
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Sinar mentari pagi yang masuk melalui kaca jendela, menghangatkan tubuh Sall dan Sanchia yang sedang menikmati sarapan mereka di akhir pekan yang cerah. Suasana hati Sanchia sedang bahagia, karena berdasarkan pemeriksaan kesehatan hari kemarin di Rumah Sakit milik Sall, luka tembak di bahu dan kaki Sanchia sudah dinyatakan sembuh setelah berminggu-minggu dirawat intensif oleh Dokter Renald dan Dokter Anna. Sanchia pun sudah bisa berjalan dengan normal, bahkan bekas lukanya pun selalu mendapat penanganan Dokter Anna agar segera hilang tanpa meninggalkan bekas.
Bukan hanya soal luka tembaknya saja yang sudah dinyatakan sembuh, namun berdasarkan hasil pemeriksaan di Dokter Kandungan, rahim Sanchia pun sudah dinyatakan sehat. Tentu saja hal ini membuat Sall yang sudah lama berpuasa, begitu bahagia dan bersemangat.
Sall dan Sanchia yang duduk bersebelahan, meneguk segelas air putih secara bersamaan, setelah menu sarapan di atas piring mereka tandas. Netra Sanchia yang berbinar memandang Sall, membuat Sall bertanya-tanya dalam hati akan sikap istrinya itu.
"Kenapa Sweetheart?"
"Honey, aku sekarang sudah benar-benar sembuh. Lusa boleh kan aku pulang ke Indonesia untuk menjemput Shawn? Mama dan Papa selalu bertanya kapan ke Indonesia setiap kali video call. Mereka pasti menganggapku Mommy yang tidak peduli pada anaknya karena terlalu lama meninggalkan Shawn di Indonesia."
Wajah Sanchia yang terlihat sedih, justru dibalas senyuman menenangkan di wajah Sall, dengan tangannya yang mengelus lembut rambut Sanchia.
"Papa dan Mama tidak seperti itu Sweetheart, mereka hanya merindukanmu. Kita akan segera bertemu Shawn, Papa, Mama, Nieva, Kevin dan juga baby Keiva."
"Iya Honey.. Aku begitu merindukan mereka, dan sudah tidak sabar bertemu mereka semua."
Sall hanya tersenyum menanggapi ungkapan perasaan Sanchia, hingga Leon masuk ke dalam ruang makan dengan wajah seriusnya, dan duduk berhadapan dengan Sall.
"Sall, Mr. Baldwin meminta bertemu malam ini, beliau menawarkan perusahaannya yang ada di Perancis untuk menangani proyek pembangunan gedung apartment dan resort di Perancis."
"Aku malas bertemu dengannya, kalau bukan karena dia sepupu Mommy, aku sudah tidak mau berhubungan soal apapun lagi dengannya. Meskipun aku akui, kalau perusahaannya memang layak dipertimbangkan untuk bekerjasama dengan perusahaan kita."
"Iya benar, orang itu sangat licik, apalagi dia selalu menyediakan banyak perempuan untuk menggodamu, demi meloloskan niatnya."
Sall langsung memelototi Leon yang seketika mengatupkan bibirnya, merasa sudah mengatakan hal yang salah. Apalagi saat netranya menangkap pandangan Sanchia yang berkilat tajam ke arah suaminya.
"Sweetheart.. Aku sama sekali tidak pernah terjebak dengan cara-cara murahannya. Meskipun terkadang aku memang mengabulkan keinginannya untuk menangani proyekku, tapi tidak dengan menerima perempuan yang dia sediakan. Aku pasti meminta semua perempuan itu menjauh dariku."
"Tapi anehnya, Uncle-mu itu selalu saja menyediakan banyak perempuan untuk menggodamu, padahal kamu sudah mengatakan kalau kamu benar-benar tidak suka. Meskipun perempuan Spanyol atau Italia yang dia bawa selalu cantik, seksi dan berdada besar."
Serbet yang berada di atas meja makan, kini sudah melayang dan mendarat tepat di wajah Leon. Melihat raut wajah Sanchia dan juga Sall yang berubah menyeramkan, Leon berusaha mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Sweetheart.. Aku akan meminta Leon untuk menolak permintaan Uncle Baldwin apalagi saat ini masih akhir pekan. Aku akan meminta dia mengirimkan proposal resmi jika menyangkut pembangunan proyek-ku."
"Tidak apa, bertemu saja, jika memang soal pekerjaan. Tapi awas kalau kamu sampai bermain-main dengan perempuan-perempuan nakal itu."
"Iya Sweetheart, percayalah padaku. Aku tidak suka kalau ada perempuan yang menyentuhku selain kamu, aku tidak mungkin mengkhianati kamu, Sweetheart. Tapi apa benar kamu mengizinkanku pergi menemui Uncle Baldwin?"
"Iya Honey, ini masalah bisnis. Aku tidak akan menghalangimu, hanya karena aku takut kamu macam-macam disana." Sanchia berusaha mengerti dengan pekerjaan suaminya, meskipun raut wajah dan perkataannya jelas menunjukkan rasa cemburunya.
"Uwh manisnya istriku ini. Percayalah, suamimu yang tampan ini, akan selalu menjaga kepercayaan dari kamu."
Leon tampak jengah melihat pemandangan di hadapannya, apalagi Sall tanpa malu menghujani puncak kepala Sanchia dengan ciuman yang lembut.
"Ah menyebalkan." Keluh Leon seraya pergi.
Sall dan Sanchia tertawa kecil melihat ekspresi Leon yang pergi karena kesal melihat kemesraan mereka.
"Sweetheart.. Nanti malam, aku hanya akan bertemu sebentar dengan Uncle Baldwin. Kamu jangan tidur dulu ya."
"Kenapa?"
"Nanti malam.. Aku akan memakanmu." Bisik Sall di telinga Sanchia, yang seketika membuat telinga dan wajah Sanchia memerah karena malu.
*************************
HOTEL KNIGHT - LONDON, INGGRIS
Sall tiba lebih dulu di private room restaurant yang terdapat di Hotel bintang 5 miliknya, ditemani oleh Leon. Ruang makan yang terdiri dari meja bundar dengan jejeran sofa, membuat ruang makan itu terkesan lebih santai dan nyaman. Beberapa hidangan mewah sudah tersedia di hadapan mereka, Sall sengaja memesan lebih awal, agar pertemuannya dengan Baldwin bisa berjalan lebih cepat, tanpa harus menunggu hidangannya datang.
Awalnya Baldwin meminta bertemu di sebuah club malam termewah di kota London miliknya, namun Sall menolaknya, dan meminta bertemu di hotel miliknya saja. Baldwin tentu tidak ada alasan menolak, apalagi pertemuan dengan Sall sangatlah penting, Baldwin tidak mau kalau pertemuan itu sampai gagal, hanya karena masalah tempat.
Tok..Tok..Tok..
"Come in.."
Pintu ruangan private room itu terbuka, menampakkan pelayan restaurant yang mengantar Baldwin dengan asisten pribadinya. Namun ternyata mereka tidak hanya berdua, Baldwin membawa 7 orang perempuan berwajah khas Spanyol danΒ berpakaian seksi yang seketika berjalan mendekat ke arah kursi yang diduduki Sall dan Leon.
"Stop..Stay away from me."
"Silahkan nikmati hidangannya Uncle."
"Harusnya aku yang menjamu kamu Sall, tapi kenapa malah kamu, hahaha.."
"Tidak apa-apa Uncle. Silahkan dinikmati.."
"Nanti dulu Sall, aku sengaja membawa perempuan-perempuan ini untuk memuaskan kamu. Mereka semua tidak seperti perempuan yang aku bawa sebelumnya. Kali ini aku pastikan mereka masih perawan. Kamu pasti menyukai mereka."
Sall menghela nafas panjang, lalu menyandarkan punggungnya seraya melipat kedua tangan di dada.
"Uncle Baldwin.. Kenapa Uncle selalu melakukan hal ini? Padahal Uncle cukup mengirimkan offer proposal untuk aku jadikan bahan pertimbangan."
"Alah.. Kita kan keluarga, aku cukup menyediakan apa yang kamu suka, tentu kamu tidak akan keberatan kan untuk mengabulkan permintaanku, hihihi.."
Kekehan kecil yang keluar dari mulut Baldwin, sejujurnya membuat Sall muak. Tapi rasa hormatnya pada kerabat sang ibu, membuatnya harus bersabar dan menjaga sikapnya.
"Aku tetap tidak suka."
Tiba-tiba Sall terbelalak saat netra dan otaknya menangkap salah satu sosok yang duduk bersama Baldwin. Sejak ketujuh perempuan yang dibawa Baldwin masuk, Sall memang tidak tertarik sama sekali, sehingga tidak fokus memperhatikan. Namun kini Sall menyadari siapa perempuan yang duduk paling ujung di sebelah kanan Baldwin.
Perempuan berkulit cokelat, berambut ikal, berwajah khas Spanyol dengan pakaian paling tertutup diantara yang lain itu, hanya diam memperhatikan interaksi Sall dengan Baldwin. Berbeda dengan keenam perempuan lainnya yang berlomba-lomba menunjukan keseksiannya di depan Sall atau bahkan tidak henti menyentuh Baldwin demi menyenangkan sang "majikan".
"Baiklah.. Besok aku akan kirimkan proposal penawarannya. Jadi kamu benar-benar tidak mau bermain-main dengan mereka dulu?"
Baldwin menaik turunkan alisnya, sementara Sall masih menatap perempuan yang mencuri perhatiannya itu.
"Aku mau dia.."
Jawaban Sall bukan hanya mengejutkan Baldwin, tapi juga Leon, asisten Baldwin, keenam perempuan yang dibawa Baldwin, dan tentu saja perempuan yang dimaksud oleh Sall.
Belum habis keterkejutan mereka, Sall menghampiri perempuan itu, menarik tangannya dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Perempuan itu tidak berkata apapun, tidak menolak dan hanya mengikuti langkah Sall yang lebar. Leon yang mengikuti dari belakang terlihat panik dan cemas, masih tidak habis pikir, kalau seorang Sall akhirnya berubah pikiran setelah bertemu perempuan itu.
"Sall, jangan bodoh.. Jangan sampai kamu mengkhianati Sanchia."
"Leon, pergi.. Jangan campuri urusanku. Tanyakan pada Uncle Baldwin, dari mana dia mendapatkan perempuan ini. Kamu harus dapatkan jawaban lengkapnya, dan laporkan padaku besok."
"Ok.."
Leon gegas berbalik menuju private room restaurant, dimana Baldwin masih berada lengkap dengan asisten dan perempuan-perempuan bayarannya.
Sementara itu, Sall dan perempuan itu sudah masuk ke dalam kamar pribadi paling mewah di hotel itu.
"Apa anda ingin saya temani malam ini?" Lirih perempuan itu dengan suara manjanya.
Sall yang masih belum melepas genggaman tangannya dari perempuan itu, tiba-tiba mendorong tubuh langsing perempuan itu dan memerangkapnya di dinding kamar. Kedua tangan perempuan itu Sall angkat ke atas, dengan tatapan yang tidak lepas menelusuri wajah perempuan itu.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Maaf ya aku baru bisa up lagi, padahal udah niat up weekend kemarin π
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean π
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok π
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung π
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. π #staysafe #stayhealthy
Love u all.. β€β€β€β€οΈβ€
IG : @zasnovia #staronadarknight