
Satu bulan berlalu, kehidupan pernikahan Sanchia dan Sall setelah pindah ke Inggris, semakin rukun dan bahagia. Rutinitas normal yang dijalani Sanchia sebagai seorang istri dan seorang ibu pun, begitu dinikmati oleh Sanchia dengan penuh rasa syukur. Sall pun menjalankan perannya sebagai seorang suami, ayah, pengusaha besar sekaligus Ketua Mafia dengan sangat baik. Meskipun Sall seringkali merasa waktu dalam sehari masih terasa kurang untuk dia bagi antara kegiatan diluar dengan keluarga, tapi Sall berusaha untuk tidak larut dalam kesibukan, yang akan membuat Sanchia merasa terabaikan.
Sall masih menutupi status pernikahannya dari dunia luar, atas permintaan Sanchia yang khawatir akan keselamatan anak-anak juga keluarganya. Sebagai seorang pengusaha besar, Sall tentu memiliki banyak pesaing yang akan menghalalkan berbagai cara untuk menjatuhkan dirinya. Apalagi jika ada klan lain yang mengetahui identitas aslinya, membuat Sall khawatir jika Sanchia dan anak-anak mereka akan dianggap sumber kelemahan Sall, yang akan dijadikan bahan ancaman untuk menyingkirkan The Killer Knight.
Seperti malam-malam sebelumnya, Sall tiba di mansion lewat tengah malam. Semenjak pindah kembali ke Inggris, Sall bukan hanya sibuk dengan group perusahaannya, tapi juga dengan urusan klan mafianya. Karena banyak sekali urusan klan yang harus diselesaikan, setiap pulang dari perusahaan, Sall tidak bisa langsung kembali ke mansion, melainkan harus pergi ke markas besar Toddestern untuk bertemu dengan orang-orang kepercayaannya. Jadilah Sall selalu pulang terlambat setiap harinya. Sanchia tidak keberatan sama sekali dengan rutinitas Sall, justru Sall-lah yang merasa bersalah pada Sanchia, Shawn, juga anak yang dikandung Sanchia. Karena Sall begitu kurang memberikan waktu dan perhatian untuk mereka, yang sangat dikasihinya.
Sesampainya di kamar, Sall memandangi wajah Sanchia yang terlelap dalam tidurnya. Gurat lelah terlihat jelas di wajah Sanchia, seharian ini Sanchia memang sibuk mengurusi Shawn yang mengalami ruam di sekitar dadanya, karena pengaruh cuaca musim panas. Sehingga Sall tidak berniat mengusik tidur Sanchia, dan memilih berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang 15 menit kemudian, Sall keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar berbalut handuk yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya, dan rambut yang masih basah.
Langkah Sall terhenti, saat netranya terfokus pada tempat tidur yang sudah kosong. Sall berniat mencari keberadaan istrinya, namun sosok yang hendak dicari, sudah kembali dengan membawa 1 set piyama, lengkap dengan baju dalam Sall di kedua tangannya.
"Terima kasih Sweetheart."
Sall segera menerima pakaian yang disodorkan Sanchia, lalu mengecup lembut kening Sanchia, sebelum memakai bajunya tanpa malu di hadapan istrinya. Sanchia pun sudah tidak pernah memalingkan wajahnya lagi, saat menghadapi kelakuan suaminya itu. Namun rona merah di wajah Sanchia, masih saja tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, membuat Sall mengulum senyum jahilnya.
"Hmm, Honey.. Mau makan apa? Biar aku siapkan."
"Tidak perlu Sweetheart, tadi aku sudah makan di markas besar. Kamu lebih baik kembali tidur ya. Aku mau ke ruang kerja dulu sebentar. Tapi sebelum itu, biarkan aku memelukmu sebentar."
Tanpa membuat Sall menunggu lama, Sanchia segera merangsek masuk ke dalam pelukan Sall. Memejamkan matanya, menikmati rasa nyaman yang selalu muncul, setiap kali tubuh tegap Sall mendekap erat tubuh mungilnya. Terlebih saat bibir Sall mendarat di puncak kepala Sanchia, dan mendaratkan ciuman penuh kasih sayang yang bertubi-tubi.
"Sweetheart, apa hari ini baby kita tidak rewel seperti Kakaknya?"
Sanchia memundurkan sedikit tubuhnya, lalu memegang sebelah tangan Sall dan meletakkannya di atas perutnya yang semakin membesar.
"Baby kita sangat pintar, dia bahkan tidak mau merepotkan Mommy-nya yang kewalahan mengurus Kakaknya."
"Syukurlah..Baby kita benar-benar pintar dan baik hati ya."
Sall berjongkok dan menghadapkan wajahnya tepat di depan perut buncit Sanchia, lalu menciumi perut Sanchia, berharap sang bayi merespon apa yang dilakukannya.
Bugh..
tiba-tiba sebuah tendangan halus tepat mengenai bibir Sall yang sedang mendarat di perut Sanchia.
"Sweetheart, baby kita menendang bibirku."
Sanchia menertawakan ekspresi Sall yang justru terlihat bahagia saat bibirnya ditendang sang bayi dalam kandungannya.
"Aku selalu bahagia setiap kali merasakan gerakan bayi kita. Aku sudah tidak sabar menunggu jadwal periksa kandunganmu beberapa hari lagi, aku ingin sekali mengetahui jenis kelamin bayi kita. Meskipun aku tidak masalah apapun jenis kelaminnya, asalkan dia sehat Sweetheart."
"Iya Honey, aku juga sudah tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin bayi kita. Hmm, Honey.. Beristirahatlah, kamu bisa sakit kalau memaksakan diri untuk bekerja."
"Hanya sebentar saja Sweetheart, ada urusan klan yang sangat mendesak. Kamu harus kembali tidur, seharian ini kamu sudah terlalu lelah mengurusi Putra kita Shawn, nanti aku menyusul ya."
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, Honey"
"Ok Sweetheart.."
"Oh iya Sweetheart, besok tolong buatkan nasi goreng seafood untuk menu sarapanku ya."
"Baiklah. Besok aku, akan membuatkannya untukmu."
"Asyiiik.. Thank you, My Wife."
"You're welcome My Hubby."
Sall mengecup lembut bibir Sanchia, sebelum memapah dan membaringkan tubuh Sanchia di atas tempat tidur. Sall memastikan istrinya kembali memejamkan mata, sebelum keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Tanpa Sall sadari, Sanchia kembali membuka matanya sesaat setelah Sall keluar dari kamar mereka, dengan tatapan sendu yang menyiratkan kecemasan.
************************
Sall berkutat dengan laptop di hadapannya, seraya memperhatikan daftar nama pengkhianat yang selama ini menggerogoti klannya dari dalam, lengkap dengan daftar kejahatan mereka. Para pengkhianat itu bukan saja menggelapkan dana klan, tapi juga menjadi mata-mata untuk klan lain yang bermasalah dengan Toddestern, klan milik Sall.
Sall sedang menimbang hukuman apa yang pantas untuk para pengkhianat itu. Jika dulu Sall akan memutuskan untuk membunuh mereka tanpa ragu, namun kali ini nampaknya keputusan itu adalah pilihan terakhir yang akan dipilih Sall sebagai hukuman.
Sall benar-benar mengubah sistem klannya, bahkan boleh dibilang berbanding terbalik dengan sistem yang sebelumnya. Bukan hanya mengenai hukuman untuk para pengkhianat saja yang berubah, klan yang sejak dipimpin oleh Sall selalu bersimbah darah karena menghancurkan klan lain dan mengambil wilayah kekuasaan klan lain secara paksa, kini menggunakan cara yang lebih bersahabat untuk membuat klan lain mau bergabung dan menyerahkan wilayah kekuasaan mereka tanpa paksaan. Tentunya dengan iming-iming keuntungan yang bisa mereka dapatkan, jika mereka bersedia menerima penawaran klan Toddestern.
Menolak penawaran klan sekuat dan sebesar Toddestern pun bukanlah pilihan yang bijak, karena klan lain yang lebih kecil dari Toddestern, akan menganggap klan pembangkang sebagai mangsa yang lezat dan menghancurkan klan musuh dari Toddestern tanpa ragu sebagai cara menjilat klan Toddestern.
Berubahnya sistem klan, tentu membuat banyak orang kepercayaan Sall tidak setuju, karena hal itu menurunkan image klan yang semula dipandang kuat menaklukan musuh, menjadi terlihat lemah. Mereka khawatir, akan ada banyak klan yang menyatukan kekuatan untuk menyerang balik Toddestern. Namun Sall masih bersikeras dengan keputusannya, meskipun hati dan pikirannya pun mengakui segala kemungkinan itu.
*************************
Seperti hari-hari sebelumnya selama hampir 1 bulan ini, setiap pagi Sall akan menikmati menu sarapan buatan Sanchia sebelum berangkat ke kantornya. Kali ini menu yang dibuat Sanchia adalah nasi goreng seafood sesuai permintaan Sall tadi malam.
"Wow nasi gorengnya pasti lezat sekali."
"Masakanmu memang selalu memanjakan lidahku Sweetheart. Aku benar-benar tidak bisa sehari saja bolos memakan masakanmu. Rasanya seperti ada yang kurang, Sweetheart." Wajah Sanchia merona mendengar pujian Sall yang terlihat sangat jujur dan tulus itu.
Sejak pindah ke London, Sall selalu meminta Sanchia untuk membuatkannya menu sarapan masakan Indonesia, seperti nasi goreng, bubur ayam, lontong sayur, bubur kacang hijau sampai kolak pisang. Entah kenapa lidah Sall tiba-tiba merasa tidak cocok dengan menu sarapan khas western, sehingga terpaksa Sall selalu meminta Sanchia untuk membuatkannya menu sarapan. Anehnya, untuk makan malam, Sall tidak pernah meminta Sanchia membuatkan apapun. Sall justru tidak mengizinkan Sanchia untuk memasak menu makan malam, sehingga Chef khusus yang bertanggung jawab untuk membuatkan menu makan malam.
"Kamu sudah seperti orang Indonesia saja, setiap hari sarapan masakan Indonesia, hihi.." Sall menjawil hidung Sanchia, sebagai balasan kekehan Sanchia yang menggodanya.
"Wajar dong, kan istriku orang Indonesia. Yang hobinya makan masakan Indonesia, apalagi jajanan sunda. Tapi aku bersyukur, disini sulit menemukan seblak apalagi cilok goang, kamu jadi tidak perlu makan makanan super pedas itu."
"Tapi kan aku makan juga karena anak kita yang mau."
"Jangan mulai ya Sweetheart, anak kita mana mungkin minta makanan sepedas itu."
"Ih Honey, kamu benar-benar menyebalkan. Aku tidak akan membuatkan kamu makanan untuk sarapan lagi."
"Eeeh..Jangan gitu dong Sweetheart. Aku ingin dibuatkan makanan apa tuh, yang berbentuk bulat berwarna putih, kamu biasa memakannya ditumpuk dengan gorengan tempe. Besok aku mau memakan itu."
"Maksudmu serabi?"
"Iya itu Sweetheart. Tiba-tiba aku ingin memakannya."
"Honey, lama-lama permintaanmu semakin merepotkan. Kan aku yang hamil, kenapa malah kamu yang mengidam?" Sall terkekeh geli menanggapi kekesalan istrinya.
"Aku juga tidak tahu, Sweetheart. Entah kenapa makanan-makanan itu selalu terbayang-bayang. Bahkan sampai membuatku tidak bisa tidur."
"Ah dasar berlebihan. Lebay.."
Kali ini tawa Sall lepas, melihat Sanchia yang mencebik kesal karena tingkahnya.
"Ya sudah Sweetheart, aku berangkat ke kantor dulu ya. Aku akan pulang larut malam, jadi jangan menungguku ya Sweetheart."
"Baiklah. Hari ini aku jadi berbelanja ke WSC (Westfield Stratford City) ya."
"Ok Sweetheart, minta Leroy dan beberapa bodyguard menemanimu ya."
"Ok Honey.."
Sall beranjak dari duduknya lalu menghampiri Sanchia yang masih duduk di kursinya. Dengan penuh kasih sayang, Sall mencium pucuk kepala Sanchia, beralih ke kening, hidung, dan berakhir dengan ciuman di bibir seksi Sanchia.
"Take care ya, Sweetheart."
"Hati-hati ya Honey.."
Kali ini giliran Sanchia yang menarik pelan dasi yang dipakai Sall, sehingga jarak wajahnya dengan wajah Sall terkikis dengan cepat. Sedetik kemudian, Sanchia mengecup lembut bibir Sall yang sangat kissable. Namun bukan Sall namanya, kalau dia membiarkan ciuman penuh inisiatif Sanchia berakhir begitu saja. Dengan bersemangat, Sall menggendong Sanchia ke arah kamar tamu terdekat dari ruang makan yang ada di lantai 1. Niat untuk berangkat pagi sekali ke perusahaan pun akhirnya hanyalah sekedar niat, karena Sall lebih memilih berolahraga pagi bersama sang istri tercinta.
Leon yang sempat melihat Sall saat menggendong Sanchia ke kamar tamu, tentunya langsung paham, dan segera memundurkan jadwal meeting Sall dengan semua direktur cabang selama 3 jam.
"Ah lagi-lagi seperti ini." Rutuk Leon.
*************************
Sanchia masuk ke dalam Mall yang terkenal di kota London ditemani Leroy dan beberapa orang bodyguard yang mengawasi dari kejauhan. Sanchia tidak ingin menjadi pusat perhatian orang, jika berbelanja dengan dikelilingi pengawal berpakaian formal.
Sanchia memasuki salah satu toko pakaian dengan brand terkenal dengan ditemani Leroy dibelakangnya. Pandangannya mengedar pada beberapa pakaian yang membuatnya tertarik untuk membeli. Namun keseruannya tiba-tiba terusik, saat sebuah sapaan mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Hai.."
************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight