The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 34 Finally..



WARNING...!!!


Mengandung konten dewasa, diperuntukan hanya untuk yang berusia 21 tahun keatas dan sudah menikah. Mohon bagi yang dibawah umur, tolong di-skip saja ya. Mohon lebih bijak untuk memilih bacaan. Terima kasih banyak ya..


*************************


HOTEL - JEJU ISLAND, SOUTH KOREA


"I love you, Sweetheart.."


Ungkapan cinta dari Sall yang terdengar begitu tulus, justru membuat Sanchia semakin mengalirkan air mata dari sudut matanya yang tertutup. Tubuhnya bergetar hebat, saat lagi-lagi Sall menciumi leher dan bahu Sanchia dengan bibir lembutnya. Sebelah tangan Sall menyelusup ke dalam bathrobe yang dipakai Sanchia, dan menyentuh perlahan perut Sanchia.


Namun seolah sadar dari sesuatu yang sempat membuatnya terhanyut, Sanchia melepas paksa tangan Sall yang menempel di tubuhnya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Sall. Tatapan mata yang sendu Sanchia berubah tajam, menantang manik mata Sall yang terlihat begitu sedih.


"Berhenti berpura-pura.. Tolong jangan membohongiku lagi dengan cinta palsumu."


Nada bicara Sanchia yang meninggi sudah bisa diprediksi Sall, yang kini memegang kedua tangan Sanchia dan menatap dalam manik mata Sanchia yang masih saja mengeluarkan air matanya.


"Sweetheart, lihat aku.. Apa kamu melihat kepalsuan dalam tatapan mataku. Apa kamu tidak bisa mengenali ketulusan dalam setiap hal yang aku lakukan? Katakan Sweetheart, bagaimana caranya agar kamu bisa percaya kalau cintaku begitu tulus padamu? Dan tidak akan pernah ada perempuan lain yang mengisi hatiku. Tolong katakan Sweetheart!"


Sall terkejut, saat tiba-tiba Sanchia menghempaskan tangan Sall yang menggenggam tangannya. Lalu sedikit menjauh dan membalikkan badannya, membelakangi Sall untuk menjaga hatinya agar tidak kembali luluh dengan sikap Sall yang begitu menggoyahkan hatinya.


"Aku sempat percaya, tapi aku tidak ingin lagi dibodohi oleh semua kata-katamu. Aku sadar, kalau aku hanya mainan untukmu. Pada akhirnya, kamu akan meninggalkanku demi menikah dengan perempuan lain."


Sall melangkah lebar dan berdiri di hadapan Sanchia, berusaha tidak menyentuh Sanchia sama sekali.


"Please, look at me, Sweetheart.."


Sanchia masih menundukan kepalanya menyembunyikan air mata yang tidak bisa diajak kompromi untuk berhenti walau hanya sebentar saja. Sall mendekat dan mendekap erat tubuh Sanchia, juga menyandarkan kepala Sanchia di dadanya. Sanchia menumpahkan tangisnya tanpa ragu, karena rasa sesak di dadanya masih saja tidak berkurang, meskipun Sall sudah berusaha membuatnya percaya.


"Sweetheart, berita yang kamu dengar tentang pernikahan bisnisku, itu semua bohong. Bahkan aku tidak mengenal perempuan itu. Adik Mommy menjebakku, agar berita itu menyebar, supaya akhirnya aku setuju menikah demi menjaga nama baik juga keberlangsungan perusahaan keluargaku. Tapi kamu tahu kan, aku tidak peduli dengan hal itu. Yang paling penting bagiku adalah kamu, dan juga kebahagiaan kita."


Tangis Sanchia perlahan berhenti dan hanya menyisakan isakan, lalu Sanchia mendongakan kepalanya  menantang mata Sall, sekaligus mencari kejujuran disana. Namun nampaknya Sanchia masih belum berniat mempercayai perkataan Sall, meskipun dirinya tidak menemukan kebohongan sedikitpun di mata jernihnya Sall.


"Lalu kenapa kamu tidak menghubungiku dan tidak bisa dihubungi selama lebih dari seminggu? Kamu sibuk dengan perempuan itu kan? Kamu benar-benar jahat Sall."


Sanchia memukul pelan dada Sall, meluapkan emosinya yang tertahan selama beberapa hari ini. Namun semakin lama pukulan Sanchia berubah semakin keras, seiring emosinya yang kembali naik. Kini sasaran pukulan Sanchia bukan hanya dada Sall, tapi juga leher, wajah juga bahu Sall. Sall meringis menahan sakit, namun Sall tidak berniat menghentikan Sanchia yang terlihat sekuat tenaga meluapkan emosinya.


Plak..Plak..Bugh..Bugh..


"Kamu jahat, membuatku jatuh cinta bahkan mempercayaimu sepenuh hatiku, tapi kamu menghilang begitu saja, dan pada akhirnya memberiku kejutan besar yang sukses membuatku hancur."


"Sweetheart, aku menutup akses komunikasi karena aku sedang diawasi oleh banyak musuh-musuhku. Aku tidak mau mereka menemukanmu. Mereka akan tahu kalau kamu adalah sumber kelemahan terbesarku. Aku takut mereka menemukan dan menyakitimu, juga keluarga kita. Kamu tahu pasti tentang hal ini, musuh-musuhku tidak akan pernah berhenti sampai mereka berhasil membuatku hancur."


Sanchia menghentikan pukulannya yang sudah berhasil meninggalkan banyak bekas kemerahan di wajah dan leher Sall, juga rasa nyeri yang dahsyat di bahu Sall yang tertutup. Tiba-tiba mata Sanchia terbelalak saat bagian bahu Sall yang tertutupi kemeja berwarna putih, kini berubah karena noda merah yang tiba-tiba merembes begitu cepat.


"Ya Allah.. Kamu kenapa Sall?"


Tangan Sanchia bergetar, perlahan  menyentuh kemeja Sall yang sudah berwarna merah.


"Da..darah.. Apa ini? Kamu kenapa?"


Sanchia terdengar sedikit berteriak dengan ekspresi panik yang jelas. Tapi Sall justru terlihat melengkungkan senyum bahagianya, melihat istrinya yang begitu peduli dan khawatir akan keadaannya saat ini.


"Kamu kenapa Sall? Kenapa bisa seperti ini?"


"Aku tertembak Sweetheart. Tapi kamu tidak perlu khawatir, pelurunya sudah dikeluarkan, aku hanya perlu mengganti perbannya."


Tanpa memberi tanggapan, Sanchia segera berlari ke  ruangan walk in closet, membuat Sall mengerutkan keningnya. Sanchia kembali dengan kotak P3K mini di tangannya.


"Duduklah!"


Sall segera mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, diikuti Sanchia yang duduk disebelahnya, seraya membuaka kotak P3K dan mengeluarkan apa yang diperlukannya.


Tanpa banyak bicara, Sanchia melepas perlahan perban di bahu Sall, berusaha selembut mungkin karena Sall terlihat meringis menahan sakit meskipun tatapannya terus saja memandangi wajah Sanchia.


Sebenarnya Sall boleh dibilang sudah terbiasa dengan rasa sakit akibat luka seperti ini, tapi Sall sedikit bersikap berlebihan karena menyukai ekspresi Sanchia yang menunjukan rasa khawatirnya akan keadaan Sall yang sedang terluka.


Sall masih tidak lepas memandang Sanchia yang begitu fokus mengobati dan mengganti perban Sall. Sejujurnya, detak jantung Sanchia berdetak begitu cepat karena tatapan mata Sall saat ini, tapi Sanchia berusaha terlihat acuh tak acuh meskipun sangat sulit.


"Sudah selesai, aku akan meminta Kevin untuk membawakanmu baju ganti."


Sanchia berdiri dari duduknya, namun tangan Sall perlahan menariknya, sehingga akhirnya Sanchia terjatuh di pangkuan Sall. Mata Sanchia terbelalak, karena jarak mereka yang begitu dekat. Sall mengeratkan tangannya di pinggang Sanchia.


Sanchia baru tersadar dengan tubuh Sall yang polos tanpa pakaian, menampakan tubuh Sall yang bagai roti sobek, hasil kerja kerasnya berolahraga dan gym. Sanchia berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain, saat detak jantungnya berdetak semakin kencang. Tentu saja Sall menyadari apa yang dirasakan istrinya saat ini.


Sanchia masih sibuk menenangkan jantungnya yang berdetak tidak karuan, saat tiba-tiba bibir Sall mendarat di lehernya. Sanchia diam mematung, seolah tidak tahu harus berbuat apa. Matanya pun kini tertutup, menikmati ciuman bertubi-tubi dari Sall yang membuatnya melayang. Sall berniat menurunkan bathrobe Sanchia, namun terlanjur disadari Sanchia yang seketika menutupi dadanya yang masih tertutup bathrobe dengan kedua tangannya.


Senyum tipis Sall melengkung karena tingkah Sanchia yang terlihat begitu malu-malu. Tanpa berusaha meminta apalagi memaksa Sanchia untuk melepaskan tangannya dari apa yang ditutupinya, Sall kembali menciumi leher Sanchia dan memegang tengkuk Sanchia untuk kemudian menautkan bibirnya di bibir Sanchia dengan sangat lembut. Lum*tan dan sesapan bibir Sall berhasil membuat Sanchia membalas ciuman Sall yang berubah semakin panas. Sanchia kini menautkan kedua tangannya di lehernya Sall, menikmati ciuman Sall yang begitu menuntut.


Sall seperti menemukan oase saat dirinya begitu kehausan. Dengan sangat rakus, Sall memanjakan inderanya dengan sesuatu yang baru pertama kali ditemuinya. Suara-suara manis tanpa sadar keluar dari mulut Sanchia, membuat Sall melengkungkan senyumnya di sela-sela kesibukannya menjelajah.


Sall kemudian menggendong tubuh Sanchia dan merebahkannya di atas tempat tidur, mengungkungnya serta melanjutkan penelusurannya yang sedikit terjeda agar lebih leluasa. Sall melepaskan segala penghalang yang menjadi jeda antara dirinya dan Sanchia. Lalu dengan tatapan sendu berkabut, Sall mencium kening Sanchia diikuti sentuhan lembut di pelipis Sanchia.


"Sweetheart, bolehkah aku memilikimu seutuhnya?"


Dengan semburat merah di wajahnya, Sanchia menganggukkan kepalanya perlahan, yang seketika membuat Sall tersenyum bahagia. Sall dan Sanchia sama-sama mengucap doa dalam hati, sebelum Sall kembali menelusuri semua bagian tubuh Sanchia yang sudah menjadi favoritnya sejak pagi ini. Meluapkan semua perasaan yang sudah begitu lama ditahannya dengan sangat sabar.


**************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight