
SD INTERNASIONAL - BANDUNG, INDONESIA
Netra Sall dan Sanchia tidak lepas memperhatikan seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun, yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an di salah satu sudut Mesjid Besar Sekolah Dasar International terbaik di Kota Bandung. Sorot penuh kekaguman jelas tergambar di wajah Sall dan Sanchia, begitupun wajah Leon, Leandra, Leroy, Leticia dan Kendra yang juga ikut menemani Sall dan Sanchia.
Mereka berkeliling ditemani Kepala Sekolah dan beberapa guru, namun Kepala Sekolah dan para guru itu terpaksa harus kembali ke ruangan mereka, karena ada rapat dengan orang tua murid kelas 6. Tentu pihak sekolah tanpa ragu membiarkan CEO Knight Group Company beserta istri dan rekan-rekannya, untuk berkeliling. Setelah sebelumnya datang tanpa diduga dan mengatakan hendak menjadi sponsor utama untuk event tahunan di sekolah itu. Padahal tujuan utama kedatangan mereka ke sekolah itu, hanyalah untuk melihat anak laki-laki yang sungguh membuat mereka sangat penasaran.
"Benar-benar anak yang tampan dan soleh." Puji Sanchia seraya menatap nanar pada anak laki-laki itu.
"Seharusnya, orangtuanya bangga dan bahagia memiliki anak sebaik dia." Timpal Kendra yang diangguki semua sahabatnya terkecuali Leon.
"Jovanka sama sekali tidak bangga, dia yang tidak percaya Tuhan, malah memarahi Nevan, jika Nevan terlihat mengaji atau shalat. Jovanka bahkan jarang sekali menjenguk anaknya, dia hanya menjadikan anak itu sebagai alasan untuk meminta uang pada Nick. Lalu dia akan menghambur-hamburkan uang Nick untuk bersenang-senang." Perkataan Leon membuat geram Sall, Sanchia dan semua sahabat mereka.
Anak laki-laki yang mereka perhatikan sejak tadi, bernama Nevan Smith, anak biologis dari Nick Smith dan Jovanka. Anak itu memiliki wajah yang sangat tampan, perpaduan kedua orangtuanya, dengan rambut coklat sama seperti Ayahnya.
Sall sungguh tidak menyangka kalau perkataan Marlon tentang Jovanka yang hamil saat SMA adalah suatu kebenaran. Dan belakangan, Sall baru tahu kalau Jovanka menjadikannya kambing hitam atas kehamilan Jovanka dihadapan Marlon. Hingga membuat Marlon begitu membenci Sall, karena mengira Sall-lah yang menghamili Jovanka, namun lari dari tanggung jawab.
Leticia pun akhirnya mengetahui, kalau perselingkuhan Nick dulu dengan Jovanka saat masih bertunangan dengannya, ternyata menghasilkan seorang anak laki-laki yang terlihat begitu baik dan soleh. Meskipun mereka baru mengetahui, kalau saat itu Nick tidak benar-benar mengenal Jovanka yang sudah terbiasa tidur dengan banyak laki-laki. Melainkan hanya kebetulan bertemu dalam keadaan mabuk di sebuah club malam, hingga akhirnya mereka melakukan one night stand di apartemen Nick yang terletak tidak terlalu jauh dari club malam itu.
Kejadian itu dipergoki Leticia yang langsung memutuskan ikatan pertunangannya dengan Nick, tanpa pikir panjang. Hal itu membuat Nick begitu down, karena sebenarnya Nick sangat mencintai Leticia dan tidak pernah benar-benar mengkhianati Leticia. Pertemuannya dengan Jovanka dan kejadian malam itu, adalah kesalahan yang selalu Nick sesali selama hidupnya. Meskipun keberadaan Nevan, selama beberapa tahun terakhir ini, mulai dianggapnya sebagai anugerah yang tidak pernah dia sangka-sangka. Nevan yang selalu bersikap sopan dengan tutur kata lembut, dan segudang prestasi di sekolah, berhasil membuat Nick bangga pada putranya itu.
Nick memang tidak pernah menyentuh Jovanka lagi sejak kejadian malam itu, ataupun menikahi Jovanka. Namun Nick selalu memenuhi kebutuhan Jovanka dan anak mereka, Nevan. Nick tidak pernah menyuruh Jovanka untuk menggugurkan anak yang dikandung Jovanka, karena Nick yang seorang yatim piatu dan hanya seorang anak angkat di keluarga Smith, ingin anak kandungnya bisa bahagia karenanya.
Tiba-tiba air mata Leticia menetes, Leroy segera menyodorkan sapu tangan yang dia ambil dari saku celananya.
"Ambillah.."
"Terima kasih." Leticia mengambil sapu tangan yang disodorkan Leroy dan segera mengusap air mata yang menetes di pipinya. Sementara Leroy merangkul bahu Leticia dan mengusapnya lembut, memberikan ketenangan.
"Aku sungguh tidak menyangka, Nick dan Jovanka bisa mempunyai anak sebaik dan sesoleh ini. Aku sungguh kasihan dengan nasib Nevan kedepannya, siapa yang akan membiayai kebutuhan dia dan sekolahnya." Terlihat jelas kekhawatiran di wajah leticia.
"Kami akan membiayai kebutuhan hidup dan biaya sekolahnya sampai Nevan dewasa." Jawab Sall penuh keyakinan. Memancing lengkungan indah di kedua sudut Sanchia juga semua sahabat mereka.
***********************
WARNING..!!
Ada adegan dewasa ya, bocil tolong skip aja ya.. Awas ga boleh ngintip lho..
MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA
Sanchia mondar mandir di kamarnya, bosan menunggu Sall yang sedang melakukan virtual meeting dengan jajaran management Knight Group Company, dilanjutkan virtual meeting dengan seluruh petinggi klan Toddestern dari seluruh cabang sejak beberapa jam yang lalu. Meeting itu dimulai setelah jam makan siang waktu London, dan sekitar pukul 8 malam waktu Bandung, karena memiliki perbedaan waktu 7 jam.
Saat ini Sanchia sedang merasa bersalah dan menyesal, karena sudah bersikap tidak baik pada Sall selama beberapa hari ini, hanya karena kecemburuan dan kecurigaan yang sama sekali tidak terbukti.
Tepat pukul 01.00, Sall baru kembali ke kamarnya. Senyum di wajahnya mengembang, saat pandangannya jatuh pada sang istri yang terlihat sudah lelap tertidur. Sall memilih membersihkan dirinya sebelum menyusul Sanchia ke atas tempat tidur.
Sall memeluk tubuh Sanchia dari belakang, lalu menciumi leher dan pelipis Sanchia, mengusik Sanchia dari tidur lelapnya. Sanchia yang sudah membuka matanya, seketika membalikkan badannya menghadap Sall.
"Kenapa bangun Sweetheart? Geli ya?" Senyuman jahil di wajah Sall, langsung dibalas Sanchia dengan cubitan di hidung mancung Sall.
"Sudah iseng mengganggu tidurku, sekarang malah bertanya kenapa aku bangun." Sall terkekeh geli melihat istrinya yang terlihat menggemaskan.
"Maaf Sweetheart, rasanya tidak lengkap jika saat bangun tidur dan sebelum tidur tidak mencium kamu dulu. Ya sudah, sekarang tidur lagi saja ya, Sweetheart." Ujar Sall seraya mengelus pipi Sanchia.
"Aku sebenarnya kecewa, karena kamu tidak mempercayai perkataanku. Apalagi sikapmu begitu ketus beberapa hari ini, kamu berhasil membuatku menderita Sweetheart." Sall mengerucutkan bibirnya, membuat Sanchia semakin merasa bersalah.
"Iya, aku tahu sikapku sangatlah menyebalkan. Tapi hatiku tidak bisa langsung mempercayaimu begitu saja. Aku memerlukan bukti untuk meyakinkan hatiku." Sanchia berusaha membela dirinya sendiri.
"Lalu apa kompensasi yang akan kamu berikan padaku?" Tanya Sall dengan ekspresi santai.
"Hah kompensasi apa?" Sanchia terkejut dengan pertanyaan Sall sebelumnya.
"Kompensasi karena kamu sudah menuduhku yang tidak-tidak."
"Ya ampun Honey, aku kan sudah minta maaf. Mungkin benar, ini juga pengaruh PMS yang sepertinya akan datang dalam beberapa hari lagi.."
"Hah? Kamu harus mengganti jatahku yang hilang selama beberapa hari ini, Sweetheart. Pokoknya aku tidak rela." Mulut Sanchia menganga melihat sikap Sall yang tiba-tiba merajuk layaknya anak kecil dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Sanchia tiba-tiba turun dari atas tempat tidur dan berlari ke dalam kamar mandi, membiarkan Sall memasang wajah terkejut dan herannya secara bersamaan. Kurang dari 5 menit kemudian, Sanchia keluar dengan wajah yang sudah segar menuju walk in closet.
"Sweetheart.. Kamu sedang apa?" Tidak ada jawaban sama sekali dari ruang walk in closet.
Sall menyusul Sanchia menuju ruang walk in closet dengan langkah terburu-buru. Pandangannya berubah berbinar melihat istrinya yang terlihat menggoda, dengan tubuh berbalut lingerie berwarna hitam, berbahan tipis dan sangat menerawang.
"Wow.. You are so gorgeous, Sweetheart. Kamu selalu berhasil menggodaku." Puji Sall seraya memeluk erat pinggang Sanchia, lalu mendaratkan bibirnya di kening Sanchia.
"Aku akan membayar kompensasi atas kerugian yang kamu alami atas sikapku." Sall terkekeh geli mendengar sindiran Sanchia yang justru terdengar sangat lucu.
"Aku ingin kompensasi, bonus dan juga hadiah." Ujar Sall disertai senyum jahilnya.
Sesaat kemudian bibir Sall merangkum bibir ranum Sanchia\, dengan pelukan yang tidak menyisakan jarak diantara keduanya. Bibir mereka saling menyes*p\, melumm*t\, mengabsen setiap sudut mulut mereka tanpa jeda.
Bibir Sall kini beralih menyusuri leher dan dada Sanchia, menciptakan sengatan-sengatan di tubuh Sanchia. Sanchia menutup matanya, menikmati setiap sentuhan Sall, yang kini mulai menjelajahkan tangannya di beberapa area sensitif Sanchia. Tangan Sanchia meremas lembut rambut Sall, seraya menggigit bagian bawah bibirnya karena geli. Suara-suara manis yang keluar dari mulut Sanchia, menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sall dan membuatnya semakin bersemangat melakukan aksinya.
Sall menggendong dan merebahkan tubuh Sanchia di atas sofa yang berada di salah satu sudut ruang walk in closet, lalu melanjutkan aksinya yang sempat terjeda. Sentuhan, ciuman, dan suara-suara manis mengiringi kegiatan malam Sall dan Sanchia. Hingga mereka sampai di menu utama favorit mereka yang sukses menerbangkan perasaan keduanya ke puncak nirwana.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Lumayan ya weekend bisa up lagi..😄
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight