
MANSION SALL & SANCHIA - BALI, INDONESIA
Hampir jam 11 malam, saat Sall kembali ke kamarnya setelah sibuk dengan meeting management perusahaan, dan setumpuk dokumen penting yang memerlukan review juga tanda tangannya.
"Sweetheart?"
Sall mencari Sanchia sudah begitu dirindukannya sejak siang tadi. Namun raut wajah Sall berubah panik, saat tidak menemukan keberadaan Sanchia di seluruh sudut kamar. Sall segera mengambil ponsel di saku celananya, dan menghubungi Sanchia seraya memijit-mijit keningnya.
'Kenapa tidak diangkat, sebenarnya kamu dimana Sweetheart?'
Sall lalu menghubungi Leroy untuk mencari tahu keberadaan istrinya. Beberapa saat kemudian, raut wajah Sall sudah berubah sedikit tenang, saat Leroy memberitahu kalau Sanchia berada di villa pinggir pantai dan sudah tidur di kamarnya.
Karena sudah merasa tenang setelah menemukan keberadaan istrinya, Sall memilih membersihkan diri dulu dan berganti pakaian, sebelum menemui Sanchia di villa mereka. Tentu saja karena Sall ingin langsung memeluk dan mendekap tubuh istrinya, dengan tubuhnya yang sudah segar dan juga wangi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Sall segera pergi menuju villa membawa sebuah paper bag di tangannya, dengan menggunakan golf car-nya seorang diri.
Sesampainya di halaman villa, Sall segera masuk setelah disambut beberapa orang pengawalnya. Suasana aula villa yang remang-remang karena hanya lampu ruang depan yang dinyalakan, membuat Sall mengernyitkan keningnya. Tapi Sall langsung bergegas menuju kamar pribadinya untuk menemui Sanchia, tanpa menanyakan alasan kenapa ruangan itu terlihat tidak biasa.
Sall baru saja menaiki tangga menuju kamarnya, saat tiba-tiba lampu menyala terang benderang disertai beberapa pengawal dan pelayan menyambutnya di lantai 2, dengan membawa setangkai bunga mawar putih dan balon di tangan mereka masing-masing. Sall tertawa melihat para pelayan, terutama para pengawalnya yang bahkan memakai topi ulang tahun di kepala mereka.
Sesaat kemudian Sanchia muncul dengan sebelah tangan membawa kue tart berhias crown & lilin ulang tahun yang menyala, dan tangan lainnya membawa sebuket bunga. Sedangkan Leon dan Leroy yang berada di sisi kanan dan kiri Sanchia, membawa beberapa balon di tangan mereka.
Sall segera berlari menaiki anak tangga, sampai tiba tepat di hadapan istrinya yang tersenyum begitu manis.
"This is for you, Honey.." Sall lalu menerima buket bunga yang diberikan Sanchia seraya melengkungkan senyumnya.
"Sudah jam 12." Lirih Leon.
"Happy birthday to you..Happy birthday to you..."
Lagu ulang tahun yang dinyanyikan semua pelayan dan para pengawal yang berada di lantai 2, kini mulai menggema. Mereka begitu bersemangat merayakan hari ulang tahun Big Boss mereka, yang baru dirayakan kembali setelah kematian Mommy-nya Sall. Mereka juga begitu bahagia, karena Big Boss mereka sudah menemukan kebahagiannya, yang membuat kehidupan mereka pun berubah penuh keceriaan setelah Sall bertemu dengan Sanchia.
"Make a wish and blow out the candle, Honey."
Sall segera memejamkan matanya sejenak, memanjatkan doa yang sama seperti saat dia sehabis shalat, lalu meniup lilin di atas kue sampai padam.
Prok..Prok..Prok..
Semua orang bertepuk tangan dengan ceria, lalu memberikan kesempatan untuk Sang Nyonya Rumah memberikan ucapan selamat pertamanya, setelah Sanchia terlebih dahulu menyimpan kue tart yang dipegangnya di atas meja.
"Happy Birthday Honey.. Semoga selalu sehat, panjang umur, semakin sukses, selalu bahagia, selalu dilindungi Allah dan semakin sayang sama aku dan anak kita."
Sall yang meng-Aamiinkan doa-doa Sanchia dalam hati, mendadak terkekeh geli melihat ekspresi Sanchia yang menggemaskan di akhir kalimatnya.
"Aamiin, terima kasih ya Sweetheart, kejutanmu benar-benar membuatku sangat bahagia. Aku semakin menyayangimu dan anak kita. I love you l, Sweetheart."
Sall mencium lembut bibir Sanchia, dan bermaksud ********** meskipun Sanchia belum membalas ciumannya. Namun Sanchia segera mendorong pelan dada Sall, karena malu menjadi tontonan para pelayan dan para pengawal yang kini sedang tersenyum melihat kelakuan Tuan dan Nyonya mereka.
"Malu Honey.." Bisik Sanchia di telinga Sall.
Sall kembali terkekeh geli, lalu menggendong Sanchia ala bridal style menuju kamar mereka.
"Eh..Honey, kuenya belum dipotong."
"Apa kuenya buatanmu Sweetheart?" Sanchia menganggukkan kepalanya malu-malu, lalu Sall berbalik menghadap para pelayan dan para pengawalnya.
"Kalian nikmatilah hidangan yang sudah tersedia, tapi kue tart-nya tolong antarkan ke kamar ya."
Seorang pelayan segera membawa kue tart milik Sall, lalu mengikuti langkah Sall yang menggendong Sanchia sampai menuju kamar. Setelah meletakan kue tart di atas meja, pelayan itu segera keluar dan kembali bergabung dengan teman-temannya yang kini sedang berpesta sambil menikmati hidangan diiringi musik yang mulai mengalun.
Sementara Sall kini sudah mendudukkan Sanchia di tepi tempat tidur, lalu menyimpan paper bag yang sedari tadi dipegangnya di atas nakas. Sanchia lalu mengubah posisinya dengan duduk di atas tempat tidur, diikuti Sall yang duduk berhadapan dengan Sanchia. Lalu Sanchia mengambil sebuah kotak perhiasan yang memang sudah berada di atas tempat tidur sejak tadi, dan membukanya perlahan, tepat di hadapan Sall.
"Ini kadomu Honey."
"Aku tahu kamu sudah memiliki perhiasan dari blue sapphire, tapi aku membelinya karena cincin ini sudah berusia ratusan tahun Honey. Aku membelinya dari kolektor perhiasan, karena aku menyukai makna cincin ini, yang menurut kolektornya berarti keabadian. Like my love for you, which always be eternal and forever.."
Sall yang begitu paham dengan nilai perhiasan juga barang antik, sudah dapat menebak kalau Sanchia mengeluarkan effort yang besar dan harga yang mahal untuk mendapatkan cincin itu. Karena itulah, Sall begitu menghargai apa yang dilakukan istrinya itu.
"Aku akan menjaganya Sweetheart. Thank you, aku sangat menyukai hadiah darimu. I love you Sweetheart."
"I love you more, Honey."
Ungkapan cinta yang selalu ingin didengar Sall itu, membuat perasaan bahagianya semakin membuncah. Sall mencium lembut kening Sanchia, kemudian beralih ke bibirnya menuntaskan ciuman yang tadi sempat ditolak Sanchia saat berada di depan para pelayan dan para pengawal.
Sesaat setelah Sall dan Sanchia menghentikan ciuman mereka, Sall segera mengambil paper bag yang tadi disimpannya di atas nakas.
"Entah ini sebuah kebetulan atau bukan, tapi aku memang berniat memberikan ini untukmu Sweetheart. Bukalah!"
Sanchia menerimanya dan segera membuka dua buah kotak perhiasan yang ada di dalam paper bag. Dan netra Sanchia terbelalak seketika saat melihat isinya yang tidak dia duga. Sebuah kalung dan cincin blue natural sapphire yang sama-sama dihiasi white sparkling diamond seperti yang diberikannya pada Sall.
"Ini juga mungkin bukan sapphire pertama yang aku berikan, tapi aku sengaja membelinya karena menyukai maknanya, sama sepertimu. Kalau hadiah yang kamu berikan berarti keabadian, hadiah dariku berarti True Love. Like my true love for you, Sweetheart."
Sanchia dan Sall saling menyematkan cincin di jari mereka. Senyum haru mengembang di wajah mereka, bahkan Sanchia tidak henti memandangi jarinya yang terlihat lebih indah dengan adanya cincin blue sapphire dari Sall, begitu juga dengan Sall.
"Cincinnya menjadi bertambah cantik karena berada di tanganmu, Sweetheart."
Tangis haru Sanchia tiba-tiba pecah, dipeluknya Sall begitu erat, seraya menenggelamkan kepalanya di dada Sall yang bidang.
"Terima kasih, karena.. kamu.. selalu memberiku..cinta, lebih dari.. yang aku berikan.. Aku.. bersyukur.. memilikimu..Honey.."
Sall menciumi puncak kepala Sanchia dan semakin mengeratkan pelukannya. Sall berusaha menenangkan tangis Sanchia yang tidak kunjung berhenti.
"Lho, kok nangisnya keterusan? Kenapa Sweetheart?"
"Maaf Honey, bukan aku tidak bersyukur diberikan perhiasan olehmu, tapi sepertinya aku akan meminta sesuatu yang lain Honey."
"Apa Sweetheart? Katakan saja, aku akan membelikan apapun yang kamu mau."
Sanchia terlihat ragu mengatakannya, namun bayinya seolah memaksanya untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
**************************
Image Source : Instagram Im Jin Ah (Edited), #Bluesapphire
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight