The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 35 Honeymoon



WARNING...!!!


Mengandung konten dewasa, diperuntukan hanya untuk yang berusia 21 tahun keatas dan sudah menikah. Mohon bagi yang dibawah umur, tolong di-skip saja ya. Mohon lebih bijak untuk memilih bacaan. Terima kasih banyak ya..


*************************


Hari sudah melewati tengah hari, saat Sall dan Sanchia selesai dengan pergulatan mereka sejak tadi pagi. Bukan karena Sall sudah lelah atau puas, tapi Sall tidak ingin memaksa istrinya yang sudah terlihat begitu lelah untuk melayani keinginannya. Padahal Sall begitu ketagihan untuk mengulang terus menerus kegiatan yang sudah menjadi favoritnya itu. Jadilah sekarang Sall hanya bisa memandangi wajah cantik Sanchia yang terlelap dalam dekapan tubuh Sall yang hangat.


'Sweetheart, terima kasih karena sudah menjaganya untukku. I love you so much, Sweetheart.' Lirih Sall dalam hati.


Sall mendaratkan bibirnya di kening Sanchia selembut mungkin. Tapi ternyata apa yang dilakukan Sall, cukup mengusik ketenangan Sanchia dalam tidurnya. Sampai akhirnya Sanchia mendongakan kepalanya untuk menatap wajah Sall dengan mata setengah terbuka.


"Honey, maafkan aku tidak sengaja tertidur."


Ciuman sekilas didaratkan Sall di bibir Sanchia, lalu mengelus lembut anak rambut yang menghalangi dahi Sanchia.


"Tidak apa-apa Sweetheart, aku tahu kamu lelah.. Sweetheart, terima kasih.. Aku begitu bahagia karena akhirnya bisa memilikimu seutuhnya. I love you Sweetheart."


Sanchia melengkungkan senyumnya yang indah, lalu mengelus pipi dan dagu Sall dengan sangat lembut.


"I love you too, Honey.. Aku adalah milikmu seutuhnya, dan kamu pun milikku seutuhnya. Aku tidak mau ada yang menyentuhmu selain aku Honey."


Sall terkekeh geli melihat tatapan mata Sanchia yang berubah tajam dan galak.


'Sepertinya istriku sudah tertular sifat posesif dan jealous akut sepertiku. Tapi aku justru menyukainya.' Batin Sall.


Sall menangkup kedua pipi Sanchia dan menatap dalam ke manik mata Sanchia yang jernih. Pandangan mata Sall berubah sangat serius, tidak ingin menimbulkan keraguan di hati Sanchia walau sedikitpun.


"Aku hanya milikmu, dan selamanya tetap milikmu. Begitupun kamu Sweetheart, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dariku."


Lengkungan indah di kedua sudut bibir Sanchia mengembang sempurna, diikuti bibir Sall yang mendarat sempurna di bibir Sanchia. Sall mulai ***** dan menyesap bibir Sanchia dengan rakus sampai akhirnya bunyi perut Sanchia menginterupsi kegiatan mereka.


Kruyuuuuk..


Kekehan Sall sukses membuat Sanchia malu, terlihat dari pipinya yang berubah merah. Namun ekspresi Sanchia itu justru terlihat menggemaskan bagi Sall. Lagi-lagi Sall mengecup bibir Sanchia dengan sangat gemas.


"Kenapa kamu selalu menggodaku Sweetheart.. Hmm, kamu pasti sudah lapar, aku pesankan makan siang ya. Sudah lewat jam makan siang, kita juga harus punya tenaga untuk pertempuran kita selanjutnya."


Mendengar perkataan Sall yang begitu terbuka, membuat Sanchia lebih malu dan menundukan kepalanya menghindari tatapan Sall yang mulai berubah liar.


"Tapi sebelum makan, aku mau mandi dulu ya."


"Oke.."


Sanchia menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan menurunkan kakinya dari tempat tidur dengan sangat perlahan karena rasa tidak nyaman di area sensitifnya. Namun sebelum Sanchia berdiri dari duduknya, Sall sudah menggendong Sanchia ala bridal style menuju kamar mandi.


"Ayo kita mandi bersama Sweetheart.."


"Tidak mau, aku mau mandi sendiri.."


Sall tidak peduli dengan penolakan Sanchia yang terus meronta dalam gendongannya, Sall malah tersenyum jahil, sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi.


*************************


Menjelang petang, Sall dan Sanchia keluar dari hotel melalui jalur khusus agar Sall dan Sanchia tidak bertemu dengan Papa Leonard dan Mama Annesya. Saat ini, Sall hanya ingin menghabiskan waktunya dengan Sanchia, tanpa harus memikirkan permasalahan dengan mertuanya. Bukan karena belum siap memberikan penjelasan, tapi Sall khawatir mertuanya akan sulit menerima penjelasannya dan tetap berusaha memisahkannya dari istrinya.


Sall dan Sanchia bukan hanya beruntung memiliki Leon yang mengatur honeymoon mereka dengan sangat baik, tapi mereka juga memiliki adik ipar yang sangat pengertian seperti Kevin. Kevin mengatakan kepada Papa Leonard dan Mama Annesya, kalau dirinya dan juga Sanchia diundang ke Markas Besar Wang Eagle milik Brandon Wang, untuk membicarakan kerjasama klan lebih jauh. Sehingga selama 2 hari ini, mereka tidak akan berada di hotel. Kevin juga mengajak Nieva dengan alasan Nieva tidak bisa jauh darinya semenjak hamil.


Pada kenyataannya, Kevin dan Nieva berada di mansion pribadi milik Brandon & Sharon, sedangkan Sanchia dan Sall berada di kapal pesiar pribadi milik Sall, dengan beberapa awak yang membantu menyediakan kebutuhan mereka selama 2 hari ini.


Sanchia terlihat menikmati tenggelamnya matahari dari dek kapal seraya mengambil photo pemandangan dengan kamera ponselnya. Senyum Sanchia melengkung, saat dua tangan Sall melingkar di pinggangnya seraya menumpukan dagunya di bahu Sanchia.


"Indah ya Sweetheart.."


"Sangat.."


"Tapi menurutku lebih indah kamu."


"Liar (pembohong)."


"I'm not a liar, Sweetheart. Hmm, meskipun aku sempat membohongi keluargamu, tapi aku tidak pernah berbohong padamu, Sweetheart."


"Iya, aku percaya, Honey.."


Sall mendekatkan wajahnya ke wajah Sanchia, lalu mencium mesra bibir Sanchia yang manis, tanpa mengubah posisinya yang memeluk Sanchia dari belakang.


Sall dan Sanchia begitu menikmati bulan madu mereka di atas kapal pesiar, makan malam romantis ditemani bintang-bintang di kegelapan dan tentu saja malam panas yang mereka lewati dengan mengeksplor beberapa private spot di atas kapal pesiar.


Matahari masih terlihat malu-malu menampakan cahayanya, namun Sall yang hanya tertidur sebentar, kini sudah kembali memandangi wajah Sanchia yang berada dalam dekapannya. Sepertinya Sanchia memang sudah begitu tergantung dengan keberadaan Sall, karena Sanchia tidak bisa tertidur nyenyak, jika Sall tidak memeluknya dengan erat. Mungkin kehangatan tubuh Sall, memberikan rasa nyaman pada Sanchia, melebihi sebuah guling.


Sall Tersenyum lalu mengecup kening Sanchia, sebelum beranjak dari tempat tidur dengan sangat pelan, karena takut mengganggu tidur Sanchia yang lelap. Sall memakai celananya, namun membiarkan tubuh bagian atasnya tetap polos, sebelum keluar dari dalam kamarnya.


Kini Sall mendudukan dirinya di bagian tepi kapal seraya menundukan kepalanya dan sesekali menyesap minuman bersoda di tangannya.



'Aku benar-benar tidak mau kehilangan Sanchia, tapi sepertinya akan sulit sekali meyakinkan Papa dan Mama. Apalagi Alrico sudah mencuci otak Papa dan Mama sampai mereka membenciku. Bagaimana caranya agar aku bisa membuat mereka percaya kalau aku tidak seburuk yang mereka pikir. Aku benar-benar mencintai Sanchia, dan aku sungguh tidak sanggup jika harus berpisah dengan istriku.' Lirih Sall dalam hati.


*************************


Image Source : Instagram Toni Mahfud


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight