The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 141 Ulah Putra & Putri Mafia



Malam yang semakin larut, tidak mengurangi kesan hangat di ruang keluarga mansion Sall dan Sanchia. Kegiatan menyantap hidangan disertai obrolan santai orang dewasa, juga senda gurau kumpulan anak kecil, menambah ramai suasana sejak petang tadi.


Sanchia dan Sall memandangi wajah penuh senyuman dari keluarga dan sahabat-sahabat mereka yang sedang berkumpul di ruang tamu mansion. Bukan hanya ada Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva, Kevin dan Keiva saja yang ikut merapat ke Bali. Tapi juga ada Bryllian, Zivara, Bradley dan Briley, juga ada Brandon, Sharon dan putra mereka Zeroun yang tiba-tiba datang memberi Sall dan Sanchia kejutan.


Bryllian yang kebetulan sedang berada di Jeju, Korea Selatan karena ada urusan bisnis dengan Brandon, mendapat kabar dari Kevin kalau Sall dan Sanchia saat ini sedang ada di Bali. Karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu, Brandon mengajak Bryllian untuk memberi kejutan pada sahabat mereka yang ada di Bali.


Akhirnya mereka berangkat dalam waktu yang bersamaan, meskipun menggunakan private jet yang berbeda. Mereka sengaja berangkat sekitar 10 jam lebih dulu dibanding Kevin, Nieva dan rombongannya, karena perjalanan mereka lebih jauh dan agar bisa beristirahat lebih dulu di Hotel, sambil menunggu kedatangan sahabat mereka itu dari Bandung. Jadilah mereka berangkat bersama-sama menuju mansion Sall dan Sanchia petang tadi.


Hampir tengah malam, Papa Leonard dan Mama Annesya sudah pamit untuk beristirahat, karena begitu lelah setelah menempuh perjalanan dari Bandung ke Bali. Berbeda dengan anak-anak yang masih terlihat segar dan ceria, meskipun sudah melakukan perjalanan panjang yang cukup membuat lelah.


Sementara Sanchia, Zivara, Nieva dan Sharon terlihat duduk sedikit berjauhan dengan suami-suami mereka. Keempat perempuan cantik itu saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka selama beberapa tahun ini. Maklum saja, mereka sudah sangat lama tidak bertemu. Bahkan Sanchia dan Zivara yang tinggal satu negara saja, sudah hampir setahun tidak bertemu, karena padatnya kesibukan mereka masing-masing.


Berbeda dengan istri-istri mereka, para suami justru tengah mengobrol santai, sambil menyesap americano dan berbagai cemilan yang menemani obrolan mereka malam ini.


"Lihatlah.. Anak-anak kita begitu dekat dan akrab, meskipun sudah lama tidak bertemu." Sall, Kevin dan Bryllian mengikuti arah pandang Brandon yang terfokus pada Zeroun, Shawn, Bradley, Briley, Keiva dan Shanaya yang sedang bermain bersama.


"Iya benar, karena meskipun mereka jarang bertemu, mereka begitu intens berkomunikasi via chat, telepon atau video call. Bahkan anakmu sering sekali menelpon anak-anakku untuk bertanya tentang binatang peliharaan atau game." Jawab Bryllian, diikuti menyesap americano-nya yang hanya tersisa setengahnya.


"Benarkah?" Brandon terlihat terkejut dengan pernyataan Bryllian.


"Kenapa kamu terlihat terkejut Brandon? Apa kamu tidak tahu kalau anak-anak kita bahkan mempunyai group chat sendiri?" Tanya Kevin mulai penasaran.


"Are you serious? Kenapa aku sama sekali tidak tahu?" Bryllian dan Kevin menggelengkan kepala bersamaan, sedangkan Sall hanya mengulum senyum tipisnya yang nyaris tidak terlihat.


"Zeroun benar-benar sulit membuka mulutnya untuk berbicara denganku, dia tidak pernah bercerita kegiatannya padaku. Waktu dia masih berumur 1 tahun, aku hanya berpikir dia mengalami keterlambatan bicara, berbeda dengan Shawn yang waktu itu terlihat sudah lancar sekali bicara. Eh ternyata irit bicaranya berlanjut sampai sekarang." Brandon menghela nafas panjang, seraya tidak lepas memandangi anak semata wayangnya yang sedang asyik bermain.


"Apa ada yang terjadi padanya, sampai dia merasa kurang nyaman berbicara denganmu?" Rasa penasaran Sall langsung dibalas gelengan kepala Brandon.


"Tidak ada. Aku selalu khawatir pada keadaannya, dia tidak bisa bergaul dengan anak-anak lain. Tapi dari tadi aku melihatnya tersenyum saat bermain dengan anak kalian. Aku harap dia bisa berubah lebih terbuka dan ceria." Harap Brandon yang diangguki oleh Sall, Bryllian dan Kevin.


"Oh iya, dari tadi aku perhatikan, Shawn sedikit terlihat murung, meskipun sesekali tertawa karena candaan Bradley dan Briley. Dia kenapa Sall?" Tanya Bryllian.


"Aku sedang menghukumnya, karena dia sudah melakukan kesalahan. Aku menyita gadget, mainan dan binatang peliharaannya selama 1 minggu, aku juga tidak memberinya uang jajan." Jawab Sall setelah menyesap americano-nya sampai tandas.


"Memangnya apa yang Shawn lakukan Sall?" Tanya Bryllian, mewakili rasa ingin tahu Brandon dan Kevin.


Sall menceritakan kejadian tadi pagi, dimulai dari menghilangnya Shawn sampai Sall dan Sanchia tahu tentang kenakalan Shawn yang mereka anggap sangat keterlaluan. Sesuai dugaan Sall, ketiganya membelalakan mata seraya membuka mulut lebar-lebar, mendengar kenakalan Shawn yang tidak pernah mereka duga.


"Shawn baru berumur 5 tahun lebih, dan dia sudah bisa mengancam orang dewasa. Wah sepertinya putramu benar-benar tidak bisa diremehkan, kamu sudah berhasil membesarkan calon penerus The Killer Knight, Sall." Ujar Bryllian, lalu melepas tawa kecilnya.


"Mungkin saja dia bisa menjadi Ketua Mafia di usia yang sangat muda menggantikanmu." Ujar Brandon diiringi kekehan kecil. Kevin dan Bryllian pun tertawa seraya mengangkat kedua jempolnya.


Melihat tingkah Brandon, Bryllian dan Kevin yang justru menggodanya, membuat Sall melemparkan bantal sofa dengan keras ke arah Brandon, Bryllian dan Kevin.


"Itulah yang aku khawatirkan." Brandon, Bryllian dan Kevin menghentikan tawa mereka, karena melihat Sall yang memasang ekspresi sangat serius.


"Kadang aku tidak ingin anak-anakku tumbuh di lingkungan yang keras dan berbahaya. Tapi aku tidak mungkin menutupi kehidupanku dari anak-anak. Aku justru harus mendidik mereka, agar mereka bisa melindungi diri mereka sendiri." Bryllian, Brandon dan Kevin menganggukkan kepala bersamaan.


"Kami pun merasakan hal yang sama Sall." Jawab Bryllian seraya menepuk bahu Sall, yang diangguki oleh Brandon dan Kevin.


Tiba-tiba terdengar teriakan dari Keiva yang saat itu terlihat bermain dengan Shanaya di sudut ruang keluarga, sedikit memisahkan diri dari anak laki-laki. Semua atensi mengarah pada Keiva yang terlihat ketakutan, berbeda dengan Shanaya yang tidak hentinya terkikik geli.


"Ada apa Keiva?" Kevin dan Nieva menghampiri putrinya yang menghambur memeluk mereka.


"Shanaya menakut-nakutiku dengan itu?" Semua orang mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Keiva. Makhluk menggelikan terlihat menempel memenuhi dinding aquarium mini dihadapan Shanaya.


"Nampaknya anak perempuanmu pun tidak bisa diremehkan Sall." Ujar Brandon, diikuti kekehan Bryllian. Sementara Sanchia dan Sall hanya menggeleng seraya menghela nafas panjang, lalu menghampiri Shanaya yang mulai tertunduk ketakutan.


************************


WARNING..!!! Khusus orang dewasa, usia dibawah 21 atau belum menikah dilarang kepo..


Menjelang jam 2 dini hari, semua orang mulai bergerak masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Tentunya Sall dan Sanchia sudah menyiapkan kamar khusus untuk sahabat-sahabatnya menginap di lantai 1. Rencananya besok mereka akan menikmati waktu dan keindahan Bali dengan kapal pesiar milik Sall, sehingga malam ini semuanya memutuskan untuk beristirahat.


Sanchia baru saja selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan gaun tidur berbahan tipis. Namun keinginannya untuk merebahkan diri di atas tempat tidur urung, karena sang suami tidak terlihat di dalam kamar. Sanchia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang suami yang hanya berjarak beberapa meter dari kamar pribadi mereka.


"Honey.." Panggil Sanchia, setelah membuka pintu dan melihat suaminya yang duduk di balik kursi kerjanya, seraya berkutat dengan laptop dihadapannya.


"Sweetheart, kenapa kamu belum tidur?" Sall merentangkan tangannya meminta Sanchia mendekat ke arahnya.


"Kamu tahu kalau aku tidak bisa tidur nyenyak tanpa memelukmu." Ujar Sanchia menghampiri Sall dan langsung mendudukkan dirinya di atas pangkuan sang suami. Dipeluknya leher Sall dengan sangat manja, dengan kepala bersandar di bahu Sall yang lebar. Sementara Sall memeluk posesif pinggang Sanchia.


"Tidurlah Sweetheart, sepertinya tubuh dan hatimu butuh diistirahatkan. Ulah anak-anak kita pastinya cukup membuatmu lelah." Ujar Sall yang dibalas helaan nafas panjang dari Sanchia.


"Kamu juga pasti lelah Honey.. Sepertinya tahun-tahun berikutnya akan semakin berat. Aku bangga dengan kecerdasan mereka, mereka juga memiliki rasa empati yang tinggi jika melihat orang yang kekurangan, tapi kenakalan mereka pun begitu membuatku sakit kepala. Tidak ada satu hari pun, tanpa kejutan dari mereka." Keluhan Sanchia ditanggapi helaan nafas Sall.


"Kamu benar Sweetheart. Terkadang aku merasa tidak siap dengan sikap mereka yang tidak seperti anak kecil pada umumnya." Ujar Sall yang terlihat sangat khawatir.


"Iya, aku merasakan hal yang sama. Rasanya aku begitu stres memikirkan anak-anak." Sanchia mengeratkan pelukannya.


"Sebaiknya kita melepas stres dengan kegiatan favorit kita Sweetheart." Ujar Sall dengan menaik-turunkan alisnya, memancing Sanchia melepas tawa kecilnya.


Namun sebelum tawa Sanchia benar-benar lepas dari wajah Sanchia, Sall menyergap bibir ranum Sanchia dan ********** dengan sangat liar. Sanchia yang merasa belum siap, langsung menyesuaikan keadaan dan membalas ciuman Sall dengan sama bersemangatnya.


Tangan Sall tentu saja tidak tinggal diam, keduanya bergerak bersamaan menyusuri bagian atas dan bawah tubuh Sanchia, yang selalu menjadi favoritnya. Setelah beberapa lama, tubuh Sanchia menggelinjang, sudah merasa tidak tahan dengan cumbuan Sall ditubuhnya. Terlebih bibir dan lidah Sall sudah bergerak lincah menyusuri bagian atas tubuh Sanchia dan meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di beberapa spot favoritnya.


"Honeeey.." Sanchia mendessah berat, karena Sall terus saja menggodanya dengan sentuhan-sentuhan yang memabukan. Sampai akhirnya Sall menggendong tubuh Sanchia dan merebahkannya di atas sofa yang berseberangan dengan meja kerjanya.


Tanpa membuang waktu, Sall dan Sanchia langsung melanjutkan kegiatan mereka ke menu utama, membuat kedua pasangan halal itu tidak berhenti meracau merasakan kenikmatan. Keduanya bahkan mengeksplor semua spot di ruang kerja Sall dengan berbagai posisi selama berjam-jam, tidak peduli ruangan itu berubah berantakan karena pertempuran mereka.


*************************


Hai..Hai.. Alhamdulillah bisa up lagi nih ☺️


Hanya tinggal 1 episode lagi menuju tamat di season 1. Kisah Sall dan Sanchia akan berlanjut dengan kisah anak-anak mereka tentunya.


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya sampai saat ini.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❀❀❀❀️❀


IG : @zasnovia #staronadarknight