
Bunyi kilat menyambar serta hujan deras di kala petang menyapa, membangunkan Sanchia dari tidur lelapnya. Disentakkan tubuhnya dengan mendorong keras dada Sall menggunakan tangannya yang terbebas dari jarum infus. Sall terbangun seketika, namun bukannya beranjak dari tempat tidur setelah melihat tatapan membunuh dari Sanchia, hal pertama yang dilakukannya adalah memegang dahi dan juga leher Sanchia dengan punggung tangannya.
"Kamu sudah tidak demam, aku akan membawakanmu makanan."
Sall segera beranjak keluar dari kamar Sanchia untuk meminta pelayan menyiapkan makanan untuk Sanchia.
Sementara itu, Sanchia mengingat-ingat apa yang telah terjadi, terutama alasan bagaimana dia bisa berakhir memeluk Sall dengan begitu nyamannya. Dan setelah menyadari kalau semua diawali oleh ulahnya, tiba-tiba wajah Sanchia berubah merah karena malu.
'Bagaimana bisa aku masuk dalam pelukannya dengan sangat nyaman, hal ini benar-benar memalukan. Tapi jika aku pura-pura tidak ingat dan berbalik menyalahkannya juga cukup terdengar tidak adil. Jadi aku harus bagaimana? Seharusnya dia tidak memelukku, dan membiarkan aku tidur dengan terbungkus selimut tebal saja, jika memang aku merasa kedinginan.'
Perang batin Sanchia berhenti setelah menyadari Sall masuk ke dalam kamar seraya memegang nampan berisi 2 mangkuk bubur dan sup, juga segelas susu dan air putih. Sall menyimpan nampan tersebut di atas nakas, lalu membantu menumpukan dua buah bantal, agar Sanchia bisa duduk bersandar pada bantal yang lebih tinggi saat makan.
Sall mengambil segelas air dan berniat meminumkannya pada Sanchia. Awalnya Sanchia begitu ragu, tapi tangan dan tubuhnya memang terlalu lemas untuk hanya sekedar memegang gelas air minum. Sanchia meneguk pelan sampai air di dalam gelas hanya tersisa setengahnya. Sall tersenyum tipis, melihat gadis yang selalu saja melawannya itu, kini terlihat penurut dan lebih jinak.
"Memangnya tidak ada pelayan, kenapa kamu terus yang membawakan makanan?"
Wajah Sanchia menunjukan ketidaksukaan saat Sall mengambil mangkuk berisi bubur.
"Mereka semua sedang sibuk, jadi aku menawarkan diri untuk membantu mereka membawakan makananmu." Jawab Sall sekenanya, yang tentunya adalah sebuah kebohongan.
Sanchia mengalihkan wajahnya saat sendok yang berisi bubur di atasnya, disodorkan Sall tepat di depan mulutnya.
"Aku tidak ingin makan, simpan saja. Nanti aku akan memakannya saat merasa lapar."
Sall berniat membujuk Sanchia, saat tiba-tiba terdengar protes dari perut Sanchia.
Kruyuuuuuk..Kruyuuuukk...
Wajah Sanchia memerah dan merutuki perutnya yang tidak bisa diajak kompromi.
'Aiiiiish.. Memalukan sekali, image-ku rasanya hancur seketika.' Keluh Sanchia dalam hati.
"Tapi sepertinya perutmu tidak setuju dengan pendapatmu."
Seringai nakal di wajah Sall membuat Sanchia semakin malu, namun Sanchia mencoba menutupinya dengan mengungkapkan kekesalannya.
"Sudahlah, kamu keluar saja. Nanti aku akan memakan makanan itu. Kehadiranmu malah membuatku semakin kehilangan nafsu makan."
"Tapi nafsu untuk memelukku masih ada kan?"
Sanchia memelototkan matanya ke arah Sall, yang justru malah terkekeh geli. Sanchia yang merasa sangat malu, berharap Sall tidak akan mengungkit lagi insiden pelukan tadi siang.
"Sudahlah kamu sedang sakit, aku bisa melihat tangan dan tubuhmu begitu lemas, dan tidak akan sanggup untuk memegang piring ini. Buka mulutmu."
Sanchia akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Sall, bahkan tidak ada lagi protes untuk suapan-suapan berikutnya.
"Sudah Sall, aku sudah kenyang."
Sall melihat mangkuk bubur yang baru berkurang sepertiganya, lalu beralih memandang Sanchia yang masih terlihat lemas.
"Sedikit lagi ya, kan baru 5 suap."
Sanchia menggeleng lemah, sehingga Sall menyimpan mangkuk bubur itu di atas nampan, beralih mengambil gelas air minum lalu meminumkannya pada Sanchia.
"Terima kasih."
Sanchia berkata lirih dengan ekspresi canggung, karena merasa aneh sekaligus malu setelah menerima bantuan dari orang yang sangat dibencinya. Sall pun tersenyum mendengar perkataan Sanchia, apalagi ekspresi Sanchia begitu menggemaskan dengan pipinya yang memerah.
"Sama-sama. Tapi bantuanku tidak gratis."
Sanchia memutar kedua bola matanya dengan kesal lalu memandang Sall yang terkekeh geli.
"Orang sepertimu memang tidak bisa ikhlas membantu orang lain."
"Sanchia.. Jangan marah seperti itu dong, aku kan hanya bercanda"
Sall masih saja terkekeh memperhatikan wajah Sanchia yang membuatnya gemas. Beberapa saat kemudian, Sall menghentikan kekehannya dan menatap intens wajah Sanchia yang cantik.
Sanchia tidak dapat menutupi rasa terkejutnya, setelah mendengar permintaan maaf dari Sall. Kejadian yang sempat dilupakannya itu, kini kembali terbayang, memancing aliran sungai di pipi Sanchia.
"Saat ini aku begitu lemah, aku bahkan tidak bisa melawan kamu dengan kemampuan beladiriku. Tapi kamu memanfaatkan kesempatan itu untuk melecehkanku. Aku benar-benar membencimu Sall."
"Sanchia, tapi aku sama sekali tidak berniat melecehkanmu."
"Jika bukan melecehkan, lalu apa?"
"Karena aku.. Menginginkanmu."
"Menginginkanku? Kamu menginginkanku untuk menyalurkan nafsumu? Br*ngsek kamu Sall."
"Sanchia, bukan begitu..Aku."
Sanchia memotong perkataan Sall, karena merasa penjelasan Sall hanya akan membuatnya semakin kesal saja.
"Sudah Sall.. Aku tidak mau membahas hal ini lagi."
Sall hendak membuka mulutnya kembali, namun Sanchia mendahului niat Sall dengan lebih cepat.
"Sall, bisakah aku meminta tolong pelayan perempuan untuk membantuku?" Tanya Sanchia ragu.
"Untuk apa? Aku bisa membantumu jika kamu perlu sesuatu." Sall menatap Sanchia penuh curiga. Meskipun kesal, Sanchia tetap menjelaskan tujuannya.
"Aku perlu pelayan perempuan untuk membantuku ke kamar mandi. Bisakah kali ini tidak usah berdebat denganku. Aku mohon." Ucapan Sanchia yang terdengar kesal bercampur putus asa, membuat Sall mengangguk pelan. Sall memutuskan untuk memenuhi permintaan Sanchia dengan memanggil pelayan perempuan.
Sepeninggal Sall, Sanchia melepas infus yang terpasang di tangannya dengan perlahan. Tidak lama Sall kembali bersama seorang pelayan perempuan berusia 20 tahunan.
"Bisakah kamu meninggalkan kami?" Sanchia sudah sangat jengah karena Sall terus saja mengawasinya.
"Hmm, baiklah.." Sall lagi-lagi memenuhi permintaan Sanchia, dan memberinya ruang. Meskipun Sanchia begitu galak, entah kenapa Sall seolah tidak bisa marah.
"Nona ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan perempuan itu sepeninggal Sall.
"Aku memerlukan mukena untuk shalat. Apa kalian memilikinya?" Tanya Sanchia pelan.
Sebenarnya Sanchia bukanlah seorang muslimah yang baik. Bahkan dirinya tidak ingat, kapan terakhir kali mendirikan shalat. Dunia mafia bahkan membuatnya lalai dan jauh dari Tuhan. Hanya saja dirinya menyadari, kalau saat ini tidak ada yang bisa menolongnya kecuali Allah. Meskipun terasa sangat memalukan, beribadah karena berharap adanya pertolongan dan keajaiban.
"Ada Nona, sebentar saya ambilkan." Pelayan perempuan itu hanya memerlukan waktu kurang dari 10 menit, sebelum akhirnya kembali dengan menenteng tas berisi mukena.
"Nona, ini mukenanya. Ini mukena bersih kok Nona, baru saya cuci."
"Terima kasih ya, siapa namamu?"
"Nama saya Dian, Nona."
"Baiklah Dian, tolong bantu saya ke kamar mandi, saya ingin berwudhu."
Dian membantu Sanchia untuk turun dari atas tempat tidur.
Sementara Sall yang sudah berada di kamarnya, tengah mengawasi apa yang dilakukan Sanchia dari monitor CCTV di tab-nya.
Sall fokus mengawasi Sanchia yang sudah kembali ke atas tempat tidur dibantu Dian. Sanchia mengenakan mukena untuk shalat di atas tempat tidur dengan posisi duduk.
'Seorang ketua mafia seperti dia bisa berdoa seperti itu, aku bahkan tidak percaya adanya Tuhan.' Batin Sall.
Sall terus memperhatikan Sanchia sampai menyelesaikan shalatnya, dan sesaat kemudian, pelayan yang bernama Dian itu meninggalkan Sanchia yang memejamkan matanya.
Sall memperbesar rekaman CCTV-nya, demi melihat raut wajah Sanchia lebih jelas. Sudah tidak ada air mata, tapi raut sendu masih menghiasi wajah Sanchia.
'Apa Sanchia merindukan keluarganya? Apa dia sedih karena tidak bisa melawanku? Aku pun merasa aneh dengan diriku, sebelum membawanya kesini, aku berniat membuatnya menderita dan menurut padaku selamanya. Kenapa sekarang aku merasa bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan padanya? Tapi tetap saja, aku tidak akan pernah mengembalikan Sanchia pada keluarganya, aku akan menebus semua kesalahanku dengan membahagiakannya seumur hidupku.' Tekad Sall dalam hati.
*************************