The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 120 Penakluk Hati



WARNING..!!


Ada sedikit adegan uwu yang cuma boleh dibaca orang dewasa. Bocil harap menyingkir dulu ya. Peace..


*************************


HOTEL BR - BANDUNG, INDONESIA


Sanchia menatap pemandangan kota Bandung dari jendela kamar hotel, tempatnya menginap bersama sang suami. Mereka memutuskan menginap di hotel terdekat dari Rumah Sakit tempat Kevin dan Nieva dirawat, karena besok pun mereka akan kembali menjenguk adik dan adik ipar mereka itu. Dan agar lebih mudah, jika Kevin dan Nieva memerlukan sesuatu, meskipun sudah ada beberapa pengawal yang mereka tempatkan di luar kamar rawat Kevin dan Nieva untuk berjaga.


Sanchia dikejutkan dengan dua tangan kekar yang melingkar memeluk posesif pinggangnya, dan sebuah benda kenyal yang mendarat di bahunya yang terbuka. Bibir itu bergerak perlahan menyusuri bahu dan leher Sanchia, hingga membuat Sanchia meremang dan menutup matanya menikmati sentuhan sang suami. Namun beberapa saat kemudian, Sanchia menghentikan pergerakan Sall dengan mengelus perlahan wajah Sall yang masih setia berada di ceruk lehernya, lalu berbalik menatap wajah Sall yang menatapnya heran.


"Kenapa Sweetheart?" Tanya yang lebih mirip protes keluar dari mulut Sall, karena keasyikannya terpaksa harus dia hentikan.


"Aku khawatir.. Aku benar-benar takut Nick masih mencari keberadaan Shawn." Sall memegang kedua bahu Sanchia dan menatapnya dalam.


"Sweetheart, aku akan melindungi Shawn sekuat tenagaku. Aku pastikan tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada Shawn, Shanaya, kamu dan seluruh keluarga kita. Aku berjanji, Sweetheart." Sanchia memaksakan tersenyum, meskipun hatinya masih merasa khawatir.


"Aku percaya kamu akan selalu menjaga dan melindungi kami, tapi aku tidak ingin meremehkan Nick. Dia sudah membunuh orangtua Shawn, bukan tidak mungkin dia akan melakukan segala cara untuk bisa menemukan dan membunuh Shawn." Sall menempelkan telunjuknya di depan bibir Sanchia.


"Sstttt... Tidak akan pernah terjadi. Sebelum dia menyentuh Shawn, aku yang akan menghajarnya lebih dulu." Sanchia menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam dekapan Sall yang langsung memeluknya begitu erat.


"Sweetheart.." Panggil Sall lembut.


"Hmm.." Sanchia begitu nyaman mencari kehangatan dari tubuh kekarnya Sall, yang sebenarnya sudah mulai memanas.


"Apa kamu lelah?"


Sanchia mendongakkan kepalanya memandang wajah Sall yang menatapnya penuh arti. Sesungguhnya Sanchia sudah sangat paham dengan arti tatapan suaminya, namun Sanchia ingin sekali menggoda suaminya yang sedikit memelas itu.


"Aku lelah sekali Honey, aku tidur ya." Setelah mencium sekilas bibir Sall, Sanchia bergegas menuju tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya. Tidak lupa menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, sebelum pura-pura tertidur untuk mengerjai Sall.


Sall menyusul naik ke atas tempat tidur, dan ikut masuk ke dalam selimut yang dipakai Sanchia.


"Sweetheart.. Apa kamu benar sudah tidur?" Sall merapihkan rambut Sanchia yang menghalangi leher jenjang Sanchia, lalu menciumi leher Sanchia seraya menuntun tangannya untuk menjelajahi salah satu bagian favorit di tubuh Sanchia.


Suara manis mulai keluar dari mulut Sanchia, menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sall, merasa berhasil membuka kebohongan Sanchia yang pura-pura tertidur untuk menggodanya.


Sall semakin gencar menggoda tubuh Sanchia dengan sentuhan-sentuhan nakal, juga sesapan yang meninggalkan banyak jejak kepemilikan di tubuh Sanchia. Bibir dan tangan Sall terus menjelajah, menciptakan sensasi nikmat yang membuat Sanchia semakin tidak sabar untuk mencecap sesuatu yang lebih. Kini ganti Sall yang menggoda Sanchia dengan tidak kunjung bergerak ke menu utama mereka. Meskipun Sanchia terlihat memohon dengan pandangan mata yang sudah sangat berkabut dengan menggigiti bibir bawahnya. Sall terus saja menggoda Sanchia, sampai akhirnya Sanchia sudah tidak bisa menahan kesabarannya dan bergerak memposisikan diri di atas tubuh Sall, memegang kendali atas permainan mereka malam ini.


'Yeeeeesss..' Sorak Sall dalam hati.


*************************


Di sebuah kamar yang terletak di hotel yang sama namun berbeda lantai dengan Sall dan Sanchia, Leon terlihat memeluk tubuh Leandra dari belakang. Tidak ada hal lebih jauh, selain berciuman meluapkan kerinduan di atas tempat tidur yang sudah terlihat sangat berantakan saat ini. Memang Leon sempat hampir tidak bisa mengontrol dirinya, saat bibirnya bergerak menyusuri leher Leandra yang jenjang. Namun perkataan Leandra berhasil mengembalikan kesadaran Leon, yang hampir saja lepas kendali.


"Leon, aku tidak mau melakukannya sebelum kita menikah di gereja.."


"Meskipun kita baru bertemu dua kali, tapi aku benar-benar mencintaimu Janice. Bersediakah kamu menikah denganku meskipun tanpa restu dari Papa-mu?" Tanya Leon dengan nada sedikit khawatir.


"Papa sepertinya tidak mempunyai alasan untuk menolakmu, dia mengenalmu sebagai salah satu orang penting di Knight Group Company."


'Dan kamu bukanlah Der Killer Ritter, seperti yang Papa duga.' Ucap Leandra dalam hati.


'Tapi kalau Papamu tahu kalau aku adalah salah satu orang kepercayaan Der Killer Ritter, Papamu tidak akan menyetujui hubungan kita.' Keluh Leon dalam hati.


"Sebelum menemui Papa dan Mamaku di Perancis, kamu harus mendapat restu dari Kakak perempuanku. Saat ini dia sedang dirawat di Rumah Sakit tempat kita bertemu tadi, karena kecelakaan motor. Leon, aku harus kembali ke Rumah Sakit, karena Kakak pasti tidak bisa melakukan apapun tanpaku. Saat ini kaki, tangan dan pelipisnya sedang terluka."


Leandra berusaha melepas tangan Leon yang melingkar di pinggangnya, namun Leon seperti enggan melepas pelukan hangatnya dari tubuh Leandra.


"Aku bisa meminta perawat khusus untuk menjaga dan mengurus Kakakmu malam ini. Aku tinggal menelepon Rumah Sakit milik sahabatku itu, untuk memberikan penjagaan lebih. Tolong hanya untuk malam ini saja, aku benar-benar tidak ingin jauh darimu." Ungkap Leon seraya memutar perlahan tubuh Leandra agar menghadap padanya.


"Janice.. Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"


Merasa tertohok dengan pertanyaan Leon, seketika ekspresi Leandra terlihat berubah. Namun Leon berusaha bersikap biasa dengan mengelus perlahan rambut dan pipi Leandra.


"Sebenarnya nama asliku adalah Leandra Janicia Laren, Janice adalah salah satu nama panggilanku." Leon tersenyum senang karena akhirnya Leandra memilih jujur mengenai identitasnya.


Leon menempelkan hidungnya di hidung mancung Leandra, nafas Leon terdengar berat seolah sedang menahan perasaannya. Pelukannya bertambah erat dengan tubuh yang semakin menempel di tubuh Leandra.


"Aku sungguh mencintaimu, Leandra Janicia Laren.."


"Aku juga mencintaimu, Leon Arthur Lautner.." Senyum bahagia mengembang di wajah keduanya, sampai akhirnya mereka kembali menautkan bibir mereka meluapkan perasaan cinta yang memenuhi hati mereka.


************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight