The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 122 Pria Jatuh Cinta



HOTEL BR - BANDUNG, INDONESIA


Suasana pagi masih begitu gelap, bahkan sang penguasa hari masih tertidur di singgasana-nya. Angin yang dingin serta gerimis di pagi hari, membuat kegiatan bergelung di balik selimut menjadi pilihan yang cukup menyenangkan. Tidak terkecuali bagi Sall dan juga Sanchia yang masih belum beranjak dari tempat tidur dan selimut tebal mereka.


"Good morning, Honey.." Lengkungan indah di kedua sudut bibir Sall terbit, saat mendengar suara lembut dan melihat wajah cantik Sanchia begitu matanya terbuka di pagi hari. Benar-benar suatu anugerah yang selalu Sall syukuri di awal harinya, seseorang yang membuat hidupnya selalu bahagia dan terasa begitu sempurna.


"Good morning, Sweetheart.." Bibir Sanchia yang begitu menggoda, langsung mendapat ciuman selamat pagi dari Sall.


"Bagaimana tidurmu Sweetheart? Apa nyenyak?" Tangan Sall bergerak merapihkan anak-anak rambut Sanchia, lalu mengelus lembut pipi dan dagu Sanchia.


"Iya, tidurku sangat nyenyak, berkat kamu.." Sall tertawa melihat ekspresi kesal di wajah istrinya.


Memang Sall akui, segala hal yang ada pada Sanchia, sudah sangat membuatnya candu. Kalau bukan karena kasihan melihat Sanchia yang baru menempuh perjalanan jauh, semalam Sall sudah pasti tidak rela hanya mendapat jatah 2 ronde saja. Tapi Sanchia terlihat begitu lelah, sampai langsung terlelap begitu nyenyak setelah pertempuran mereka.


"Sweetheart, kita berendam air hangat yuk, agar tubuh kita lebih rileks." Anggukan kepala Sanchia langsung disambut begitu antusias oleh Sall, yang langsung menggendong Sanchia ala bridal style menuju kamar mandi.


*************************


Sementara di kamar yang berbeda, Leon sudah segar setelah mandi dan berganti pakaian yang diantarkan anak buahnya. Tidak lupa Leon pun memesan pakaian ganti, lengkap dengan pakaian dalam untuk Leandra. Meskipun Leon hanya menebak ukurannya, dengan mengacu pada informasi yang dia temukan di internet.


Leon memandangi wajah Leandra yang tertidur begitu lelap. Semalaman Leon berusaha mengendalikan dirinya setiap kali ciuman panasnya dengan Leandra hampir menuju adegan lain yang lebih jauh. Leon sudah berjanji akan menjaga kepercayaan Leandra untuk tidak melakukan hal yang diluar batas, sebelum dirinya menikahi Leandra.


Namun pikiran Leon terasa begitu berat, setiap kali mengingat Papa Leandra yang harus dia mintai restu. Disisi lain dia sudah bertekad untuk berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua juga kakak Leandra, tapi di sisi lain Leon juga khawatir dengan reaksi mereka. Bukan tidak mungkin, Papa Leandra akan menjadikan Leon sebagai alat untuk mengancam keberlangsungan klan Toddestern, jika Papa Leandra mengetahui identitas asli Leon.


Leon memilih menikmati secangkir espresso sambil menunggu Leandra bangun dari tidur lelapnya. Tiba-tiba Leandra yang memakai kemeja berwarna biru muda itu, terlihat duduk dan membuka satu persatu kancing kemejanya dengan mata tertutup. Setelah semua kancingnya terbuka sempurna, Leandra melepas kemejanya sehingga hanya menyisakan tanktop dengan warna senada, lalu melempar kemejanya ke sembarang arah. Tidak lama Leandra kembali merebahkan dirinya dan tertidur dengan nyaman.


"Aduh cobaan apa lagi ini?" Keluh Leon seraya memandang tubuh indah Leandra yang begitu menggoda imannya. Leon membuka ponselnya, lalu membuka aplikasi maps untuk mencari suatu tempat yang ingin segera dia datangi bersama Leandra.


"Dimana ya lokasi gereja terdekat? Sepertinya aku harus menikahi Leandra secepatnya, aku tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, kalau terus menerus diuji seperti ini.." Gumam Leon.


************************


RUMAH SAKIT BR - BANDUNG, INDONESIA


Leroy memperhatikan tingkah Leticia yang terlihat tidak nyaman dengan wajah yang sesekali meringis dan menggigit bibir, seolah sedang menahan sesuatu.


"Janica, apa ada yang sakit? Apa perlu aku panggilkan Dokter? Sepertinya jadwal pemeriksaan masih sekitar 2 jam lagi."


"I want to pee.." Leroy tersenyum mendengar jawaban Leticia yang ternyata ingin buang air kecil.


"Ayo sini aku bantu.." Meskipun terlihat ragu, Leticia tetap menerima uluran tangan Leroy untuk membantunya turun dari tempat tidur. Setelah kakinya memakai alas kaki, Leticia mencoba berjalan dipapah oleh Leroy, tapi kakinya masih terlalu sakit saat digunakan untuk berjalan.


"Aaaw.."


"Masih sakit ya?" Leticia mengangguk menanggapi pertanyaan Leroy. Tiba-tiba Leroy menggendong tubuh Leticia ala bridal style menuju kamar mandi, dan menurunkannya dengan sangat hati-hati, sesampainya mereka di kamar mandi.


"Tidak usah dikunci, aku akan menunggu diluar kamar mandi ya. Panggil aku jika sudah selesai." Ujar Leroy, lalu segera keluar tanpa menunggu jawaban Leticia.


Selang 10 menit berlalu, Leticia masih juga belum memanggil Leroy untuk membantunya. Leroy mulai menampakkan gurat cemasnya, lalu perlahan diketuknya pintu kamar mandi seraya memanggil nama panggilan Leticia.


"Janica.. Apa kamu sudah selesai?" Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, sehingga Leroy kembali memanggil Leticia.


"Janica, apa kamu tidak apa-apa."


"Aku.. Jatuh.." Teriak Janica dari dalam kamar mandi.


Tanpa pikir panjang, Leroy segera membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci itu. Entah kenapa perasaan Leroy terasa sakit, saat melihat Leticia yang bersandar lemas di dinding kamar mandi, dengan kaki terjulur di atas lantai.


"Ya ampun Janica, kenapa kamu tidak memanggilku?" Omel Leroy, seraya menggendong Leticia keluar dari kamar mandi, lalu mendudukkannya di pinggir tempat tidur.


"Sebenarnya aku berniat membersihkan diri tadi, tapi malah jatuh." Keluh Leticia lebih kepada dirinya sendiri.


"Aku akan memanggil perawat perempuan untuk membantumu membersihkan diri dan berganti pakaian ya." Leroy segera menekan tombol Nurse Call untuk memanggil perawat. Tidak lama perawat yang semalam, sudah datang kembali untuk membantu Leticia.


Selama Leticia membersihkan diri dan berganti pakaian, Leroy menunggu di tempat duduk yang berada di depan kamar rawat Leticia. Diambilnya ponsel dari dalam saku celananya, lalu mengirim pesan singkat pada Leon.


Leroy :


Dimana kamu menghabiskan malam bersama Leandra?


Leon  :


Dari mana kamu tahu kalau aku sedang bersama Leandra?


Leroy :


Heh, kamu menculik adik dari kakak yang sedang sakit. Kasihan Leticia, jadi aku menemaninya semalaman.


Leon  :


Leroy :


Sialan.. Memangnya aku babysitter apa?


Leon  :


Bukan babysitter, tapi calon suami yang baik.


Entah kenapa Leroy tersenyum senang, membaca balasan terakhir Leon padanya. Hatinya terasa berbunga-bunga, meskipun perasaannya terhadap Leticia masih belum begitu jelas.


Selang 15 menit kemudian, perawat perempuan yang membantu Leticia sudah keluar dari kamar rawat Leticia. Leroy segera masuk, dan mendapati Leticia yang terlihat segar dan sudah berganti pakaian dengan pakaian rumah sakit yang baru. Leroy menatap wajah Leticia yang terlihat berseri dan lebih ceria dari sebelumnya.


"Kamu mau sarapan apa? Makanan Rumah Sakit atau mau pesan saja?" Tawar Leroy.


"Aku mau sarapan buah saja sebentar lagi." Tunjuk Leticia pada keranjang buah yang tersimpan di atas nakas. Leroy hanya mengangguk tanda mengerti, lalu kembali mengagumi wajah Leticia yang begitu cantik.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanya Leticia dengan ekspresi salah tingkahnya.


"Aku sedang mengagumi kecantikanmu." Wajah Leticia terlihat memerah mendengar pujian Leroy  padanya.


"Ah gombal.." Balas Leticia, berusaha menutupi ekspresi malunya.


"Aku tidak sedang menggombal Janica. Kamu sangat cantik, membuatku begitu terpesona." Lagi-lagi wajah Leticia memerah karena pujian Leroy.


Tidak ingin membuat Leticia semakin malu, Leroy mengalihkan perhatian Leticia dengan mengambil serta mencuci buah apel dan pear di wastafel, lalu memotongnya untuk sarapan Leticia.


"Makan ya.. Aaaa.." Mulai terbiasa dengan keberadaan Leroy, Leticia tanpa ragu langsung menerima suapan Leroy, dan memakan sarapannya dengan lahap. Hal ini tentu membuat Leroy senang, karena Leticia tidak lagi bersikap canggung padanya.


"Bolehkah aku ikut mandi di kamar mandi sini?"


"Tentu saja." Leroy senang, karena dia tidak harus pulang ke mansion untuk mandi dan berganti pakaian. Dia cukup mengambil pakaian di mobil, lalu mandi di kamar mandi Rumah Sakit.


Saat ini, menemani dan memastikan Leticia aman dalam pengawasannya, seolah menjadi tanggung jawab paling penting bagi Leroy. Namun Leroy tidak lupa kewajibannya untuk memantau pergerakan anak buahnya, agar selalu memberikan pengamanan terbaik bagi Sall, Sanchia dan keluarganya.


*************************


Sall yang sedang duduk seraya memandang layar ponselnya, tiba-tiba mengerutkan kening, saat membaca pesan singkat dari Leon dan Leroy yang masuk hampir bersamaan. Keduanya meminta izin Sall untuk libur hari ini, karena ada urusan mendesak. Tentu saja hal ini mengundang kecurigaan dan rasa penasaran Sall, sehingga bukannya membalas pesan mereka, tangan Sall malah terulur mengambil tab-nya, mencari informasi tentang apa yang dilakukan kedua sahabatnya saat ini.


Rekaman CCTV di Rumah Sakit BR hari kemarin, menjadi awal pencarian Sall. Sanchia yang baru selesai berdandan, menghampiri Sall yang terlihat sibuk menatap satu persatu rekaman CCTV di beberapa area Rumah Sakit BR. Tiba-tiba senyum keduanya merekah, saat melihat dua rekaman CCTV di area berbeda yang merekam jelas keberadaan Leroy dengan gadis yang berada di kursi roda, dan juga Leon yang terlihat mengungkung, lalu berciuman dengan seorang gadis di sebuah spot yang sedikit tersembunyi, namun masih terekam camera CCTV dari jarak yang cukup jauh.


"Sepertinya mereka sedang jatuh cinta, Honey.." Komentar Sanchia, saat melihat rekaman CCTV yang memperlihatkan saat Leon berpegangan tangan dengan gadis yang berciuman dengannya, lalu masuk ke dalam mobil dan keluar dari area parkir Rumah Sakit.


Senyum Sall dan Sanchia kembali merekah, begitu melihat rekaman CCTV  saat Leroy mendorong kursi roda gadis yang berbicara dengannya tadi menuju ruang rawat sang gadis. Apalagi kebersamaan mereka berlanjut sampai malam, bahkan memperlihatkan Leroy yang menyuapi gadis itu.


"Leroy tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, mungkin memang benar dia sedang jatuh cinta pada gadis itu.." Ujar Sall seraya menggenggam tangan Sanchia.


Sesaat kemudian otak Sall dan Sanchia sedikit ber-travelling melihat rekaman CCTV area koridor Hotel BR, dimana Leon dan gadis-nya masuk ke dalam kamar hotel sejak sore hari, namun tidak juga keluar dari kamar sampai pagi ini.


"Hah, ya sudahlah.. Biar itu menjadi urusan mereka berdua." Sall mematikan tab-nya, lalu kembali menyimpannya di atas meja. Sedangkan Sanchia hanya tersenyum, sangat paham kalau Sall sedikit khawatir pada Leon yang sudah seperti adiknya sendiri.


"Sweetheart, ayo kita sarapan di rooftop Hotel.. Pasti kamu sudah sangat lapar." Sall menggenggam tangan Sanchia menuju pintu keluar kamar mereka.


"Tentu saja, kamu menguras tenagaku semalaman." Tawa kecil Sall pecah mendengar perkataan Sanchia yang cukup lirih. Dicubitnya hidung Sanchia dengan cemas.


"Karena kamu membuatku mau lagi dan lagi.." Jujur Sall disertai senyumnya yang menggoda, membuat wajah Sanchia memerah karena malu.


***********************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight