
Senyuman mengembang cerah di wajah Sanchia dan Sall yang menuruni anak tangga menuju ruang makan, sambil berpegangan tangan dengan erat. Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin sudah menunggu Sall dan Sanchia dengan lengkungan indah di masing-masing bibir mereka. Terlebih tangan yang saling berpegang erat dan senyum indah di wajah Sall dan Sanchia, membuat mereka sangat yakin, kalau Sall dan Sanchia begitu bahagia dengan pernikahan mereka.
"Selamat Pagi Papa, Mama, Nieva, Kevin." Sall menyapa keluarga barunya dengan hati yang berbunga-bunga. Sedangkan Sanchia hanya tersenyum dengan tingkah suaminya yang terlihat sangat bahagia.
"Pagi Sall.. Bagaimana malam pertama kalian?"
Pertanyaan Papa Leonard seketika membuat wajah Sall merengut sedih. Kevin yang menyadari perubahan ekspresi Sall, terkekeh geli, memancing rasa ingin tahu semua orang yang kemudian memandangnya penuh tanya.
"Pasti senjatanya belum siap untuk bertempur Pa, bagaimana bisa malam pertamanya berjalan lancar." Kevin kembali terkekeh, tidak peduli dengan tatapan protes dari wajah Sall, yang tentunya merasa malu karena Kevin membongkar rahasianya di depan mertuanya. Apalagi Papa Leonard terlihat menahan senyum, meskipun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Kevin apa-apaan sih, berhenti meledek Sall, kamu membuatnya semakin kesal. Dasar menyebalkan!"
Kevin justru tergelak mendengar protes dari Sanchia, karena Sanchia justru tidak sengaja membocorkan fakta, kalau Sall kesal dengan malam pertamanya yang gagal. Kevin baru menghentikan tawanya setelah pahanya dipukul oleh Nieva yang menyadari kekesalan Sall dan juga Sanchia.
"Sabar ya Sall, hanya perlu beberapa hari lagi untuk kamu benar-benar sembuh. Selama ini kan Sanchia menyediakan makanan-makanan sehat yang bisa mempercepat kesembuhan lukamu, kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi ya."
"Iya Ma.." Sall menjawab nasehat Mama Annesya dengan senyum sumringahnya, dan hal itu membuat Sanchia, Nieva, Kevin dan Papa Leonard tersenyum bahagia. Entah kenapa interaksi antara Sall dengan Mama Annesya dan Papa Leonard selalu membuat mereka suasana berubah haru. Terlihat Sall yang sudah kehilangan kedua orangtuanya, merasa bersyukur memiliki mertua yang sudah seperti orangtuanya sendiri.
Sall menarik kursi untuk diduduki Sanchia, yang disambut senyum manis Sanchia seraya mendudukkan dirinya di kursi itu. Sall lalu menyusul duduk, tepat di sebelah Sanchia berseberangan dengan Kevin dan Nieva. Sanchia langsung mengambilkan sarapan nasi goreng special, yang sudah menjadi favorit Sall sejak beberapa hari ini. Sedangkan Sanchia memilih salad sayur dan buah segar untuk mengawali harinya.
"Thanks Sweetheart."
Sanchia tersenyum malu-malu membalas tatapan penuh cinta dari Sall, lalu mengalihkan pandangannya pada semangkuk salad yang kemudian disuapkan sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Sedangkan Sall langsung menyantap nasi gorengnya dengan sangat bersemangat.
Sarapan pagi yang ceria diselingi tawa dan canda, tiba-tiba terjeda dengan kedatangan Alrico dengan ekspresi sendu penuh kekecewaan. Tanpa harus meminta penjelasan pada Sanchia dan anggota keluarganya, Alrico sudah mengetahui pernikahan Sall dan Sanchia berjalan lancar di hari kemarin, dari para pengawal dan pelayan mansion yang dia temui sebelum memasuki ruang makan. Mereka menanyakan, kenapa Alrico tidak menghadiri hari bahagia dari sahabat terbaiknya tersebut.
Sanchia sebenarnya masih sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Alrico, tapi genggaman tangan Sall mengingatkan Sanchia untuk menahan diri dan bersikap seolah-olah tidak tahu dengan apa yang sudah dilakukan Alrico untuk membatalkan pernikahannya dengan Sall.
"Selamat Pagi semuanya.."
"Selamat Pagi Al.." Sapaan Alrico hanya dibalas Papa Leonard, Mama Annesya dan juga Nieva.
"Duduklah Al.. Kita sarapan bersama."
"Hmm, tidak Tante, saya sudah sarapan."
Ekspresi Alrico yang tidak pernah bisa berbohong, jelas ditangkap oleh Sanchia yang mendelik kesal, meskipun sudah berusaha menahan dirinya.
"Kamu bahkan belum mencuci mukamu, lalu kamu bilang sudah sarapan."
Perkataan Sanchia yang terdengar sarkas namun menyiratkan perhatian, membuat Sall menolehkan wajahnya ke wajah sang istri. Alrico langsung menuju wastafel yang terletak di pantry lalu mencuci wajahnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya ikut bergabung untuk sarapan, karena terus menerus dipaksa oleh Mama Annesya, Papa Leonard, Nieva dan Kevin.
Alrico mengambil nasi goreng untuk sarapannya, namun hanya sedikit, karena ***** makannya benar-benar tidak ada setelah mendengar kebenaran pernikahan Sanchia dan Sall. Rasa nasi goreng yang lezat pun, begitu sulit dia telan, karena rasa sakit di hatinya masih begitu mendominasi.
"Kak Alrico.. Kenapa kemarin kamu tidak hadir di acara pernikahan Sanchia dan Sall? Aku mencari-cari Kakak, bahkan teleponku saja tidak Kakak angkat."
Kevin bersikap acuh tak acuh dengan pertanyaan yang dilontarkan Nieva pada Alrico. Nieva tidak tahu, kalau justru suaminya-lah yang memberikan instruksi pada orang kepercayaannya untuk mencampurkan obat tidur pada makanan untuk Alrico.
"Iya benar Al, kamu kenapa tidak datang?"
Alrico berniat menjawab pertanyaan Nieva dan Mama Annesya, namun perkataan Sanchia seketika mengurungkan niatnya.
"Apa kamu sudah tidak menganggapku sahabatmu Al? Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahanku?"
Perkataan Sanchia seketika menohok hati Alrico yang memang sudah begitu nyeri. Wajah sendu Alrico saat memandang Sanchia, tidak luput dari perhatian Sall. Saat ini Sall justru menyayangkan reaksi Sanchia yang justru menambah rasa sakit Alrico. Sall memang benci dan ingin membalas perbuatan Alrico, tapi tidak dengan melibatkan istrinya yang mungkin akan lebih mengutamakan perasaan daripada logika.
"Aku ikut bahagia, jika kamu bahagia dengan pernikahanmu, Chia.."
'Chia lagi.. Aku benar-benar muak saat dia memanggil istriku dengan panggilan itu, terlebih ekspresinya jelas menunjukkan cinta pada istriku.' Rutuk Sall dalam hati.
"Aku bahagia Al.."
"Dan aku akan selalu membahagiakannya."
Tatapan Alrico yang sejak tadi terpaku pada Sanchia, beralih seketika pada Sall. Tangannya terkepal, namun sebisa mungkin Alrico menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat biasa di depan Sall, yang dia anggap musuh besarnya itu.
"Aku pegang janjimu, kalau kamu sampai menyakitinya, maka kamu akan berhadapan denganku." Alrico berdiri dari duduknya, tidak berniat meneruskan sarapannya yang baru dua suap itu.
"Tante..Om.. Dan semuanya, aku pamit duluan. Semoga hari-hari kalian menyenangkan ya."
"Lho, habiskan dulu sarapanmu Al.."
Alrico mengambil piringnya dan membawanya ke wastafel pantry, sebelum akhirnya berjalan keluar dari mansion dengan perasaan yang tercabik-cabik. Papa Leonard, Mama Annesya dan Nieva memandang heran dengan kepergian Alrico yang terlihat tak biasa, namun mereka tidak bertanya lebih jauh, karena tidak ingin merusak suasana dengan spekulasi mereka tentang kekecewaan Alrico. Karena sebenarnya mereka pun menaruh curiga terhadap perasaan Alrico selama ini terhadap Sanchia, yang lebih dari sekedar sahabat biasa.
**************************
Sall dan Sanchia baru saja tiba di sebuah resort yang unik berbentuk sangkar burung raksasa di tengah alam yang masih asri. Sall sengaja mengajak Sanchia untuk menikmati waktu mereka di tempat yang romantis, sebelum lusa dia harus berangkat ke Inggris untuk mengurus perusahaan dan Klannya.
Sanchia melihat pemandangan alam melalui balkon kamar dengan tatapan yang berbinar. Sesekali dia mengambil photo-nya sendiri dengan latar alam yang sangat memanjakan mata. Tiba-tiba Sall ikut berphoto dengan Sanchia, seraya memeluk dan menciumi wajah Sanchia dengan gemasnya. Apalagi ciuman-ciuman itu, kini beralih ke leher dan bahu Sanchia yang terbuka.
"Ih basah.."
Tawa Sall lepas, melihat Sanchia yang terlihat kesal karena ulahnya.
"I'll miss you, Sweetheart.. Kamu ikut saja ya, semua dokumen kamu sudah siap kok. Kita percepat saja kepindahan kita ke Inggris. Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu, kalau bukan menyangkut hidup dan mati perusahaan serta klanku, aku sungguh tidak ingin pergi, Sweetheart."
"Honey, aku baru bertemu lagi dengan keluargaku. Hanya satu bulan, izinkan aku tinggal bersama keluargaku satu bulan lagi. Kamu juga tidak akan lama kan di Inggris?"
"Aku hanya seminggu di Inggris, Sweetheart. Baiklah, begitu urusanku selesai, aku akan langsung kembali. Saat aku pulang nanti, kita ke mansion kita di Bali ya, sekalian melihat pembangunan villa di pinggir pantai. Kita bisa mengajak Papa, Mama, Nieva juga Kevin. Setelah itu, kita honeymoon, kemanapun kamu mau. Jadi kamu mau kemana Sweetheart?"
"Sebenarnya aku ingin ke Korea Honey. Mungkin Jeju akan jadi tempat yang romantis untuk berbulan madu. Tapi aku sih terserah kamu Honey, jika kamu sudah menyiapkan tempat untuk kita berbulan madu, aku ikut saja."
"Aku tadinya ingin mengajakmu keliling Eropa, tapi sepertinya tidak seru untukmu yang lama tinggal di Spanyol dan sering kali liburan ke negara-negara Eropa. Jadi aku akan mengikuti keinginanmu untuk pergi honeymoon ke Korea."
"Serius Honey?"
"Iya, Sweetheart.. Aku serius."
"Terima kasih Honey.."
Sanchia mendaratkan bibirnya sekilas di bibir Sall yang terbuka, namun seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Sall langsung melahap benda kenyal itu dan menyesapnya seraya menahan tengkuk Sanchia untuk memperdalam ciuman mereka. Meskipun tempat mereka sangatlah privat, Sall memilih melepas pertautan bibir mereka sejenak, lalu menggendong Sanchia ke dalam kamar untuk melanjutkan keromantisan mereka.
Sall merebahkan Sanchia di atas tempat tidur yang bertabur banyak kelopak bunga mawar merah. Sall memandang wajah Sanchia dengan pandangan berkabut, dan tanpa membuang waktu, Sall langsung menautkan kembali bibirnya di bibir Sanchia. Menyesap dan mengul*mnya dengan liar, memantik gairah Sanchia yang sempat tertahan sejak tadi. Terlebih saat ini, bibir Sall mulai menyusuri leher jenjang Sanchia, diikuti tangannya yang mulai menyentuh lembut dada, serta menurunkan bagian atas dress Sanchia. Pemandangan bra hitam berenda milik Sanchia, dengan isinya yang sedikit mengintip keluar, membuat mata Sall berbinar seketika.
'Aku sudah tidak kuat jika harus menahannya lagi. Aku akan coba melakukannya lagi kali ini.' Tekad Sall dalam hati.
Gairah Sall sudah naik ke ubun-ubun melihat pemandangan indah yang membuatnya kesulitan menelan salivanya. Senjatanya pun mulai ngilu, tapi Sall berusaha menahan rasa nyeri yang mulai dirasakannya, karena tidak ingin mengecewakan Sanchia yang terlihat mulai menikmati permainannya.
Sall berniat membuka seluruh penutup tubuh Sanchia, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi karena panggilan masuk dari Leon. Sall mendengus kesal, dan berusaha tidak mempedulikan panggilan tersebut. Tapi Leon seolah pantang menyerah, setiap kali Sall menolak panggilannya, maka Leon langsung menghubungi Sall kembali. Akhirnya dengan ekspresi yang sangat kesal, Sall mengangkat juga panggilan telepon dari sahabatnya itu.
"Ada apa?"
Ekspresi Sall berubah panik setelah mendengar apa yang dikatakan Leon, dan hal itu tentu tidak luput dari perhatian Sanchia dan membuatnya bertanya-tanya.
"Ada apa Honey?" Sanchia langsung bertanya begitu Sall menutup panggilan dari Leon.
"Sweetheart, maafkan aku. Aku harus berangkat ke Inggris malam ini juga."
*************************
Image Source : Google (Bubu Jungle)
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Maaf ya aku baru up, karena sibuk di dunia nyata..
Maaf juga kalau balas comment-nya lama, tapi aku usahain selalu bales kok.. 😣
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight