
**PRIVATE JET **
Sall memandangi wajah Sanchia yang sembab, gurat kecewa terlihat jelas di wajah Sall. Namun dengan berbesar hati, Sall menerima kejujuran Sanchia meskipun terasa menyakitkan.
Bagaimana tidak, sesampainya di luxury bedroom milik mereka, Sanchia yang sudah berbaring di atas tempat tidur, terlihat menatap Sall dengan sendu. Dan kalimat yang keluar dari mulut Sanchia cukup mengejutkan Sall yang saat itu berniat ikut membaringkan tubuhnya disamping Sanchia.
"Maafkan aku, ternyata kehadiran Satya, membuat hatiku kembali goyah." Sall yang cukup terkejut, berusaha menguasai dirinya agar tidak lekas emosi. Bagaimana pun juga sebuah kejujuran yang menyakitkan, tetap lebih baik daripada kebohongan yang melenakan.
"Apa kamu masih mencintainya, Sweetheart?"
"Entahlah, Honey.." Lirih Sanchia hampir tidak terdengar, namun berhasil menghujam hati Sall sampai perih. Sall merebahkan dirinya disamping Sanchia, dan mengunci pandangannya pada netra Sanchia yang berkaca-kaca.
"Jika ada kesempatan untuk kalian bersama lagi, apa kamu akan memilihnya Sweetheart?"
"Tidak akan pernah, Honey. Tapi aku kecewa, kenapa dia justru datang lagi dan mengganggu perasaaanku." Air mata Sanchia perlahan menetes membasahi pipinya, membuat perasaan Sall ikut tidak nyaman.
Sall menghapus air mata di pipi Sanchia, lalu dengan perlahan menciumi kedua kelopak mata Sanchia yang tertutup. Dan baru melepas kecupannya setelah beberapa detik.
"Tidak peduli apapun yang dia lakukan, aku akan memberikan semua cintaku untukmu. Agar kamu yakin, kalau hanya aku yang paling mencintaimu. Jika setelah apa yang aku lakukan, kamu tetap mencintainya, maka aku akan berjuang lebih keras untuk meyakinkanmu."
Tangis Sanchia kembali luruh mendengar perkataan Sall yang begitu tulus padanya. Sall menarik tubuh Sanchia ke dalam dekapannya, menciumi puncak kepala dan mengelus punggung Sanchia agar lebih tenang.
"Tidurlah.. Istirahatkan pikiranmu dan berhentilah memikirkan hal-hal yang tidak penting." Anggukkan kepala Sanchia, cukup mampu membuat perasaan Sall sedikit tenang.
Perlahan tangis Sanchia berhenti, memang ciuman dan pelukan suaminya adalah hal terampuh yang selalu berhasil membuatnya tenang. Sall pun paham, setiap kali istrinya mempunyai masalah atau mengalami stres, Sall tidak pernah meninggalkan Sanchia. Sall akan menyiapkan telinganya untuk mendengar semua keluhan Sanchia dan tentunya selalu siap memberikan ciuman dan pelukannya untuk membuat istrinya selalu merasa dicintai dan dilindungi.
Sikap Sall yang selalu menunjukan rasa cinta dan kasih sayangnya, tentu merupakan salah satu anugerah terindah bagi Sanchia. Rasa syukurnya karena memiliki suami sebaik Sall seolah tidak pernah berhenti terucap, sekalipun dalam hati.
Beberapa menit kemudian, nafas Sanchia terdengar cukup teratur, menandakan Sanchia sudah tertidur setelah kelelahan berpikir dan menangis.
*************************
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
1 bulan kemudian..
Hangatnya sinar matahari pagi di musim gugur, yang masuk melalui jendela kaca di kamar Sall, sama sekali tidak berhasil membuatnya untuk beranjak dari atas tempat tidurnya. Sall justru semakin membenamkan dirinya ke dalam selimut tebal berwarna putih yang membungkus tubuhnya.
Sanchia yang baru masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi menu sarapan, hanya menggeleng pelan. Melihat Sall yang justru masih bergelung dengan selimut, setelah dia bangunkan beberapa belas menit yang lalu.
"Honey.. Bangun dulu, aku sudah bawakan sarapan."
"Hmmm..." Sall hanya bergumam pelan, namun tidak mengubah posisinya yang menelungkup dengan wajah mengarah ke samping.
"Honey, bangunlah.." Sanchia merapihkan anak rambut yang jatuh di dahi Sall.
"Perutku tidak enak Sweetheart.. Rasanya mual sekali." Sall membuka matanya dan menatap Sanchia, namun masih enggan mengubah posisinya.
"Minum air hangat ya, coba kamu bangun dulu Honey!"
Perlahan Sall mendudukkan dirinya, dengan masih membungkus tubuhnya dengan selimut. Sanchia meminumkan air hangat pada Sall, lalu meraba kening Sall yang terasa hangat itu.
"Apa kamu sakit Honey? Wajahmu benar-benar pucat." Raut wajah khawatir tertangkap jelas di wajah cantik Sanchia.
"Kepalaku sakit, perutku mual, dan aku juga merasa lemas Sweetheart." Raut wajah Sall begitu memelas, membuat Sanchia semakin khawatir akan keadaan suaminya itu.
"Kita panggil Dokter ya Honey.." Tangan Sanchia mengelus lembut pelipis dan pipi Sall.
"Tidak usah Sweetheart. Tapi tolong buatkan aku air jeruk hangat ya Sweetheart."
"Baiklah Honey, aku buatkan dulu ya."
Sanchia berdiri hendak keluar dari kamar, namun niatnya urung saat Sall mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Sanchia membelalakkan matanya.
"Sepertinya perutku akan lebih baik, kalau meminum wedang jahe atau bajigur Sweetheart."
"Hah??"
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight