
Angin malam yang berhembus cukup kencang, masuk ke dalam kamar melalui pintu yang dibuka lebar oleh Sall, sama sekali tidak mengganggu fokus Sall yang sedang duduk di atas sofa seraya memandangi benda yang dipegangnya. Sorot matanya jelas menyiratkan keterpanaan yang sangat dalam pada secarik photo berukuran kecil, berwarna hitam putih di tangannya. Sesekali tangannya menghapus air mata yang nyaris keluar melalui sudut matanya.
Sanchia yang baru keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan gaun tidurnya segera menghampiri sang suami yang segera meletakan photo USG bayi mereka yang masih berusia 6 minggu di atas meja, dengan super hati-hati. Senyum Sanchia tentu langsung mengembang melihat pemandangan menyejukkan di hadapannya, tidak lupa rasa syukur yang tidak lupa dia ucap dalam hati.
Mengulas senyum tampan ke arah Sanchia, Sall juga mengulurkan tangannya yang disambut uluran tangan Sanchia. Perlahan ditariknya tangan Sanchia agar duduk di atas pangkuannya, lalu penuh cinta mengelus perut Sanchia yang masih rata.
"Sweetheart, apa kamu mau makan sesuatu?"
"Tidak, aku sudah kenyang. Makan malam tadi, aku makan banyak sekali."
"Kamu harus makan banyak Sweetheart. Kamu dengar kan kata Dokter Margareth, Your baby's size maybe the same as the size of an apple seed. (Ukuran bayi anda mungkin seukuran dengan biji apel). Masih sangat kecil, Sweetheart.. Aku ingin bayi kita cepat besar, jadi makanlah yang banyak."
"Hahaha.." Tawa Sanchia lepas mendengar perkataan Sall terdengar lucu dengan nada bicara yang sangat menggemaskan.
"Seiring berjalannya waktu, tubuh bayi kita akan membesar Honey. Kita tidak bisa memaksanya lebih cepat besar, hanya dengan memberinya makan yang banyak."
Sall tersenyum lebar dengan menunjukkan deretan giginya, seraya menunjukkan ekspresi lucu dan imutnya.
"Namanya juga usaha Sweetheart." Sanchia hanya menggelengkan kepala menanggapi perkataan Sall yang diakhiri kekehan kecil.
"Oiya, sisa buah asam yang tadi dibeli Leroy, kamu simpan dimana Sweetheart? Takutnya besok, anak kita ingin aku memakannya lagi."
"Tadi aku menyimpannya di lemari es."
"Baiklah.. Hah, kenapa Leroy hanya berhasil menemukan sedikit saja buah asam. Hanya 2 box kecil saja."
"Memangnya kamu mau makan sebanyak apa sih Honey? Aku takut kamu sakit perut. Memangnya kamu, yang dulu membelikanku begitu banyak buah asam jawa, sampai 1 mobil box." Omelan Sanchia hanya dijawab Sall dengan kekehan kecil.
"Ya sudah ayo kita tidur, Sweetheart. Kamu harus banyak istirahat. Tadi siang kamu banyak melakukan kegiatan yang melelahkan."
"Kita hanya pergi Rumah Sakit, dan langsung pulang. Kegiatan apa yang kamu maksud?"
"Ya itu, kegiatan pergi ke Rumah Sakit." Jelas Sall tanpa ragu.
Sanchia memutar kedua bola matanya, lalu menggelengkan kepalanya, karena lagi-lagi sikap Sall terasa berlebihan menurut Sanchia.
"Sweetheart, ayo kita tidur.."
"Honey.. Apa kamu tidak ingin memakanku malam ini?" Bisikan Sanchia di telinga seketika menimbulkan sengatan di seluruh bagian sensitif Sall.
"Sweetheart, jangan menggodaku. Aku sedang berusaha menahan diriku agar tidak melakukannya dulu, aku takut menyakiti bayi kita." Ekspresi Sall yang memelas, justru memancing senyum jahil di wajah Sanchia.
"Kamu bisa melakukannya dengan sangaaaaat lembut. Dan cukup sekali saja."
"Aku bisa melakukannya dengan lembut, tapi apa menurutmu aku bisa melakukannya sekali saja? Aku bahkan tidak yakin, Sweetheart. Jangan memancingku, please.." Raut memelas di wajah Sall, membuat Sanchia tidak bisa menahan tawa jahilnya.
"Aku bisa membantumu Honey..." Tatapan menggoda disertai sentuhan ujung jari Sanchia di dada Sall\, tentunya membuat Sall tidak bisa menolak tawaran menggiurkan dari istrinya. Dengan sangat bersemangat\, Sall langsung menerkam bibir Sanchia dengan bibirnya yang tidak henti ******* dan menyes*pnya begitu dalam. Sanchia mengimbangi permainan Sall\, sebelum akhirnya memimpin permainan untuk mensukseskan misinya.
(Nah lho, travelling kan, hihi...)
*************************
Suara alarm ponsel, membangunkan Sanchia dari tidurnya yang cukup nyenyak. Dilihatnya Sall yang masih terlena dalam mimpi indahnya, membuat Sanchia mengerutkan keningnya karena heran. Namun rasa heran itu segera diikuti lengkungan indah di kedua sudut bibir Sanchia.
'Alhamdulillah, sekarang Honey bisa tidur nyenyak sekali. Biasanya dini hari sudah bangun karena mual. Ah syukurlah, mungkin tidak akan lagi, setelah kehamilanku diketahui.' Tutur Sanchia dalam hati.
Tiba-tiba perut Sanchia terasa bergejolak seperti hendak memuntahkan sesuatu. Dengan sedikit terburu-buru, Sanchia menuruni tempat tidur dan sedikit berlari menuju kamar mandi. Sall yang merasakan guncangan di atas tempat tidur, seketika terbangun dan terkejut karena melihat Sanchia begitu tergesa masuk ke kamar mandi. Tanpa banyak berpikir, Sall menyusul Sanchia masuk ke kamar mandi.
"Kenapa Sweetheart?"
"Sudah lega Sweetheart?" Dengan lembut, Sall mengusap bibir Sanchia dengan handuk bersih, yang dia ambil dari dalam laci meja di sudut kamar mandi.
"Sudah Honey, terima kasih ya. Maaf membuatmu jijik."
"Kamu pun tidak pernah jijik melihatku muntah setiap pagi."
Seperti menyadari suatu kejanggalan, Sall mengerutkan keningnya ke arah Sanchia.
"Sweetheart, kenapa sekarang jadi kamu yang mengalami morning sickness. Sedangkan aku, sama sekali tidak merasa mual pagi ini?"
Bukannya ikut merasa heran, Sanchia justru mengulas senyum tipisnya, seraya mengelus perutnya.
"Aku pun berpikir hal yang sama Honey, aku juga tidak mengerti kenapa seperti ini. Setelah kita berdua mengetahui kehamilanku, tiba-tiba gantian aku yang mengalami morning sickness. Tapi tidak apa-apa Honey, aku kasihan melihatmu setiap dini hari terbangun dan tersiksa begitu."
"Tapi sekarang aku jadi khawatir dengan keadaan kamu, Sweetheart. Bayi kita baru berusia 6 minggu, dan kamu mungkin mengalami morning sickness cukup lama." Penuh kelembutan, Sall mengelus puncak kepala Sanchia dan menciuminya, seraya memeluk erat tubuh Sanchia.
"Kehamilan ini bukan yang pertama Honey, aku tentu bisa melaluinya. Lagipula, aku akan selalu merepotkanmu, hehe.." Kekehan Sanchia, memancing tawa kecil Sall.
"Baiklah, aku sangat bersedia untuk selalu kamu repotkan."
Cup..
Kening Sanchia, menjadi sasaran ciuman Sall yang super lembut. Sanchia pun menutup matanya menikmati perlakuan penuh cinta dari Sall, yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Tapi tiba-tiba, Sanchia mendongakkan wajahnya, saat kecupan di keningnya terlepas.
"Honey.. Bisakah nanti siang kita jalan-jalan?"
"Bisa Sweetheart? Apa ad yang ingin kamu beli, atau ingin kamu kunjungi?"
"Aku ingin pergi ke Kew Garden, melihat banyak bunga."
"Baiklah.." Jawaban singkat Sall tentunya membuat Sanchia sangat senang. Tapi ternyata permintaan Sanchia belum berhenti sampai disitu.
"Agar terlihat pas saat kita berphoto diantara bunga-bunga disana, aku ingin kita berdua memakai baju warna pink, Honey."
"Hah??? Aku tidak mau Sweetheart.." Tanpa ragu, Sall segera menolak permintaan Sanchia.
Wajah Sanchia seketika merengut sedih, dan keluar dari kamar mandi tanpa menghiraukan Sall yang terkejut melihat reaksi istrinya itu.
'Sepertinya aku sedang dalam bahaya.' Keluh Sall dalam hati.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight