The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 57 Cemburu



RUANG BAWAH TANAH - VILLA SALL


Langit sebentar lagi berubah gelap, saat Sanchia melangkahkan kakinya ke dalam ruang bawah tanah yang dihuni Dhiany selama 2 hari ini. Sanchia ditemani Leon dan Leroy, karena Sall tidak mengizinkan Sanchia menemui Dhiany sendirian, khawatir Dhiany akan bertindak nekad dan melukai Sanchia. Namun Sanchia menolak tawaran untuk ditemani oleh Sall, karena tidak ingin Dhiany kembali membuat drama dengan memanfaatkan Sall, maka Sanchia lebih memilih ditemani oleh Leon dan Leroy.


Pandangan nyalang Dhiany yang sedang duduk di atas tempat tidur, terlihat menantang ke arah Sanchia yang baru selesai menuruni anak tangga terakhir di ruang bawah tanah itu. Sanchia mengulas senyum meremehkan atas reaksi yang ditunjukan padanya. Sekilas Sanchia melihat banyak makanan yang disediakan para pelayan, sudah tandas tidak bersisa.


"Rupanya nafsu makanmu masih tetap besar, meskipun berada di tempat sesempit ini. Tapi ternyata ruang bawah tanah masih belum cukup untuk meruntuhkan kesombonganmu. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya untuk melawanku Dhiany?"


"Lepaskan aku Sanchia, kamu sungguh pengecut dengan menahanku disini. Apalagi aku sungguh ingin muntah dengan bualan orang-orang ini yang memanggilmu Ratu Mafia. Sungguh sebuah lelucon yang sangat tidak lucu."


Seringai Dhiany yang terulas di akhir kalimat, membuat emosi Sanchia seketika naik. Begitupun Leon dan Leroy yang hanya bisa diam di samping kanan dan kiri Sanchia.


"Kamu memang benar-benar tidak bisa dikasihani Dhiyani. Aku sudah berusaha menahan emosiku dan tidak melukaimu, meskipun aku begitu ingin melakukannya. Tapi sekarang kamu malah menantang dan menguji kesabaranku. Beruntung aku sedang hamil, sehingga aku tidak mungkin membunuhmu, tapi memberimu sedikit pelajaran mungkin tidak apa-apa."


Sanchia lalu berbalik hendak kembali menaiki anak tangga, diikuti Leon dan Leroy. Namun perkataan Dhiany seketika menghentikan langkahnya juga Leon dan Leroy.


"Sanchia, aku sungguh membencimu. Gara-gara kamu, aku kehilangan Shuga."


Sanchia membalikan badannya dan menatap tajam netra Dhiany yang terlihat berkaca-kaca.


"Heh, Dhiany.. Memangnya apa yang aku lakukan sampai kamu begitu membenciku?"


"Semua jelas salahmu, Sanchia.. Saat kamu pindah sekolah dulu, Shuga mau menerimaku sebagai kekasihnya. Tapi dia tidak pernah memperlakukanku layaknya seorang kekasih, dia begitu dingin dan tidak berperasaan. Dia bahkan memutuskan pindah ke Korea, setahun setelah kepindahanmu. Kamu benar-benar membuat hidupku berantakan. Bertahun-tahun, aku mencari Shuga, namun dia seolah menghilang ditelan bumi. Semua karenamu Sanchia, aku benar-benar membencimu, aku ingin kamu menderita sepertiku."


Sanchia mengulas senyum tipisnya, lalu mendekat menghampiri Dhiany yang kini berdiri dari tempat tidurnya. Leroy dan Leon semakin waspada dan tetap menjaga jarak Dhiany dari Sanchia, agar Dhiany tidak dapat menjangkau Sanchia.


"Hmm, jadi apa yang kamu lakukan padaku, karena Shuga? Karena kamu menyalahkanku atas apa yang dilakukan Shuga padamu? Kamu benar-benar tidak waras Dhiany."


"Ya, aku memang sudah tidak waras, aku begitu mencintai Shuga, tapi aku tahu dia mencintaimu. Aku bahkan sudah berkali-kali menjalin hubungan dengan orang lain, tapi aku masih saja tidak bisa melupakan dia, aku masih mencintainya."


"Itu bukan cinta Dhiany, itu obsesi. Kamu begitu terobsesi untuk membuat dia mencintaimu, kamu juga menyalahkanku, karena rasa irimu padaku. Selama aku dekat denganmu, aku berusaha pura-pura tidak tahu, tapi sebenarnya aku tahu semua yang kamu lakukan dibelakangku Dhiany."


Tenggorokan Dhiany serasa tercekat, semua yang dikatakan Sanchia benar-benar menohok perasaannya. Tapi hanya perlu beberapa detik saja, sampai perkataan tajamnya kembali keluar untuk menyakiti hati Sanchia.


"Iya, aku memang iri padamu. Aku sudah lama mencintai Shuga, tapi dia malah mencintaimu. Aku benar-benar sangat membencimu Sanchia, aku akan melakukan apapun agar kamu merasakan apa yang aku rasakan selama ini."


"Kamu benar-benar sudah gila Dhiany. Orang sejahat kamu memang selamanya tidak akan berubah. Sia-sia aku memaafkan dan memberimu kesempatan, kamu sama sekali tidak layak mendapatkannya Dhiany."


Sanchia kini memilih segera meninggalkan tempat itu, karena emosinya yang sudah hampir tidak tertahan. Dhiany yang tiba-tiba mengejar Sanchia, hampir saja menjambak rambut panjang Sanchia. Tapi Leon dan Leroy tentu lebih sigap, dan tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


"Dasar wanita tidak tahu diri, sudah diberi kesempatan, malah membuat ulah. Sebaiknya kamu kumasukan ke kolam piranha saja."


Tatapan tajam dan perkataan savage Leon, membuat Dhiany kini memundurkan langkahnya dan berdiri mematung dengan raut ketakutannya.


*************************


Sanchia baru saja selesai berganti pakaian dengan pakaian tidurnya, saat Sall masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi hidangan makan malam mereka. Sanchia membantu Sall meletakan nampan itu di atas meja, lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Sall.


"Kenapa makanannya dibawa kesini? Kita kan bisa makan malam di meja makan. Lagipula aku belum lapar."


"Aku ingin makan di kamar saja dan menemanimu Sweetheart. Jam 10 nanti, aku akan kembali berjaga dan memantau pergerakan musuh bersama yang lainnya. Saat ini tim IT-ku sama sekali tidak melihat pergerakan berarti dari mereka, entah apa yang sedang mereka rencanakan. Tapi kita tidak boleh lengah sedikitpun."


"Hmm, Honey.. Apa tidak sebaiknya aku menemui Shuga saja? Aku benar-benar tidak mau ada yang terluka karenaku."


"Jangan pernah berpikir melakukan itu, aku tidak akan pernah rela membiarkanmu menemuinya. Apa jangan-jangan, kamu masih ada perasaan terhadap laki-laki bernama Shuga itu?"


"Cih..Siapa juga yang masih punya perasaan terhadapnya. Aku lebih baik bertemu Suga BTS yang jelas-jelas sangat tampan dan keren, dibanding dia."


Tiba-tiba saja Sanchia merasakan aura mencekam disekitarnya, terlebih saat Sall terlihat menatap tajam mata Sanchia, yang kini membulat sempurna.


"Sweetheart, apa kamu baru saja memuji laki-laki lain didepanku?"


"Ehm..Maaf Honey, aku kan hanya suka terhadap idol saja. Lagipula kenapa tadi kamu membahas laki-laki itu, aku jadi membandingkannya dengan idol yang namanya hampir sama."


"Ssttt..Jangan pernah berani memuji laki-laki lain didepanku, siapapun itu. Aku tidak peduli dia idol atau bukan,  tapi aku tidak suka."


Sall mengambil sepiring salad buah dan mulai mengaduknya perlahan.


"Iya Honey. Maafkan aku ya. Hanya kamu laki-laki paling tampan, paling keren, paling sempurna, paling.."


"Sudah, jangan menggombaliku. Aku tidak mempan dirayu, setelah kamu memuji laki-laki lain. Berdoa dan buka mulutmu. Aku akan menyuapimu sampai makanan ini habis."


Senyum Sanchia kini terulas begitu manis, sekalipun sedang kesal, tapi Sall tidak pernah berhenti menunjukan perhatiannya pada Sanchia. Sikap Sall yang satu ini selalu saja berhasil menghangatkan dan membahagiakan hati Sanchia.


Tiba-tiba Sanchia mengecup singkat bibir Sall yang terlihat mengerucut. Sesaat Sall hanya terdiam menatap istrinya yang tersenyum memandanginya.


"Aku semakin mencintaimu Sall Sherwyn Knight, aku bersyukur karena memiliki suami sebaik dan sehebat kamu."


"Apa kamu sedang menggodaku, Sweetheart?"


"Hmm, kamu boleh menganggapnya begitu."


Sanchia terkekeh geli melihat reaksi Sall yang seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Sall menyimpan kembali piring yang dipegangnya ke atas meja. Lalu sesaat kemudian, Sall memeluk erat tubuh Sanchia, dan mencium lembut bibir Sanchia yang ranum. Sanchia pun membalas ciuman Sall yang sudah berubah menjadi luma*an dan sesapan yang sangat menuntut itu. Mereka bertukar saliva dan semakin mengeratkan pelukan, sampai Sall perlahan merebahkan tubuh Sanchia diatas sofa, dan mengungkungnya dengan sangat posesif.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight