
Jangan lupa like and/or vote-nya ya, kalau kalian menyukai kisah Sall & Sanchia ini..☺️ Love u all.. ❤️❤️❤️❤️❤️
************************
KNIGHT GROUP HOSPITAL
Langit senja dengan deretan awan putih berhias kilau keemasan mengiringi langkah Sall yang kembali memasuki Rumah Sakit tempat Sanchia dirawat. Pakaian serba hitam yang dikenakannya berbanding lurus dengan raut wajah penuh duka mata yang sembab karena terlalu lama menangis di sepanjang acara pemakaman tadi. Meskipun mata sembabnya coba ditutupi Sall dengan kacamata hitamnya, setelah Sall menyadari begitu banyak orang yang menatapnya di sepanjang koridor Rumah Sakit.
Acara pemakaman bayi kesayangannya yang berusia 5 bulan, dan Sall beri nama "Sairish" itu sangat menguras emosinya. Bayinya di makamkan di taman belakang mansion dengan dihadiri beberapa orang pemuka agama dari komunitas agama terdekat dan juga beberapa orang anak buahnya. Sall ingin menguburkan anaknya dengan layak sesuai tuntunan agamanya, karena Sall ingin yang terbaik bagi anaknya.
Keluarga di Indonesia pun sudah diberitahu mengenai kabar duka ini, mereka begitu sedih dan awalnya tidak percaya mendengar kabar ini. Namun saat Leroy melakukan video call selama prosesi pemakaman, Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin menyaksikannya dengan derai air mata.
Papa Leonard dan Mama Annesya begitu berduka, mereka sama sekali tidak menyangka akan kehilangan calon cucu yang sangat mereka harapkan. Terlebih kabar Sanchia yang belum sadar pasca operasi, membuat mereka sedih dan cemas.
Papa Leonard dan Mama Annesya berusaha menguatkan Sall yang terlihat sangat terpukul karena kehilangan Sairish. Mereka mengatakan akan segera pergi ke Inggris untuk melihat keadaan Sanchia, namun Sall melarangnya, dan berjanji akan selalu memberikan kabar tentang Sanchia. Sesungguhnya Sall begitu khawatir, kalau keluarganya pun akan terancam keselamatannya selama di Inggris, terlebih Nieva akan segera melahirkan dalam waktu dekat.
Sall memasuki kamar rawat Sanchia, dan langsung melangkahkan kakinya menuju sisi tempat tidur tempat Sanchia berbaring. Leon yang menunggui Sanchia dengan duduk di sofa, kini mendekat ke arah Sall yang duduk seraya menggenggam erat tangan kiri Sanchia dengan kedua tangannya.
Sanchia masih belum sadar dari tidur panjangnya pasca operasi, dan hal itu membuat Sall semakin khawatir, meskipun dokter mengatakan kalau keadaan istrinya sudah baik-baik saja. Tepukan dan elusan tangan Leon di bahu Sall pun, tidak bisa membuat Sall tenang, terlebih hatinya masih begitu sakit karena kehilangan sang buah hati.
"Leon, makanlah dulu!"
"Baiklah, kamu mau makan apa Sall? Biar aku bawakan."
"Aku tidak lapar."
"Sall, kamu perlu banyak tenaga untuk menjaga Sanchia. Tubuhmu tidak boleh lemah, karena kamu harus selalu melindunginya."
"Bawakan aku roti gandum dan satu cup espresso."
"Ok Sall."
Leon segera keluar dari kamar rawat Sanchia, meninggalkan Sall masih belum beranjak dari posisinya semula. Air matanya kini kembali luruh, genggaman tangannya di tangan Sanchia semakin erat, dan netranya yang semula tidak lepas dari wajah istrinya, kini menatap genggaman tangannya dan istrinya.
"Sweetheart.. Maafkan aku.. Aku mohon, saat kamu sadar nanti, tolong maafkan kesalahan besarku ini. Aku sungguh tidak kuat merasakan kesedihan dan rasa bersalahku, hatiku hancur dan begitu perih Sweetheart. Aku khawatir, kamu pun akan merasakan hal yang sama saat kamu sadar nanti, tapi aku tetap ingin kamu bangun, dan kita akan saling menguatkan. Bangunlah Sweetheart.. Aku.."
"Hon..Ney.."
Sall seketika mengarahkan pandangannya pada sang sumber suara, dan mencium punggung tangan Sanchia sebagai tanda syukur dan bahagia karena sadarnya sang istri tercinta.
"Alhamdulillah.. Akhirnya kamu sadar juga Sweetheart."
"Tubuhku sakit semua Honey."
Sall mengelus lembut lengan Sanchia, memahami rasa sakit yang Sanchia rasakan, meskipun bingung harus bagaimana meredakan rasa sakit yang dirasakan oleh Sanchia.
Tiba-tiba ingatan terakhir sebelum kesadaran hilang di toilet mall, berkelebatan di pikiran Sanchia. Raut wajah Sanchia berubah panik, dihempaskannya selimut yang menutupi tubuhnya, dan dielusnya perut yang kini terasa berbeda itu.
"Kenapa perutku seperti mengecil?"
Sekuat tenaga, Sall menahan air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya, dan segera menghapusnya sebelum sempat lolos keluar.
"Honey, kenapa perutku seperti ini? Apa baby kita baik-baik saja?"
Sall masih bergeming, tidak kuasa menyampaikan kalimat yang pastinya akan sangat menyakiti dan menghancurkan hati Sanchia.
Dengan memaksakan dirinya, Sanchia berusaha mendudukkan dirinya dan menyandarkan tubuhnya pada headboard. Namun Sall segera menumpuk dua buah bantal dan membantu Sanchia bersandar pada kedua bantal itu. Sall mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur, dan bergerak lebih dekat pada tubuh istrinya.
"Honey, tolong katakan kalau baby kita baik-baik saja!"
Hati Sall begitu teriris melihat Sanchia yang tidak henti mengelusi perutnya, meskipun hati dan pikiran Sanchia sudah menduga ada sesuatu yang buruk sudah terjadi pada bayinya. Namun hati kecilnya masih menolak kemungkinan terburuk itu.
"Sweetheart.. Baby kita sudah tidak ada."
"Apa maksudmu?"
Meskipun sudah bisa menangkap arah pembicaraan Sall, namun Sanchia menolak keras kesimpulan yang tercerna di otaknya. Sall kembali menggenggam kedua tangan Sanchia dengan kedua tangannya, berusaha menyalurkan kekuatan sebelum menegaskan kabar buruk yang akan menghancurkan hati Sanchia.
"Baby kita sudah meninggal Sweetheart."
"Aaaaaaaaa...."
Tangis histeris seketika pecah dari mulut Sanchia, dihempaskannya tangan Sall dengan kuat, dan tangan kanannya beralih memukuli dadanya yang terasa sesak.
"No, please don't do that, Sweetheart. (Tidak, tolong jangan lakukan itu, Sweetheart)."
Sall menahan tangan Sanchia agar tidak kembali memukuli dadanya, lalu memeluk tubuh Sanchia yang terus memberontak minta dilepaskan. Namun Sall bergeming, terus memeluk Sanchia begitu erat, meskipun pukulan, cubitan, bahkan gigitan Sanchia tidak henti diterimanya.
"Aaaaaaaaa... Babyyyyyy..."
Sesaat kemudian pintu kamar terbuka, menampakkan Leon yang menenteng banyak makanan di kedua tangannya.
"Sall apa yang terjadi?"
"Leon panggilkan Dokter!"
"Ok.."
Tidak sampai 3 menit, Leon sudah kembali bersama dengan seorang dokter dan dua orang perawat. Dokter itu meminta Sall untuk melepaskan Sanchia, sebelum memberikan suntikan penenang. Namun Sall menolaknya, dan meminta dokter menyuntiknya dengan tetap memeluk tubuh istrinya. Akhirnya dokter itu menyuntikan obat penenang di tangan Sanchia, dan beberapa saat kemudian Sanchia terkulai lemas dalam pelukan Sall.
*************************
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Dua hari kemudian, Sanchia yang duduk di atas kursi roda terlihat menatap sebuah pusara berukuran kecil dan bertuliskan nama "Sairish Arelia Knight" dihadapannya. Tidak ada air mata seperti yang selama 2 hari ini terus menerus keluar dari kelopak matanya, meskipun Sall yang berdiri disampingnya jelas paham, kalau rasa sakit Sanchia justru semakin dalam.
"Sweetheart, apa kamu ingin menaburkan bunga untuk baby kita, Sairish?"
"Iya, tolong berikan bunganya Honey."
Sall menyerahkan sekeranjang bunga berwarna-warni ke tangan Sanchia, sementara tangannya masih menggenggam sebuket bunga lily berwarna putih.
Sanchia memanjatkan doa di dalam hatinya, seraya meminta diberikan kekuatan dan keikhlasan untuk melepas kepergian bayi yang belum sempat dilihatnya itu.
"Baby.. Sairish anak Mommy.. Mommy ikhlaskan kepergianmu, berbahagialah disana. Mommy Inshaa Allah kuat dan ikhlas, meskipun Mommy tidak tahu, kenapa ada orang jahat yang ingin kamu pergi dari hidup Mommy. Maafkan Mommy karena tidak bisa melindungi kamu.. Mommy gagal.."
Tangis Sanchia akhirnya pecah, meskipun hatinya sempat berjanji untuk tidak menangisi kepergian anaknya lagi. Sall memeluk tubuh Sanchia yang bergetar hebat, berusaha menguatkan istrinya, walaupun air matanya ikut luruh menguarkan kesedihan yang begitu mendalam.
Sekembalinya ke kamar, penuh kasih sayang, Sall menutupi tubuh Sanchia yang kelelahan dengan selimut, setelah menangis begitu lama di depan pusara bayi perempuan mereka. Diciumnya kening Sanchia cukup lama, mencoba mencari ketenangan bagi dirinya sendiri, yang begitu diliputi kesedihan dan rasa bersalah.
Sall sesungguhnya begitu ingin tahu detail kejadian di toilet mall yang menimpa Sanchia, namun Sall tidak berani mengorek luka Sanchia saat ini, dan masih menunggu Sanchia untuk menceritakan sendiri kejadian itu padanya.
*************************
Sall memasuki ruang kerja di lantai 1, dimana Leroy, Leon dan 2 orang anak buah Leon yang merupakan ahli IT andalan Leon sudah berkumpul. Tanpa basa-basi, Sall langsung bertanya seraya mendudukkan dirinya di atas sofa berhadapan dengan mereka.
"Apa kalian sudah menemukan pelakunya?"
"Pelakunya bergerak ke arah kota Bristol. Anak buahku sedang mengejar mereka berdasarkan lokasi yang diberikan Leon." Papar Leroy.
"Aku belum menemukan identitas asli pelakunya, tapi aku yakin kalau pelakunya adalah orang yang memakai topeng wajah seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun, namun dari caranya berjalan, terlihat seperti seorang pria."
Rahang Sall terlihat mengeras dengan tangan terkepal kuat. Bisa dia bayangkan, Sanchia menerima perlakuan kasar dan penganiayaan dari seorang laki-laki yang menyamar menjadi seorang perempuan.
"Cari pelakunya sampai dapat dan juga motifnya. Aku ingin tahu apa pelakunya ada hubungannya dengan 4 orang pengkhianat yang aku tembak mati hari itu atau tidak. Oh iya, apa kamu sudah melacak posisi Alrico? Apa dia ada hubungannya dengan semua kejadian buruk ini? Aku tidak mau melewatkan kemungkinan sekecil apapun.
Raut wajah penuh emosi Sall masih belum berubah, tentunya semua orang paham kalau sang Boss harus diberikan informasi yang bisa memuaskannya, dan mereka tentunya harus bisa menangkap sang pelaku secepatnya.
"Alrico saat ini berada di Indonesia, tapi anehnya aku menemukan history kalau Alrico datang ke London 2 minggu yang lalu. Aku masih mencari tahu siapa yang dia temui dan untuk urusan apa."
Sall mengetuk-ngetukkan telunjuknya di atas meja, setelah mendengar penjelasan Leon.
"Aku yakin dia ada hubungannya dengan segala kekacauan yang terjadi dalam klan selama ini. Temukan bukti, jika dia memang ada hubungannya dengan para pengkhianat itu."
"Baik Sall.."
Leon langsung memberikan instruksi pada kedua anak buahnya dengan menjelaskan beberapa hal, lalu keduanya segera keluar untuk kembali fokus pada laptop dan perangkat canggih mereka, agar bisa cepat menemukan pelaku yang dicari Big Boss-nya.
Sementara Leon, Leroy dan juga Sall melanjutkan kembali pembahasan mereka.
"Leroy, apa hasil pemeriksaan lab sudah keluar tentang cairan apa sebenarnya yang masuk ke dalam tubuh Sanchia saat itu?"
"Ini hasilnya."
Sall mengambil secarik kertas yang disodorkan Leroy, dan seketika matanya membulat saat membaca deretan senyawa yang pastinya berbahaya dan sudah pasti dapat membunuh bayinya, bahkan Sanchia.
"Sepertinya pelakunya berusaha menyuntikan atau meminumkannya pada istriku, namun istriku melawan, terlihat dari bekas luka di tubuhnya yang mirip perlawanan saat berkelahi. Sehingga orang itu membabi buta menghajar istriku sampai terluka parah, bahkan perut istriku pun diinjaknya, barulah dia meminumkannya."
Sall meremas rambutnya begitu kuat, menahan emosi yang menguar keluar dari hatinya. Matanya pun memanas, menghalau air mata yang sudah siap meluncur keluar. Sedangkan Leon dan Leroy hanya mengangguk mengiyakan asumsi Sall yang sangat masuk akal.
'Aku akan membunuh orang itu dengan tanganku sendiri.' Tekad Sall dalam hati.
Sementara itu di ruangan lain, seseorang terlihat fokus melihat dan mendengar seluruh isi percakapan Sall dan orang-orang kepercayaannya dari layar tab-nya dengan wajah datarnya. Dilepaskannya earphone yang terpasang ditelinganya, lalu dia kembali merebahkan tubuhnya seraya memejamkan kedua matanya.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight