
Pernikahan Leticia dan Leroy juga Leon dan Leandra yang berlangsung sangat meriah itu, baru berakhir menjelang petang hari. Semua tamu undangan pulang dengan wajah-wajah penuh senyuman, termasuk Sall, Sanchia dan semua keluarga juga sahabat-sahabatnya yang segera kembali ke hotel begitu acara selesai. Rencananya besok semuanya sudah akan kembali ke negara masing-masing, untuk kembali berkutat dengan segala aktifitas mereka.
Malam harinya, Leticia dan Leroy segera bertolak ke Jepang, begitu juga Leon dan Leandra yang berangkat menuju Dubai. Mereka berempat seolah tidak ingin membuang waktu untuk segera menikmati hadiah bulan madu yang diberikan oleh Sall selama 2 minggu.
2 minggu yang terasa singkat bagi dua pasangan pengantin baru itu, diisi dengan berbagai kegiatan romantis di tempat-tempat romantis pula. Mereka berempat berharap, sepulangnya dari berbulan madu, akan ada kabar bahagia yang bisa menjadi hadiah istimewa bagi mereka, keluarga serta sahabat-sahabat mereka.
*************************
4 tahun kemudian
Pagi hari yang senyap, tiba-tiba berubah riuh setelah terdengar lengkingan teriakan dari seorang gadis kecil berusia 4 tahun. Langkah kaki Sall dan Sanchia beserta beberapa orang pelayan dan pengawal, bergerak tidak sabar menuju kamar sang gadis kecil.
"Shanaya, ada apa?" Tanya Sanchia seraya mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur dan mengelus tangan Shanaya yang dingin, sementara Sall berdiri di belakang Sanchia dengan memegang kedua bahu istrinya itu. Shanaya yang duduk bersandar pada headboard tempat tidur, dan memasang ekspresi ketakutan pun, segera menunjuk bagian bawah meja yang berada tepat di seberang tempat tidur.
"Ituuu.." Arah pandang semua orang tertuju pada sebuah benda berwarna hitam seukuran bola volly, berbentuk bulat dan berduri yang teronggok di bawah meja.
Sall memberi kode para para pengawal untuk memeriksa benda apa yang membuat Shanaya ketakutan itu.
"Ini seekor landak besar Tuan." Ujar salah seorang pengawal.
"Hah, bagaimana bisa ada seekor landak besar masuk kesini?" Tanya Sall sedikit berteriak.
"Pasti ini ulah Kak Shawn, Daddy.. Beberapa hari sebelumnya, Kak Shawn menakut-nakutiku dengan serigala, ular, bahkan lintah besar yang sangat banyak." Rahang Sall mengeras mendengar penuturan Shanaya, namun elusan tangan dan tatapan menenangkan dari Sanchia, berhasil menurunkan emosinya.
"Panggil Shawn kemari." Perkataan dingin Sall segera dibalas anggukan oleh salah seorang pelayan.
Selang dua menit kemudian, Shawn datang dengan wajah bantalnya. Bahkan matanya masih setengah terbuka karena rasa kantuk yang masih belum hilang dari wajahnya, karena dibangunkan secara paksa.
"Ada apa Dad, Mom? Kenapa membangunkan aku dan memintaku ke kamar Shanaya." Tanya Shawn dengan mata yang masih enggan terbuka.
"Apa kamu sengaja memasukkan landak itu, untuk menakut-nakuti Shanaya?" Seketika mata Shawn terbuka lebar, dia melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju landak yang masih menegakkan duri-durinya sebagai alat pertahanan. Namun saat Shawn memanggil dan menyentuhnya, landak itu segera mengubah duri-durinya menjadi bulu halus, seolah tidak menganggap Shawn sebagai ancaman.
Sall segera menyuruh semua pengawal dan pelayan yang masih ada di kamar Shanaya, untuk segera keluar. Karena menganggap semua kehebohan yang ditimbulkan oleh Shawn dan Shanaya itu sudah bisa diatasi.
"Shawn, kenapa kamu selalu saja menjahili dan menakut-nakuti adikmu, Shanaya?" Nyali Shawn sedikit ciut menatap netra sang Daddy yang terlihat berkilat tajam.
"Aku sudah 2 hari ini mencarinya, Dad. Aku sama sekali tidak berniat menjahili Shanaya dengan menggunakan landak ini. Aku tidak tahu kalau dia masuk kesini." Sall dan Sanchia mencoba menelisik ekspresi Shawn dan menilai kejujuran Putra sulungnya itu.
"Aku tahu Daddy dan Mommy tidak percaya dengan perkataanku, tapi aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya." Sall dan Sanchia memang tidak melihat kebohongan di wajah Shawn, tapi bibir mereka seolah enggan mengakui, karena saking seringnya Shawn menjahili adiknya.
"Shawn, bukan Mommy dan Daddy tidak percaya, tapi kebiasaan jahilmu pada Shanaya, membuat kami tidak mudah percaya begitu saja. Kamu tidak suka saat Bradley dan Briley mengajak Shanaya bermain, tapi kamu sendiri jarang mau menemani adikmu bermain. Kamu tidak suka saat ada anak lain mengganggu adikmu di tempat umum, tapi kamu sendiri malah sering menjahilinya. Kamu harus bisa bersikap baik pada Shanaya, kamu harus menyayanginya, karena dia adalah adikmu, Shawn." Shawn menganggukkan kepalanya, setelah mendengar nasihat Mommy-nya yang cukup panjang.
"Shawn menyayangi Shanaya Mom, tapi Shawn tidak suka menemani Shanaya bermain boneka, masak-masakan atau merangkai bunga. Itu kan mainan anak perempuan. Shawn ingin Shanaya bisa belajar meretas seperti Shawn, bermain dengan binatang peliharaaan Shawn, bermain game dan juga berlatih beladiri dengan Shawn. Shanaya memang pintar, tapi dia juga harus menjadi perempuan yang kuat, Mom.." Sall menganggukkan kepalanya, memahami penjelasan sang putra yang terdengar jujur dan masuk akal.
"Iya Mommy mengerti, tapi kamu dan Shanaya harus bisa saling mengerti. Bukan hanya adikmu yang harus mengerti dan mengikuti hobimu, tapi kamu juga harus bisa mengerti apa yang disukai oleh adikmu. Apa kamu paham Shawn?"
"Shawn paham Mom.. Mulai hari ini, Shawn akan lebih sering menemani Shanaya bermain." Senyum Sall dan Sanchia terbit bersamaan. Begitupun dengan senyum Shanaya yang mengembang sempurna.
"Kak Shawn, aku pun akan mulai belajar apa yang kamu sukai. Agar kita bisa belajar dan bermain bersama-sama." Shawn tersenyum lalu memeluk adiknya, setelah menyimpan terlebih dahulu landak yang dipegangnya di atas meja.
"Iya Shanaya, Kakak janji akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamamu." Ujar Shawn bersungguh-sungguh.
"Kak Shawn juga harus berhenti menjahiliku, bukan hanya melindungiku dari gangguan anak lain saat bermain di luar." Shawn melepas pelukannya, lalu menatap wajah Shanaya dengan ekspresi seriusnya.
"Sifat Shawn benar-benar menurun darimu. Apa yang dia lakukan, persis seperti yang dulu kamu lakukan, Honey.. Tidak suka ada orang yang menggangguku, tapi kamu sendiri terus saja membuatku kesal." Bisik Sanchia, membuat Sall terkekeh geli mengingat awal pertemuannya dengan Sanchia.
*************************
Sebuah acara peluncuran Hotel milik Knight Group Company, digelar begitu meriah di aula hotel yang terletak di pusat Kota Birmingham. Sall begitu bersemangat memberikan sambutan dihadapan perwakilan pemerintah, jajaran management dan juga rekan-rekan bisnisnya yang terlihat mendengarkan sambutannya dengan serius.
"And on this occasion, I would like to introduce great architect who have created unique and amazing designs from all Knight Group Company projects for almost 4 years. The project of the construction of a resort in Cornwall, the construction and renovation of several hotels in Liverpool, Manchester and Bristol, as well as this hotel which is the largest hotel in Birmingham City. I assure you, it's not me, even though the construction is under my direct supervision. All these magnificent buildings, created from the cold hands of an amazing woman. (Dan dalam kesempatan ini pula, saya ingin memperkenalkan Arsitek yang menciptakan design-design unik dan menakjubkan dari semua project Knight Group Company selama hampir 4 tahun ini. Yaitu project pembangunan resort di Cornwall, pembangunan dan renovasi beberapa hotel di Liverpool, Manchester dan Bristol, juga hotel ini yang merupakan hotel terbesar di Kota Birmingham. Saya pastikan, itu bukan saya. Semua bangunan megah ini, tercipta dari tangan dingin seorang perempuan yang sangat menakjubkan)." Semua tamu undangan terlihat penasaran, terlebih saat mata Sall mengarah ke sebuah pintu ruang tunggu yang sedikit terbuka. Mereka begitu ingin tahu siapa sosok dibalik pesatnya perkembangan resort dan hotel dari Knight Group Company, bahkan sampai menjadi group resort dan hotel terbaik di negara itu.
"These unique and amazing designs come from magical thoughts and hands of Mrs. Sanchia Arelia Knight. (Design-design unik dan menakjubkan itu, berasal dari pemikiran dan tangan ajaib Mrs. Sanchia Arelia Knight)." Raut terkejut terlihat jelas di wajah hampir semua tamu undangan, saat mendengar nama yang disebutkan Sall. Pikiran mereka langsung menduga kalau nama yang Sall sebutkan adalah istri sah Sall yang selama ini dia sembunyikan dari publik.
Sanchia keluar dengan gaun putihnya seraya mengembangkan senyumnya yang seketika membuat banyak tamu undangan terpesona. Sall berjalan menjemput Sanchia, lalu mengulurkan tangannya ke arah Sanchia yang langsung menyambut uluran tangan Sall dan mengikutinya menuju podium.
"Sanchia Arelia Knight, my beloved wife and architect who designed all the buildings I mentioned earlier. (Sanchia Arelia Knight, istri tercinta saya sekaligus Arsitek yang merancang semua bangunan yang saya sebutkan sebelumnya)." Tepuk tangan menggema memenuhi semua sudut aula. Tatapan dan senyuman kagum para tamu undangan, terlihat mengarah pada pasangan serasi yang sedang tersenyum di hadapan mereka. Pujian sesekali keluar dari mulut para tamu undangan, karena menganggap Sall dan Sanchia bukan hanya cocok dalam hal penampilan mereka, namun juga profesi yang sama dan saling mendukung satu sama lain.
Pertama kalinya Sanchia diberi kesempatan berbicara di hadapan para tamu penting, untuk menjelaskan design-design miliknya yang kental dengan perpaduan budaya barat dan timur. Sanchia terlihat tenang dan percaya diri saat menjelaskan detail design-nya yang banyak didominasi ukiran-ukiran khas Bali, Jawa, Kalimantan dan ukiran khas daerah lainnya. Terlebih Sall terlihat sangat mendukung Sanchia, dengan berdiri disebelahnya, sehingga membuat Sanchia semakin merasa nyaman dan sama sekali tidak merasa canggung di atas stage.
Bahkan MC yang bertugas mengatur acara, melanjutkan obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan tambahan setelah mendapat izin dari Sall, karena para tamu undangan bukan hanya penasaran pada design bangunan ciptaan Sanchia yang begitu indah, tapi juga sangat penasaran tentang siapa sesungguhnya istri dari Sall Sherwyn Knight ini.
"I am just a mother of a son and a daughter who got the opportunity from my amazing husband, to design beautiful buildings, according to my tastes and desires. I didn't think my design would be liked by so many people. (Saya hanya seorang ibu dari seorang putra dan seorang putri yang mendapat kesempatan dari suami saya yang sangat luar biasa, untuk mendesign bangungan-bangunan indah sesuai selera dan keinginan saya. Saya sama sekali tidak menyangka, kalau design saya begitu diminati banyak orang)." Ungkap Sanchia dengan rendah hati.
Sanchia juga tidak menduga sama sekali design-design yang menurutnya tidak terlalu istimewa itu bisa membawa perubahan yang signifikan bagi bisnis suaminya. Pengunjung hotel begitu tertarik, karena design hotel yang unik dengan perpaduan budaya barat dan timur itu, membuat mereka merasa sedang berlibur di beberapa negara sekaligus.
Dalam kesempatan itu pun, terjawab sudah rasa penasaran para tamu undangan, saat Sanchia menjawab pertanyaan salah satu tamu undangan, dan menjelaskan identitas putra dan putri mereka, yaitu Shawn Salazar Knight dan Shanaya Zarine Knight. Moment inilah yang sangat ditunggu oleh Sall, dimana dia bisa menunjukkan pada dunia, kalau dia bahagia memiliki seorang istri dan 2 orang anak yang sangat menggemaskan. Meskipun Sall bertekad untuk tidak mengekspos kehidupan kedua anaknya, untuk menjaga privacy dan keselamatan mereka.
Sanchia masih menjawab beberapa pertanyaan yang mengarah padanya, tanpa menyadari ada sepasang mata yang begitu berbinar dan bangga melihatnya berdiri begitu percaya diri di depan banyak orang. Sall yang selama ini begitu mempercayai kemampuan Sanchia, merasa sangat bahagia pada istrinya yang bisa mewujudkan passion-nya sebagai seorang Arsitek. Bahkan Sanchia mampu membawa Knight Group Company menjadi semakin maju lagi.
"I am so proud of you, and i will always support you, Sweetheart. (Aku sangat bangga padamu, dan aku akan selalu mendukungmu, Sweetheart)." Tekad Sall dalam hati.
*************************
Hai..Hai..Aku up lagi nih.. Maaf ya telat banget.
Temen2 semuanya, ada sesuatu yang mau aku jelasin disini, karena ada reader yang kurang berkenan pas part Sall ikut keyakinan Sanchia saat menikah, dan menganggap kalau pindah agama adalah sesuatu yang sensitif.
Terima kasih saran/kritiknya, tapi hal ini penting buat aku jelasin, karena mungkin disini ada juga yang berpikir hal yang sama.
Aku sama sekali tidak menyebutkan ada agama tertentu yang dianut Sall sebelum menikahi Sanchia. Aku sengaja tidak mencantumkan agama tertentu karena tau pasti kalau hal itu adalah hal yang sangat sensitif. Kalau readers jeli, mungkin bisa ngeh saat Sall bilang "Bahkan aku tidak percaya Tuhan".
Part itu hanya bagian kecil dari alur cerita. Bahkan di novelku, aku sengaja mengangkat keberagaman, baik dari negara, budaya, agama dll.
Aku baru beres nulis prosesi pernikahan Leon & Leandra juga Leroy & Leticia yang keyakinannya berbeda dari Sall dan Sanchia, sama sekali tidak ada masalah dengan persaudaraan mereka.
Jadi jika ada yang keberatan dan tidak berkenan dengan alurnya, saya mohon maaf. Namun saya sama sekali tidak bermaksud buruk, apalagi mendiskriminasi agama tertentu.
Karena dalam kehidupan nyata pun, saya dekat dengan sahabat2 saya yang berbeda agama. Sekali lagi saya mohon maaf. Terima kasih banyak semuanya.
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤