
MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA
Sanchia berdiri menatap langit yang terlihat dihiasi bintang-bintang, dari balkon kamarnya. Raut wajah sedih seolah enggan pergi dari wajahnya yang cantik, selama beberapa hari ini. Sanchia merasa begitu sedih, pasalnya besok Sall harus berangkat ke Inggris untuk urusan pekerjaan yang sudah begitu mendesak. Agenda meeting dengan jajaran direksi untuk membahas pemecatan beberapa Direktur cabang yang berkhianat, mengharuskan Sall hadir langsung untuk memimpin jalannya meeting tersebut. Belum lagi, urusan klan yang membutuhkan perhatiannya karena terlalu lama ditinggalkan.
Sanchia menarik nafas panjang, saat dua tangan kekar melingkar di pinggangnya dan mengelus perutnya dengan sangat lembut.
"Udaranya dingin Sweetheart, kita masuk ya.."
"Sebentar lagi, Honey.."
"Baiklah.. Aku akan memelukmu, agar kamu tidak terlalu kedinginan."
Sanchia tidak menanggapi perkataan Sall, namun matanya justru dia pejamkan dengan menyandarkan punggungnya di dada bidang Sall. Menikmati kehangatan dan perasaan nyaman yang disalurkan oleh suaminya itu.
Sesungguhnya saat ini Sanchia begitu khawatir, kejadian saat Sanchia melihat berita pertunangan Sall dengan perempuan lain, masih terekam jelas di pikirannya. Meskipun akhirnya terbukti kalau hal itu hanya kesalahpahaman saja, Sanchia tetap khawatir jika ada kejadian buruk lainnya yang akan menggoyahkan ikatan pernikahan diantara dia dan Sall.
Seolah mengetahui isi kepala istrinya, Sall berusaha menenangkan perasaan Sanchia dengan menumpukan dagunya di bahu Sanchia, seraya menciumi bahu dan leher Sanchia sesekali.
"Jangan sedih ya Sweetheart, aku usahakan hanya 10 hari disana. Aku akan meminta Leon untuk memadatkan jadwalku."
"Tidak, kamu akan kelelahan jika jadwalmu terlalu padat setiap harinya. Kamu tidak boleh terlalu lelah, jangan lupa makan, beribadah dan juga beristirahat."
"Iya Sweetheart.. Aku akan selalu ingat pesan-pesanmu."
Sall menciumi puncak kepala Sanchia berulang kali, seolah mencurahkan perasaan sayangnya karena sebentar lagi mereka akan terpisahkan jarak dalam waktu yang cukup lama. Sebenarnya Sall sangat ingin membawa serta Sanchia bersamanya, namun Sall harus bersabar, karena kedua mertuanya meminta Sanchia untuk tetap di Indonesia, paling tidak sampai usia kandungan Sanchia berusia 4 bulan. Sanchia dan Sall memilih menurut dengan keinginan Papa Leonard dan Mama Annesya, lagi pula hanya kurang dari satu setengah bulan lagi, sampai usia kandungan Sanchia berusia 4 bulan.
"Sweetheart, khusus malam ini, biarkan Shawn dipegang oleh dua babysitter-nya ya."
"Lho, memangnya kenapa Honey?"
"Aku memerlukan banyak amunisi sebagai bekal selama jauh dari kamu." Jawab Sall dengan senyum menggodanya.
Sanchia mengerutkan keningnya, seraya menatap tajam pada Sall, karena mulai curiga dengan arah pembicaraan Sall. Sementara Sall, hanya terkekeh geli melihat ekspresi Sanchia yang justru terlihat menggemaskan.
"Ayolah Sweetheart.. Aku disana 10 hari lho, masa kamu tidak mau memberi aku bekal yang banyak. Nanti kalau aku rindu bagaimana?"
Raut wajah Sall yang berubah memelas, menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sanchia. Entah kenapa, Sanchia begitu suka setiap kali Sall berubah manja padanya. Meskipun sebetulnya sikapnya itu, sangatlah kontras dengan wajah dan penampilannya yang sangar. Tapi hanya Sanchia yang paling paham, betapa lembut dan penyayangnya suami tercintanya itu.
"Baiklah Honey, aku akan memberikan bekal sebanyak yang kamu mau."
Sanchia mengedipkan sebelah matanya seraya membuka sedikit mulutnya disertai tatapan seksi, sebelum berlari menuju kamarnya. Sall tentu saja semakin bersemangat setelah mendengar perkataan Sanchia yang sangat menggiurkan itu. Sall segera menyusul Sanchia, setelah menutup rapat dan mengunci pintu balkon kamarnya.
Seolah tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Sall segera menggendong Sanchia yang baru saja selesai menelepon baby sitter Shawn.
"Aaah..
Sanchia sampai terpekik karena terkejut dengan apa yang dilakukan Sall. Sall merebahkan tubuh Sanchia di atas tempat tidur, dan menatap Sanchia dengan tatapannya yang tajam namun berkabut penuh damba.
*************************
Di pagi yang cerah, semua penghuni mansion, termasuk Papa Leonard, Mama Annesya, Kevin dan Nieva yang sudah datang sejak 1 jam yang lalu, disuguhi drama yang sedikit membuat mereka merasa sedih sekaligus lucu. Pasalnya Sanchia terlihat bergelayut manja memeluk Sall yang hendak pergi menuju Airport, bersama Leon dan 7 orang anak buahnya.
Sesekali Sanchia merengek seolah tidak rela melepas Sall yang hanya bisa memeluk dan mengelus punggung Sanchia, berusaha menenangkan istrinya itu. Tidak cukup istrinya yang harus ditenangkan, baby Shawn yang sejak tadi berada di dalam stroller pun, menghentak-hentakan kakinya dan mengangkat tangannya, seakan meminta digendong oleh Sang Daddy. Sall pun tersenyum melihat tingkah dua orang kesayangannya itu, belum lagi sang jabang bayi yang berada dalam perut istrinya pun, pasti meminta perhatiannya.
"Hmm, Sweetheart.. Aku janji, setiap hari aku akan menghubungimu. Kalau kamu seperti ini, aku semakin berat untuk berangkat."
"Iya Honey, janji ya nanti disana kamu tidak akan menghilang lagi seperti sebelumnya. Awas saja kalau tiba-tiba ada berita kamu dijodohkan lagi dengan perempuan lain."
Sanchia mendongakkan kepalanya dan menatap Sall dengan tatapan tajam berkilat, membuat Sall sedikit bergidik ngeri.
"Ya ampun Sweetheart, masih saja mengungkit soal ini. Tidak akan ada lagi berita seperti itu, aku jamin Sweetheart."
"Baiklah, aku percaya.."
Lengkungan di kedua sudut Sall merekah dengan sempurna, meskipun raut wajah Sanchia masih terlihat keruh, karena masih berat untuk berjauhan dengan Sall dalam waktu yang cukup lama.
Sall mencium kening, pipi kanan, pipi kiri, hidung, dagu dan berakhir di bibir Sanchia dengan sangat lembut dan cukup lama. Sall bahkan tidak peduli dengan tatapan semua orang pada mereka, berbeda dengan Sanchia yang wajahnya terlihat memerah karena malu. Apalagi saat Sanchia menyadari, tingkahnya sejak tadi yang merajuk pada Sall pun, sudah sangat memalukan karena dilihat banyak orang.
"I love you, Sweetheart.."
"I love you too, Honey.." Jawab Sanchia malu-malu.
Sanchia berusaha melepas pelukannya, lamun Sall masih menahan tubuh Sanchia agar tetap menempel padanya.
"Honey, malu.." Lirih Sanchia.
Sall terkekeh geli, melihat Sanchia yang semakin salah tingkah. Sesaat kemudian, Sall bersimpuh menghadap perut Sanchia, dengan tangan menempel di sisi kanan dan kiri perut sang istri. Dikecupnya perut Sanchia yang terhalang dress berwarna pink itu dengan penuh perasaan.
"My Baby.. My Love.. Baik-baik ya di perut Mommy.. Mintanya makanan yang sehat ya, biar kamu sehat juga. Jangan jajanan terus."
Sanchia mendelik sebal karena apa yang dikatakan oleh Sall, namun Sall berpura-pura tidak melihatnya.
"Daddy berangkat ya Nak.. I Love you so much.."
Sekali lagi Sall mencium perut Sanchia sedikit lebih lama dari sebelumnya. Memang kegiatan mengobrol dengan bayi dalam kandungan Sanchia sudah menjadi hobi baru dan keharusan bagi Sall.
Kini giliran sang Putra pertama yang mendapat giliran bercengkrama dengan sang Daddy. Shawn terlihat kegirangan saat Sall mengangkatnya dari stroller dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tawa Shawn terdengar begitu merdu, menarik senyuman di wajah semua orang yang ada di ruangan itu. Shawn terlihat nyaman berada dalam gendongan Sall, bahkan Shawn dengan antusiasnya menyentuh wajah Sall dengan tangannya yang mungil.
"Honey, jangan berbicara seperti itu pada Shawn..Seperti berbicara pada orang dewasa saja."
Sall malah terkekeh mendengar omelan Sanchia, Shawn pun ikut tertawa meskipun tidak mengerti dengan pembicaraan kedua orangtuanya.
Sall pun berpamitan pada kedua mertuanya, Nieva dan Kevin dengan masih menggendong Shawn. Begitu banyak pesan yang diucapkan kedua mertuanya, dari mulai soal makan, beribadah dan harus selalu menghubungi istri dan anaknya. Tentu saja Sall mengiyakan semua pesan-pesan itu. Tidak akan lagi, Sall membuat Sanchia dan juga seluruh keluarganya khawatir. Bahkan Sall bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin agar dia bisa kembali ke Indonesia secepatnya.
Beberapa menit kemudian Sall sudah berada di dalam mobil yang akan mengantarkannya ke airport. Hanya tiga orang sopir dengan tiga mobil yang berbeda, yang mengantarkan Sall, Leon dan 7 orang pengawalnya ke airport. Karena jarak mansion yang jauh dari airport, membuat Sall tidak mengizinkan Sanchia, Shawn juga seluruh keluarganya untuk mengantar. Sehingga mereka harus cukup puas mengantarkan Sall hanya sampai halaman mansion saja.
Sanchia sudah terlihat berkaca-kaca kembali melihat Sall yang duduk sendirian di kursi penumpang, sedangkan Leon duduk di sebelah sopir. Sall melambaikan tangannya seraya menatap wajah Sanchia dengan tatapan sendu, hatinya sedikit tidak tenang melihat Sanchia yang kembali menangis tersedu-sedu. Meskipun Mama Annesya dan Nieva berusaha menenangkannya.
'Oh My Love.. Kenapa kamu malah membuatku semakin khawatir dan berat meninggalkan kamu.' Keluh Sall dalam hati.
Sall turun kembali dari mobilnya, dan hal itu membuat Sanchia berlari kecil ke arah Sall, dan memeluknya dengan sangat erat.
"Eh tidak usah lari-lari Sweetheart, ingat ada bayi dalam kandungan kamu. Sini lihat aku."
Sanchia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Sall dengan sisa air mata di wajah cantiknya. Sall menghapus sisa air mata Sanchia dengan kedua ibu jarinya seraya mengulas senyum tampannya.
"Tolong jangan menangis, aku akan baik-baik saja, dan aku akan berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin. Agar aku bisa segera kembali. Aku berjanji Sweetheart."
"Janji?"
Sall terkekeh melihat ekspresi Sanchia yang sangat memelas dan seperti anak kecil. Namun Sall segera mengubah ekspresinya menjadi serius, agar Sanchia yakin dengan perkataan Sall.
"Aku berjanji Sweetheart.."
"Baiklah.. Kamu boleh pergi. Masuklah.."
Sanchia mendorong Sall agar masuk kembali ke dalam mobilnya, dan Sall hanya menurut saja dengan masuk ke dalam mobil, dan menutup pintu mobil setelah duduk manis di kursi penumpang. Namun tiba-tiba, Sanchia menarik kerah baju Sall dari luar, lalu mencium bibir Sall dengan penuh cinta. Tentu saja hal ini membuat Sall terkejut, karena Sanchia tidak terlalu suka mengumbar kemesraan di depan orang lain. Belum habis rasa terkejutnya, mobilnya tiba-tiba berjalan meninggalkan halaman mansionnya.
Sall menepuk keras kursi bagian belakang sopirnya, merasa kesal karena mobil tiba-tiba berjalan tanpa perintah darinya.
"Luke, kenapa kamu malah jalan?"
Sopir Sall yang bernama Luke itu tampak mulai ketakutan, namun Leon berusaha menghentikan kemarahan Boss sekaligus sahabatnya itu.
"Sanchia sudah menyuruh untuk jalan. Lagipula kalau kalian tidak dihentikan, akan lebih banyak lagi adegan drama romantis yang harus kami lihat. Hah, menyebalkan."
"Makanya cepat temukan perempuan yang kamu cintai, biar kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan."
"Aaahh.. Aku benar-benar pusing kalau sudah menyangkut perempuan. Aku dan Leroy sama-sama menyukai Catherine, aku dan dia memutuskan bersaing secara sehat. Tapi saat aku dan Leroy bertanya pada Catherine soal siapa yang akan dia pilih, dia malah bilang sudah punya seseorang yang dia suka. Gilaaa.."
"Hahahaha..."
Tawa Sall pecah seketika, bukannya prihatin dengan nasib Leon dan Leroy yang sangat mengenaskan, Sall justru menganggap hal itu sangatlah lucu. Luke pun sebenarnya ingin tertawa, tapi dia tahan sekuat tenaga, karena dia masih begitu sayang dengan nyawanya.
"Sall.. Kamu benar-benar bukan sahabat yang baik. Kamu harusnya punya sedikit empati mendengar ceritaku ini."
Leon memiringkan sedikit badannya menghadap Sall yang masih tertawa terpingkal-pingkal di kursinya.
"Kamu memang sahabat brengs*k Sall."
Leon melempar tubuh Sall dengan bantal yang berada disebelahnya. Sall perlahan menghentikan tawanya, lalu memandang Leon dengan sangat serius.
"Aku justru bersyukur Catherine tidak memilih satu diantara kalian, karena jika dia melakukannya, hal itu bisa menghancurkan persahabatan kita Leon. Bayangkan jika dia memilih Leroy, kamu akan selalu bertemu Catherine bersama Leroy. Apa perasaanmu akan baik-baik saja? Begitupun jika kamu yang dipilih Catherine, apa kamu akan tega membuat Leroy selalu bersedih?"
Lidah Leon terasa begitu kelu, tidak sanggup mengatakan apapun. Namun hatinya membenarkan semua yang dikatakan oleh Sall. Perlahan Leon mengubah kembali posisi duduknya dan mengarahkan pandangannya ke arah luar.
"Aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang tepat, bisa memilikinya sepenuhnya, tanpa harus menyakiti hati siapapun."
'Aamiin..' Lirih Leon dalam hati.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Maaf aku baru up lagi, tapi langsung dikasih eps yang panjang banget nih..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight