The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 28 Finally..Sah..



"Saaaaaaaahh.."


Teriakan penuh semangat terdengar dari semua tamu yang hadir, dan ucapan syukur dari Penghulu, seketika mengubah ekspresi tegang di wajah Sall menjadi raut lega yang disertai senyuman bahagia yang begitu jelas.


Dipandanginya wajah Sanchia yang duduk di sebelahnya tanpa ragu, tidak seperti sebelum Ijab qabul tadi, dimana  Sall lebih memilih menunduk dan terus menerus menghafal kalimat Ijab qabul karena khawatir lupa. Sall mendekatkan wajahnya ke telinga Sanchia dan membisikkan sesuatu yang membuat Sanchia semakin bahagia.


"Babe, sekarang kita sudah resmi sebagai suami istri. Aku bahagia Babe.." Lirih Sall begitu lembut.


Sall bahkan sampai tidak menyadari saat Penghulu menyuruhnya menandatangani dokumen penikahannya, karena terlalu fokus pada Sanchia, yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Hal ini tentu saja memancing tawa seluruh tamu yang hadir, tapi Sall justru terkekeh dan tidak peduli meskipun tingkahnya terlihat sedikit konyol.


Moment selanjutnya terlihat begitu mengharukan bagi semua orang yang hadir, yaitu saat Sall yang menggenggam erat tangan Sanchia, menghampiri Papa Leonard dan Mama Annesya yang duduk di baris paling depan, jajaran keluarga dan para tamu undangan. Sall melepas genggaman tangan Sanchia lalu memeluk Papa Leonard dan Mama Annesya sekaligus, dengan begitu haru.


Meskipun tidak ada prosesi sungkeman, ternyata moment haru seperti ini tetap terjadi di pernikahan Sall dan Sanchia, yang hatinya diliputi rasa bahagia dan haru yang begitu besar.


"Papa..Mama.. Terima kasih karena sudah memberi kami restu, dan mempercayakan Sanchia padaku. Aku berjanji akan menjaga, melindungi dan membahagiakan Sanchia sekuat dan sepenuh hatiku."


Mama Annesya tidak mampu menjawab perkataan Sall yang justru berhasil meluruhkan air matanya karena haru, sehingga hanya Papa Leonard yang dengan begitu lirih menanggapi perkataan Sall yang berhasil menghangatkan hatinya itu.


"Sall, Papa dan Mama percayakan Sanchia padamu. Tolong tepati semua janjimu, karena sekarang kamulah yang paling berhak dan berkewajiban menjaga, melindungi dan membahagiakannya seumur hidupmu. Tolong, jangan pernah sakiti fisik dan hatinya, dan jangan pernah kecewakan kami."


"Aku berjanji akan menepati semua janjiku Pa..Ma.."


Sanchia yang sudah menangis sesenggukan sejak tadi, langsung direngkuh oleh Sall dan dibawa masuk ke dalam pelukannya bersama Papa Leonard dan Mama Annesya. Tentu saja pemandangan ini menularkan rasa haru pada semua keluarga dan tamu yang hadir, banyak diantaranya yang ikut meneteskan air mata, diantaranya Nieva yang sudah menangis sesenggukan di dada Kevin, begitupun Vara yang juga menangis tanpa suara di bahu Bryllian. Bahkan Leon dan Leroy pun terlihat berkaca-kaca, memandang sahabat mereka yang kini sudah resmi menikah. Hal ini membuat Larry menggelengkan kepalanya dan merasa cukup jengah.


'Kenapa semua orang terlihat berlebihan sekali? Apa tidak bisa ya, moment pernikahan itu cukup mengucapkan kalimat Ijab qabul, bersalaman dengan para tamu, makan-makan, lalu selesai. Lagi pula aku yakin, moment yang ditunggu para pengantin itu justru moment malam pertamanya. Hah, merepotkan sekali.' Keluh Larry dalam hati.


Saat ini Sall dan Sanchia sudah berkeliling menghampiri keluarga, sahabat dan juga para tamu undangan. Memang Sall dan Sanchia menginginkan suasana pernikahan yang begitu hangat dan tidak kaku. Sall dan Sanchia memilih berkeliling menyapa semua orang yang hadir, dibanding duduk dan menerima ucapan di pelaminan. Untung saja tamu yang mereka undang tidak terlalu banyak, sehingga Sall dan Sanchia mungkin tidak terlalu lelah dan pegal karena berkeliling dan menyalami para tamu undangan, yang terlihat begitu bahagia seraya menikmati berbagai hidangan yang lezat.



Nieva memeluk Sanchia dengan erat, seraya menumpahkan air matanya di bahu Sanchia yang terbuka, sampai bahunya basah. Tapi Sanchia hanya tersenyum, dan membiarkan Nieva meluapkan rasa harunya yang begitu besar.


"Kakak.. Selamat ya, sekarang Kakak sudah menikah. Semoga Kakak selalu bahagia bersama dengan Kak Sall. Aku sangat yakin, Kak Sall begitu mencintai Kakak, dan tidak akan menyakiti Kakak."


"Iya Dek.. Kakak akan selalu bahagia bersama Sall."


Nieva melepas pelukannya dari tubuh Sanchia dan beralih memeluk Sall yang berdiri disamping Sanchia.


"Kak Sall, tepati semua janji Kakak, atau aku akan marah dan membalas Kakak, jika berani menyakiti Kak Sanchia."


Sall terkekeh geli mendengar ancaman Nieva yang justru terdengar lucu, bahkan Sanchia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang sedang hamil itu.


"Tentu Nieva, aku pasti akan menepati semua janjiku."


Kevin yang terlihat jengah saat istrinya memeluk Sall, kini sudah menarik pelan tubuh Nieva dari pelukan Sall.


"Sudah.. Sudah.. Tidak perlu lama-lama pelukannya, menyebalkan sekali."


Semua orang disekitar mereka tertawa melihat tingkah Kevin yang jelas merasa cemburu karena Nieva memeluk kakak iparnya. Namun kini Sall beralih memeluk Kevin dengan gagah, yang justru terlihat acuh tak acuh.


"Terima kasih Kevin, untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku dan Sanchia."


"Sama-sama Sall." Kemudian Kevin berbisik lirih di telinga Sall.


"Jika kamu menyakiti Sanchia, aku pastikan kamu akan menjadi makanan binatang peliharaan Papa."


"Tenang Bro.. Aku akan menepati semua janjiku."


Senyum tipis Kevin terbit, menandakan bahwa dia akan berusaha mempercayai kata-kata kakak iparnya itu. Pelukan Sall berlanjut pada Bryllian dan juga Larry yang begitu berjasa padanya. Sall berkali-kali mengucapkan terima kasih tanpa ragu pada Bryllian dan Larry. Begitupun Sanchia yang kini memeluk Vara, istri Bryllian begitu erat.


Pelukan dan rasa terima kasih Sall, selanjutnya beralih pada Leon dan Leroy yang begitu terbuka mengungkapkan rasa bahagia mereka. Dan untuk pertama kalinya seumur hidup Sall, Leon mengatakan yang tidak pernah dia katakan. Bahkan sampai membuat Sall dan Leroy terkejut cukup lama.


"Sall, semoga kamu selalu bahagia."


Pertama kalinya dalam sejarah, Leon memanggil Sall dengan namanya. Karena selama ini, Leon selalu menolak jika Sall memintanya hanya memanggil namanya diluar lingkungan klan dan perusahaan. Berbeda dengan Leroy yang akan memanggil nama, jika memang mereka hanya bertiga saja.


***************************


Sall dan Sanchia kini sudah berada di dalam kamar Sanchia yang sudah disulap menjadi kamar pengantin yang begitu indah oleh pihak WO. Sanchia mengedarkan pandangannya ke semua sudut kamar yang dipenuhi dengan bunga mawar merah dan mawar putih dan hiasan-hiasan yang memanjakan mata.


Saat Sanchia masih terkagum-kagum dengan dekorasi kamarnya yang berubah begitu indah, Sall melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sanchia dan memeluknya dari belakang.


"Sekarang kita sudah menikah, Sweetheart. Aku bahagia, karena sudah resmi menjadi suamimu dan kamu pun sudah menjadi istriku, My Sweetie pie.."


Sall menciumi leher Sanchia dengan lembut, kemudian beralih ke bahu dan bagian atas punggung Sanchia yang terbuka. Sanchia yang sempat menutup matanya, menikmati perlakuan suaminya yang sangat manis, kini membalikan badannya menghadap Sall. Ditatapnya Sall dengan penuh cinta, lalu mengecup sekilas bibir Sall, yang menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sall. Sall mengeratkan kedua tangannya di pinggang Sanchia yang juga melingkarkan tangannya di pinggang Sall.


"Aku juga bahagia, karena akhirnya kita bisa menikah, Honey."


Sanchia menyentuh lembut leher Sall dan memainkan jari-jari tangannya di tengkuk Sall sebelum akhirnya Sall mendaratkan bibirnya di bibir ranum Sanchia. Sall ***** benda kenyal itu meluapkan perasaan bahagia yang membuncah dari hatinya. Sanchia pun semakin aktif dengan meremas rambut Sall membuat Sall semakin liar mengeksplor semua bagian mulut Sanchia.


Namun ciuman panas Sall tiba-tiba berubah menjadi ringisan. Sall seketika melepas pertautan bibirnya dengan bibir Sanchia, membuat Sanchia terkejut dan menatap Sall dengan heran.


"Kenapa Honey?"


Sall memandang wajah Sanchia dengan ekpresi menahan sakit.


"Ngilu Sweetheart."


Sall lalu mengarahkan pandangannya ke bawah, yang kemudian diikuti Sanchia yang memandang ke arah yang sama. Sanchia lalu menutup mulutnya saat menyadari kalau senjata milik suaminya masih belum sepenuhnya sembuh, membuat Sanchia merasa bersalah pada suaminya yang masih saja meringis kesakitan.


************************


Image Source : Google, Instagram Toni Mahfud & Im Jin Ah (Edited)


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight