The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 131 Anak-anak Istimewa



WARNING..!!!


Mengandung adegan dewasa. Khusus usia 21+ ya, bocil tolong di skip aja ya..


*************************


"Good morning, Sweetheart.."


Mata Sanchia masih begitu enggan terbuka, meskipun suara lembut Sall sudah menariknya dari alam mimpi. Sall ternyata memang menagih janji Sanchia untuk mengganti jatahnya yang hilang selama beberapa hari, sehingga pagi ini Sanchia masih saja merasa mengantuk dan enggan beranjak dari tempat tidur.


"Sweetheart, bangun yuk.. Kita mandi air hangat.."


Bukannya membuka mata, Sanchia malah mengeratkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.


"Sweetheart, lelah ya? Mau aku pijat?"


"Kalau kamu memijatku, pasti akan ada ronde selanjutnya. Iya kan Honey.." Lirih Sanchia dengan tetap menutup matanya, yang langsung dibalas Sall dengan kekehan geli.


"Ya tidak apa, bonus pagi Sweetheart. Aku pijat ya.."


"Tidak mau.." Sanchia mendorong tubuh Sall, agar menjauh darinya. Tapi sepertinya usaha Sanchia sia-sia, karena Sall justru mengeratkan tubuhnya hingga tidak berjarak dengan tubuh Sanchia.


"Sekali lagi ya Sweetheart." Bujuk Sall dengan mengendus-endus leher Sanchia, dan sesekali menciuminya dengan lembut. Bahkan tangan Sall sudah bergerak menuju spot-spot favoritnya dari tubuh Sanchia.


"Aku mau mandi.." Ujar Sanchia, seraya beranjak turun dari tempat tidur. Namun Sall berhasil menahan selimut yang dipakai Sanchia untuk membungkus tubuhnya.


"Ah Honey, aku mau mandi." Rajuk Sanchia, menampakkan wajah memelas sekaligus menggemaskan bagi Sall.


"Boleh Sweetheart.. Kan tadi aku mengajakmu mandi bersama." Sall beranjak turun dari tempat tidur, pandangan Sall yang berkabut jelas dapat dipahami Sanchia.


Sanchia merasa sia-sia saja menolak keinginan suaminya itu. Lagipula meskipun tubuhnya cukup lelah, tapi Sanchia tidak pernah bisa menolak sentuhan suaminya, yang selalu berhasil membuatnya terbang ke nirwana. Begitupun dengan Sall yang selalu merasa kalau Sanchia adalah candunya, satu-satunya candu yang berhasil membuatnya tergila-gila.


Sall menyambar bibir ranum Sanchia, menyesap dan melumm*tnya kuat, lalu menggendong Sanchia ala bridal style, tanpa melepas pertautan bibir mereka. Sanchia membalas ciuman Sall dengan sama liarnya, sampai mereka masuk ke kamar mandi yang kemudian menjadi saksi pertempuran mereka pagi ini.


*************************


Sehabis sarapan, Sall dan Sanchia mengajak Shanaya menghirup udara segar seraya memperhatikan Shawn yang sedang bermain dengan beberapa binatang peliharaannya di belakang mansion. Shawn sesekali tertawa saat memberi makan ikan dan kura-kura, ditemani beberapa pengawalnya. Hati Sall dan Sanchia menghangat, melihat keceriaan Shawn setiap harinya. Begitupun saat melihat perkembangan Shanaya, yang kini semakin terlihat sehat dan bertambah besar.


Sall mengangkat tubuh Shanaya dari stroller, lalu menggendongnya dengan hati-hati.


"Hai Putri cantiknya Daddy.. Semakin hari, kamu semakin sehat dan cantik ya, tumbuh yang baik ya Sayang.." Senyum Sanchia mengembang melihat interaksi Sall dengan putri kecil mereka.


"Honey.. Aku masih memikirkan Nevan. Sejujurnya aku begitu kasihan pada anak itu. Kita akan menahan Nick dalam waktu yang sangat lama, Nevan tidak akan dikunjungi oleh Nick selama bertahun-tahun. Apakah kita harus memberitahu Nevan tentang Ayahnya? Jovanka pun jarang mengunjungi Nevan. Pasti Nevan akan sangat kesepian Honey.." Sall mengangguk-anggukan kepalanya, membenarkan perkataan Sanchia. Lalu membaringkan kembali Shanaya di dalam strollernya.


"Aku pun berpikir hal yang sama sepertimu, Sweetheart.. Leon mengatakan, kalau sudah beberapa bulan ini Jovanka menjadi simpanan seorang pengusaha paruh baya asal Italia. Dan menurut Leon, Jovanka sudah memesan tiket penerbangan menuju Italia lusa nanti. Kemungkinan Jovanka tidak akan mengunjungi Nevan dalam waktu yang lama. Aku mempertimbangkan untuk mengatakan secara jujur tentang keadaan Ayahnya pada Nevan. Sepertinya anak itu memiliki pemikiran yang cukup dewasa untuk bisa mencerna masalah ini dengan baik."


"Tapi Nevan baru berusia 11 tahun Honey, dia tetaplah masih anak-anak. Aku khawatir dia akan merasa stres dan tertekan karena masalah ini."


"Iya kamu benar Sweetheart, tapi mau sampai kapan kita menyembunyikan hal sepenting ini dari Nevan?" Tanya Sall, sedikit tidak setuju dengan saran Sanchia sebelumnya.


"Tunggu dia dewasa dan bisa memahami semuanya dengan lebih bijak. Kita katakan saja kalau kita adalah teman Nick yang akan menjaganya selama Nick berada di luar negeri." Sall menghela nafas panjang, mendengar ide Sanchia yang sejujurnya tidak disukainya.


"Aku tahu kamu kurang setuju, Honey. Tapi sepertinya itulah satu-satunya cara agar Nevan mau menerima bantuan kita, dan tidak bertanya-tanya tentang keberadaan Ayahnya. Honey, biar bagaimana pun, Nick adalah sosok Ayah yang baik menurut Nevan. Rasanya aku tidak tega membuat Nevan kecewa, saat mengetahui siapa Ayahnya." Sall menatap dalam netra Sanchia yang sudah berkaca-kaca.


"Kalau aku mendengar kisah Nick dari Kendra, sebenarnya Nick adalah sosok orang yang baik. Namun statusnya sebagai anak angkat, membuatnya  merasa tidak pernah diperlakukan sama seperti Steward. Nick begitu berusaha menjadi kebanggaan keluarga Smith dengan berprestasi di sekolah, juga bekerja dengan baik dan memajukan perusahaan. Namun pada akhirnya, perusahaan tetaplah jatuh pada Steward. Saat itu, Nick merasa sangat kecewa dan tidak berharga. Sampai akhirnya, Nick memutuskan untuk melenyapkan orangtua Shawn dan merebut kekuasaan, yang dia anggap hasil jerih payahnya itu." Air mata Sanchia jatuh, begitu Sall selesai bercerita.


"Nick tetaplah bersalah, tapi entah kenapa aku merasa begitu kasihan padanya, Honey.." Sall mengusap air mata di pipi Sanchia, lalu merangkul bahu Sanchia yang bergerak naik turun karena menahan tangis.


"Nick tidak ingin membuat Nevan menderita seperti dirinya yang seorang yatim piatu, tapi dia tega membuat Shawn menjadi yatim piatu. Dia mengambil jalan yang salah, dan itu tidak bisa dimaafkan Sweetheart.."


"Iya kamu benar Honey.. Aku tidak bisa bayangkan, kelak bagaimana reaksi Shawn, jika mengetahui kalau orangtua kandungnya sudah tiada. Apa senyuman itu masih akan tetap ada di wajahnya, Honey.." Sall dan Sanchia memandang Shawn yang tidak henti tersenyum saat binatang peliharaannya memakan makanan yang diberikan olehnya.


************************


**Maaf ya di eps sebelumnya ada typo parah\, aku tulis Nevan sekolah di SMA. Harusnya SD International\, umurnya baru 11 tahun. Maaf ya.. **


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight