The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 77 Bersyukur Memilikimu



MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA


Langit berubah jingga, dihiasi iringan awan yang terlihat keemasan karena pantulan sinar matahari senja yang begitu mempesona. Sall memeluk tubuh Sanchia dari belakang, keduanya saling memuji seraya memandangi keindahan ciptaan Tuhan dari balkon kamar mereka. Sanchia tidak henti melengkungkan senyumnya yang indah, karena tingkah suami yang begitu manja menumpukan dagunya di bahu Sanchia dan sesekali membuat Sanchia geli dengan menciumi bahu dan leher Sanchia yang polos.


Bukan hanya keindahan ciptaan Tuhan dan tentunya sikap Sall yang membuat Sanchia tidak henti mengulas senyum manisnya, tapi juga karena rasa syukur atas sikap sang suami yang begitu melegakan hatinya. Berakhir sudah kekhawatiran Sanchia yang tiada henti sejak bangun dari tidurnya. Ternyata ketakutan Sanchia, tidak terjadi, dan itu benar-benar membuat Sanchia merasa sangat bersyukur.


FLASHBACK ON


Sanchia tampak berjalan mondar-mandir dengan raut wajah cemas di ruang keluarga yang terletak di lantai 2. Sudah 2 jam berlalu sejak Sall bersama Leon dan Leroy masuk ke dalam ruang bawah tanah, dimana ketiga orang penjahat yang mencelakakan Sanchia berada. Sanchia begitu ingin tahu, apa yang sedang dilakukan oleh suaminya beserta 2 orang sahabat sekaligus orang kepercayaannya suaminya itu. Tentu saja Sanchia yakin, nyawa ketiga penjahat itu sedang terancam, namun Sanchia tidak berani memastikan secara langsung keadaan mereka. Karena suaminya sudah pasti akan marah dan tidak suka dengan perbuatan Sanchia, sehingga Sanchia lebih memilih menunggu, meskipun dengan ekspresi yang sangat tidak sabar.


Beberapa menit kemudian, netra Sanchia terlihat menangkap sosok suaminya yang tiba di anak tangga teratas dan hendak menuju kamar pribadi mereka. Ekspresi Sall yang begitu keruh dan dingin, sedikit membuat Sanchia ragu untuk menghampiri suaminya itu. Tapi Sanchia tetap memberanikan diri untuk menyusul Sall yang kini sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Sall sempat terkejut saat menyadari Sanchia mengikutinya masuk ke dalam kamar, namun ekspresi Sall berubah datar seakan tidak peduli akan kehadiran Sanchia, dan malah melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tanpa berkata sepatah katapun.


Sanchia membanting tubuhnya di atas tempat tidur, merasa kesal karena Sall masih saja bersikap dingin dan acuh tak acuh padanya. Sebenarnya Sanchia bisa melihat langsung ke ruang bawah tanah dan memastikan sendiri keadaan ketiga penjahat itu, tapi anehnya, Sanchia lebih ingin mendengar ceritanya, langsung dari suaminya.


Kurang dari 15 menit, Sall keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya, dan tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan sebuah handuk kecil. Sanchia beranjak dari tempat tidur, hendak mengambil hair dryer untuk membantu mengeringkan rambut Sall, namun perkataan Sall mengurungkan niatnya.


"Tidak perlu hair dryer, aku ingin rambutku kering sendiri."


Sall beranjak menuju walk in closet untuk berganti pakaian, sedangkan Sanchia mendengus kesal dan kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur, menunggu Sall berganti pakaian.


"Sweetheart.."


Beberapa saat kemudian, panggilan suaminya membuat Sanchia segera bergegas menuju ruang walk in closet, dimana suaminya berada. Terlihat Sall sudah memakai celana pendek dipadukan dengan kaos santai berwarna hitam.


"Sweetheart.. Apa kamu tahu dimana cincin hadiah ulang tahun dari kamu? Tadi pagi aku menyimpannya di deretan pertama, tapi kenapa tidak ada ya?"


Netra Sall begitu fokus menyusuri deretan accessories yang berjejer rapi di dalam dalam laci berlapis kaca berukuran besar. Sedangkan Sanchia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena gemas dengan tingkah suaminya itu.


"Kamu memang menyimpannya di deretan paling depan, tapi di laci yang tengah Honey."


"Oh iya.. Terima kasih Sweetheart."


Sall mencium kening Sanchia sebelum mengeluarkan cincin bermata sapphire biru dari Sanchia itu, dan menyandingkannya dengan cincin pernikahannya. Sanchia begitu bahagia, karena Sall sudah tidak marah padanya.


Sanchia hendak bertanya tentang keadaan ketiga yang berada di ruang bawah tanah itu, tapi lidahnya kelu, seolah tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Sall memegang kedua bahu Sanchia seraya menatap mata istrinya dengan begitu dalam.


"Sesuai keinginanmu, aku tidak membunuh mereka. Aku hanya memberi mereka pelajaran, agar mereka tahu, kalau mereka sudah berurusan dengan orang yang salah."


"Memangnya apa yang kamu lakukan pada mereka?"


"Kamu tidak perlu tahu, dan tidak usah mencari tahu. Yang penting aku tidak membunuhnya kan?" Sall melangkahkan kakinya kembali ke arah ruang tempat tidur, dengan Sanchia yang mengekor di belakangnya.


"Tapi anggota tubuhnya masih lengkap kan?"


Sanchia mencoba berjalan cepat, berusaha mensejajari langkah Sall yang lebar menuju tempat tidur. Sall merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan sengaja membelakangi posisi Sanchia yang terlihat sangat penasaran menunggu jawaban dari pertanyaannya. Sanchia ikut merebahkan dirinya disamping Sall, dengan tangan sesekali menepuk lengan suaminya itu.


"Honey.. Tapi ketiga orang itu tidak kehilangan anggota badannya kan? Honey.. Ih jawab.."


Sanchia mengguncang-guncangkan tubuh Sall, dan berharap Sall akan membalikkan badannya ke arah Sanchia. Namum Sall malah memejamkan matanya karena tidak ingin memberikan jawaban apapun pada Sanchia.


"Honey.. Jadi kamu tidak mau memberitahuku?"


Sesaat kemudian, Sall membalikkan badannya dan netra hazel kehijauan miliknya menatap tajam manik mata sang istri yang terlihat sedikit memelas menunggu penjelasan.


"Sweetheart.. Mereka tidak mati, dan anggota tubuh mereka juga masih lengkap. Aku hanya membuat mereka babak belur, meskipun aku merasa hal itu belum sebanding dengan semua perbuatan yang mereka sudah lakukan. Tapi aku sudah meminta Leon untuk mengumpulkan bukti kejahatan mereka sebagai anggota sindikat perdagangan anak, agar mereka bisa diproses secara hukum."


"Jadi kamu akan menyerahkan mereka pada pihak berwajib?"


Anggukan  kepala Sall, seketika dibalas pelukan erat dari Sanchia. Bukan hanya itu, tapi ciuman bertubi-tubi, kini mendarat di wajah tampan Sall yang tersenyum kegirangan karena tingkah istrinya yang sangat menggemaskan itu.


"Sweetheart.. Aku minta hadiahku ya, aku kan sudah menurut."


"Hadiah apa?"


Tanpa menjawab sepatah katapun, Sall segera mengungkung tubuh Sanchia di bawah tubuh besarnya. Pandangan Sall yang terlihat lembut dan berkabut, menarik lengkungan indah di kedua sudut bibir Sanchia. Tangan Sanchia perlahan melingkar di leher Sall, kemudian memagut lembut bibir Sall yang balas melahap rakus bibir Sanchia tanpa ampun. Keduanya meluapkan perasaan dan melanjutkan adegan demi adegan candu, tanpa peduli matahari masih begitu terik bersinar.


*************************


Tepat pukul 7 malam, Sall sudah siap dengan kemeja hitam dipadukan celana dan vest berwarna senada, dibalut cardigan berwarna abu sebelum diganti dengan jas berwarna abu tua sesampainya di pesta nanti. Ya, hampir saja Sall dan Sanchia melupakan pesta perpisahan Bryllian dan Vara yang akan berlangsung malam ini, kejadian beberapa hari ini memang sedikit mengalihkan perhatian mereka dari berbagai urusan penting. Untung saja Nieva mengingatkan Sanchia sebelum maghrib tadi.


Sall menunggu Sanchia keluar dari walk in closet, dengan ekspresi tidak sabar seraya menyandarkan tubuhnya pada ujung meja rias Sanchia. Sudah hampir 1 jam, tapi belum ada tanda-tanda Sanchia siap untuk segera berangkat dengannya ke pesta.



Beberapa saat kemudian, Sall merasa terpukau melihat istrinya yang begitu cantik dengan gaun malam berwarna hitam yang mengekspos bagian punggung istrinya yang cantik. Perut Sanchia yang sudah terlihat membuncit dengan beberapa bagian tubuh Sanchia yang terlihat lebih berisi, justru membuat Sanchia terlihat lebih cantik.



Selama beberapa detik, Sall tidak berkedip dan mengalihkan pandangannya dari makhluk Tuhan paling seksi itu. Tapi tiba-tiba, Sall langsung berlari ke arah walk in closet, dan kembali membawa sebuah cardigan berbahan silk dan berwarna hitam.


"Pakailah Sweetheart.. Aku tidak rela punggungmu yang indah ini, dinikmati banyak orang.."


Sanchia hanya tersenyum melihat ekspresi kesal di wajah Sall yang justru membuatnya sangat terpesona. Sall membantu Sanchia memakai cardigan-nya yang kini menyembunyikan punggung indah Sanchia. Sejujurnya Sanchia sangat bahagia setiap kali Sall menunjukkan rasa cemburu dan perhatiannya, Sanchia merasa dicintai dan diperlakukan bagai Ratu oleh seorang Raja.


"Kamu cemburu ya?"


Sanchia tersenyum jahil ke arah suaminya, yang dibalas dengusan sebal dari Sall.


"Iya.. Sudah tahu, aku tidak suka kalau kamu berpakaian terlalu seksi, tapi kamu malah memakai gaun terbuka seperti ini."


"Tapi kan sekarang sudah kamu tutupi. Malah sekarang gaunku sangat tertutup. Tidak akan ada mata jelalatan yang memandangku."


"Ah tetap saja akan ada buaya-buaya yang menatapmu dengan pandangan liarnya. Aku benar-benar benci itu."


"Ya ampun Honey, lihatlah perutku. Mana ada laki-laki yang tertarik pada perempuan hamil sepertiku. Kamu ada-ada saja. Justru aku yang khawatir, disana akan ada banyak perempuan seksi yang membuatmu terpesona."


Sall menangkup wajah Sanchia dengan kedua tangannya, lalu mengecup sekilas bibir Sanchia yang sedang cemberut.


"Tidak akan ada yang bisa membuatku tergoda dan jatuh cinta, selain kamu."


"Benarkah?"


"Tentu saja Sweetheart."


"Baiklah.. Disana kamu tidak boleh jauh-jauh dariku ya."


Sall terkekeh geli dengan sikap Sanchia yang semakin mirip dengannya. Sanchia yang mulai sering menunjukkan rasa cemburu dan posesifnya, justru membuat Sall bahagia. Dia merasa sangat dicintai dan begitu diinginkan, jauh di dalam hatinya Sall begitu bersyukur memiliki istri seorang "Sanchia Arelia Ric". Dan tanpa diketahui Sall, saat ini Sanchia pun sedang mengucap syukur di dalam hatinya, karena memiliki suami seorang "Sall Sherwyn Knight".


*************************


Image Source : Instagram Toni Mahfud & Im Jin Ah


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Maaf ya aku baru bisa up lagi, karena sibuk di real life.


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight