The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 11 Mintalah aku..



"Saaaaaaaaallll..."


Di malam yang sepi, teriakan Sanchia menggema di seluruh sudut kamar, saat dirinya baru  keluar dari kamar mandi dan mendapati kekasihnya sedang berbaring santai di atas tempat tidur. Bukannya terkejut, Sall malah sengaja memandang kekasihnya yang hanya mengenakan bathrobe  dengan pikiran menerawang kemana-kemana. Sanchia kembali masuk ke dalam kamar mandi, menyisakan kepalanya yang masih melongok keluar, menatap Sall yang justru menyeringai.


"Sall keluar.. Jangan karena ada pintu yang menghubungkan kamarmu ke kamarku, membuat kamu bisa sembarangan keluar masuk kamarku tanpa izin."


"Ayolah Babe.. Kita kan sudah resmi berpacaran. Tidak ada salahnya kan, kalau kita tidur di kamar dan tempat tidur yang sama."


"Apa kamu bilang? Sall, kamu benar-benar membuatku emosi jiwa ya. Keluar sekarang juga! Atau aku akan marah sama kamu sebulan penuh."


"Ok..ok Babe, aku keluar.. Jangan marah ya, please!"


Sall segera turun dari tempat tidur, dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sanchia. Setelah yakin Sall sudah benar-benar keluar dari kamarnya, Sanchia keluar dari kamar mandi menuju ruangan walk in closet untuk berganti baju.


'Aku sudah tidak bisa berganti baju di ruangan ini, karena takut sewaktu-waktu Sall akan keluar dari pintu itu.' Keluh Sanchia dalam hati, seraya memandang sebuah dinding yang merupakan pintu rahasia yang menghubungkan kamar Sall dan kamar Sanchia.


Sanchia mengambil pakaian tidurnya, lalu kembali ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


**************************


Seminggu sudah berlalu, sejak Sanchia dan Sall resmi menjadi sepasang kekasih. Kini mereka semakin saling mengenal dan semakin romantis menjalani hari-hari mereka. Terlebih Sall selalu memperlakukan Sanchia bagaikan Ratu, yang tentu saja membuat Sanchia merasa bahagia. Karena seumur hidupnya, baru kali ini Sanchia mengizinkan seorang laki-laki untuk masuk dalam kehidupannya dan membuat hari-harinya berwarna.


Sarapan bersama, berenang bersama, menikmati suasana sore di taman mansion bersama, bahkan menikmati langit malam di rooftop mansion juga bersama. Semua hal dilakukan bersama, kecuali tidur dan mandi bersama, yang Sanchia tidak izinkan.


Seperti pagi-pagi sebelumnya, Sanchia sudah bangun sejak subuh. Selesai beribadah, Sanchia bergegas berolahraga di ruang gym milik Sall. Biasanya Sall masih tertidur saat Sanchia berolahraga, tapi hari ini Sall mulai bergabung, saat mengetahui jadwal harian Sanchia dari pelayan pribadi Sanchia.


Sebetulnya olaharaga dan gym adalah kegiatan favorit yang wajib dilakukan Sall setiap hari, terutama saat pagi dan sore hari. Tapi kali ini pandangan mata Sall lebih banyak terfokus pada Sanchia,  dibanding barbell yang ada di tangannya. Sall mendudukkan dirinya, dengan masih mengangkat barbell dengan sebelah tangannya, seraya memuji Sanchia dalam hati.


'Bagaimana aku tidak semakin tergila-gila padanya, kalau setiap hari disuguhi pemandangan seindah ini.'


Sanchia yang sejak tadi tidak terlalu memperhatikan kekasihnya itu, sekarang mengambil handuk untuk menyeka keringatnya dan kemudian meneguk air dari botol minumnya.


'Ya ampun seksi sekali sih pacarku ini.' Lagi-lagi Sall memuji Sanchia dalam hati.



Sall tersadar dari pikirannya, saat Sanchia berjalan mendekat ke arahnya.


"Sall, boleh tidak, aku pergi ke Mall untuk membeli sesuatu?"


Tangan Sall terulur meraih tangan Sanchia, lalu menariknya pelan agar Sanchia lebih mendekat padanya.


"Beli apa Babe?"


"Hanya beberapa skincare khas Bali, boleh ya? Aku tidak akan memakai uangmu terlalu banyak kok."


"Babe, kamu boleh membeli apapun yang kamu mau, aku tidak keberatan. Bahkan ini pertama kalinya kamu meminta izin untuk berbelanja, aku senang mendengarnya."


Sanchia tersenyum begitu manis, memandang Sall yang terlihat semakin tampan setelah menjadi kekasihnya. Tentu saja, karena kini Sanchia mulai memperhatikan Sall, berbeda dengan saat mereka belum berpacaran. Sanchia bahkan enggan berlama-lama bersama Sall yang seringkali bersikap menyebalkan menurut Sanchia.


"Babe kenapa kamu memandangku seperti itu?"


Sanchia tergagap karena Sall memergokinya saat memandangi Sall dengan tatapan kagum.


"Hmm, tidak kok, siapa juga yang memandangimu."


"Apa-apaan sih? Aku mau mandi, lalu ke Mall."


Sall menahan tubuh Sanchia yang hendak bangkit dari pangkuannya, sehingga membuat Sanchia mendelikan matanya karena kesal.


"Kalau kamu tidak lepas, aku akan marah ya."


Seketika Sall langsung melepas tangannya yang menahan tubuh Sanchia, sehingga Sanchia bisa berdiri dan berjalan meninggalkan Sall sendiri di ruangan gym.


'Kenapa aku begitu takut membuat Sanchia marah? Hariku serasa suram, setiap kali melihatnya kesal, sedih atau marah. Kenapa aku bisa begitu mencintainya ya? Babe.. I Love You..' Teriak Sall dalam hati.


*************************


Menjelang siang, Sanchia sudah terlihat mengitari Mall terbesar di Bali, bersama dengan Sall tentunya. Seperti saat pertama kali Sall memperbolehkannya keluar, kali ini pun Sanchia harus mengenakan topi dan kacamata untuk menyamarkan wajahnya. Kali ini ada syarat tambahan yang harus dipenuhi Sanchia, yaitu Sanchia harus mengatakan bahwa dia bukan Sanchia, jika ada orang yang mengenalinya. Dan entah kenapa, Sanchia sama sekali tidak keberatan dengan permintaan Sall kali ini.



Sall menggenggam tangan Sanchia dengan posesif, terlebih saat banyak laki-laki memandang wajah Sanchia dengan tatapan lapar dan berbinar. Sall yang merasa tidak rela dengan tingkah mereka, langsung mengintimidasi semua laki-laki itu dengan tatapannya yang tajam berkilat.


'Enyahlah kalian, kalau kalian masih ingin hidup!!!' Teriak Sall dalam hati. Tentu dia tidak berani mengatakannya di depan Sanchia, karena tidak ingin Sanchia menganggapnya terlalu posesif. Meskipun Sall yakin 100%, kalau Sanchia jelas tahu apa yang ada di pikirannya saat ini.


Sebagian laki-laki yang merasa terintimidasi oleh tatapan Sall, memang pergi karena takut. Tapi sebagian lagi memilih mengalah, karena merasa kalah saing oleh pesona Sall yang memang sangat menarik.


Sanchia pun sebetulnya merasakan hal yang sama seperti Sall, saat banyak mata perempuan seolah hampir keluar saat memandang Sall. Padahal kekasihnya itu hanya mengenakan kaos polos berwarna putih, dipadukan celana panjang dan topi seperti miliknya.


'Kenapa Sall selalu terlihat tampan, apapun yang dipakainya. Aku tidak suka dengan pandangan perempuan-perempuan gatal itu.' Keluh Sanchia dalam hati.


Setelah makan ice cream dan berbelanja barang-barang yang Sanchia perlukan, Sall dan Sanchia segera kembali ke mansion. Awalnya Sall berniat mengajak Sanchia makan di restaurant, tapi Sanchia menolak, dan memilih makan siang di mansion saja. Karena Sanchia sudah terlalu lelah dan ingin segera pulang ke mansion.


******************************


Sall dan Sanchia menikmati makan malam mereka di ruang makan tanpa ditemani satu orang pelayan pun. Semua pengawal dan pelayan selalu memberikan Big Boss-nya ruang dan privacy setiap kali sedang  bersama kekasihnya, tanpa harus diminta lebih dulu.


"Babe, aku bahagia bisa melakukan semua hal bersama dengan kamu. Apakah kamu juga merasakannya Babe?"


Sall perlahan menggenggam tangan Sanchia yang ada di atas meja, sehingga menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sanchia.


"Aku juga bahagia Sall.. Sangat bahagia."


Senyum sumringah terbit di wajah Sall, namun hanya beberapa detik saja, karena wajah itu kini berubah sendu menatap kekasihnya.


"Aku ingin kita bersama selamanya Babe.. Aku tidak ingin ada hal apapun yang membuatmu pergi dariku."


"Sall.. Kamu tahu pasti kan, begitu banyak perbedaan diantara kita. Banyak hal yang harus kamu korbankan, jika ingin bersamaku."


"Aku tahu, aku sudah mengetahui semuanya dan aku akan melakukan apapun, agar bisa bersamamu. Aku akan mengikuti keyakinanmu dan melakukan semua hal yang harus aku lakukan sebelum menikahimu. Aku ingin kita bersama selamanya."


"Kamu ingin menjadikanku istrimu Sall?"


"Tentu saja Babe, itulah keinginanku, bahkan sebelum kamu menerimaku sebagai kekasihmu."


"Baiklah.. Jika kamu ingin aku menjadi istrimu, mintalah aku pada Papaku, karena Papa-lah yang akan menjadi wali-ku untuk menikahkan kita."


*************************