The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 92 I Love You More..



MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS


Sall yang berlari secepat kilat menuju kamar, disambut senyuman super tipis dari wajah yang pucat namun tidak melunturkan kecantikannya. Sall bergegas menaiki tempat tidur, dan dengan sangat hati-hati, merengkuh tubuh Sanchia berusaha tidak menyentuh tangan Sanchia yang dipasangi infus, seraya mendaratkan ciuman hangat di kening Sanchia.


"Syukurlah, kamu sudah sadar, Sweetheart."


Sanchia hanya sedikit menganggukkan kepalanya tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. Tangannya yang masih lemah, bergerak menyusuri wajah Sall yang seketika memegang dan mengecup telapak tangan Sanchia yang berada di pipinya.


"Terima kasih karena sudah kembali sadar, dan berhenti membuatku khawatir."


Sanchia kembali tersenyum mendengar perkataan Sall yang lebih mirip omelan, tapi senyumannya terhenti saat lukanya terasa lebih sakit dan perih.


"Sakit ya? Sebentar aku panggilkan Dokter Anna."


Tangan Sanchia menahan Sall yang hendak turun dari tempat tidur, gelengan kepala Sanchia membuat Sall paham kalau Sanchia tidak ingin Sall memanggil dokter.


"Aku hanya ingin bersama kamu." Lirih Sanchia.


Sall tersenyum lalu kembali merengkuh kepala Sanchia dalam dekapannya, Sanchia memejamkan matanya menikmati kehangatan tubuh Sall yang begitu dia rindukan. Sementara Sall, tidak henti memandangi istri yang begitu dicintainya, disertai rasa syukur yang tidak henti terucap dalam hatinya.


"Sweetheart.. Maafkan aku, lagi-lagi tidak bisa melindungimu."


"Aku yang seharusnya minta maaf..Aku yang bertindak sendiri tanpa izinmu. Maaf.."


"Sudahlah, aku tidak menyalahkanmu. Aku harus paham, kalau aku memiliki istri seorang Mafia Queen yang kuat, keras kepala, tidak bisa diatur dan bisa mengambil keputusan sendiri."


Sanchia mendongakkan kepalanya, mengulas senyumnya semakin lebar dan menatap wajah Sall yang kini terlihat sedikit kesal.


"Maafkan aku Honey. Jangan marah ya.."


"Aku ga bisa marah sama kamu.. Aku seharusnya berterima kasih, karena kamu sudah membantuku juga klan-ku. Tapi tolong, jangan pernah bahayakan dirimu lagi. Kamu bisa kan mengatakan semua rencanamu padaku, dan bukannya bertindak sendiri."


"Aku tidak yakin kamu akan mengizinkanku, jika aku mengatakannya padamu.."


Sall bergeming, membenarkan apa yang dikatakan Sanchia dalam hatinya, namun Sall masih tidak mau mengakui asumsi yang dikatakan istrinya itu.


"Tapi cobalah untuk terbuka padaku." Lirih Sall penuh penekanan.


"Kamu juga tidak terbuka."


Lagi-lagi Sall merasa tertohok mendengar apa yang diucapkan Sanchia padanya. Menyadari kesalahannya, Sall mendekap tubuh Sanchia semakin erat, lalu mendaratkan kecupannya di puncak kepala Sanchia dan mengusap rambut Sanchia beberapa kali.


"Maafkan aku, karena bersikap tidak terbuka padamu. Aku terlalu takut menghadapi kekecewaan dan kemarahanmu. Kamu mau kan memaafkan aku?"


"Iya Honey.. Aku juga minta maaf ya."


"Iya Sweetheart, terima kasih juga sudah memaafkan aku."


Keduanya saling membalas senyum, netra mereka bertaut semakin dalam, sesaat kemudian Sall mengecup lembut bibir Sanchia yang ranum. Sesaat setelah Sall melepas bibirnya dari bibir Sanchia, raut wajah Sall berubah sedikit ragu dan cemas, membuat Sanchia mengerutkan keningnya karena heran.


"Kamu kenapa.. Honey?"


"Hmm, tidak apa-apa."


Sall tadinya ingin meminta maaf karena sudah salah paham mengira Sanchia menemui Alrico dan mengkhianatinya, karena photo yang dikirimkan Alrico.Tapi Sall berubah pikiran, karena merasa waktunya belum tepat. Sall tidak ingin membuat Sanchia sedih dan marah, saat kembali harus mengingat Alrico dan apa yang dilakukannya pada bayi mereka.


Sall menelepon kepala Chef untuk menyiapkan menu sarapan untuk Sanchia, tentunya makanan lembut yang mudah untuk Sanchia makan, mengingat keadaan Sanchia saat ini begitu lemah.


Tidak sampai 15 menit kemudian, seorang pelayan sudah mengantarkan semangkuk bubur, semangkuk sup krim jagung dan segelas juice avocado. Lalu kembali pergi setelah Sall memastikan makanan yang disimpan di atas nakas itu, memang sesuai dengan permintaannya.


"Sweetheart, makan dulu ya.."


Setelah melihat anggukan samar dari Sanchia, Sall segera menumpuk dua buah bantal, agar Sanchia dapat bersandar pada kedua bantal itu. Dengan perlahan Sall menyuapi Sanchia, yang kemudian mengunyah makanannya, meskipun perutnya tidak merasa lapar. Sanchia tahu, kalau Sall akan terus memaksanya sekalipun dirinya menolak untuk mengisi perutnya.


"Honey, sudah.."


"Sweetheart, kamu baru makan 4 suap saja."


"Aku benar-benar sudah kenyang.. Kalau dipaksakan, aku takut muntah."


"Baiklah.. Sekarang kamu tidur lagi ya."


"Tidak Honey, tolong bantu aku ke kamar mandi ya, aku mau membersihkan diri."


Sall mengerutkan keningnya, merasa kurang setuju dengan maksud Sanchia. Apalagi luka di bahu dan kaki Sanchia masih sangat rentan jika terkena air.


"Hmm, aku lap saja tubuhmu Sweetheart, tidak perlu ke kamar mandi."


"Tidak mau Honey, nanti aku akan membersihkan diri sambil duduk saja."


"Biarkan aku membantumu."


"Tidak usah Honey."


"Kalau tidak mau aku bantu, lebih baik disini saja."


Sanchia menghela nafas panjang mendengar perkataan Sall yang lebih mirip ancaman. Tidak ada pilihan lain, Sanchia akhirnya membiarkan Sall menggendongnya menuju kamar mandi, untuk membantunya membersihkan diri.


*************************


Seminggu berlalu sejak kejadian pertempuran di Markas besar Toddestern, dan selama seminggu ini pula, Sall hanya menemani Sanchia di mansion. Bahkan untuk meeting evaluasi dari pertempuran sebelumnya dengan para petinggi pun, Sall menggunakan video conference untuk memimpin pertemuan. Sall tidak ingin meninggalkan Sanchia yang masih membutuhkan bantuan orang lain beraktifitas. Meskipun ada banyak pelayan wanita, Sall tetap ingin Sanchia beraktifitas dengan bantuannya, bukan orang lain.


Di dalam ruang kerjanya, Sall berdiskusi dengan Leroy dan Leon yang baru saja kembali dari Markas Besar.


"Sall semua anggota klan yang menyerang kita kemarin minta dilepaskan, dan mereka bersedia tunduk dan bergabung dengan klan kita." Papar Leroy.


"Lepaskan mereka, tapi tegaskan pada mereka, kalau mereka berada dalam kekuasaan kita. Jika mereka berani menyerang kita lagi, nasibnya sudah pasti tidak akan selamat."


Sall hanya mengangguk, namun Leroy masih ragu dengan perkataan sahabatnya itu.


"Kamu yakin tidak akan merampas apapun milik mereka sebagai jaminan?"


"No.." Jawaban singkat Sall, disambut helaan nafas Leroy, dilanjutkan dengan pertanyaan lainnya.


"Sall, anggota kita yang tersebar di seluruh Inggris mencapai ratusan ribu, dan jutaan jika kita hitung seluruh anggota kita yang tersebar di seluruh Eropa. Tapi anggota yang ada di Markas Besar hanya ada sekitar 3000 orang saja. Berkaca dari kekalahan kita kemarin yang kalah jumlah saat kita menyebarkan bantuan, apa perlu kita menambah anggota untuk Markas Besar?"


"Tidak perlu, yang harus kita lakukan bukan menambah anggota di Markas Besar, tapi memberikan pelatihan yang lebih lengkap untuk anggota markas cabang. Evaluasi pimpinan klan cabang, mereka harus benar-benar orang yang kuat dan dapat diandalkan. Jadi saat terjadi kekacauan, mereka sudah bisa mengatasi sendiri, dan tidak perlu dikirimi bantuan dari Markas Besar. Jangan lupa pasokan senjata yang lengkap dan lebih banyak untuk mereka."


"Ok.. Siap Sall."


Sall menganggukkan kepalanya pada Leroy, lalu beralih memandang Leon.


"Leon, bagaimana keadaan anggota kita yang terluka dalam pertempuran kemarin, apa mereka masih dirawat di Rumah Sakit?"


"Ada beberapa anggota dengan luka parah yang masih harus mendapat perawatan intensif Sall."


"Pantau terus keadaan mereka, dan pastikan supply bantuan kepada seluruh keluarga mereka tetap berjalan. Naikan juga salary untuk semua anggota klan sebesar 30%."


"Ok Sall.."


Sall, Leon dan Leroy masih berdiskusi dengan serius, saat tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruang kerja Sall.


Tok..Tok..Tok..


"Come in.."


Wajah yang selalu berhasil membuat Sall tersenyum, kini tampak menyembul masuk ke dalam ruang kerja Sall.


"Eh Sweetheart..Kenapa kamu kesini? Padahal sebentar lagi aku berniat kembali ke kamar."


Sall segera menghampiri Sanchia untuk memapahnya masuk, dan mendudukkannya di atas sofa.


"Maafkan aku mengganggu diskusi kalian."


"Tidak apa-apa, kamu sudah selesai kok. Leroy.. Leon.. Kalian boleh keluar."


"Ok Sall.." Jawab Leon dan Leroy bersamaan. Lalu keduanya segera keluar dari ruang kerja Sall, memberikan Sall dan Sanchia waktu untuk berdua saja. Sall mendudukkan dirinya tepat disebelah Sanchia. Sebelah tangannya merangkul bahu Sanchia, dan menariknya pelan agar bersandar pada dadanya yang bidang.


"Honey, aku ingin meminta izinmu, untuk pergi menjemput Shawn ke Indonesia." Perkataan Sanchia sukses membuat Sall terkejut dan menatap wajah Sanchia yang mendongakkan kepalanya.


"Kamu belum sembuh benar Sweetheart, Papa, Mama dan Nieva juga pasti akan sedih kalau melihat keadaanmu sekarang. Aku sudah meminta Kevin untuk tidak berbicara soal kondisimu pada Papa dan Mama. Aku bahkan melarang Kevin memberitahu Nieva, meskipun aku tidak yakin dia bisa menyembunyikan hal ini dari Nieva dalam waktu yang lama."


"Hmm, Kevin sudah membocorkan rahasia ini pada Nieva. Tadi Nieva meneleponku sambil menangis. Dia ingin menjengukku, tapi tentu saja tidak aku izinkan."


"Iya Sweetheart, Nieva juga baru melahirkan, apalagi anaknya masih terlalu kecil untuk dibawa bepergian jauh. Yang terpenting kamu harus sembuh dulu, agar kita bisa menjemput Shawn dan menjenguk seluruh keluarga kita di Indonesia."


"Baiklah Honey, aku akan menunggu sampai aku benar-benar sembuh. Aku sedih melihat Shawn begitu senang setiap kali aku menghubunginya lewat video call. Sepertinya Shawn sangat merindukanku."


Sall mengelusi bahu Sanchia seraya mendaratkan kecupan-kecupan di puncak kepala Sanchia.


"Sabar ya Sweetheart, kita akan segera membawa Shawn kembali secepatnya. Jadi kamu harus cepat sembuh ya Sweetheart. Nanti kita hubungi Shawn lagi ya, aku juga sudah sangat merindukan Putra gembul-ku itu." Sanchia terkekeh geli mendengar dan melihat ekspresi Sall yang terlihat lucu saat mengingat Shawn.


"Iya Honey.."


"Sekarang kita kembali ke kamar ya Sweetheart."


Tanpa aba-aba, Sall menggendong Sanchia menuju kamar. Dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Sall, Sanchia menatap lekat wajah suaminya yang tampan.


"I love you so much, Honey.."


Langkah Sall terhenti seketika, binar mata Sall jelas menunjukkan kebahagiaan. Lalu dengan penuh cinta, Sall mendaratkan bibirnya di bibir ranum Sanchia, tidak peduli saat ini mereka masih berada di luar kamar. Sesaat setelah pertautan mereka berakhir, Sall menatap dalam wajah Sanchia yang terlihat memerah karena malu.


"I love you more Sweetheart.. More and more.."


*************************


Di sebuah villa yang terdapat di tengah pulau terpencil dikelilingi lautan berwarna biru, dan dijaga puluhan para pengawal bersenjata, seorang laki-laki terbaring di atas tempat tidur dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Tubuhnya lumpuh dan kaku, sama sekali tidak dapat digerakan. Tatapan matanya pun kosong dan tidak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya.


Alrico sedang menerima balasan atas perbuatannya, cairan yang disuntikan Sanchia, ternyata membuatnya berubah seperti mayat hidup. Bahkan ingatan Alrico pun perlahan menghilang, seperti tujuan Sanchia yang ingin Alrico melupakan semua perasaannya terhadap Sanchia. Karena segala hal buruk yang menimpa Sanchia, bersumber dari perasaan Alrico yangΒ  berubah menjadi obsesi terhadap Sanchia.


Sebenarnya selain membuat racun khusus untuk Alrico, Sanchia juga membuat penawarnya. Namun Sanchia masih belum tahu, apakah suatu saat dia akan memberikan penawarnya pada Alrico. Mengingat kesalahan Alrico begitu besar untuk dimaafkan.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Maaf ya aku baru bisa up lagi, aku usahakan weekend ini up beberapa eps (semoga ya).


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean πŸ˜…


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung πŸ˜„


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❀❀❀❀️❀


IG : @zasnovia #staronadarknight