
VILLA SALL & SANCHIA - BALI, INDONESIA
Sall masih menunggu jawaban Sanchia yang masih terlihat ragu mengatakan apa yang diinginkannya. Dielusnya pipi Sanchia dengan lembut, berharap Sanchia tidak membuatnya penasaran lagi.
"Tidak apa-apa Sweetheart. Aku pasti akan mengabulkannya."
"Honey, apa kamu lelah?"
"Hmm, tidak.. Memangnya kenapa kamu menanyakan itu? Apa kamu mau mengajakku olahraga malam?"
Kedipan mata Sall seketika dibalas pukulan ringan di lengan Sall, membuat Sall meringis sekaligus terkekeh geli.
"Aku mau menagih janjimu, yang mau membuatkanku cheese cake lumer. Aku begitu menginginkannya seharian ini."
Sall menepuk dahinya dengan sangat keras, karena lupa dengan apa yang sudah dijanjikannya kemarin pada Sanchia. Sall menarik pelan baju Sanchia, sehingga menampakan perutnya yang sudah sedikit membuncit. Sall membungkukan tubuhnya dan menciumi perut Sanchia, yang kini sedang menahan rasa geli karena ulah Sall.
"Baby, mau cheese cake lumer ya? Maaf ya Daddy tadi sibuk, Daddy akan buat sekarang juga ya."
Setelah selesai menciumi perut Sanchia, Sall segera menarik tangan Sanchia untuk keluar dari kamar dan menuju pantry yang ada di lantai 1. Sall bahkan tidak membiarkan satu orang pun membantunya. Sall malah meminta para pelayan melanjutkan pesta mereka, dan tidur jika memang pestanya sudah selesai.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari, namun Sall masih berkutat dengan peralatan dapur dan berusaha menyelesaikan tugas pentingnya. Sanchia yang duduk di meja bar yang menjadi pembatas antara ruang makan dan pantry, terlihat begitu terpesona memandangi suaminya yang mulai berkonsentrasi menghias cheese cake-nya.
'Ah kamu tampan sekali sih Honey, kalau sedang serius begitu. Bahkan kamu terlihat lebih tampan, daripada saat memegang pistol.'
Tingkah Sanchia yang terus memandanginya dengan binar penuh cinta, sebenarnya disadari Sall, tapi Sall menikmatinya tanpa berniat menginterupsi keasyikan istrinya, yang malah akan membuatnya malu.
"Sweetheart, cheese cake lumernya sudah jadi."
Sanchia memandangi 2 cup besar oreo cheese cake lumer yang sangat menggugah seleranya dengan mata tidak berkedip.
"Wow, sepertinya enak sekali. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya, Honey."
"Tapi kita makan di kamar saja ya, aku juga mau memakan kue tart buatanmu."
"Baiklah Honey."
************************
Sanchia menyuapkan cheese cake-nya dalam suapan besar, sehingga pipinya kini menggembung karena terlalu penuh.
"Sweetheart, makannya pelan-pelan, jangan sampai tersedak."
Sanchia menganggukkan kepalanya, namun tetap saja menyendokkan cheese cake-nya dalam porsi yang banyak.
Sall yang akan menyuapkan kue tart buatan Sanchia pun, menjadi urung karena takut Sanchia tersedak.
"Apa cheese cake-nya enak?"
Lagi-lagi Sanchia hanya menganggukkan kepalanya, karena terlalu menikmati cheese cake buatan Sall yang menurutnya sangat enak itu.
Sall yang mulai menyuapkan sepotong kue tart buatan Sanchia itu, kini begitu menikmati apa yang dimakannya.
"Sweetheart, apapun yang kamu buat selalu enak. Beruntungnya aku menjadi suamimu Sweetheart."
Sanchia yang merasa malu mendengar pujian suaminya, mendadak menghentikan kunyahannya.
"Cheese cake lumer buatanmu juga enak sekali. Aku juga beruntung karena kamu selalu menuruti semua keinginanku dan membuatkan apapun yang aku mau. Terima kasih Honey."
"Sama-sama Sweetheart."
Sall mengelus lembut pipi Sanchia yang masih merona, lalu mencium gemas hidung Sanchia yang ikut memerah.
"Tapi apa benar cheese cake ini enak? Aku coba ya Sweetheart."
Sall menyuapkan cheese cake buatannya ke dalam mulutnya, setelah Sanchia menganggukkan kepalanya. Dan Sall mendadak membeku, setelah lidahnya merasakan cheese cake yang ternyata tidak enak itu.
"Sweetheart, cheese cake-nya tidak enak, kenapa kamu memaksa memakannya? Sudah buang saja, aku akan meminta Chef untuk membuatnya lagi."
"Tidak Honey, cheese cake-nya memang tidak terlalu manis, tapi kan saat dicampur oreonya jadi pas manisnya. Ditambah gurihnya keju membuat rasanya menjadi sangat enak. Aku sangat menyukainya kok, Honey."
"Pasti kamu hanya menghiburku ya Sweetheart?"
"Hmm..Okay.."
Meskipun masih ragu dengan jawaban Sanchia, Sall tidak lagi meminta Sanchia berhenti memakan cheese cake-nya, karena memang terlihat jelas kalau Sanchia begitu menikmati apa yang dimakannya.
'Lidah ibu hamil memang aneh ya, kenapa sering kali makanan enak dibilang tidak enak, dan makanan tidak enak dibilang enak?' Keluh Sall dalam hati.
**************************
Pagi-pagi sekali, Sall sudah mengajak Sanchia berjalan-jalan di pinggir pantai di depan villa. Padahal Sall hanya tertidur selama 2 jam sebelum shalat subuh tadi. Sedangkan Sanchia sempat tidur kembali setelah shalat subuh, karena matanya begitu tidak bisa diajak kompromi karena mengantuk juga lelah, menyiapkan kejutan untuk suami tercinta.
Sall dan Sanchia menikmati udara pagi yang segar dan begitu menenangkan. Sesekali mereka membasahi kaki telanjang mereka dengan air laut yang menyapu pasir pantai yang mereka pijak.
"Sweetheart, kamu mau anak kita laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting sehat dan sempurna lahir batinnya, Honey."
"Iya, benar Sweetheart. Apa kamu sudah siap untuk pindah ke Inggris?"
Sanchia menolehkan pandangannya ke arah Sall yang terlihat menuntut jawaban dari Sanchia.
"Aku siap Honey, kemanapun dan kapanpun aku siap. Lagipula dokumen-dokumenku sudah aku urus sebagian setelah kita menikah. Jadi kita bisa pindah ke Inggris, kapanpun kamu mau, Honey."
"Benarkah? Serius?"
"Iya aku serius."
"Terima kasih Sweetheart."
Sall mencium bibir Sanchia dengan sangat gemas. Perasaannya begitu lega, karena hal inilah yang sejak kemarin menjadi salah satu beban pikirannya. Perusahaan-perusahaannya di Inggris, memerlukan perhatian dan fokusnya. Namun Sall begitu berat, jika harus meninggalkan Sanchia di Indonesia. Sall sempat khawatir, Sanchia akan menolak untuk ikut dengannya ke Inggris, tapi ternyata Sanchia malah bersedia dan menganggap hal itu bukanlah masalah.
Sall dan Sanchia bercanda, bermain air dan sesekali berphoto bersama untuk mengabadikan moment indah mereka. Bahkan Sall terlihat membuka kaosnya yang basah dan memilih berphoto bertelanjang dada sambil memeluk dan mencium pipi dan kening Sanchia yang memakai tanktop berwarna putih.
Hanya tinggal 2 hari lagi sebelum mereka pulang ke Bandung dan tentunya mulai mengurus kepindahan mereka ke Inggris. Maka dari itu, Sall dan Sanchia ingin menikmati moment kebersamaan mereka di Bali sepuasnya. Karena entah kapan lagi, mereka bisa kembali menengok mansion dan villa penuh kenangan ini bersama-sama.
Sambil berdiri dan sedikit membungkuk, Sanchia menelisik tingkah Sall yang duduk bersila sambil mengedit caption di akun social media yang baru dibuatnya beberapa minggu yang lalu.
"Eh kamu mau posting photo kamu yang mana itu, Honey?"
"Photo kita yang tadi Sweetheart, terlihat bagus dan mesra sekali."
"Photo kamu kan telanjang dada, tidak boleh di posting. Nanti banyak perempuan memuji perut sixpack kamu, lalu mengajak berkenalan, meminta nomor telepon, bahkan meminta bertemu. Tidak boleh.. Awas ya kamu, Honey, kalau berani posting photo yang tadi."
Sall mengerucutkan bibirnya karena kecewa. Namun sesaat kemudian, Sall nekad mengambil photonya bersama Sanchia yang masih terlihat kesal, lalu memposting photo itu dengan sebaris kalimat cinta.
Only you. Always & forever..
*************************
Image Source : Instagram Toni Mahfud & Im Jin Ah (Edited), Google cheese cake lumer
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight