
HOTEL - JEJU ISLAND
Sall membaringkan dirinya di sebelah Sanchia yang tertidur begitu lelap. Dielusnya pelipis dan pipi Sanchia, tanpa berniat mengganggu tidur Sanchia. Raut panik sudah pergi dari wajah Sall sejak setengah jam yang lalu, sejak Dokter melepas infus yang dipasang di tangan Sanchia. Terlebih penjelasan Dokter yang memeriksa Sanchia, meyakinkannya bahwa Sanchia baik-baik saja.
Selain pola makan dan pola tidur Sanchia yang tidak teratur, keadaan Sanchia dipengaruhi juga oleh keadaannya yang sedang hamil muda. Sehingga Dokter hanya memberikan beberapa vitamin untuk diminum oleh Sanchia. Dokter juga menyarankan untuk melakukan pemeriksaan USG agar mengetahui kondisi janin dan usia kandungan Sanchia saat ini.
Meskipun sudah menebak kehamilan Sanchia dari mimpinya, tapi tetap saja kabar bahagia dari Dokter itu mengejutkan Sall, dan seketika menguarkan kebahagiaan di hati dan raut wajahnya. Bahkan Papa Leonard, Mama Annesya, Kevin, Nieva, ikut bahagia mendengar kabar ini. Mereka mengucapkan selamat pada Sall yang akan menjadi calon ayah.
Namun mereka tidak bisa menunggui Sanchia sampai terbangun, karena mendengar kabar bahwa Sharon, istri Brandon mengalami pecah ketuban dan akan segera melahirkan. Sehingga mereka semua berangkat mengantar Brandon ke Rumah Sakit. Mereka khawatir Brandon akan panik jika tidak ditemani, apalagi kedua orangtua Brandon sedang tidak ada di Korea, sedangkan kedua orangtua Sharon sudah meninggal dunia.
Sall memandangi wajah Sanchia yang terlihat pucat dan sedikit lebih tirus, hatinya sedikit berdenyut, merasa gagal sebagai suami, karena tidak mampu melindungi dan menyelamatkan Sanchia lebih cepat dari tangan Alrico.
Perlahan Sall mengulurkan dan memasukan tangannya di balik pakaian Sanchia, dan mengelusnya selembut mungkin.
"Sweetheart.. Dokter bilang kalau kamu sedang hamil. Kita sebentar lagi akan jadi Daddy & Mommy, Sweetheart. Papa dan Mama juga begitu senang mendengar kabar ini. Mereka sudah merestui kita, dan bahagia melihat kebersamaan kita dengan calon anak kita. Bangunlah, aku sangat merindukanmu, Sweetheart." Suara Sall yang terdengar lirih, juga bibirnya yang mendarat di kening Sanchia, berhasil mengusik tidur Sanchia yang begitu lelap.
Sanchia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha melihat jelas sosok pria tampan yang berbaring seraya memandangnya dengan senyuman tipis, namun jelas memancarkan kebahagiaan. Tangan Sanchia terulur dan menyentuh pipi Sall lembut.
"Honey? Benarkah ini kamu? Aku tidak sedang bermimpi kan?"
Sall menyentuh tangan Sanchia dan mengecup telapak tangan Sanchia yang berada di pipinya, lalu tangan lainnya terulur untuk menghapus air mata Sanchia yang kini luruh membasahi pipi Sanchia.
"Semuanya sudah baik-baik saja, Sweetheart. Kita sudah kembali bersama sekarang. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi, Sweetheart."
Bukannya berhenti menangis, Sanchia justru menangis semakin kencang, bahkan air matanya mengalir semakin deras. Sall kini merengkuh dan membenamkan Sanchia di dadanya, agar Sanchia bisa meluapkan perasaannya dengan leluasa.
"Menangislah Sweetheart, jika itu bisa membuatmu lega."
Setelah cukup lama menangis, Sanchia mendongakan kepalanya dan memandang wajah Sall yang kemudian mengerutkan keningnya.
"Kenapa Sweetheart?"
"Tiba-tiba aku pengen makan buah-buahan yang segar Honey."
'Wah sepertinya sudah mulai nih, acara ngidamnya.' Batin Sall.
"Kamu mau makan buah apa Sweetheart? Apel? Pear? Melon?"
Sall mulai memberi ide, karena Sanchia justru terlihat kebingungan.
"Bukan.. Sepertinya yang agak asam lebih enak."
"Kalau begitu strawberry saja Sweetheart."
"Tidak.. Aku ingin yang lebih segar.."
"Lemon? Mangga? Jer.."
"Aku mau buah asam jawa.."
"Hah? Buah apa itu? Apa buah itu ada di Jeju?"
Sanchia mengedikan bahunya, karena dia pun tidak tahu apakah buah yang diinginkannya ada di Jeju atau tidak. Sall mendudukan dirinya dan mengambil ponselnya untuk mulai mencari informasi dan wujud buah asam jawa yang diinginkan Sanchia.
'Sepertinya susah mendapatkan buah itu disini. Hmm, bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkan buah aneh itu.' Tekad Sall dalam hati.
Sall segera menghubungi Leon dan Leroy, mengirimkan photo dan meminta mereka mencari buah asam jawa yang diinginkan Sanchia. Leon dan Leroy segera mencari informasi dan melakukan pencarian bersama anak buah Sall yang lainnya.
Sall kembali merebahkan dirinya di sebelah Sanchia dan memeluk Sanchia lebih posesif.
"Honey, kemana Mama, Papa, Nieva dan Kevin?"
"Wah ternyata sudah waktunya melahirkan ya. Pasti Sharon begitu kesakitan."
Sanchia terlihat meringis, membayangkan Sharon yang hendak melahirkan di Rumah Sakit.
"Tadi ketuban Sharon pecah, Brandon panik. Orangtuanya sedang di luar negeri, Jared sedang ke Seoul. Jadi Papa, Mama, Kevin dan Nieva menemani Brandon, takutnya Brandon butuh bantuan. Tapi mereka semua sangat khawatir sama kamu, mereka berangkat setelah aku meyakinkan mereka kalau kamu sudah baik-baik saja."
"Iya Honey, aku paham kok."
Raut wajah Sanchia terlihat berubah sendu, dan hal ini tidak luput dari perhatian Sall.
"Ada apa Sweetheart?"
"Hmm, Honey.. Aku.. Aku mau menunda kehamilan. Aku belum siap punya anak, Honey.."
Sall seketika menegakan dan mendudukan dirinya karena terkejut dengan perkataan Sanchia. Sall menyugar rambutnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu kembali memandang wajah Sanchia begitu dalam.
"Berikan alasannya Sweetheart, kenapa kamu bisa berpikir belum siap? Bukankah kita sebelumnya sudah membahas ini saat bulan madu kita sebulan yang lalu? Kamu bilang, kamu siap untuk punya anak, Sweetheart."
"Aku berubah pikiran. Aku benar-benar belum siap punya anak, Honey."
Tiba-tiba Sanchia menangis sesenggukan, dan Sall bingung harus bersikap bagaimana terhadap istrinya itu. Direngkuhnya kepala Sanchia, diciuminya puncak kepala Sanchia dengan penuh kasih.
'Jadi aku harus bagaimana Sweetheart? Kalau aku katakan kamu sedang hamil anakku, apa kamu akan kecewa? Sesungguhnya aku begitu bahagia karena kamu hamil. Aku begitu ingin cepat menemukanmu dan memastikan kehamilanmu. Aku begitu bahagia akan menjadi seorang ayah. Tapi ternyata kamu tidak menginginkannya. Kenapa jadi seperti ini?' Kecewa Sall dalam hati.
Tidak terasa air mata Sall menetes mengenai rambut dan pelipis Sanchia, membuat Sanchia menghentikan tangisnya dan memandang Sall begitu dalam.
"Honey, kenapa kamu ikut menangis?"
Sall menggeleng pelan seraya menghapus air matanya. Sall berusaha mengalihkan pandangannya dan menghindari tatapan Sanchia yang terlihat penuh tanya.
"Aku akan ikut mencari buah asam jawanya ya Sweetheart. Aku akan memesan makanan untukmu, jangan lupa makan ya. Mudah-mudahan aku bisa mendapatkan buah yang kamu mau."
Sall segera keluar dari kamarnya, meninggalkan Sanchia yang terlihat kebingungan dan heran dengan sikap Sall yang mendadak berubah padanya.
*************************
Image Source : Instagram Im Jin Ah
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Mampir juga yuk ke Novel pertamaku "Star on A Dark Night" kalau belum baca, hihi..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight