
Leon masih merutuki kebodohannya, karena sudah berusaha menutupi kejadian saat Birmingham dari Sall, sahabat baiknya sendiri. Apalagi Sall bahkan sudah mendapatkan video rekaman CCTV yang berisi adegan ciuman Leon dan Leandra saat berada dalam lift, sebelum Leon menghapus rekaman CCTV itu.
Dalam perjalanan pulang dari perusahaan menuju mansion pun, Sall sama sekali tidak mengatakan sepatah katapun pada Leon yang duduk di sebelah sopir. Sall memilih sibuk dengan gadget-nya, sementara Leon yang masih merasa bersalah, tidak berani berkata apapun. Bahkan bertanya lebih lanjut soal apa yang akan Sall lakukan pada Marlon pun, tidak berani Leon lakukan.
Sall mengatakan, kalau Marlon yang sudah bersahabat dengan mereka sejak kecil, telah menipu mereka dengan bersikap gemulai seperti perempuan sejak mereka di Senior High School. Sosok dan pribadi seorang Marry itu sebenarnya tidak ada. Hal itu rela dilakukan Marlon, agar Sall, Leon, Leroy dan anggota klan lainnya, menganggapnya tidak berbahaya dan tidak mewaspadainya sebagai seseorang yang berpotensi mengkhianati mereka.
Marlon sesungguhnya adalah anak dari orang kepercayaan Ayah Sall yang meninggal dalam sebuah misi, namun Marlon menyalahkan Ayah Sall yang sudah membuatnya kehilangan Ayahnya, sehingga timbul dendam pada Sall sebagai pelampiasan. Apalagi Marlon seringkali merasa iri, karena banyak perempuan yang dia sukai, malah tertarik pada Sall yang dianggap lebih memiliki segalanya dibanding dia. Marlon ingin sekali membunuh Sall sejak lama, namun Marlon sadar, dia tidak mempunyai kekuatan dan pasukan yang bisa membantunya. Sehingga selama bertahun-tahun, dia menahan dirinya seraya mengumpulkan kekuatan dan koneksi untuk membalaskan dendamnya.
Kenapa Marlon menargetkan Leon pada awalnya? Karena Marlon berpikir akan lebih mudah menumbangkan orang-orang kepercayaan Sall terlebih dahulu, sebelum menghabisi sang Raja. Terlebih Marlon merasa Leon adalah hambatan terbesarnya, yang selalu lebih tahu pertama kali, disaat ada sesuatu yang mengancam Sall dan klan Toddestern.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, saat Sall dan Leon tiba di mansion. Keduanya memasuki mansion tanpa saling berbicara seperti biasanya, hanya menganggukkan kepada jajaran pelayan dan pengawal yang menyambut kedatangan mereka. Sall langsung menggunakan lift untuk menuju kamarnya di lantai 2, sedangkan Leon menuju kamarnya yang berada di lantai 1.
Alangkah terkejutnya Sall saat memasuki kamar yang terlihat begitu cantik dengan dekorasi bunga mawar berwarna-warni dan penerangan dari deretan lilin di beberapa sudut kamar yang membuat kamar terlihat remang-remang. Tempat tidurnya dan Sanchia pun penuh dengan taburan kelopak bunga mawar dan hiasan bunga mawar yang dibentuk begitu indah dan menambah kesan romantis di kamar itu.
Senyum Sall semakin lebar, langkahnya tergerak menuju balkon kamar karena belum menemukan keberadaan sang istri yang sudah membuatnya semakin rindu saat ini. Dan benar saja, Sanchia tampak duduk ditemani banyak hidangan makan malam dibelakangnya.
(Anggap aja belakangnya pemandangan lampu-lampu kolam renang di bawah ya, ngeditnya susah.. 🤭)
Penampilan yang terlihat sangat cantik dan juga seksi karena gaun pendek berwarna merah, dengan belahan dada rendah, membuat Sall tidak berhenti berkedip menatap Sanchia. Terlebih saat Sanchia menurunkan blazer yang sejak tadi melindungi bahu dan lengannya yang polos dari udara dingin.
"Wow.. You are so gorgeous, Sweetheart." Ciuman Sall mendarat di pelipis Sanchia, seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sanchia.
"Thank you, Honey.. And you are so handsome as always." Jawab Sanchia, mengelus pipi Sall dengan jari lentiknya, membuat Sall terpancing dengan gerakan dan ekspresi Sanchia yang sangat menggoda.
Cup..
Tidak bisa menahan godaan bibir berlipstick merah dihadapannya, Sall mendaratkan bibirnya di bibir Sanchia yang terbuka. Menyesap dan melu**t bibir Sanchia yang ikut menari bersama bibirnya. Ciuman yang mulai panas itu terlepas, dengan nafas keduanya yang mulai menderu.
"Sweetheart, apa malam ini sudah boleh?" Tanya Sall dengan pandangan penuh harap pada Sanchia. Tanpa menjawab, Sanchia menganggukkan kepalanya serta menyunggingkan senyum malu-malu yang membuat Sall begitu gemas. Tiba-tiba Sall menggendong Sanchia ala bridal style menuju kamar mandi.
"Honey, aku sudah mandi. Lagipula aku sudah menyiapkan makan malam special untukmu." Namun Sall seolah tidak peduli dengan perkataan Sanchia, Sall justru mendudukkan Sanchia di atas meja bercermin lebar yang berada di kamar mandi.
"Maaf Sweetheart, aku sudah terlalu lapar, sudah lama tidak memakanmu." Ujar Sall seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sanchia, dan mencium bibir Sanchia dengan liarnya. Tangan Sall pun mulai bergerak menyisir punggung Sanchia yang terbuka. Bahkan kini bahu Sanchia sudah terekspos sempurna akibat ulah Sall yang menurunkan sedikit gaun Sanchia.
Keduanya saling memagut, bertukar saliva membuat suasana berubah panas. Sall semakin memperdalam pagutannya, mengabsen setiap inchi rongga mulut Sanchia, tanpa ingin menyisakannya. Suara-suara manis dari mulut Sanchia mulai terdengar merdu di telinga Sall, terlebih saat bibir Sall mulai bergerak dari leher menuju bagian dada Sanchia. Tentunya Sall pun semakin bersemangat menggiring tangannya untuk menjelajahi bagian-bagian tubuh Sanchia yang sudah menjadi favoritnya.
(Nah adegan selanjutnya, berimajinasi sendiri aja ya, hihi..)
**********************
Sanchia terbangun dari tidur singkatnya, namun tangan kekar Sall yang melingkar kuat di pinggang dan perutnya, menahan pergerakan tubuhnya yang berniat turun dari tempat tidur. Sekilas diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan angka 9 pagi.
Tubuh Sanchia terasa lelah dan lemas, semalaman Sall menggempurnya tanpa ampun, dan membuktikan perkataannya untuk menagih jatah yang hilang selama lebih dari 40 hari masa nifas sang Istri. Mereka mengeksplor banyak spot di dalam kamar, dan hanya beristirahat sebentar untuk mengisi perut mereka dengan menu makan malam yang sudah Sanchia siapkan sebelumnya. Bahkan setelah mandi dan shalat subuh pun, Sall kembali menerkam Sanchia, seolah tidak ada kata puas di kamusnya. Tentu saja Sanchia sudah bersiap untuk malam-malam panas mereka selanjutnya.
"Morning, Sweetheart.."
Sanchia refleks memalingkan wajahnya kebelakang, memandang wajah Sall yang terlihat segar. Sall mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi di bahu dan punggung Sanchia yang polos.
"Kamu tidak tidur, Honey?"
Sall menggeleng samar, lalu menarik pelan bahu Sanchia agar menghadap ke arahnya, dan kenbali memeluk tubuh Sanchia dengan posesif. Dilabuhkannya sebuah ciuman selamat pagi di bibir Sanchia yang ranum selama beberapa lama.
"Honey, aku harus melihat Shanaya dan Shawn." Ujar Sanchia dengan mendongakkan kepalanya ke wajah Sall. Sall lalu mengambil tab-nya yang disimpan di atas nakas. Di layar tab terlihat rekaman camera CCTV yang terletak di ruang keluarga, dimana Papa Leonard dan Mama Annesya terlihat sedang mengawasi Shawn dan Shanaya yang sedang bermain ditemani 4 orang babysitter.
Helaan nafas lega Sanchia menarik senyuman di wajah Sall, dengan jari-jari mengelus lembut pipi Sanchia.
"Kenapa kamu tidak tidur Honey? Kamu belum tidur sama sekali. Lalu apa yang kamu lakukan saat aku tertidur tadi?" Ekspresi Sanchia yang terlihat khawatir, kini berganti raut ingin tahu.
"Bersyukur karena apa?" Sanchia tampak semakin penasaran.
"Bersyukur karena aku memiliki istri terbaik, Sanchia Arelia Knight. Perempuan yang merupakan sumber kebahagiaanku, yang bisa menguatkanku, selalu mengerti aku, membuat hidupku berwarna dan kamu benar-benar melengkapi hidupku. Kamu segalanya untukku, Sweetheart." Perkataan Sall yang begitu tulus dari dalam hatinya, berhasil membuat Sanchia merasa terharu dan semakin bersyukur memiliki suami sesempurna Sall.
"Jangan pernah mengkhianati aku, karena hanya kamu yang aku percaya di dunia ini.." Suara Sall terdengar sangat dalam, membuat Sanchia yakin, kalau Sall tidak main-main dengan perkataannya.
'Aku terbiasa dikhianati oleh orang-orang yang aku percaya, sejak aku masih kecil. Tapi jika kamu yang melakukannnya, entah apa yang akan aku lakukan.' Ucap Sall dalam hati.
"Tidak akan Honey, aku tidak akan pernah mengkhianatimu, kecuali kalau kamu mengkhianatiku lebih dulu." Tatapan tajam Sanchia justru membuat Sall tersenyum.
"Hal itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Sall begitu yakin.
"Janji?" Tanya Sanchia seraya menyodorkan jari kelingkingnya, yang langsung disambut jari kelingking Sall.
"Janji.." Jawab Sall mantap.
Cup..
Sanchia mencium lembut bibir Sall seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Sall, dan perlahan mengubah posisinya hingga berada di atas tubuh Sall, tanpa melepas tautan bibirnya dari bibir kissable suaminya itu.
*************************
Sementara di suatu ruangan yang terletak Markas Besar klan Toddestern, tampak dua pasang mata menghunus tajam ke arah seseorang yang duduk dengan raut tenang, tanpa sedikitpun memperlihatkan rasa takut di wajahnya.
"Jadi kamu yang mengkhianati klan, dan membuatku menjadi target musuh? Cih, pengecut.. Sall, tidak akan membiarkanmu hidup, meskipun kamu sudah lama menjadi bagian dari klan." Leon terlihat penuh emosi menatap Marlon yang justru terlihat meremehkan perkataan Leon.
"Aku tidak peduli, pada akhirnya aku akan tetap mati. Sayangnya aku belum berhasil membunuh Der Killer Ritter. Ah sangat mengecewakan." Jawab Marlon dengan suara dan ekspresi yang sangat gagah dan dingin, sama sekali tidak ada sosok Marry yang berbicara mendayu dan bersikap gemulai. Leon dan Leroy merasa sangat dibodohi selama ini, tangan mereka terkepal kuat, bersiap melayangkan pukulan mereka ke wajah Marlon.
"Si brengs*k Sall itu sudah tahu sejak beberapa tahun yang lalu, kalau aku sebenarnya hanya berpura-pura menjadi seorang Marry. Tapi si bodoh itu terus saja mengikuti permainanku, sikapnya membuatku muak. Aku selalu menunggunya menghajarku, bahkan membunuhku, tapi dia kasihan padaku. Sikap sok baiknya membuatku semakin ingin membunuhnya."
Grep..
Leroy berdiri dan menarik kerah kemeja Marlon, lalu melayangkan bogemnya yang sudah gatal ingin mendarat di pipi Marlon sejak tadi, membuat sudut bibir Marlon terluka dan mengeluarkan darah segar.
"Jika Sall tahu, tapi masih membiarkanmu, itu berarti dia menunggumu mengakui kesalahanmu. Tapi hanya orang bodoh yang memilih melanjutkan kebohongannya. Dasar Sampah.." Maki Leroy penuh emosi.
*************************
Image Source : IG Im Jin Ah (Edited)
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight