
MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA
Semalaman Sall memeluk guling hidupnya dengan begitu posesif, namun hal itu tidak membuat Sanchia risih, tapi justru Sanchia merasa sangat nyaman dalam dekapan tubuh Sall yang hangat. Sall sesungguhnya merasakan sesak di dadanya sejak melihat perban putih di leher Sanchia, tapi Sall berusaha untuk tidak membahas luka Sanchia saat ini. Sall memilih memberi Sanchia pelukan menenangkan, yang juga begitu dibutuhkannya untuk melepas rindu pada sang istri yang tidak bertemu selama beberapa hari ini.
Menjelang adzan subuh, Sanchia perlahan melepas tangan kekar Sall yang melingkar di pinggang dan perutnya, lalu beranjak menuruni tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah menyiapkan air hangat di dalam bath tube yang dicampur dengan bubble bath dan menyalakan lilin aromatherapy dengan wangi menenangkan, Sanchia menatap pantulan dirinya di cermin seraya membuka balutan luka di lehernya dengan sangat hati-hati. Sanchia menghela nafas panjang, saat matanya menangkap luka memanjang yang terlihat masih merah karena darah yang mengering. Tiba tiba Sall yang entah sejak kapan masuk ke dalam kamar mandi yang memang tidak Sanchia kunci itu, kini melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sanchia, dengan tatapan mata yang fokus memandang luka di leher Sanchia dari pantulan cermin.
“Pasti masih sakit ya Sweetheart?”
“Hanya sedikit, beberapa hari juga hilang sakitnya.”
“Tenang saja, aku akan meminta Dokter Anna untuk menghilangkan bekas lukamu nanti.”
“Bukankah Dokter Anna sedang berada di Paris? Jangan menyuruhnya datang hanya untuk mengobati bekas lukaku. Vara bilang di Bandung juga ada Dokter spesialis kenalannya, yang bisa menghilangkan bekas luka dengan cepat.”
“Baiklah, nanti buatlah janji dengan dokter itu. Sekarang aku bantu kamu mandi ya, Sweetheart.”
Sanchia menolehkan kepalanya ke samping, seraya memicingkan kedua matanya ke arah wajah Sall yang terlihat datar.
“Membantu aku mandi atau mengganggu aku mandi?”
Sall terkekeh geli, karena Sanchia yang sudah bisa menangkap gelagat mencurigakan dan niat Sall untuk membuat acara mandi sanchia lebih berwarna.
“Sudah keluar sana!”
Tubuh besar Sall yang didorong Sanchia sekuat tenaga, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Sall hanya tersenyum jahil menanggapi usaha Sanchia yang begitu keras mengusirnya. Tiba-tiba Sall menggendong Sanchia menuju shower box yang terletak di sudut kamar mandi, tidak peduli Sanchia meronta minta diturunkan.
*************************
Selepas sarapan pagi, Sanchia mengajak Sall untuk bersantai bersama Shawn di taman belakang mansion. Shawn terlihat senang berada dalam stroller-nya, ditemani kedua orangtuanya yang sesekali mengobrol ringan tentang kegiatan Sall saat berada di Inggris dalam beberapa hari kemarin. Sebenarnya Sanchia sedang berusaha mengulur waktu bahkan menggagalkan rencana Sall untuk turun ke ruang bawah tanah, dimana ketiga pria yang melukainya dan hampir menculik Shawn berada.
Sanchia sudah tahu apa yang akan terjadi, jika Sall sampai bertemu dengan ketiga penjahat itu. Dapat dipastikan kalau hari ini akan menjadi hari terakhir mereka melihat dunia, dan Sanchia tidak mau Sall kembali mengotori tangannya dengan menghilangkan nyawa orang lain.
Sall menatap netra Sanchia dengan tatapan tajam berkilat, yang seketika membuat Sanchia merasa sedikit takut dan terintimidasi.
“Aku tahu maksudmu, Sweetheart. Apapun yang kamu lakukan, tidak akan bisa menghentikanku untuk membunuh mereka bertiga. Aku sudah bilang pada Leroy, untuk menyiapkan beberapa alat untukku bermain pagi ini. Jangan sekali-kali menghalangiku untuk membalas orang-orang yang sudah menyakitimu dan keluarga kita. Karena aku tidak akan pernah mengampuni mereka.”
“Aku hanya minta kamu untuk tidak membunuh mereka. Aku tidak ingin kamu mengotori tanganmu lagi, dengan menghilangkan nyawa orang lain.”
Sall menghela nafasnya seraya menyugar rambutnya dengan kasar. Pandangannya semakin tajam, tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
"Tidak untuk kali ini Sweetheart. Setelah menikah denganmu, aku banyak berubah. Aku bahkan bisa mengendalikan diriku untuk tidak membunuh Alrico dan Shuga, hanya karena takut membuatmu merasa bersalah & sedih. Padahal aku begitu ingin melubangi kepala dan seluruh tubuh mereka dengan peluru, itu jelas bukan diriku. Saat ini aku tidak akan mengusik Nick, tapi untuk ketiga orang yang melukaimu, aku pastikan dia akan bernasib sama seperti Javier."
"Cukup berikan mereka hukuman, namun jangan sampai membunuh mereka. Mungkin mereka memiliki keluarga yang menunggu mereka di rumah."
"Sweetheart..Mereka adalah anggota sindikat penculik dan perdagangan anak. Apa kamu tidak berpikir, mereka bahkan tidak peduli, ada banyak keluarga yang menderita karena kehilangan anak-anak yang tega mereka culik dan jual."
Kemarahan Sall membuat Sanchia bergeming, pikirannya membenarkan serangkaian kalimat yang keluar dari mulut Sall, namun hatinya tetap tidak mengizinkan Sall untuk menghilangkan nyawa mereka.
"Tolong jangan bunuh mereka, aku tidak ingin ada karma buruk menimpa anak-anak kita karena menghilangkan nyawa orang lain. Aku mohon Honey, demi anak-anak kita."
Sall mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras karena menahan emosinya yang sudah naik ke ubun-ubun. Sesaat kemudian, Sall memilih pergi meninggalkan Sanchia, karena begitu kesal dengan sikap istrinya yang begitu pantang menyerah untuk membuatnya berubah pikiran.
10 menit kemudian, Sall sudah tiba di ruang bawah tanah tempat ketiga penjahat yang melukai Sanchia disekap, ditemani Leon dan Leroy yang membawa dua buah tas berukuran sangat besar.
Tatapan berkilat tajam milik Sall yang menghunus pada ketiga objek dihadapannya, semakin menguarkan aura dingin di ruangan sempit dan lembab itu. Tiga orang laki-laki yang terduduk dan terikat di lantai itu, terlihat pucat dan takut, mereka tahu kalau keadaan mereka tidak akan baik-baik saja setelah ini. Mereka yakin, laki-laki bermata tajam yang ada di hadapan mereka bukanlah orang sembarangan. Sesuai yang Leroy katakan pada mereka bertiga, kalau suami dari orang yang mereka lukai, akan membuat perhitungan pada mereka bertiga, dan mereka yakin inilah orangnya.
"Hukuman apa yang kalian inginkan? Apa kalian ingin mati secepatnya tanpa rasa sakit atau mati perlahan dengan rasa sakit yang luar biasa, sampai kalian sendiri yang memohon kematian?"
Seringai di wajah Sall, membuat ketiga laki-laki itu semakin dilanda ketakutan dengan dua pilihan buruk yang diberikan oleh Sall. Lidah mereka semakin kelu, saat Leroy dan Leon membuka tas besar disamping mereka, yang ternyata berisi berbagai jenis senjata laras panjang dan pendek, juga beberapa botol berisi cairan bening, yang mereka yakini berisi racun mematikan.
*************************
Image Source : Instagram Toni Mahfud
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight