikirannya justru semakin khawatir dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Sanchia beberapa saat lagi.


"Apa kamu benar-benar mencintaiku dan mau menikah denganku?"


"Iya Sall, aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu."


Jawaban dari Sanchia yang ingin di dengarnya, ternyata tidak cukup untuk menghilangkan rasa khawatir di hatinya yang mulai dilingkupi rasa sesak.


"Babe.. tapi aku tidak mungkin membawamu kembali pada keluargamu."


"Kenapa tidak Sall?"


"Babe, apa mungkin Papamu bisa merestui anaknya untuk menikah dengan penculik Putrinya, yang sudah membuat Putrinya seolah-olah sudah meninggal? Dan jangan lupakan fakta, bahwa akulah Ketua Mafia yang membantu Bernardo menyerang keluargamu saat pernikahan adikmu, juga menyerang keluarga Satya sebelumnya. Pasti Papamu sangat membenciku dan tidak akan memaafkanku."


Perkataan Sall yang diakhiri dengan begitu lirih, menyadarkan Sanchia secara paksa dari mimpi indahnya. Pikirannya seketika kalut, karena Sanchia sangat yakin, kalau Papanya tidak akan merestui pernikahannya dengan Sall. Sanchia *******-***** jarinya, berusaha menenangkan hatinya yang berubah khawatir dan cemas.


'Kenapa aku melupakan fakta-fakta ini? Apa cinta sudah membuatku buta? Apa sebaiknya aku mengurungkan niatku untuk menikah dengan Sall? Tapi aku sudah benar-benar mencintai Sall saat ini.' Batin Sanchia.


Sall kembali mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sanchia dengan erat.


"Babe..Aku tidak takut menemui Papamu dan meminta restunya, tapi aku yakin Papamu akan menentang hubungan kita. Aku takut Papamu melarang kita bertemu lagi, aku benar-benar tidak bisa jauh dari kamu, Babe.."


Pipi Sanchia kini sudah basah karena air mata yang menerobos kelopak matanya, Sall yang tidak tega melihat kekasihnya menangis, mulai mendekat dan merengkuh tubuh Sanchia masuk ke dalam pelukannya.


FLASHBACK OFF


************************


"Honey.. Kita temui Papa, Mama dan Adikku. Kita akan meminta restu mereka. Datanglah sebagai Sall Sherwyn Knight, seorang Arsitek dan Pengusaha Sukses dari Inggris. Aku akan mengatakan pada mereka, kalau aku berhasil melarikan diri saat diculik, dan bertemu kamu yang akhirnya menyelamatkan aku."


Tatapan Sall semakin sendu, sama sekali tidak ada rasa lega saat mendengar rencana Sanchia. Justru rasa bersalah yang kini menyelimuti semua celah hatinya.


"Maafkan aku Babe.."


Sall tertunduk lemas, berusaha menahan air mata yang sudah siap meluncur dari kelopak matanya. Tapi Sanchia memeluk tubuh Sall dengan sangat erat, seraya mengelus punggung Sall dan menenangkan kekasih hatinya itu.


"Tenanglah Honey, kita akan menghadapi semuanya. Aku yakin kita bisa melakukannya."


"Terima kasih Babe.."


Sall membenamkan wajahnya di ceruk leher, seraya memeluk Sanchia lebih erat dari sebelumnya.


*************************