The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 42 Kenyataan Pahit



Sebelum melanjutkan ceritanya, aku ucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa untuk semua yang menjalankan.. Semoga puasanya lancar ya..


😊❤❤❤❤❤


**************************


Di salah satu kamar berukuran luas di mansion bergaya klasik dan mewah, Sanchia terbaring lemas dengan kepala yang pusing dan mata berkunang-kunang. Sudah beberapa hari ini, badan Sanchia tidak enak, perutnya pun seringkali mual. Sehingga hampir semua makanan berat yang disajikan pelayan pun, tidak ada yang bisa masuk ke dalam perutnya. Sanchia hanya bisa memakan makanan berkuah berbahan sayuran, dan beberapa jenis buah-buahan, yang dimakan langsung atau dibuat juice.


Sejak bangun tidur tadi, Sanchia memang sudah beberapa kali bolak-balik kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya. Kini badannya benar-benar lemas, walaupun hanya untuk turun dari tempat tidurnya.


Sanchia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut dan mencoba memejamkan matanya perlahan. Namun tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, menampakan wajah yang begitu dibencinya selama 1 bulan ini, membuat Sanchia memperlihatkan raut kesalnya.


"Bisakah kamu mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Dan tolong berikan aku privacy dengan pintu yang bisa aku kunci. Kenapa kamu begitu tidak menghargaiku Alrico?"


Alrico bukannya marah mendengar omelan Sanchia, dia malah memasang senyum jahilnya dan mendudukan dirinya di tepi tempat tidur Sanchia.


"Kalau aku memasang kunci, kamu akan terus menerus mengurung diri di kamar, dan tidak mengizinkan aku masuk. Jadi lebih baik, memasang pintu tanpa kunci."


Sanchia mendengus kesal, saat senyum jahil Alrico kembali menghiasi wajah laki-laki itu. Namun sesaat kemudian, ekspresi Alrico berubah sendu, memandang wajah Sanchia yang terlihat sangat pucat.


"Sanchia, kali ini saja, izinkan dokter memeriksamu ya. Aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu."


Sanchia menyandarkan punggungnya pada headboard tempat tidur, dan memandang wajah Alrico dengan tatapan tajamnya.


"Aku memang sakit, dan kamu tahu benar, obat apa yang bisa menyembuhkanku."


"Apa obatnya? Biar aku bawakan untukmu."


"Aku homesick Al.. Obatku adalah suamiku dan seluruh keluargaku."


Tatapan sendu Alrico, seketika berubah menjadi tatapan tajam berkilat. Tangannya memegang tangan Sanchia dengan erat, dan Sanchia sama sekali tidak kuat meskipun begitu berusaha melepasnya.


"Chia.. Apakah tidak ada perasaan cinta, sedikiiiiiit saja untukku?"


"Al.. Tolong, meskipun kamu menawanku selama sebulan, setahun, atau sepuluh tahun pun, perasaanku padamu tidak akan berubah. Meskipun kamu melakukan hal yang sama seperti yang Sall lakukan, perasaanku padamu akan tetap sama. Aku akan tetap menganggapmu sahabat dan sekaligus saudaraku, Al.."


Alrico melepas genggaman tangannya, dan berdiri dari duduknya seraya menatap netra Sanchia begitu dalam.


"Tidak peduli berapa lama, aku akan menunggu sampai kamu bisa mencintaiku, Chia.."


Alrico meninggalkan kamar Sanchia dengan perasaan kecewa, sedangkan Sanchia menatap nanar punggung Alrico yang menghilang di balik pintu.


"Kenapa kamu tidak mau mengerti Al? Kamu tidak akan bisa membuatku jatuh cinta padamu, sekalipun kamu membuatku seperti tawanan dan menahanku seumur hidupku. Karena cintaku hanya untuk suamiku. Berhentilah mencintaiku, Alrico.."


FLASHBACK ON


Sanchia terbangun dari tidur lelapnya selama lebih dari 24 jam, diedarkannya pandangan ke segala arah, namun Sanchia sama sekali tidak mengenal kamar ini. Kamar yang terlihat sedikit maskulin dengan cat berwarna hitam dan putih, juga aksen silver di beberapa bagiannya. Kamar ini bukanlah kamar yang terakhir kali Sanchia tempati di villa Javier, namun Sanchia tidak bisa menebak sama sekali, sedang berada dimana dirinya sekarang.


Ingatan Sanchia memutar kembali pada kejadian terakhir yang dia alami di villa Javier. Saat itu Javier memerintahkan anak buahnya untuk memasanginya bom waktu. Javier mengancamnya, jika sampai Sanchia melarikan diri, maka Javier tidak perlu menunggu waktu sampai bom itu meledak. Tapi dia akan menekan tombol yang ada pada alat pemicu bom yang dipegangnya, agar Sanchia mati saat itu juga.


Sanchia akui, dia begitu takut dengan ancaman Javier, terlebih saat melihat waktu 4 jam yang terlihat di atas bom, mulai berjalan mundur. Tapi sebisa mungkin, dirinya tidak menunjukan raut wajah takut, agar Javier tidak merasa menang. Bahkan saat dua orang anak buah Javier memasangkan sebuah bom di bagian depan tubuhnya, Sanchia berusaha untuk tidak bereaksi berlebihan.


Namun saat Javier dan anak buahnya pergi meninggalkan kamarnya, barulah kelopak mata Sanchia mulai berkaca-kaca. Tetapi tidak sampai 5 menit kemudian, Alrico masuk dan tanpa aba-aba membekap mulut Sanchia dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Sanchia masih fokus dengan ingatan terakhirnya saat di villa Javier, sehingga tidak menyadari kalau Alrico masuk ke dalam kamar dengan langkah perlahan.


"Apa kamu baik-baik saja Chia?"


"Al, bagaimana bom itu bisa terlepas dari tubuhku? Apa kamu yang menjinakannya?"


"Chia, kamu tidak lupa kan kalau aku ahli menjinakan bom?"


"Aku tidak lupa Al, tapi kenapa kamu menyelamatkanku? Bukankah kata Javier, kalian sahabat? Bahkan kalian akhirnya bersekongkol untuk menyekapku dan menghancurkan Sall."


Raut wajah Sanchia terlihat marah pada Alrico, tapi Alrico menanggapi kemarahan Sanchia dengan sangat tenang.


"Aku tidak mungkin membiarkanmu meninggalkanku lagi, Chia.. Lagipula aku bukan sahabat Javier. Dia dan kedua temannya itu, hanya memanfaatkan kecerdasanku untuk mencapai semua keinginan mereka. Dan sekarang mereka semua sudah mati di tangan suamimu dan anak buahnya, hahaha.."


Terlihat jelas rasa terkejut di wajah Sanchia, kini kemarahan mulai menguasai hatinya.


"Apa maksudmu? Apa Sall datang ke villa Javier untuk menyelamatkanku?"


"Iya Chia.. Untung aku tidak terlambat mengetahui kedatangannya. Jadi aku bisa segera menjalankan rencanaku dengan baik. Aku berhasil membawa semua aset yang teman-temanku dapatkan berkat kecerdasanku, dan yang paling penting.. Aku berhasil membawamu bersamaku."


Plaaakk..


Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Alrico, yang seketika membulatkan matanya karena terkejut.


"Tega kamu Al.. Kenapa kamu tidak biarkan Sall membawaku pulang. Jahat kamu, Al.."


"Aku berhasil membuatnya merasakan hal yang sama sepertiku. Aku membuatnya merasa sangat kehilangan.. Aku juga membuatnya percaya, kalau kamu sudah meninggal, hahaha.."


Seketika Sanchia menghentikan tangisnya, karena begitu tidak menyangka dengan apa yang Alrico katakan.


"Apa maksudmu?"


"Setelah menjinakan bom yang terpasang di tubuhmu. Aku memasang dan mengaktifkan bom di dalam helicopter milikku. Aku juga mengaktifkan mode helicopter tanpa awak yang sudah aku design khusus, sehingga aku bisa mengontrol helicopter itu dari jarak jauh. Kamu tidak lupa kan, kalau aku lulusan terbaik di kampusku, bahkan hasil penelitianku mengenai pesawat militer tanpa awak yang lebih canggih dari yang ada saat ini, berhasil aku jual pada petinggi militer Korea Selatan dengan harga yang sangat tinggi. Dia bahkan memberikan mansion ini, saat aku memintanya sebagai bonus."


Sanchia sama sekali tidak lupa kalau Alrico berotak sangat jenius, namun fakta-fakta yang baru diketahui Sanchia tentang Alrico, membuatnya begitu terkejut dan tidak menyangka sama sekali.


"Jangan terkejut seperti itu Chia, aku masih belum selesai bercerita. Saat itu, aku menyuruh salah satu orang kepercayaanku untuk mengatakan pada Javier, kalau aku membawa kamu kabur dengan helicopterku. Tentu saja, orang kepercayaanku itu mengatakannya setelah aku berhasil membawamu kabur melalui jalan rahasia. Aku sengaja membeli villa yang memang ada jalan rahasianya, seperti villa yang sering kamu design, Chia."


Sanchia hanya diam mematung dan tidak bereaksi, sesungguhnya Sanchia masih begitu tidak menyangka dengan apa yang didengarnya.


"Aku membekali orangku sebuah mini camera, agar aku bisa melihat apa yang dilakukan oleh Javier. Aku begitu senang, saat si bodoh Javier mengamuk karena melihat helicopter itu mengudara. Dia langsung menekan alat pemicu bom yang dia pasang di tubuhmu, tentu saja tidak ada yang terjadi dengan tubuhmu. Pertunjukan paling special yang paling aku sukai adalah, saat suamimu melihat jelas helicopter itu meledak dengan sangat dahsyatnya, dan menganggap kalau kamu sudah meninggal, hahaha.."


Air mata Sanchia kembali luruh, Sanchia menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah menolak percaya pada apa yang dikatakan Alrico padanya.


"Aku bahagia saat dia menangis meraung-raung memanggil nama kamu, tapi aku harus cukup puas, walaupun hanya sebentar melihat ekspresi suamimu. Karena orang kepercayaanku ikut ditangkap bersamaan dengan anak buah Javier lainnya. Tapi aku sudah merusak sistem mini camera itu dari jauh, sekalipun anak buah suamimu menemukannya, mereka tidak akan menemukan apapun yang mencurigakan. Aku juga tidak khawatir, orang kepercayaanku itu akan membuka mulut, karena semua keluarganya ada dalam kekuasaanku. Ah betapa bodohnya Javier dan suamimu itu, padahal aku meledakannya dari jarak jauh, bersamaan dengan saat Javier menekan alat pemicu bom-nya, hahaha..Dan suamimu malah menembak Javier sampai mati, bodoh sekali,hahaha.."


Plaaak...


Sekali lagi, sebuah tamparan dilayangkan Sanchia tepat di pipi Alrico, namun Alrico malah tertawa senang dan menampakan seringai menyebalkan di wajahnya.


"Aku akan menahanmu disini, dan melakukan hal yang sama seperti yang laki-laki itu lakukan. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi, Chia."


Alrico meninggalkan kamar Sanchia dengan langkah lebar, seraya mengelus pipinya yang panas dan perih, namun tidak lebih perih dari luka di hatinya.


*************************


HOTEL BRANDON - JEJU ISLAND


Sall memandang monitor laptop milik Leon, yang menampakan map pulau Jeju yang sudah hampir semua lokasinya sudah diberi tanda khusus. Namun Sall sedikit merasa aneh dengan suatu wilayah yang bebas dari tanda khusus itu. Sall lalu memperbesar tampilan map itu.


"Leon, kenapa kita tidak melakukan pencarian di mansion dengan perkebunan yang luas ini? Bagaimana kita bisa melewatkannya?"


"Sejak awal, aku memang melewatkannya Sall, karena ini adalah mansion pribadi seorang petinggi militer Korea Selatan yang sangat berpengaruh. Brandon mengatakan padaku, kalau kita jangan mengusik orang ini, karena mungkin kita bisa di blacklist dari Korea Selatan gara-gara mengusiknya."


"Aku tidak peduli, retas mansion ini. Kita bahkan sudah mulai melakukan pencarian ke wilayah di luar Jeju. Bagaimana bisa kita melewatkan satu tempat di Jeju? Mungkin Sanchia ada disana. Kenapa kamu tidak mengatakan hal sepenting ini?"


"Tapi Sall.."


"Kamu terlalu banyak bicara, biar aku saja yang melakukannya."


Sall segera mendudukan dirinya di atas sofa, dan mengambil alih laptop milik Leon. Sall mulai berusaha meretas sistem keamanan mansion itu. Dan ternyata memang pemiliknya bukanlah orang sembarangan, terbukti dengan sistem jaringan yang tidak mudah diretas, dan dibuat berlapis-lapis.


"Lumayan juga.."


Hampir satu jam Sall berkutat dengan laptop di depannya, sampai akhirnya matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Alrico.. Mata Sall menangkap sosok rival yang begitu dibencinya itu dalam satu rekaman CCTV. Sedetik kemudian, tatapan Sall beralih pada Leon yang kini terlihat memucat, disusul kepalan tangan Sall yang mendarat sempurna di pipi kiri Leon.


Buugh..


"Siapkan helicopter..!!"


"Ok Sall.."


Leon segera berlari keluar dari kamar Sall, untuk menjalankan perintah Sall. Tidak peduli dengan yang dirasakan pipinya saat ini. Justru Leon merasa begitu bersalah pada Sall saat ini, sehingga dia tidak akan marah atas apa yang dilakukan Sall padanya.


**************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight