The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 72 Asal-usul Shawn



MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA


Cuaca yang sejuk dengan matahari yang mulai menceriakan pagi, menambah semangat Sanchia yang sudah begitu sibuk sejak dini hari tadi. Kehadiran Shawn, membuat Sanchia harus membiasakan diri menjadi seorang ibu sejak dini. Terbangun beberapa kali di tengah malam dan dini hari, karena Shawn yang lapar atau merasa tidak nyaman, menjadi rutinitas Sanchia saat ini. Tapi entah kenapa, hal itu merupakan kenikmatan dan anugerah bagi Sanchia. Dia sangat menikmati perannya sebagai ibu, begitupun dengan Sall yang selalu membantu Sanchia menjaga Shawn, anak mereka.


Namun malam tadi, Sall sangatlah sibuk di ruang kerjanya, sehingga Sanchia meminta dua orang pelayan untuk menjaga Shawn secara bergantian.


Sall dibantu Leon dan beberapa ahli IT kepercayaan Sall, begitu serius mencari tahu tentang asal-usul Shawn dan semua hal terkait orangtua Shawn. Sall ingin masalah ini beres sebelum dia dan Sanchia berangkat ke Inggris dalam waktu dekat. Sehingga Sall dan anak buahnya sampai rela tidak tidur untuk menemukan semua hal yang mereka cari.


Sanchia menyiapkan segelas air putih, secangkir teh hangat, sepiring pancake dan salad buah untuk menu sarapan Sall, dan bergegas menuju ruang kerja Sall yang kini sudah kosong. Leon dan anak buah Sall yang bekerja keras semalaman, sudah kembali ke kamar mereka masing-masing, setelah menghabiskan sarapan mereka di ruang makan.


Sanchia mendorong pelan pintu ruang kerja Sall yang tidak terkunci dengan sikunya, karena kedua tangannya sibuk membawa nampan berisi menu sarapan untuk Sall. Terlihat Sall merebahkan dirinya di atas sofa dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Sanchia menyimpan nampan yang dibawanya ke atas meja, lalu dengan perlahan, Sanchia menghampiri Sall dan mendudukkan dirinya di pinggiran sofa, menghadap ke wajah suaminya yang terlihat lelah. Dielusnya pipi Sall, sehingga membuat Sall mengernyitkan dahinya, merasa terusik karena sentuhan lembut di pipinya itu.


"Hmm, Sweetheart.."


Suara bariton khas bangun tidur milik Sall, menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sanchia.


"Bangun yuk Honey, kita sarapan dulu."


Sall tersenyum dengan mata masih setengah terbuka, seraya menganggukkan kepalanya. Namun bukannya bersiap sarapan, Sall malah menumpukkan kepalanya di bahu Sanchia yang terbuka, dengan kedua tangan melingkar di pinggang Sanchia.


"Tapi aku masih mengantuk. Aku baru tidur setelah shalat subuh tadi."


Sanchia mengelus lembut punggung Sall, yang malah membuat Sall semakin nyaman memejamkan matanya.


"Hmm, jelas masih mengantuk, kamu begadang semalaman. Apa kamu dan Leon sudah menemukan sesuatu tentang orangtua Shawn."


"Iya.." Jawab Sall singkat.


"Benarkah?"


"Iya Sweetheart.. Nanti aku akan menceritakannya, aku mau ke toilet dulu."


Sall beranjak menuju kamar mandi dengan langkah pelan dan mata yang masih saja enggan terbuka lebar. Sanchia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu.


Tidak sampai 5 menit, Sall sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak lebih segar setelah mencuci muka dan menggosok giginya. Sall mendudukkan dirinya di sebelah Sanchia, dan mengambil segelas air putih yang disodorkan Sanchia.


"Terima kasih Sweetheart.."


Sall meneguk air minumnya sampai hanya tersisa seperempat gelasnya saja, dan menyimpan kembali gelasnya di atas meja. Sall menyuapkan potongan pancake yang disodorkan Sanchia tepat di depan mulutnya."


"Enak?"


"Selalu enak Sweetheart.."


Sanchia tersenyum dengan pujian Sall yang selalu membuatnya bahagia itu. Setelah sepiring pancake itu tandas tidak bersisa, Sanchia bersiap mendengarkan perkataan Sall yang sudah membuatnya begitu penasaran.


"Jadi apa yang kalian temukan?"


Sall mengangkat kedua kakinya bersila di atas sofa, dan mengarahkan badannya menghadap Sanchia yang sudah ikut bersila di hadapannya.


"Nama asli Shawn adalah Steve Salazar Smith. Ayahnya Steward Davies Smith yang merupakan keturunan Indonesia-Inggris, sedangkan ibunya bernama Davina Park, merupakan keturunan Korea Selatan-Inggris. Mereka teman kuliah di Inggris beberapa tahun yang lalu, dan baru menikah satu setengah tahun yang lalu di Inggris. Beberapa bulan yang lalu, mereka memutuskan pindah ke Indonesia setelah Steward diminta menduduki jabatan CEO di sebuah perusahaan otomotif setelah ayahnya meninggal dunia. Saat itu Davina sedang hamil besar, sehingga Shawn pun lahir di Indonesia sebulan kemudian."


Sall menjeda perkataannya dengan menyesap perlahan secangkir teh yang berada di hadapannya, lalu melanjutkan perkataannya, setelah menyimpan kembali cangkir teh tersebut di atas meja.


"Sebulan yang lalu, saat Shawn masih berusia satu bulan, tiba-tiba Steward, Davina dan Shawn yang sedang dalam perjalanan ke villa mereka mengalami kecelakaan di sebuah daerah perkebunan yang sangat sepi. Kecelakaan itu memang diatur oleh suruhan Kakak angkat Steward yang bernama Nick. Beruntung saat itu Shawn yang berada di kursi penumpang, begitu aman dengan kursi khusus dan safety belt-nya. Sedangkan kedua orangtuanya Shawn terluka sangat parah karena bagian depan mobil memang hancur ditabrak truk yang langsung pergi meninggalkan lokasi."


Sall merangkul dan mengelus bahu Sanchia yang bergetar karena menangis. Namun Sall tetap meneruskan ceritanya, agar Sanchia mengetahui semua hal tentang Shawn.


"Kendra tangan kanan Steward, yang saat itu mengikuti dari belakang dengan mobilnya, langsung mengeluarkan Shawn dari dalam mobil dan memasukannya ke dalam mobil yang dia parkirkan beberapa meter dari mobil Steward. Namun tiba-tiba mobil Steward meledak, membuat Kendra begitu shock dan seketika menghubungi polisi untuk memberikan bantuan."


Sanchia masih menangis sesenggukan mendengar cerita Sall, hatinya terasa nyeri dan sesak saat mengingat nasib Shawn yang sudah menjadi yatim piatu sejak umurnya satu bulan. Sanchia bertekad akan memberikan Shawn kasih sayang yang hanya sebentar dia dapatkan dari kedua orangtuanya.


"Kenapa orang itu begitu tega, membuat Shawn menjadi yatim piatu. Ada bayi kecil yang masih memerlukan kasih sayang.. Mereka begitu tega membunuh kedua orangtua Shawn."


"Orang bisa menjadi gila karena harta dan kekuasaan, Sweetheart."


"Iya kamu benar, Honey.. Lalu apakah Kendra yang membawa Shawn ke Panti Asuhan?"


"Iya Sweetheart, dia sengaja membawa Shawn ke Panti Asuhan yang jauh di pinggiran kota, agar Nick tidak bisa menemukannya. Sedangkan dia lari ke luar kota, seolah-olah membawa Shawn bersamanya. Sehingga orang-orang suruhan Nick terus memburunya sampai saat ini."


"Kasihan sekali Kendra, hidupnya tidak bisa tenang dan pastinya harus selalu berpindah-pindah."


"Semoga Honey.."


"Sweetheart, aku mau meminta pendapatmu.. Apa sebaiknya aku beri orang yang bernama Nick itu pelajaran?"


"Tidak Honey, jangan lakukan apapun, biarkan dia merasa menang sekarang. Yang terpenting kita rawat Shawn sebaik mungkin dan temukan Kendra secepatnya. Aku tidak mau orang itu menemukan Shawn, karena bisa saja dia dan orang-orang kepercayaannya mengejar dan mencelakakan Shawn. Kita bisa saja mengalahkan mereka, tapi hidup kita dan Shawn tidak bisa tenang karena masalah dendam."


"Baiklah Sweetheart, saat ini kita hanya akan merawat Shawn dengan sebaik-baiknya. Tapi kelak jika Shawn sudah dewasa, kita harus menceritakan semua kenyataan ini padanya."


"Iya kamu benar, Honey. Shawn berhak mengetahui semuanya dan menentukan apa yang akan dilakukannya terhadap orang itu."


"Iya, dan kita akan membantunya Sweetheart."


"Apapun.. Selama hal itu tidak mengancam keselamatan anak kita, Honey."


Sall menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin, sebelum mencium kening dan mendekap tubuh Sanchia dengan sangat erat.


*************************


Seminggu sudah Shawn tinggal bersama Sall dan Sanchia di mansion mereka. Keberadaan Shawn tentu saja menjadi kejutan membahagiakan bagi Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin. Papa Leonard dan Mama Annesya begitu antusias karena mendapat cucu lebih awal dari yang mereka duga, sehingga mereka lebih sering berkunjung ke mansion Sall dan Sanchia, untuk sekedar bermain bersama cucu pertama mereka itu.


Suasana mansion yang sudah ramai, semakin ramai dengan celotehan Shawn dan tawa dari seluruh keluarga dan para penghuni mansion. Sall dan Sanchia merasa begitu bersyukur dengan kehadiran Shawn yang menjadi sumber kebahagiaan bagi banyak orang disekitarnya.


Sall merangkul bahu Sanchia seraya menatap Papa Leonard dan Mama Annesya yang tertawa lepas setelah melihat tawa Shawn yang begitu manis.


"Papa dan Mama begitu bahagia karena sudah mempunya cucu. Bisa aku bayangkan kalau Nieva dan aku sudah melahirkan, akan ada tiga bayi yang membuat mereka semakin bahagia. Hmm, sebenarnya Papa dan Mama kemarin meminta agar kita tetap tinggal di Indonesia sampai aku melahirkan, tapi aku bilang kalau kita tidak bisa, karena kita harus berangkat ke Inggris bulan depan."


"Sweetheart, pikirkan lagi dengan matang. Aku tidak keberatan jika kita tidak bisa langsung pindah ke Inggris dalam waktu dekat, tapi maafkan aku jika aku harus bolak-balik ke Inggris dalam beberapa bulan ini. Schedule keberangkatanku di bulan depan juga tidak dapat aku batalkan, karena banyak pekerjaan yang harus aku urus disana. Pembangunan Panti Asuhan kan sudah dimulai sesuai design yang aku berikan, dan Leon sudah meminta orang untuk mengawasinya. Jadi aku sudah tidak ada PR lagi, tapi yang aku khawatirkan itu kamu, dan kedua anak kita. Aku tidak bisa meninggalkan kalian dalam waktu yang lama."


"Tenang saja Honey, aku tidak sendirian menjaga kedua anak kita. Ada keluarga dan juga anak buahmu yang begitu banyak."


"Iya Sweetheart.. Aku hanya khawatir dan tidak bisa jauh dari kalian.. Apalagi aku tidak bisa mendapatkan vitamin-ku setiap harinya."


Sanchia mengerutkan keningnya, melihat ke arah Sall yang memberengut kecewa sekaligus kesal.


"Vitamin?"


"Ini.. Ini.. Ini.. Ini.. Ini.. "


Sanchia langsung melayangkan pukulannya ke lengan Sall, setelah telunjuk Sall beralih dari kening, hidung dan bibir Sanchia ke beberapa bagian tubuh sensitif Sanchia yang lainnya.


"Dasar mesum.."


Perkataan ketus Sanchia justru dibalas kekehan Sall beserta senyum jahil yang terlihat menyebalkan bagi Sanchia. Sall mengikuti Sanchia yang berjalan cepat menuju kamarnya, dengan segudang ide jahil yang sudah muncul di otaknya saat ini.


'Ayo Sweetheart, kita cari pahala di sore hari.'


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Maaf aku baru up lagi, tapi langsung dikasih eps yang panjang banget nih..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight