
Sall mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman yang dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni. Netranya mencari Sanchia, namun sosoknya sama sekali tidak terlihat dimana pun. Justru pandangan matanya menangkap seorang remaja perempuan berusia sekitar 17 tahun, yang berdiri menghadapnya, namun cukup berjarak.
Sall tidak mengenal remaja itu, tapi entah kenapa wajahnya begitu familiar. Remaja itu begitu cantik seperti keturunan campuran Eropa dan Korea. Mata remaja perempuan itu mengingatkan pada matanya sendiri yang berwarna hazel kehijauan, bibirnya pun tebal dan indah seperti bibir Sall. Sedangkan bentuk wajah dan rambut panjang remaja itu, mengingatkan Sall pada Sanchia.
Di sebelah kanan gadis itu terdapat sebuah kursi panjang dengan hiasan bulu berwarna putih dan kain berwarna keemasan. Sedangkan beberapa meter di sebelah kiri gadis itu, terdapat sebuah jembatan yang melintang tepat di tengah sebuah danau yang jernih.
Remaja perempuan itu terlihat mengulas senyum manisnya pada Sall, meskipun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Selama beberapa saat, Sall berusaha menebak siapa sebenarnya gadis itu. Tapi tiba-tiba gadis itu melambaikan tangannya pada Sall seraya melebarkan senyumnya yang begitu cantik.
Sall berniat menghampiri gadis itu, namun ternyata gadis itu justru berbalik dan berjalan melalui jembatan di sebelah kirinya. Sall yang berusaha mengejar dengan langkah yang lebar, merasa perlu bertanya siapakah sebenarnya gadis itu. Anehnya perasaan Sall begitu putus asa, karena kakinya yang berusaha dia langkahkan untuk berlari, seolah tidak mau bergerak sama sekali. Sampai akhirnya beberapa tepukan di bahu dan pipinya, mengembalikan kesadaran Sall.
Wajah Sanchia yang berada tepat di hadapannya, membuat Sall sepenuhnya tersadar dari mimpi anehnya.
"Honey, apa kamu bermimpi? Kamu mengigau dengan menggerakkan tanganmu seolah hendak memegang sesuatu."
"Aku mendapat mimpi yang aneh Sweetheart. Sudah lama sekali, aku tidak bermimpi, dan baru saja aku memimpikan seseorang yang tidak aku kenal." Sanchia mengerutkan keningnya, namun sesaat kemudian Sanchia tersenyum lembut.
"Mimpi hanya bunga tidur Honey, lupakan saja. Lebih baik kita tidur lagi."
Sall melirik sekilas jam dinding yang menunjukan pukul 2 dini hari.
"Sepertinya aku akan membuat teh hangat, karena mataku mendadak tidak mengantuk lagi."
"Biarkan aku membuatkannya untukmu."
"Tidak Sweetheart, aku akan membuatnya sendiri. Lebih baik kamu tidur ya."
Sall hendak menuruni tempat tidur, namun tangan Sanchia menahan lengan Sall, sehingga Sall urung turun dari tempat tidur.
"Apa kamu mau menelepon seseorang?"
Ingatan Sanchia kembali pada isi pesan dari seseorang pada suaminya, yang berhasil membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Dan Sall pun menyadari keanehan dari kalimat yang diucapkan oleh istrinya itu.
"Sweetheart, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan? Tolong katakan padaku, apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?"
"Hmm.. Honey, apa ada yang sedang kamu sembunyikan dariku?"
"Tidak ada.."
"Benarkah? Hmm.. Hmm.. Apa saat ini kamu sedang.. sedang.. dekat dengan perempuan lain?"
"Dekat? Maksudmu berselingkuh?" Tanya Sall dengan raut wajah terkejutnya.
Sanchia menganggukkan kepalanya ragu, yang langsung mendapat balasan ekspresi penuh tanya di wajah Sall.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Maaf aku membuka pesan yang masuk ke ponselmu."
Sall segera mengambil ponselnya yang masih berada di atas nakas, posisinya pun tidak berubah sejak Sanchia menyimpannya tadi. Karena Sall sama sekali belum membuka ponselnya sejak pagi hari tadi.
Senyuman lega di wajah Sall seketika terbit, seraya mengarahkan pandangannya pada Sanchia yang mendudukkan dirinya seraya menunggu penjelasan dengan raut wajah cemas.
"Maksudmu pesan ini?"
"Jadi kamu mengira aku berselingkuh dengan orang ini?"
Sanchia hanya diam mematung, tidak berani membenarkan perkataan suaminya yang terdengar menuntut.
"Aku tegaskan, aku sama sekali tidak berselingkuh dengan orang ini ataupun siapapun. Lusa dia akan datang ke Indonesia, karena akulah yang memintanya. Kamu nanti bisa bertemu dan berkenalan langsung dengannya."
"Tapi dia siapa Honey?"
"Dia orang kepercayaanku, bukan selingkuhanku. Apa kamu percaya Sweetheart?"
"Iya aku percaya Honey.. Hmm, tapi kenapa dia menggunakan emoticon mengedipkan mata, seolah sedang menggodamu?" Sall paham kalau Sanchia masih belum puas dengan penjelasannya.
"Mungkin dia salah pencet Sweetheart."
Sall mengambil segelas air yang berada di atas nakas, lalu meminumnya sampai tandas. Sementara Sanchia terlihat sangat tidak puas dengan jawaban Sall.
"Hmm, apakah dia.. Apakah dia cantik?"
"Tidak.." Sall menjawabnya dengan tegas tanpa perlu berpikir.
"Apakah.."
Sebelum Sanchia selesai mengucapkan kalimatnya, Sall tiba-tiba memeluk Sanchia dan membungkam mulut Sanchia dengan ciumannya yang begitu lembut selama beberapa saat.
"Aku hanya mencintaimu, dan jangan pernah ragukan itu.
Sanchia hanya diam mematung sampai Sall kembali memagut bibir Sanchia dan menyesapnya dengan sedikit liar. Sanchia pun berusaha mengimbangi ciuman suaminya yang berubah menuntut itu. Sall merebahkan tubuh Sanchia, lalu mengungkungnya tanpa melepas pertautan bibir mereka.
(Adegan selanjutnya, silahkan berimajinasi sendiri ya, hihihi.."
*********************
Maaf episode ini sudah di revisi, tapi tidak mengubah alurnya sama sekali. Hanya isi mimpi Sall saja yang berubah. Maaf ya yang udah baca part ini sebelum di revisi.
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight