The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 64 Makan Malam Bersama Sahabat



MANSION SALL & SANCHIA - BALI, INDONESIA


Langit yang berubah keemasan dengan sang penguasa siang yang siap kembali ke singgasananya, serta gumpalan awan putih yang mengiringi disekitarnya, menyambut Sall dan Sanchia yang baru saja tiba di mansion mereka di Bali.


Para pelayan dan pengawal yang selama ini menjaga mansion Sall dan Sanchia, segera menyambut Tuan dan Nyonya-nya, Leon, Leroy, juga seluruh rombongan pelayan dan anak buah Sall yang ikut pulang ke Bali.


Raut wajah lelah sama sekali tidak terlihat di wajah Sall, sekalipun saat ini Sall terlihat menggendong tubuh istrinya menuju kamar pribadi Sall di lantai 2. Sanchia terlihat sangat lemah karena terus menerus muntah selama dalam penerbangan dari Jeju menuju Bali. Sall begitu khawatir, selama perjalanan pun, Sall selalu ada di samping Sanchia dan berusaha membuat Sanchia nyaman. Tentu saja hal ini membuat hati Sanchia menghangat, sekalipun sikap Sall masih dingin padanya, tapi Sall selalu perhatian terhadapnya juga bayi yang ada dalam kandungannya.


Sall merebahkan tubuh Sanchia di atas tempat tidur yang berada di kamar pribadi Sall, yang tentunya sudah berubah menjadi kamar pribadi mereka. Sall mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur setelah menyimpan tas Sanchia di atas nakas, seraya menutupi tubuh Sanchia dengan selimut.


Design interior kamar yang sudah berubah dari minimalis maskulin menjadi sedikit feminim dan elegant itu, membuat mata Sanchia berbinar-binar. Dia benar-benar menyukai design kamar mereka yang memang sangat sesuai dengan seleranya, meskipun belum tentu sesuai dengan selera Sall.


"Honey, kamar kita sangat indah. Aku sangat menyukainya."


"Syukurlah, aku senang kalau kamu menyukainya."


Sall mengulas senyum tipisnya dan menyambut uluran tangan Sanchia yang menggenggam tangannya.


"Maafkan aku Honey, yang selalu menyusahkanmu. Aku membuatmu begitu kerepotan dengan keadaanku."


"Kamu istriku, dan sedang mengandung anak kita. Sudah menjadi tanggung jawabku untuk selalu menjagamu dan anak kita."


Senyum Sanchia menghiasi wajahnya yang pucat, namun sesungguhnya jawaban dari Sall tidak sesuai dengan harapan Sanchia.


'Honey, dulu kamu akan bilang kalau kamu begitu mencintaiku dan akan selalu melindungiku dan anak kita. Tapi sekarang, kamu hanya mengatakan kalau apa yang kamu lakukan adalah bentuk tanggung jawabmu sebagai suami. Apa rasa cintamu sudah hilang Honey? Bagaimana caranya agar kamu bisa berubah seperti dulu? Aku tahu kesalahanku begitu besar, tapi aku ingin kamu memaafkanku sepenuhnya, dan sikapmu bisa kembali seperti dulu. Aku merindukan sikap manja dan romantismu, Honey.' Keluh Sanchia dalam hati.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


"Honey, tolong ambilkan ponselku di dalam tas."


Sall mengambil ponsel Sanchia di dalam tas, yang disimpan di atas nakas. Sall melirik nama sang pengirim pesan yang tertera di layar ponsel Sanchia.


"Dari siapa Honey?"


"Dari Vara.."


Sall mengulurkan ponsel Sanchia, tanpa membuka isi pesan dari istri Bryllian sekaligus sahabat istrinya itu.


"Tolong bacakan saja Honey, kepalaku masih sangat pusing."


"Baiklah.. Vara berniat mengunjungimu besok, dia bertanya padamu apakah boleh atau tidak."


"Apa kamu membolehkannya, Honey?"


"Kenapa kamu bertanya padaku? Kamu bebas melakukan apapun."


Entah kenapa perkataan Sall terdengar seperti sindiran bagi Sanchia, padahal Sall sama sekali tidak ada niatan sedikit pun untuk menyindir istrinya itu.


"Baiklah.. Tolong balas, kalau Vara boleh mengunjungiku besok."


"Hmm, bagaimana kalau sekalian saja kita undang Vara dan Bry untuk makan malam di mansion kita?"


"Ide yang bagus Honey. Terakhir kali kita bertemu mereka di Rumah Sakit Jeju, dan belum ada kesempatan untuk mengucapkan terima kasih dengan mengundang mereka makan malam. Honey, apa kita berikan hadiah special untuk mereka, sebagai tanda terima kasih kita ya?"


"Tenang saja.. Aku sudah memberikan mansion di Inggris, sesuai yang Bry inginkan."


"Wah, ternyata kamu sudah memberinya hadiah special. Kamu memang suami yang paling keren, Honey."


Jika biasanya Sall akan balik menggoda Sanchia, dengan meminta imbalan. Dan merayu istrinya habis-habisan dengan tindakan yang romantis, namun kali ini Sall hanya tersenyum seraya mengusap-usap pelan tangan Sanchia yang menggenggam tangannya. Lagi-lagi Sanchia berusaha menguatkan hatinya, tanpa dia tahu, kalau Sall pun sedang menahan dirinya untuk tidak memeluk dan menciumi istrinya seperti biasanya.


*************************


Makan malam yang sangat special sengaja diaturkan Sanchia untuk menyambut kedatangan kedua sahabatnya Zivara dan Bryllian. Beruntung badannya sudah membaik setelah beristirahat selama 1 hari, terlebih Sall sangat memperhatikan kebutuhannya.


Begitu Bryllian dan Zivara datang, Sall menyambut kedua sahabatnya itu dengan sangat antusias, dan segera mempersilahkan mereka untuk menuju ruang makan dimana Sanchia dan beberapa pelayan terlihat sudah menyajikan berbagai hidangan khas Bali, Korea juga Italia.


"Hai Vara, apa kabarmu?"


Zivara segera menyambut uluran tangan Sanchia, dan memeluk Sanchia dengan menempelkan pipi kanan dan kirinya di pipi kanan dan kiri Sanchia.


"Alhamdulillah, sehat Vara."


"Syukurlah, jika kalian sehat.."


Sanchia tersenyum seraya masih merangkul pinggang Vara. Kali ini uluran tangannya mengarah pada Bryllian yang terlihat tersenyum bersama Sall, melihat interaksi diantara Sanchia dengan Zivara yang terlihat sangat dekat. Sall sangat bersyukur karena Sanchia akhirnya menemukan sahabat baik, setelah sebelumnya begitu trauma untuk mempunyai sahabat dekat.


"Hai Bry, senang akhirnya kalian bisa mengunjungi kami."


"Terima kasih padamu dan Sall, karena sudah mengundang kami ke mansion kalian yang indah ini."


"Sama-sama Bry. Kami justru sangat berterima kasih, karena kalian sudah banyak membantu kami. Silahkan duduk dan nikmati hidangannya."


Bryllian dan Zivara segera duduk berhadapan dengan Sall dan Sanchia. Mereka semua mulai menikmati hidangan yang tersaji di hadapan mereka.


Bryllian sesekali mengambilkan makanan dan menaruhnya di atas meja Zivara. Begitupun sebaliknya, Zivara sesekali menyuapi suaminya saat menemukan makanan yang sesuai dengan seleranya juga suaminya. Sedangkan Sall beberapa kali menolak makanan yang ditawarkan Sanchia, dan hal itu tidak luput dari perhatian Bryllian dan Zivara, yang seketika saling berpandangan karena merasa aneh.


"Hidangan-hidangan ini benar-benar sangat enak, beruntung kalian mempunyai Chef yang sangat handal."


"Semua makanan ini, Sanchia yang memasaknya, Vara."


Perkataan Sall membuat mata Zivara membulat seketika, kini matanya menyapu semua hidangan itu dengan tatapan takjub, begitupun dengan Bryllian.


"Wow.. Kamu benar-benar luar biasa Sanchia. Apa sih yang tidak bisa kamu lakukan? Kamu begitu sempurna.. Sedangkan aku, walaupun sudah berusaha belajar memasak, tetap saja hanya bisa memasak makanan sederhana."


Ekspresi sebal dari Zivara dengan bibir mungil yang mengerucut, membuat Sall, Sanchia dan juga Bryllian tertawa kecil.


"Tidak masalah jika kamu hanya bisa memasak makanan sederhana, yang penting aku menyukainya. Kalaupun kita mau makan sesuatu yang tidak bisa kamu buat, kita bisa minta chef untuk membuatkannya atau membeli di restaurant."


"Tapi aku ingin seperti Sanchia, bisa memasakan makanan enak untuk suaminya. Sall beruntung sekali mendapatkan kamu Sanchia."


Pipi Sanchia merona karena malu mendengar pujian dari Zivara, sekilas dia melihat wajah Sall yang juga sedang tersenyum memandangnya.


'Iya, aku merasa beruntung mendapatkan istri sesempurna kamu, tapi mungkin kamu merasa tidak beruntung karena mendapatkan suami sepertiku.' Batin Sall.


"Aku juga sangat beruntung mendapatkan kamu Sayang. Kamu adalah penyempurna hidupku."


Pujian Bryllian pada Zivara, menarik senyuman di bibir Sall juga Sanchia. Bryllian menggenggam jemari Zivara yang berada di atas meja makan, membuat Zivara tersipu malu mendengar perkataan suaminya itu.


Sall sesekali  menatap Sanchia yang memandang kagum pasangan di hadapannya. Senda gurau dan tingkah romantis Bryllian dan Zivara, mewarnai makan malam mereka sampai selesai.


"Sall, aku pinjam istrimu sebentar ya. Ada yang harus aku bicarakan, biasa masalah perempuan."


"Oh okay.. Tidak masalah, Vara."


"Aku tinggal dulu ya Honey.."


Sall mengangguk pelan, dan sedikit terkejut saat Sanchia mengecup pipinya sekilas. Tidak ada binar disana, hanya tatapan sendu, memandang Sanchia yang berjalan bersama Zivara menuju ruang keluarga. Hal ini tentunya membuat Bryllian semakin merasa heran.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight