The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 133 Happy New Year



Tiga orang perempuan tampak berlari kecil menghampiri dan memeluk Sanchia tanpa ragu. Ketiganya sudah berkaca-kaca hendak meneteskan air mata karena haru melihat sahabat yang sudah lama tidak mereka temui. Sanchia pun tersenyum lembut, bergantian menatap Fanya, Flora dan Nancy, teman masa SMA yang terbilang tulus dibanding teman-temannya yang lain. Tidak seperti Raras dan Desita yang terlihat enggan memandang Sanchia dan malah mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Sanchia, apa kabar? Bertahun-tahun kamu bagai hilang ditelan bumi. Alhamdulillah, sekarang kamu muncul, tepat di acara reuni angkatan kita. Ezra dan Shuga sempat mendengar kabarmu saat kuliah, juga kesuksesanmu sebagai seorang Arsitek di sebuah perusahaan besar. Tapi anehnya, sekalipun kami tidak bisa menemuimu, kamu benar-benar menghindari kami Sanchia." Panjang lebar Fanya meluapkan perasaannya yang tertahan bertahun-tahun, sementara Sanchia kembali tersenyum.


"Untuk apa kalian mencariku, aku tidak cukup baik untuk menjadi sahabat kalian." Perkataan Sanchia menohok perasaan semua teman-temannya.


"Maafkan kami Sanchia, kami tahu pasti, kalau kamu adalah gadis yang sangat baik. Tapi kami tidak bisa membuktikan kalau kamu tidak seperti gosip yang beredar. Dhiany-lah yang membuat dan menyebarkan gosip itu. Sayangnya Dhiany sekarang sudah meninggal karena dirampok di luar negeri, sehingga tidak mungkin meminta maaf secara langsung padamu." Penjelasan Flora membuat Sanchia seketika mengarahkan pandangan pada Shuga.


Sanchia tahu pasti, kalau Dhiany dibunuh oleh orang kepercayaan Shuga, yang merupakan mantan kekasih Dhiany. Mungkin saja Shuga mengarang cerita, agar kematian Dhiany tidak dihubungkan dengan dirinya.


Raras dan Desita bergerak menghampiri Sanchia, meskipun langkahnya terlihat pelan dan ragu.


"Sanchia, maafkan aku dan Raras. Kami bersalah karena sudah membantu Dhiany menyebarkan gosip tentangmu. Jujur, saat itu kami merasa iri padamu Sanchia. Tapi sekarang aku sadar, kalau yang kami lakukan tidak akan pernah bisa membuat kami bahagia. Justru membuat kami mendapat hukuman atas semua yang kami lakukan." Sekilas Desita memandang Ezra yang menatapnya tidak suka. Sedangkan Sanchia tidak menyangka, Desita yang pernah bersikap jahat dan mengkhianatinya, bisa meminta maaf secara langsung padanya.


Raras dan Desita memang sudah mendapatkan karma atas perbuatan mereka dulu. Sejak gosip tentang Sanchia menyebar, Desita bisa membuat Ezra berpaling dari Sanchia dan menerima cintanya. Begitupun Davis yang menyerah pada keagresifan Raras. Tapi setelah fakta tentang Sanchia terkuak oleh Shuga, Ezra dan Davis segera memutuskan hubungan mereka dengan Desita dan Raras. Ezra dan Davis berubah membenci Desita dan Raras, meskipun mereka masih sering bertemu saat ada acara reuni seperti saat ini.


Shuga, Ezra dan Davis yang sebelumnya hanya menonton seperti teman-teman angkatannya yang lain, kini mendekat ke arah Sanchia, bergabung dengan Fanya, Flora, Nancy, Raras dan Desita. Namun Shuga memilih diam dan mati-matian menetralkan perasaannya yang meluap-luap. Sesungguhnya ingin sekali Shuga memeluk dan mengungkapkan rasa rindunya pada perempuan yang masih dicintainya itu. Tapi Shuga tahu, Sanchia pasti akan semakin membencinya, jika dia berani melakukannya. Setidaknya Shuga merasa bersyukur, keputusannya untuk menghadiri acara reuni angkatannya di Bandung, bisa mempertemukannya kembali dengan Sanchia yang begitu dirindukannya.


"Sudah tidak ada kesalahpahaman tentangmu Sanchia, Shuga-lah yang membersihkan namamu beberapa tahun yang lalu. Tapi kami begitu sulit menemukanmu, kamu benar-benar pintar bersembunyi. Tolong maafkan kami Sanchia." Ezra memandang Sanchia dengan sangat memelas, begitupun Shuga, Davis dan yang lainnya.


"Tidak ada gunanya kalian meminta maaf, permintaan maaf kalian tidak bisa mengganti kenangan buruknya dan perasaan sakitnya selama bertahun-tahun." Kemunculan Sall membuat suasana hening seketika. Ada tatapan kagum dan terpana dari teman-teman Sanchia, namun aura Sall yang dingin, sedikit membuat nyali mereka ciut.


Ternyata Sall sudah cukup lama memperhatikan interaksi Sanchia dan teman-teman SMA-nya itu, tapi Sall memilih melihatnya dari kejauhan. Menunggu apa yang dilakukan teman-teman Sanchia pada istrinya.


"Ayo Sweetheart kita pergi. Tampaknya sudah terlalu sore." Raut kecewa seketika terpampang di wajah semua teman-teman Sanchia. Apalagi saat Sanchia menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum pada Sall. Namun sebelum pergi, Sanchia mengungkapkan perasaannya dengan sangat jujur.


"Aku sudah memaafkan kalian, mari kita lupakan kenangan buruk itu. Karena akupun sudah bahagia bersama suami dan anak-anakku." Ada rasa lega di wajah teman-teman Sanchia, terlebih saat mengetahui kalau Sanchia mempunyai suami yang begitu sayang dan peduli padanya seperti tadi. Terkecuali Shuga yang terlihat begitu kecewa dan masih saja tidak mengikhlaskan Sanchia bahagia dengan orang lain.


"Terima kasih karena sudah memaafkan kami Sanchia." Fanya, Flora dan Nancy kembali memeluk Sanchia dengan erat. Begitupun Raras dan Desita yang ikut memeluk Sanchia, meskipun perasaan malu cukup terlihat di raut wajah mereka berdua.


Hati Sanchia menghangat saat dia membalas pelukan teman-temannya. Namun beberapa saat kemudian Sanchia melerai pelukan teman-temannya, karena tidak ingin membuat Sall menunggu terlalu lama.


"Kami harus pergi, silahkan lanjutkan acara reuni kalian. Maaf karena acara kalian justru terhambat karena kehadiranku. Kami pergi dulu ya." Sanchia menggenggam tangan Sall, dan  mengikuti langkah Sall yang sudah melangkah lebih dulu.


"Sanchia.. Kami akan senang, jika besok kamu bisa bergabung untuk merayakan malam tahun baru di villa milikku di daerah Lembang." Perkataan Shuga menghentikan langkah Sanchia dan Sall, lalu memalingkan wajah mereka ke arah teman-teman Sanchia.


"Terima kasih undangannya, tapi maaf, aku terpaksa menolaknya. Karena besok, aku sudah mempunyai acara dengan keluargaku." Sanchia dan Sall kembali melanjutkan langkah mereka untuk turun menuju tempat parkir. Sedangkan teman-teman Sanchia, menatap sendu punggung Sanchia dan Sall sampai tidak terlihat lagi.


**************************


Setelah menemani Shanaya dan Shawn bermain dan makan malam bersama, Sanchia dan Sall tampak membereskan barang-barang mereka ke dalam koper. Sebetulnya hanya tinggal sedikit barang-barang saja, karena pelayan sudah membereskan barang-barang mereka sebelumnya. Besok Sall, Sanchia dan anak-anak akan menginap di mansion Nieva dan Kevin, sebelum lusa mereka harus berangkat menuju London, Inggris.


"Sweetheart, apa benar kamu tidak mau merayakan tahun baru di mansion kita di Bali?" Tanya Sall pada Sanchia, seraya  mendorong kopernya ke sudut kamar, lalu mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Tidak Honey, aku hanya ingin menikmati tahun baru bersama keluarga kita, dimanapun tidak masalah. Kita bisa membuat barbeque di mansion Nieva dan Kevin malam tahun baru nanti." Jawab Sanchia, menyusul duduk di sebelah Sall.


"Hmm, apa mungkin kamu mau datang ke acara tahun baru yang diadakan teman-teman SMA-mu?" Tanya Sall sedikit ragu, takut jawaban Sanchia tidak sesuai dengan harapannya.


"Tidak Honey, selama ini mereka juga selalu berkumpul tanpa aku. Tidak ada pengaruhnya sama sekali, aku datang atau tidak." Jawaban Sanchia menarik senyuman tipis di bibir Sall.


"Serius Sweetheart? Apa kamu yakin tidak mau menghabiskan malam tahun baru dengan bernostalgia bersama teman-teman dan juga.. Shuga." Sanchia memundurkan tubuhnya dan menatap Sall dengan sengitnya.


"Aku hanya memastikan Sweetheart. Hmm, apa benar kamu sudah memaafkan semua teman-temanmu itu?" Sall menatap dalam netra Sanchia.


"Iya, aku sudah lama berusaha membebaskan hatiku dari segala kebencian dan kekecewaan yang mereka buat. Namun saat mendengar mereka meminta maaf, entah kenapa hatiku terasa lebih damai dan hangat. Bersyukur, mengikhlaskan yang telah terjadi dan melupakan semua kenangan buruk, membuatku semakin bahagia Honey.. Sama sepertimu yang memilih memaafkan Marlon dan melepaskannya, setelah Marlon mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang Jovanka dari Leon dan Leroy. Marlon pun menyesali semuanya dan benar-benar meminta maaf padamu, meskipun kamu belum mau menerima permintaan maafnya secara langsung. Tapi tindakanmu yang melepaskannya dan menyuruhnya pergi jauh, adalah bentuk kasih sayangmu terhadap seorang sahabat."


Sall menganggukkan kepalanya, lalu memeluk erat pinggang Sanchia dan membenamkan kepalanya di dada Sanchia.


"Aku tidak suka dikhianati, aku bukanlah orang yang mudah memaafkan jika kepercayaanku dikhianati."


"Aku pun sama. Aku bisa memaafkan, namun segalanya tidak bisa tetap sama. Jadi kamu pun tidak boleh mengkhianatiku, Honey." Sanchia menatap Sall dengan tatapan tajamnya, yang langsung dibalas Sall dengan senyum tampannya.


"Tidak akan pernah. Aku hanya akan mencintaimu dan setia padamu di sepanjang hidupku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu berpaling dariku, Sweetheart."


Cup..


Bibir Sall merangkum lembut bibir Sanchia, menyesap dan mengabsen setiap sudut rongga mulut Sanchia tanpa jeda. Sanchia yang menerima serangan sang suami pun, membalas dengan sangat lihai dan agresif. Bahkan tangannya yang awalnya melingkar di leher Sall, kini sudah beralih menyusuri pipi, leher dan dada Sall yang bidang. Menciptakan sengatan-sengatan kenikmatan yang membuat Sall semakin bersemangat menjelajahkan tangannya ke spot-spot favoritnya di tubuh Sanchia. Malam terakhir di mansion mereka pun, ditutup begitu manis dengan kegiatan favorit mereka yang mampu menerbangkan perasaan mereka ke nirwana.


*************************


Keesokan harinya di suasana sore yang cukup mendung, Sall, Sanchia, Shanaya dan Shawn berangkat menuju mansion Nieva dan Kevin, ditemani beberapa orang babysitter dan para pengawal. Sebelumnya mereka menyempatkan berbelanja banyak sekali makanan berat, minuman, cemilan dan buah-buahan untuk melengkapi acara malam tahun baru mereka nanti malam.


Sesampainya di ruang utama mansion Nieva dan Kevin, suasana terasa sangat sepi dan lengang. Bahkan tidak ada satupun pelayan yang biasanya lalu lalang di ruangan itu. Sall yang mendorong stroller Shanaya, sesekali mengedarkan pandangannya ke segala arah, begitupun Sanchia dan Shawn.


"Mom, Dad.. Kenapa sepi sekali ya?" Nampaknya Shawn sama herannya seperti Sall dan Sanchia.


"Surpriseeee.. Happy New Yeaaaarr.." Sall, Sanchia dan Shawn begitu terkejut saat netra mereka menangkap wajah-wajah yang tidak mereka duga kehadirannya. Bukan hanya ada Papa Leonard, Mama Annesya, Kevin, Nieva dan Keiva saja yang menyambut mereka. Melainkan ada Leon, Leandra, Leroy, Leticia juga kedua orangtua Leandra dan Leticia. Dan yang membuat Sall dan Sanchia tidak sangka, ternyata Zivara, Bryllian, juga si kembar Bradley dan Briley ikut hadir diantara mereka.


"Wow.. Benar-benar kejutan special. Happy New Year semuanya.." Ucap Sanchia seraya memeluk orang-orang tersayangnya, diikuti suami dan kedua putra putrinya.


*************************


HAPPY NEW YEAR.. SELAMAT TAHUN BARU SEMUANYA.. 🤗🥰


Semoga Tahun 2022 menjadi tahun penuh suka cita bagi kita semua. Yang dipenuhi keberkahan, kesehatan, kesuksesan, kebahagian dan tercapainya segala mimpi dan niat baik kita semuanya. Aamiin..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight