
RUMAH SAKIT BR GROUP - BANDUNG, INDONESIA
Matahari yang terik mendadak berganti mendung disertai deretan awan hitam dan angin yang berhembus perlahan. Sall dan Sanchia kembali menjenguk Kevin dan Nieva yang terlihat semakin baik keadaannya. Papa Leonard dan Mama Annesya pun menjenguk anak dan menantunya, setelah bersabar menahan diri semalaman.
"Kevin, Nieva makan yang sehat ya, agar proses penyembuhannya cepat." Nasehat Mama Annesya, tangan kanannya tidak henti menyuapkan beberapa makanan yang katanya dapat mempercepat penyembuhan luka ke dalam mulut Kevin dan Nieva. Seperti buah jeruk, kacang-kacangan, sayuran dan daging yang sudah diolah menjadi salad dan steak, juga beberapa makanan lainnya.
"Mama, Kevin sudah kenyang.." Ujar Kevin, memegang perutnya yang terasa penuh.
"Baiklah, Nieva saja.. Aaaa..." Mama Annesya menyodorkan sendok berisi salad tepat di depan mulut Nieva yang menggeleng pelan.
"Aku juga kenyang Ma.."
"Hmm, okay.. Ini minum dulu.." Mama Annesya memperlakukan Kevin dan Nieva layaknya anak kecil, namun Kevin dan Nieva justru begitu bersyukur, karena Mama Annesya begitu menyayangi mereka.
Bukan hanya Kevin dan Nieva yang hatinya dipenuhi rasa syukur, hati Papa Leonard, Sall dan Sanchia pun menghangat melihat kasih sayang yang ditunjukkan Mama Annesya pada anak dan menantunya. Bahkan Sall pun selalu nyaman setiap kali bersama Mama Annesya, yang selalu memperlakukan dirinya seperti anak kandungnya sendiri.
Tok..Tok..Tok..
Suara ketukan di pintu kamar rawat mengalihkan pandangan semua orang ke arah pintu. Sall bergegas membuka pintu, mengira Leroy dan Leon-lah yang datang setelah absen sejak kemarin, karena disibukan oleh gadis mereka masing-masing. Namun ternyata yang muncul adalah orang yang sama sekali tidak diharapkannya. Nick Smith, terlihat berdiri di depan pintu seraya memegang keranjang berisi buah-buahan, yang pastinya untuk Kevin dan Nieva.
Nick terlihat mengerutkan kening, mengingat-ingat siapa sebenarnya laki-laki yang berdiri tepat dihadapannya itu. Namun ekspresinya berubah tatkala netranya menangkap sosok Sanchia yang berdiri di belakang Sall. Terlihat berbinar, meskipun berusaha bersikap biasa, karena ada sepasang mata yang terlihat menatapnya tajam. Nick bisa menebak, kalau laki-laki dihadapannya ini, pastilah suami dari perempuan cantik yang sempat bertemu dengannya beberapa kali itu.
"Saya ingin menjenguk Tuan Kevin dan Nyonya Nieva." Nick bersikap sopan, meskipun laki-laki dihadapannya terlihat sangat tidak ramah.
"Nyonya, kita bertemu lagi." Nick mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Sanchia, tapi Sall justru menarik pelan tangan Sanchia agar menjauh dari hadapan Nick, dan mendudukkannya di atas sofa.
Nick hanya tersenyum masam, melihat kelakuan Sall yang cukup menyinggungnya. Tapi Nick memilih bersalaman dengan Papa Leonard, Mama Annesya dan menyapa Kevin dan Nieva yang cukup baik menyambutnya. Meskipun sudah membuat Kevin dan Nieva masuk Rumah Sakit karena kecerobohannya yang menyetir dalam keadaan mengantuk. Nick bahkan berkali-kali meminta maaf, membuat semua orang yang ada di ruangan itu merasa heran. Karena bagi mereka, Nick bukanlah orang baik yang rela merendahkan dirinya demi mendapat maaf orang lain, dia bahkan tega melenyapkan kedua orang tua Shawn tanpa rasa menyesal dan bersalah sedikitpun.
"Sekali lagi saya minta maaf, karena kecerobohan saya, Tuan Kevin dan Nyonya Nieva harus terbaring di Rumah Sakit. Saya sudah meminta pihak Rumah Sakit untuk melakukan yang terbaik untuk merawat anda berdua. Nanti saat Tuan Kevin dan Nyonya Nieva sudah diperbolehkan pulang, izinkan saya untuk mengantar juga ya." Kevin dan Nieva mengangguk, meskipun enggan mengizinkan Nick untuk mengantar mereka nanti.
Sall tidak henti menghunuskan tatapan tajam ke arah Nick, namun genggaman tangan Sanchia menenangkan hatinya yang sedang panas dan emosi.
"Tenang ya.. Jangan tunjukkan kemarahanmu di depan dia." Lirih Sanchia di telinga Sall. Tatapan sendu Sanchia dibalas Sall dengan senyum tipis dan elusan di punggung tangan Sanchia. Rupanya pemandangan yang terlihat romantis itu cukup menyita perhatian Nick, meskipun hanya sekilas.
"Baiklah, saya pamit dulu ya. Tolong kabari jika ada apa-apa."
"Iya Tuan Nick, terima kasih sudah menyempatkan waktu menengok kami." Balas Kevin.
Nick menyalami kembali Kevin, Nieva, Papa Leonard, dan Mama Annesya. Melewatkan Sall dan Sanchia, karena paham tangannya tidak akan mendapat balasan uluran tangan dari mereka. Namun Sanchia sedikit membungkukan tubuhnya saat Nick hendak keluar, berusaha terlihat sopan untuk menghindari kecurigaan Nick. Tentu saja hal ini memancing kekesalan Sall, yang langsung menghunuskan tatapan berkilat tajam pada Sanchia, setelah Nick keluar ruangan.
"Kenapa harus bersikap sopan sih Sweetheart. Dia tidak layak mendapatkannya." Ungkap Sall penuh kekesalan, meskipun dengan suara pelan karena tidak enak pada mertua dan adik iparnya.
Sanchia mengelus lembut pipi Sall, menatap dalam netra kekasih halalnya lalu mengulas senyum manisnya yang selalu berhasil membuat marah Sall berkurang.
"Jangan membuatnya merasa terancam, karena hal itu akan membuatnya waspada. Sedangkan kita harus menunggu dia lengah, agar bisa menyerang dan mengalahkannya."
Sall paham sekali maksud istrinya, tapi ego dan harga dirinya tidak mengizinkan dirinya untuk berpura-pura baik di depan Nick yang sangat dia benci. Bukan hanya karena sudah membunuh orangtua Shawn dan mengancam nyawa Shawn, Sall juga merasa Nick mempunyai maksud terselubung pada istrinya.
"Sudah jangan bahas dia lagi, aku malas." Masih dengan suara sepelan mungkin, Sall mengungkapkan kekesalannya dihadapan Sanchia. Sall mengalihkan pandangannya ke arah lain, masih sedikit kesal dengan sikap Sanchia yang terkesan lembek pada Nick.
Sementara di sudut lain koridor Rumah Sakit, Leroy mendorong kursi roda Leticia menuju koridor di depan taman Rumah Sakit, tempat kemarin mereka bertemu pertama kalinya. Leroy berinisiatif mengusir rasa bosan Leticia yang terus saja mengeluh ingin pulang, meskipun Dokter belum memberikan izin.
Leroy mendudukkan dirinya di kursi panjang, tangannya memegangi pinggiran kursi roda Leticia, meskipun pengunci kursi roda Leticia sudah Leroy aktifkan agar tetap stabil.
"Janica, apa kamu menginginkan sesuatu?" Dengusan pelan terdengar keluar dari mulut Leticia, mendengar pertanyaan Leroy.
"Aku hanya ingin pulang ke apartemen. Rasanya bosan sekali menghabiskan waktu selama beberapa hari di Rumah Sakit, apalagi adikku entah pergi kemana. Bukannya menemaniku di Rumah Sakit, tapi dia malah tiduran saja di apartemen." Keluh Leticia yang terlihat seperti merajuk pada Leroy.
'Iya tiduran, tapi di hotel bersama laki-laki yang dia sukai.' Jawab Leroy dalam hati.
"Ya kamu membuat hariku lumayan menyenangkan. Terima kasih ya.." Leroy memegang tangan Leticia dan mengelusnya lembut.
"Sama-sama, cepat sembuh ya.." Anggukan kepala yang disertai senyum manis Leticia, memancing lengkungan di kedua sudut bibir Leroy.
Namun tiba-tiba ekspresi Leticia berubah, membuat Leroy refleks melihat arah pandang Leticia, yang membuat raut wajah Leticia tiba- tiba terlihat tegang dan sedikit panik.
'Nick Smith? Apa yang dia lakukan disini?' Batin Leroy.
Leroy masih bertanya-tanya dalam hati, saat tiba-tiba Leticia sedikit menarik tubuh Leroy dan membenamkan kepalanya di dada bidang Leroy. Leroy yang paham maksud dari Leticia, langsung memeluk tubuh Leticia, menyembunyikan wajah Leticia dari Nick yang sesaat kemudian berjalan melewati mereka. Setelah yakin Nick sudah tidak terlihat lagi, barulah Leroy melerai pelukannya, seraya menatap wajah Leticia yang masih terlihat suram.
"Tolong antar aku ke kamar, aku harus membereskan barang-barangku. Aku tidak bisa terus berada disini.." Tanpa banyak bertanya, Leroy segera mendorong kursi roda Leticia untuk kembali ke ruang rawatnya. Meskipun pikiran Leon saat ini dipenuhi tanda tanya besar tentang hubungan Leticia dengan Nick yang sebenarnya.
*************************
HOTEL BR GROUP - BANDUNG, INDONESIA
Leon dan Leandra duduk bersebelahan di atas sofa, namun keduanya masih enggan berbicara setelah perdebatan mereka selama berjam-jam lamanya. Dengan tubuh menyamping, Leon menatap wajah Leandra yang masih menunduk.
"Maafkan aku Leandra, karena sudah bersikap egois. Mungkin sikapku yang terkesan impulsif membuatmu tidak nyaman. Tapi tolong jangan ragukan perasaanku, meskipun kita belum lama bertemu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu." Leon berusaha mengesampingkan egonya, tidak ingin membuat Leandra terus menerus diam dan marah padanya.
Leandra ikut memutar tubuhnya menghadap Leon, bahkan keduanya menaikan kedua kaki mereka ke atas sofa, sehingga tubuh mereka kini saling berhadapan.
"Aku tidak meragukan perasaanmu, karena aku pun merasakan hal yang sama sepertimu. Perasaan yang membuatku pun merasa bingung. Tapi.. Sebuah pernikahan bukanlah hal main-main Leon. Aku tidak ingin menikah tanpa restu. Papa akan membunuhku, jika aku menikah tanpa izinnya. Aku juga sudah jujur padamu, kalau Mamaku adalah orang Indonesia yang sangat menjunjung budaya timurnya. Aku tidak ingin membuat Mama sedih karena sudah melanggar apa yang dia ajarkan padaku." Leandra menatap mata Leon yang terlihat masih sendu.
"Iya, aku mengerti Leandra.. Maafkan aku, karena membuatmu merasa tertekan."
Cup..
Leandra menutup matanya saat bibir Leon mendarat di keningnya, bahkan saat bibir Leon beralih ke bibir ranumnya, Leandra masih setia menutup matanya.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Ciuman Leon pada Leandra terpaksa harus terhenti saat ada pesan masuk ke ponsel Leon. Dengan mendengus pelan, Leon mengambil ponsel yang berada di atas meja, lalu membaca pesan yang ternyata berasal dari Leroy itu.
Leroy
Cari tahu penyebab kecelakaan Leticia beberapa hari yang lalu, cari tahu juga hubungan Leticia dengan Nick Smith. Sepertinya Leticia mengenal orang itu. Aku akan mengantar Leticia ke apartemennya. Jangan lupa antarkan Leandra pulang, Leticia bisa marah besar kalau tahu adiknya tidak ada di apartemen.
Leon mengernyitkan keningnya membaca isi pesan Leroy yang cukup membuatnya bingung. Sesaat kemudian, Leon mengambil dan membuka tab-nya yang berada di atas nakas, dan langsung mencari informasi untuk menuntaskan rasa penasarannya saat ini.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight