
MEETING ROOM - MARKAS BESAR SHUGA
1 jam sudah berlalu sejak Shuga menunggu jawaban Sanchia yang begitu membuatnya penasaran, namun Shuga masih saja enggan melepaskan Sanchia, begitupun Sanchia yang masih bersikeras tidak ingin memberikan jawaban apapun pada Shuga.
"Shuga lepaskan aku, kamu benar-benar menguji kesabaranku ya. Jika kamu menahanku seperti ini, seumur hidupku pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
"Maaf Sanchia, tapi aku tidak akan melepaskanmu, sebelum aku mendengar jawaban jujur darimu."
"Baiklah.."
Sanchia mengeluarkan ikat rambutnya dari saku mantelnya, lalu mengikat perlahan rambutnya. Hal ini membuat Shuga sesaat begitu terpana, melihat kecantikan Sanchia yang sudah lama dirindukannya. Namun sikap dan perkataan datar Sanchia yang seolah tidak mengandung emosi sama sekali itu, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Sanchia kemudian. Dikeluarkannya pistol dari balik punggungnya, dan langsung diarahkannya tepat di depan wajah Shuga yang tampak terkejut dengan apa yang dilakukan Sanchia.
"Suruh semua anak buahmu mundur, dan biarkan aku pergi. Jika tidak aku akan menembakmu."
Bukannya takut, Shuga malah mengulas senyum terbaiknya seraya mendekatkan wajahnya sampai dahinya menyentuh ujung pistol.
"Tembaklah, selama ini hidupku sudah tidak berarti karena kehilanganmu. Jika kamu pergi, maka aku sudah kehilangan segalanya."
"Shuga, kamu benar-benar membuatku semakin membencimu. Disaat aku sudah bahagia, kenapa kamu datang merusak kebahagiaanku. Padahal aku sudah melupakan semua kesalahanmu."
"Aku ingin memperbaiki segalanya Sanchia, aku ingin mendengar jawaban darimu sekali saja."
"Tidak ada yang akan berubah, apapun jawaban dariku. Berhentilah berkutat dengan masa lalu, semuanya sudah berlalu dan tidak berguna. Lepaskan aku, maka aku akan memaafkanmu."
"Tembak aku Sanchia, jika memang kamu tidak mau memberiku jawaban."
"Shuga, kamu benar-benar brengs*k..Kenapa kamu mengganggu hidupku, disaat aku sudah berhasil melupakan semua hal tentangmu."
Sanchia memukulkan pistolnya ke bahu Shuga, lalu memukul perut juga menendang kaki Shuga, sampai Shuga terduduk di lantai dengan memegangi perutnya. Sedangkan nafas Sanchia kini sudah tidak beraturan, dengan air mata yang luruh di pipinya.
"Aku sudah lama tahu kalau sahabat-sahabatku tidak pernah tulus padaku, mereka seringkali menyuruhku mengerjakan tugas lalu beramai-ramai menyonteknya, mereka menyuruhku membelikan sesuatu tapi tidak pernah mengganti uangnya, mereka juga seringkali mengambil barang-barangku tanpa izin, dan aku hanya diam.. Karena aku menganggap mereka sahabatku, aku merasa tidak masalah melakukannya. Saat kamu datang, aku menganggapmu sama dengan semua laki-laki yang selalu datang menggodaku. Tapi semakin lama sikapmu membuatku nyaman, aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu. Tapi justru pada akhirnya, kamulah yang paling menyakitiku, bukan sahabat-sahabatku. Setelah kamu berhasil membuat perasaanku berubah terhadapmu. Aku benar-benar membencimu, Shuga."
Sanchia memegangi dadanya yang terasa sesak, sedangkan Shuga mulai berdiri menghampiri Sanchia dan berniat memeluknya, namun Sanchia mendorong kasar tubuh Shuga.
"Jangan pernah menggangguku lagi, semua perasaanku terhadapmu sudah hilang, sejak apa yang kamu katakan tentangku saat itu. Aku tidak perlu laki-laki sepertimu, yang langsung percaya saat ada orang yang menjelek-jelekan dan merendahkanku. Kamu memang sudah kehilanganku, dan selamanya akan begitu."
"Maafkan aku Sanchia, aku benar-benar sudah bersalah padamu. Tolong katakan sekali saja, kalau saat itu kamupun mencintaiku."
"Aku memang pernah mencintaimu, tapi.."
Shuga menabrakan dirinya ke tubuh Sanchia dan memeluknya begitu erat, tidak peduli meskipun Sanchia terus meronta minta dilepaskan.
"Aku mencintaimu Sanchia, aku benar-benar mencintaimu."
Braaakk..
Pintu meeting room tiba-tiba terbuka, membuat Shuga dan Sanchia terkejut saat melihat wajah Sall yang merah padam, dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal kuat. Sanchia mendorong keras tubuh Shuga yang sedang lengah, dan sedetik kemudian, Sall langsung mendaratkan bogem mentahnya tepat di wajah, dada dan perut Shuga.
Buugh..Buugh..Buugh..
Kakinya berkali-kali menendang kaki dan perut Shuga dengan membabi buta, meluapkan emosinya yang sudah memenuhi hati dan pikirannya. Bahkan Sall tidak berhenti menghajar Shuga meskipun Shuga sudah jatuh terkulai dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Honey.. Tolong hentikan, sudah cukup Honey.."
"Apa saat ini kamu sedang membelanya? Membela orang yang kamu cintai?"
"Honey, apa maksudmu?"
Shuga tersenyum mendengar perkataan Sall, meskipun luka di wajahnya membuat senyumnya tidak bisa terulas terlalu lebar.
"Ya, istrimu memang mencintaiku, sebaiknya kamu lepaskan saja dia untukku."
Sall seketika berjongkok di hadapan Shuga dan meremas kuat kerah baju Shuga.
"Berhentilah membodohi dirimu sendiri. Kamu sangat tidak tahu malu, memintanya kembali setelah menyia-nyiakannya dulu. Hanya perempuan bodoh yang mau menerimamu kembali."
Sall melirik sekilas Sanchia, yang merasa tertohok dengan perkataan Sall yang seolah sedang menyindir dirinya.
"Honey, aku tidak mencintainya dan tidak akan.."
Perkataan Sanchia yang belum selesai seketika terhenti, saat Sall mengangkat sebelah tangannya, meminta Sanchia untuk berhenti berbicara. Sall segera berdiri menghampiri Sanchia, lalu menarik pelan tangan Sanchia.
"Ayo pulang.."
"Sanchia, jangan bohongi dirimu.. Jika kamu masih mencintaiku, maka tetaplah disini. Aku akan.."
Buugh..Buugh..Buugh..
Tanpa ragu, Sall kembali menendang perut dan kaki Shuga tanpa melepas genggaman tangan Sanchia. Lalu menarik kasar tangan Sanchia untuk segera keluar dari ruang meeting itu, meninggalkan Shuga yang mulai kehilangan kesadaran.
Sanchia yang pasrah menerima kemarahan Sall, hanya diam mengikuti langkah Sall yang lebar. Terlebih kini matanya membulat sempurna saat melihat anak buah Shuga sudah bergelimpangan di koridor gedung, dengan luka di sekujur tubuh. Tentunya karena dihajar oleh Leon, Leroy dan anak buah Sall yang kini berjalan mengikuti Big Boss dan istrinya itu.
*************************
Sanchia sesekali memandang Sall yang duduk disebelahnya seraya mengemudikan mobil sport-nya dengan kecepatan tinggi. Sanchia sungguh tidak berani mengeluarkan suara sepatah katapun, karena Sall terlihat masih menahan emosinya saat ini. Sanchia tahu apa yang dilakukannya, sudah membuat Sall begitu marah dan kecewa, sehingga Sanchia memilih diam sampai mereka tiba di villa mereka.
*************************
Image Source : Instagram Im Jin Ah
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight