
MANSION SALL SANCHIA - BALI, INDONESIA
Sambil menunggu Sanchia dan Zivara selesai dengan urusan mereka, Sall mengajak Bryllian duduk di atas sofa yang terletak di balkon ruang tamu lantai 2. Tidak lupa ditemani dua cangkir americano favorit mereka dan beberapa kue dan buah-buahan segar.
"Wow nice view.."
Pemandangan kolam renang dan taman bunga yang dihiasi kerlap-kerlip lampu hias di sekelilingnya, begitu memanjakan mata Bryllian.
"Yupz, dulu mansion ini di desain oleh Sanchia untuk Mommy-ku, jauh sebelum kami bertemu."
"Daebak.. Mansion yang Sanchia desain selalu indah dan memukau. Begitupun dengan semua bangunan yang kamu desain Sall, amaziiing.. Kalian memang benar-benar pasangan yang sangat hebat."
"Apakah memang begitu? Aku tidak yakin Bry." Lirih Sall, namun masih jelas terdengar di telinga Bryllian, membuat Bryllian mengerutkan keningnya karena bingung.
"Sall.. Sorry, kalau aku terlalu ikut campur, tapi apa ada yang mengganggu pikiranmu? Aku lihat kamu lebih banyak diam, dan sedikit dingin pada Sanchia. Benar-benar tidak seperti biasanya. Apa kalian sedang bertengkar?"
"Kami tidak bertengkar. Hanya ada sedikit masalah saja, Bry."
"Hmm, masalahΒ itu akan selalu datang di semua kehidupan pernikahan. Entah dari luar atau bahkan dari dalam diri kita sendiri. Jika masalahnya datang dari dalam diri kita sendiri, tentu kita harus bisa berubah atau menyesuaikan diri dengan pasangan kita. Tapi jika masalah itu datang dari luar, menurutku hal itu tidak akan menjadi masalah, selama perasaan cinta kalian kuat, dan kalian berkomitmen untuk tetap saling setia."
"Iya kamu benar Bry.. Tapi saat ini aku merasa sedang bersaing dengan masa lalunya."
"Maksudmu?"
"Sebenarnya aku tidak mau menceritakan hal ini pada siapapun Bry, tapi aku benar-benar butuh saran tentang masalah ini."
"Katakan saja Sall, mungkin aku bisa membantumu."
Sall menghela nafas panjang, setelah meneguk americano-nya sampai tandas.
"Ketua klan SK yang aku serang kemarin, adalah seseorang yang pernah dekat dengan Sanchia, saat Sanchia masih SMA dulu. Tadinya aku pikir, mereka hanya sempat dekat saja, tanpa ada sesuatu yang special. Tapi jawaban Sanchia atas pertanyaan laki-laki itu, membuatku berpikiran lain."
"Memang pertanyaan apa yang laki-laki itu tanyakan pada Sanchia? Dan apa jawaban Sanchia?"
Bryllian jadi ikut-ikutan memanggil nama Ketua Klan SK dengan sebutan "laki-laki itu", sekalipun Bryllian tahu kalau namanya adalah Shuga.
"Laki-laki itu menanyakan perasaan Sanchia saat di SMA.. Dan jawaban Sanchia membuatku terkejut.. Karena Sanchia mengatakan kalau dia mencintainya saat itu. Rasanya aku begitu emosi mendengarnya, terlebih laki-laki itu langsung memeluk Sanchia setelah mendengar jawaban Sanchia. Saat ini aku mulai ragu akan perasaan Sanchia padaku, apakah di hatinya hanya ada namaku atau ada nama laki-laki itu juga? Mungkinkah Sanchia merasa menyesal menikah denganku, setelah dia bertemu dengan laki-laki itu?"
Bryllian menarik nafas panjangnya sebelum mengeluarkan pendapat dan nasihatnya untuk Sall.
"Apa kamu sudah bertanya langsung pada Sanchia soal hal ini? Apa Sanchia mengatakan kalau dia masih mencintai laki-laki itu sampai saat ini, atau sudah benar-benar melupakannya?"
"Aku belum menanyakannya Bry, aku sungguh takut mendengar jawabannya."
"Sall tanyakan langsung pada Sanchia, jangan terus menerus mengambil kesimpulan sendiri. Justru sikap kamu yang meragukan perasaan Sanchia dan bersikap dingin padanya, akan membuatnya berpikir, kalau kamu sudah tidak mencintainya lagi."
"Aku sangat mencintainya Bry, tapi aku ragu dengan perasaan cintanya padaku. Berbeda dengan saat Alrico dulu, karena saat itu Sanchia terang-terangan mengatakan kalau dia tidak pernah mencintai Alrico. Tapi kali ini.. Aku mendengarnya mengatakan kalau dia mencintai laki-laki itu Bry.."
"Tapi mungkin hanya saat itu, saat mereka masih SMA Sall.. Berhentilah menduga-duga, jika kamu tidak ingin kehilangan istrimu Sall."
Sall menundukan kepalanya, dan meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Lalu menghela nafasnya dengan kasar, sebelum menyandarkan kepala dan punggungnya di sandaran sofa.
"Dengarkan aku.. Kamu lihat kan persahabatanku dengan Brandon? Kami begitu dekat seperti saudara kandung. Pasti kamu tidak akan mengira kan, kalau sebelum dia bertemu Sharon sepupu Vara, dia mencintai Vara bertahun-tahun dari SMA bahkan sampai aku dan Vara menikah."
(Yang udah baca Star on A Dark Night, pasti tahu kan sama kisah mereka yang rumit ini, yang belum tahu boleh mampir ya, hehehe..)
"Benarkah? Bagaimana bisa? Dan kenapa kalian bisa begitu dekat?"
"Dulu aku begitu cemburu pada Brandon, dia adalah sahabat terdekat Vara, yang bahkan sudah mencintai Vara sebelum aku dan Vara bertemu. Saat Vara berpacaran dengan orang lain pun, Brandon tidak pernah berhenti mencintai Vara. Tapi apa yang membuatku tidak ragu untuk membiarkan Vara tetap dekat dengan Brandon, bukan hanya karena Brandon sudah menikah dengan Sharon, atau aku yakin perasaan Brandon terhadap Vara sudah hilang, tapi karena Vara selalu menegaskan padaku kalau dia tidak mencintai Brandon. Itulah yang aku butuhkan. Kamu pun hanya perlu menanyakan perasaan Sanchia saat ini, bukan dulu."
"Tapi kisahmu berbeda, Vara sama sekali tidak pernah mencintai Brandon, sedangkan Sanchia mengakui kalau dia mencintai laki-laki itu saat mereka SMA."
"Aku pun selalu bertanya-tanya, apa Vara masih suka merindukan Arya kekasihnya yang sudah meninggal. Tapi untuk apa aku memikirkan itu, yang penting saat ini Vara sudah menjadi milikku, dan aku hanya perlu mencintai dan membahagiakan dia seumur hidupku. Agar Vara tahu, kalau hanya akulah satu-satunya laki-laki yang paling berharga dalam hidupnya."
Sall merenungi setiap kalimat yang diucapkan oleh Bryllian. Semua perkataan sahabatnya tidak ada yang salah. Dirinyalah yang terlalu sibuk dengan pikiran negatifnya, tanpa mau meminta jawaban secara langsung dari Sanchia.
"Kamu terlalu banyak berpikir, godaan pada Sanchia juga padamu akan terus berdatangan. Kalau hanya karena satu orang laki-laki saja, kamu sudah meragukan Sanchia, bagaimana jika lusinan fans Sanchia datang mengganggu. Sudah pasti berantakan pernikahan kalian."
Sall memukul lengan Bryllian dengan kepalan tangannya yang kuat, namun Bryllian justru terkekeh geli menerima reaksi Sall yang terlihat kesal dengan perkataannya. Sall sudah memutuskan akan menanyakan secara langsung tentang perasaan Sanchia, malam ini juga.
"Aku akan menanyakannya malam ini juga Bry. Terima kasih, karena sudah membuka pikiranku yang sudah buntu ini."
"Sama-sama Sall."
Bryllian dan Sall mengulurkan kepalan tangan mereka, dan membiarkannya saling beradu, dengan senyum menghiasi wajah tampan mereka masing-masing.
Tanpa Sall dan Bryllian tahu, saat ini pun Zivara dan Sanchia sedang membahas hal yang sama di ruang keluarga. Zivara begitu khawatir melihat interaksi tidak sehat diantara Sanchia dan Sall. Sehingga meminta Sanchia untuk menceritakan segalanya.
"Aku yakin, masalah utamanya bukan karena kamu yang pergi ke markas Shuga sendirian dan membahayakan dirimu. Karena sekalipun Sall marah dan kecewa, dia merasa lega karena kamu bisa selamat. Masalah utamanya adalah interaksi kamu dengan Shuga."
"Maksudmu?"
"Sall mengira kamu datang kesana karena kamu ingin bertemu Shuga, terlebih Sall melihatmu dipeluk Shuga. Dan mungkin saja, Sall juga mengetahui semua pembicaraanmu dengan Shuga sebelumnya."
"Hah? Mungkinkah seperti itu?"
"Kamu mungkin lupa, suamimu adalah Ketua Klan Mafia yang sangat cerdas. Pokoknya malam ini juga, kamu harus tegaskan pada Sall, kalau Shuga hanyalah bagian dari masa lalu kamu. Kamu juga harus ungkapkan perasaanmu terhadap Sall. Aku yakin, kamu lebih tahu apa yang harus kamu katakan pada Sall."
"Iya Vara, aku tahu. Aku benar-benar merasa sangat bodoh Vara. Terima kasih karena sudah menyadarkan aku yang tidak menyadari dimana letak masalah utamanya. Kamu benar-benar sahabat terbaikku, Vara."
Sanchia memeluk Zivara dengan air mata yang kini mulai mengalir di pipinya. Zivara mengusap lembut punggung Sanchia, berusaha menenangkannya dan berharap hubungan Sanchia dan Sall bisa kembali baik seperti sebelumnya.
Sall dan Bryllian memandang ke arah Sanchia dan Zivara yang berjalan menghampiri mereka. Sanchia sedikit terkejut dengan ekspresi yang ditunjukan Sall saat ini, senyum berbinar yang beberapa hari ini tidak dilihatnya, kini menghiasi wajah Sall yang tampan.
Fokus Sall pada Sanchia sedikit terganggu, saat Bryllian membisikkan sesuatu di telinganya.
"Pasti kamu ingin segera mengusir aku dan Vara pulang ya.. Karena mungkin malam ini, kalian bukan hanya akan berbicara dari hati ke hati, tapi juga meluapkan perasaan rindu yang selama ini kalian tahan. Wah sepertinya akan menjadi malam yang super panjang nih, hehehe.."
*************************
Pasangan Sall & Sanchia (The Killer Knight VS The Mafia Queen - Star on A Dark Night 3)
Pasangan Bryllian & Zivara (Star on A Dark Night)
Mana nih yang lebih romantis.. ππ€©π₯°
Mampir ke Star on A Dark Night yuk, yang mau kenal sama pasangan ini.. π
Image Source : Instagram Toni Mahfud, Im Jin Ah, Cha Eun Woo, Baifern (edited)
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean π
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok π
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung π
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. π #staysafe #stayhealthy
Love u all.. β€β€β€β€οΈβ€
IG : @zasnovia #staronadarknight