
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Sebuah panggilan masuk di pukul 2 dini hari mengejutkan Sanchia dari tidurnya, namun tangan kekar Sall yang memeluknya dari belakang dengan sangat posesif, membuatnya kesulitan untuk menjangkau ponselnya yang Sanchia simpan di atas nakas.
Sanchia berusaha melepas tangan Sall, tapi pelukan Sall malah semakin erat melingkar di pinggang Sanchia.
"Honey.. Tolong lepas dulu, aku mau mengambil ponsel."
Sall yang samar mendengar suara Sanchia, hanya melonggarkan pelukannya, sehingga Sanchia bisa sedikit maju untuk mengambil ponselnya. Sanchia langsung mengangkat panggilan masuk dari Mama Annesya dengan kembali merebahkan tubuhnya, karena Sall menarik tubuhnya dan memeluknya kembali seerat sebelumnya.
"Hallo Ma.."
"Sanchia, Nieva sudah melahirkan. Anaknya perempuan."
"Alhamdulillah.. Sanchia usahakan pulang ke Bandung secepatnya Ma."
Sall yang mendengar perkataan Sanchia, seketika terkejut dan langsung membuka matanya.
"Tidak Sanchia, kamu masih sakit. Cukup berikan ucapan selamat dari jauh saja pada Nieva." Bujuk Mama Annesya.
"Tidak Ma, ini kabar bahagia. Aku harus pulang menjenguk Nieva dan keponakan baruku."
"Sanchia, nanti saja beberapa bulan lagi, saat kamu sudah benar-benar sehat ya kesininya."
"Tidak Ma, Sanchia akan pulang ke Bandung lusa ya. Sudah dulu ya Ma, besok Sanchia kabari Mama lagi."
"Baiklah.. Jaga kesehatanmu ya Sayang."
"Iya Ma.."
Sanchia meletakkan ponselnya disebelah bantalnya, karena kesulitan menjangkau nakas. Sall membalikan tubuh Sanchia agar menghadap ke arahnya.
"Sweetheart, apa Nieva sudah melahirkan?"
"Iya, lusa aku pulang ke Bandung ya."
"Baiklah, kita akan sama-sama menjenguk Nieva dan bayinya."
"Cukup aku dan Shawn saja, kamu pasti punya banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Kami bisa pulang dengan pesawat komersial."
"Sweetheart, aku cukup terganggu dengan kalimat kamu yang mengatakan pulang. Rumah kamu disini Sweetheart, bukan di Bandung."
'Karena rumahku memang di Bandung, dan kesanalah aku akan kembali.' Lirih Sanchia dalam hati.
"Iya Honey, masalah satu kata saja sampai kamu permasalahkan. Tidak apa-apa ya aku pergi ke Indonesia lusa nanti?"
"Baiklah, tapi harus dengan private jet kita. Disana hanya boleh satu minggu, jika lebih dari itu, aku akan menyusulmu ke Bandung ya. Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu Sweetheart."
"Tidak apa-apa."
Sall tersenyum, lalu mencium bibir Sanchia selama beberapa saat. Namun Sanchia sama sekali tidak membalas ciuman Sall, membuat Sall harus rela melepas pagutannya dari bibir Sanchia.
"Aku ngantuk, kita lebih baik tidur lagi sampai subuh nanti."
Sanchia segera membalikkan tubuhnya membelakangi Sall, bahkan tanpa menunggu respon Sall, yang kini terlihat bingung melihat sikap Sanchia.
Sementara Sanchia berusaha memejamkan matanya, meskipun sebenarnya rasa kantuk sudah tidak lagi dirasakannya. Dia hanya ingin menghindari interaksinya dengan Sall, karena masih sulit untuk bersikap biasa saja, disaat hatinya merasa sakit karena suaminya tidak terbuka mengenai suatu hal yang harus diketahuinya.
*************************
Raut cemas Sall berganti senyuman, begitu melihat istrinya sedang bermain bersama Sang Putra, Shawn di atas tempat tidur yang berada di kamar Shawn.
"Sweetheart, aku kira kamu kemana, eh taunya lagi sama anak gantengnya Daddy ya. Hai Son, apa kabarmu hari ini?"
Sall mendudukkan dirinya disebelah Shawn, sehingga kini Shawn berada di tengah-tengah Sall dan Sanchia. Sall menggoda Shawn dengan sesekali menggelitik dan memasang ekspresi lucu, membuat Shawn tertawa terpingkal-pingkal. Sanchia tersenyum tipis melihat interaksi Sall dengan Shawn, namun hatinya juga teriris karena tidak akan ada lagi bayangan Sall melakukan hal yang sama dengan putri mereka, Sairish.
"Honey, aku jadinya berangkat ke Bandung nanti siang ya. Aku sudah pesan tiketnya."
"Sweetheart, kan kamu bilang mau berangkat lusa, kenapa jadi hari ini?"
Terlihat jelas, Sall sedang menahan rasa kesalnya terhadap Sanchia, namun Sanchia tidak peduli dan berpura-pura tidak menyadari kekesalan suaminya.
"Sweetheart, aku khawatir akan keselamatanmu dan Shawn. Bisakah kamu membatalkan keberangkatanmu ke Indonesia? Kamu bahkan belum benar-benar sehat Sweetheart. Dan aku sudah bilang kan, kalau kamu boleh berangkat dengan private jet, tapi kenapa kamu malah pesan tiket. Ada apa sebenarnya Sweetheart?"
"Tidak apa-apa, bukankah wajar kalau aku begitu ingin cepat pulang untuk bertemu adikku yang habis melahirkan, dan melihat keponakanku yang cantik?"
"Tapi kan kamu bisa melihatnya lewat video call?"
"Kamu mengerti tidak sih, aku begitu ingin bertemu bayi perempuan Nieva, karena aku sudah kehilangan bayi perempuanku yang dibunuh dengan kejamnya, dan sampai saat ini aku masih tidak tahu alasannya apa. Apa kamu mengerti?"
Nada bicara Sanchia yang sangat tinggi, cukup membuat Sall terkejut bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan satu kata pun. Lain hal dengan Shawn yang kini sudah menangis karena takut melihat kemarahan Sanchia.
Sanchia segera menggendong dan menenangkan Shawn dengan mengelus punggung Shawn.
"Maafkan Mommy ya Sayang, kamu pasti terkejut ya. Tapi Mommy bukan marah sama kamu Nak. Berhenti ya nangisnya, maafkan Mommy ya."
Sall masih bergeming, seolah tidak percaya dengan pendengarannya, dia sama sekali tidak menyangka Sanchia akan meluapkan emosinya seperti itu.
"Jika kamu bersikeras, aku dan Shawn harus menggunakan private jet, tolong aturkan di siang ini. Kalau tidak bisa, aku dan Shawn akan berangkat dengan pesawat komersial." Tegas Sanchia, masih dengan ekspresi kesalnya.
"Baiklah Sweetheart, aku akan mengaturnya. Maafkan aku, jika tadi aku terlihat tidak memahamimu. Aku hanya khawatir Sweetheart.."
Sall berusaha bersikap lembut pada Sanchia, berharap Sanchia tidak lagi kesal padanya. Namun Sanchia memilih membereskan mainan Shawn dibanding menanggapi perkataan Sall. Sementara Sall terlihat kecewa dengan sikap Sanchia, tetapi dia berusaha memahami perasaan Sanchia yang masih sangat kehilangan bayi mereka.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight