
HOTEL BRANDON - JEJU ISLAND
Seminggu berlalu sejak kejadian di villa Javier terjadi, Sall yang berada di hotel Brandon terlihat semakin berantakan dan tidak terurus. Sall bahkan tidak makan dan tidur dengan teratur, yang dilakukannya hanyalah mencari keberadaan Sanchia yang entah bagaimana dan dimana keberadaannya.
Hati Sall menolak untuk percaya, bahwa istrinya tewas dalam ledakan itu. Tapi pencarian yang dilakukan di laut tempat jatuhnya helicopter pun tidak membuahkan hasil. Hanya ada sebagian kecil bangkai helicopter yang ditemukan. Jika memang Sanchia dan Alrico berada dalam helicopter itu, dapat dipastikan bahwa Alrico dan Sanchia sudah meninggal. Karena hampir tidak mungkin, seseorang bisa selamat dalam ledakan sebesar itu.
Sall pun sudah menelusuri semua bagian villa Javier, berharap ada ruang atau jalan rahasia dimana Alrico membawa kabur Sanchia. Kemungkinan itu lebih baik daripada percaya kalau istrinya sudah meninggal, namun ternyata Sall dan yang lainnya tidak menemukan apapun.
Rasa rindu yang dirasakan Sall pada Sanchia menggerogoti hatinya yang sudah terluka parah. Sall seringkali menyendiri dan meratapi menghilangnya Sanchia seraya mengenang berbagai kenangan manisnya dengan Sanchia.
Tok..Tok..Tok..
Sall segera membuka pintu kamarnya, mengira Leon-lah yang datang. Karena 1 jam yang lalu, Sall meminta Leon untuk membawakannya kanvas berbagai ukuran, karena Sall ingin melukis wajah Sanchia ynag begitu dia rindukan. Tapi ternyata, yang tampak di depan Sall saat membuka pintu bukanlah Leon, melainkan Papa Leonard yang menenteng paper bag di tangan kanan dan kirinya.
"Boleh Papa masuk?"
Sall terkesiap dengan perkataan Papa Leonard, sehingga tidak ada satu katapun ynag keluar dari mulut Sall. Namun Papa Leonard melangkah masuk ke dalam kamar Sall, saat Sall memberi Papa Leonard jalan untuk masuk.
"Sall duduklah, kita makan."
Papa Leonard sibuk mengeluarkan berbagai makanan dari dalam paper bag yang dibawanya. Semua makanan favorit Sall dibawakan oleh Papa Leonard agar menantunya itu mau makan, karena Papa Leonard tahu, selama seminggu ini Sall tidak pernah makan dengan benar. Yang dilakukannya hanyalah mencari keberadaan Sanchia. Sesungguhnya Papa Leonard tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya saat ini, karena merasa kejadian diculiknya Sanchia adalah karenanya. Seandainya malam itu Sanchia tetap bersama dengan Sall, pasti semuanya tidak akan terjadi.
Sall duduk tepat di hadapan Papa Leonard yang sedang menata hidangan di atas meja. Netra Sall menangkap menu nasi goreng diantara beberapa makanan yang dibawa Papa Leonard, seketika air mata Sall jatuh tanpa bisa ditahan. Sall merindukan Sanchia, yang beberapa kali membuatkannya nasi goreng yang enak, saat mereka berada di Indonesia.
Sall mulai menangis sesenggukan, dengan kepala tertunduk. Perasaan sakit dan sedihnya sama sekali tidak bisa dia tahan, meskipun saat ini dia cukup malu harus memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan mertuanya.
Tiba-tiba Papa Leonard menghampiri dan memeluk Sall, seraya menepuk-nepuk punggung Sall untuk menenangkannya.
"Papa yakin sekali, Sanchia masih hidup. Kita cari Sanchia sampai ketemu ya. Maaafkan Papa, semua ini karena Papa."
Sall tidak menjawab apapun, air matanya mengalir semakin deras, bahkan sampai membasahi kemeja Papa Leonard. Setelah tangis Sall mulai reda, Papa Leonard melepas pelukannya, lalu berdiri menuju pintu. Namun saat tangannya akan memegang handle pintu, Papa Leonard berbalik menatap Sall yang masih menatapnya dengan sendu.
"Makanlah, kamu harus punya banyak tenaga untuk melanjutkan pencarianmu. Temukan dan bawa Sanchia pulang bersamamu. Papa dan Mama merestui kalian berdua.."
Papa Leonard keluar dari kamar Sall tanpa mendapat tanggapan apapun dari Sall. Sesungguhnya rasa bahagia baru saja memenuhi rongga hati Sall yang masih sesak. Restu Papa Leonard dan Mama Annesya benar-benar seperti suntikan semangat untuk Sall segera menemukan istrinya yang hilang.
"Sweetheart dimana kamu sekarang? Aku benar-benar lemah tanpamu di sisiku."
Lagi-lagi tangis Sall luruh, kehilangan Sanchia membuatnya begitu rapuh dan juga lemah. Namun satu jam kemudian Sall memaksakan dirinya untuk keluar dan kembali melanjutkan pencariannya, dibantu Kevin, dan Leon.
Sebulan kemudian, masih belum ada tanda-tanda keberadaan Sanchia. Sall sudah terlihat seperti orang depresi dengan penampilan yang sangat berantakan. Rambut-rambut halus di wajahnya, dia biarkan lebih lebat. Begitupun rambutnya yang semakin panjang, tanpa sempat dia rapihkan. Yang dilakukan Sall setiap harinya, hanya mencari keberadaan Sanchia di seluruh penjuru Pulau Jeju. Sall yakin, istrinya masih berada di Pulau Jeju, meskipun dia tidak tahu tepatnya dimana. Karena Sall dan Brandon mengerahkan semua jaringan dan kenalannya, untuk menjaga semua jalur dan perbatasan dari Jeju.
Lewat tengah malam, Sall tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang singkat karena sebuah mimpi aneh, setelah pencariannya seharian tadi. Sall beranjak dari tempat tidur, lalu menatap kanvas berukuran besar dengan tatapan tidak terbaca.
Sesaat kemudian tangannya melukiskan isi mimpinya yang terasa aneh itu. Di mimpinya, terlihat Sanchia sedang mengelus perutnya, lalu Sall seolah bisa menerawang isi perut Sanchia yang berisi sesosok bayi yang sangat manis.
'Sweetheart, apa kamu hamil? Apa aku akan menjadi seorang Daddy? Apa ini pesan darimu Sweetheart? Tolong berikan aku tanda, dimana aku harus menemukanmu. Aku sungguh sangat merindukanmu, Sweetheart.'
*************************
Image Source : Instagram Toni Mahfud & Kamon_antc
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight