The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 132 Kenangan



Tidak terasa sudah 2 minggu Sall, Sanchia dan kedua buah hatinya berada di Bandung, Indonesia. Bagi Sanchia waktu terasa berjalan begitu cepat, rasanya dia masih ingin berlama-lama menghabiskan hari-hari indah di kota kelahirannya. Namun di sisi lain, Sanchia merasa kasihan pada suaminya yang tidak bisa menghandle pekerjaannya secara penuh dari jarak jauh, apalagi karena perbedaan waktu sekitar 7 jam dengan Inggris, membuat Sall terpaksa melakukan virtual meeting dengan management perusahaannya yang ada di Inggris hampir setiap malam.


Belum lagi, sudah ada beberapa tawaran kerjasama yang harus Sall tolak, karena syarat untuk menghadiri pertemuan secara langsung dengan beberapa CEO perusahaan besar tidak dapat dipenuhinya. Tapi Sall merasa hal itu bukanlah hal yang besar, karena bagi Sall, keluarga adalah hal terpenting. Lagipula Sall yakin, perusahaan-perusahaan itu akan kembali menghubunginya saat dia kembali ke London nanti. Karena mereka tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk bekerjasama dengan Knight Group Company, yang merupakan perusahaan besar yang memiliki peluang bisnis yang sangat menjanjikan.


Sall dan Sanchia berencana untuk kembali ke London 3 hari lagi, hari ini mereka sengaja berkunjung untuk yang kesekian kalinya ke mansion Nieva dan Kevin. Tidak lupa Sall dan Sanchia membawa Putra dan Putri mereka, ditemani beberapa orang pengawal terbaik untuk melindungi mereka. Leon dan Leroy tidak ikut berkunjung, karena mereka sedang menikmati sisa waktu mereka di Indonesia, dengan menciptakan moment-moment romantis dengan gadis yang mereka cintai. Mereka juga berusaha untuk lebih dekat dengan kedua orangtua Leandra dan Leticia, demi mengejar restu agar bisa menikahi gadis pujaan mereka.


Suasana ruang keluarga mansion Nieva dan Kevin terasa hangat dan ramai dengan adanya obrolan ringan serta canda tawa Papa Leonard dan Mama Annesya bersama dua anak, dua menantu dan tiga cucunya yang sangat menggemaskan.


"Ah rasanya Mama begitu berat kalau harus jauh dengan kalian, Mama pasti begitu merindukan kalian nantinya. Maaf ya Sayang, karena Papa dan Mama harus tetap berada di Bandung saat ini." Papa Leonard merangkul Mama Annesya yang begitu sedih karena anak, menantu dan kedua cucunya akan segera kembali ke London. Sedangkan Mama Annesya dan Papa Leonard tidak bisa kembali ke London, mengingat Nieva, Kevin dan juga Keiva lebih membutuhkan perhatian mereka saat ini.


"Tidak apa Ma.. Nieva, Keiva dan Kevin lebih membutuhkan perhatian dan dukungan Mama dan Papa saat ini." Ujar Sanchia seraya mengelus lembut tangan Mama Annesya dengan kedua tangannya.


Shawn yang sedang menonton film kartun kesukaannya, tiba-tiba langsung menghampiri Grandma-nya yang sedang mengobrol dengan Daddy dan Mommy-nya, juga Uncle Kevin dan Aunty Nieva itu.


"Grandma.. Shawn, adik Shanaya, Mommy dan Daddy akan sering-sering video call Grandma dan Grandpa ya.." Mama Annesya tersenyum melihat cucunya yang begitu penyayang dan sangat peka dengan perasaan orang-orang tercintanya.


"Iya cucuku yang paling tampan dan soleh, janji ya kamu akan sering-sering menghubungi Grandma dan Grandpa?" Mama Annesya mengulurkan jari kelingkingnya dihadapan Shawn, yang kemudian langsung disambut begitu antusias oleh Shawn, dengan melingkarkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Mama Annesya.


"Iya Grandma, Shawn janji." Interaksi yang begitu manis diantara Shawn dan Mama Annesya, mengundang senyuman di wajah semua orang. Memang keberadaan Shawn selalu membawa kebahagiaan di tengah-tengah keluarga. Hal inilah yang selalu membuat Sall dan Sanchia semakin merasa bersyukur akan anugerah yang Allah berikan dalam kehidupan mereka, yaitu kehadiran Shawn dan Shanaya.


"Mama, Papa.. Maaf ya, Sall harus membawa istri dan anak-anak Sall kembali ke London. Sanchia juga pasti masih ingin berlama-lama di Bandung, tapi Sall tidak bisa meninggalkan Sanchia dan anak-anak disini. Sall pasti akan merasa sangat khawatir dan rindu nantinya. Sall benar-benar tidak bisa jauh dari Sanchia juga anak-anak Ma. Sedangkan Sall sudah harus kembali ke London, karena banyak pekerjaan yang sudah menunggu untuk dibereskan." Papa Leonard dan Mama Annesya mengulas senyum hangatnya, menanggapi sikap Sall yang terlihat sangat mencintai Sanchia dan kedua putra putrinya.


"Papa dan Mama paham Sall. Tidak apa-apa, yang terpenting kalian semua disana sehat dan baik-baik saja. Apalagi, cucu Papa yang sangat tampan dan soleh ini, sudah berjanji akan selalu menghubungi Papa dan Mama melalui video call." Papa Leonard mencubit hidung dengan gemasnya.


"Grandpa.. Jangan cubit hidungku, nanti merah seperti hidung badut." Protes Shawn atas ulah sang Grandpa, yang justru dibalas Papa Leonard dengan tawa kecilnya.


"Terima kasih ya Sanchia, Sall.. Kalian langsung datang ke Bandung saat mendengar kabar Nieva dan aku yang mengalami kecelakaan. Padahal aku sangat tahu pasti, kalau Sall memiliki kesibukan yang begitu padat. Begitupun kamu Sanchia, mengurus kedua anak sudah sangat menguras tenaga dan pikiranmu. Tapi kalian malah menyempatkan waktu untuk pulang menjenguk kami." Ungkap Kevin tulus.


"Iya benar Kak Sanchia, Kak Sall.. Terima kasih karena sudah datang dan menjenguk kami." Timpal Nieva.


"Hei kalian adalah adik kami, kami pasti pulang memastikan keadaan kalian. Lagipula begitu banyak hikmah dengan kepulangan kami kali ini." Sall mengangguk, membenarkan perkataan Sanchia yang sangat dia setujui.


Papa Leonard, Mama Annesya, Kevin dan Nieva paham kemana arah pembicaraan Sanchia yang menjurus pada selesainya permasalahan Nick, yang saat ini masih berada di penjara bawah tanah markas Ble Asteri. Namun mereka tidak berniat membahas lebih lanjut, mengingat saat ini Shawn sedang berada bersama mereka. Mereka sangat paham daya nalar Shawn melebihi anak seusianya, mereka khawatir Shawn akan banyak bertanya, jika mereka membahas mengenai Nick saat ini. Akhirnya mereka hanya mengobrol ringan untuk mencairkan suasana yang sempat terasa sedih itu.


Menjelang petang, Sall dan Sanchia berpamitan pada Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin hendak kembali ke mansion mereka. Lusa, Sall dan Sanchia berjanji untuk menginap di mansion Nieva dan Kevin sebelum berangkat ke London, mereka benar-benar ingin menghabiskan hari terakhir mereka di Bandung dengan bercengkrama bersama keluarga yang akan sangat mereka rindukan.


Di perjalanan menuju mansion, mobil yang dikendarai Sall dan juga anak buahnya mengalami kemacetan karena adanya event tahunan di sebuah tempat wisata.


"Sepertinya kita tidak bisa melewati jalur ini Sweetheart. Mobil lain pun dialihkan ke jalur lain. Aku baru sadar kalau sekarang adalah akhir pekan, pantas saja bisa semacet ini."


"Iya kamu benar Honey. Hmm, sebaiknya kita mencari jalan alternatif untuk menghindari kemacetan." Sall mengangguk singkat, lalu segera mencari jalan alternatif melalui GPS-nya.


Selang beberapa belas menit kemudian, tatapan Sanchia berubah sendu saat melewati jalan yang menyimpan cukup banyak menyimpan kenangan. Lebih tepatnya kenangan buruk yang selalu ingin dia lupakan.


"Kenapa raut wajahmu berubah sedih seperti itu." Tanya Sall khawatir akan keadaan istrinya.


"Jalan ini melewati SMA-ku yang pertama." Jawaban Sanchia membuat Sall kembali teringat pada cerita Sanchia tentang sahabat-sahabat palsunya dan juga Shuga. Rasanya Sall begitu menyesali pilihannya untuk mengambil jalur alternatif ini.


"Honey, bisakah kita berhenti dulu sebentar di depan sana?" Sall melirik sebuah Cafe & Resto yang ditunjuk oleh Sanchia, yang ternyata berseberangan dengan sebuah gedung SMA. Lalu Sall memarkirkan mobilnya tepat di halaman parkir Cafe & Resto tersebut.


"Hmm, Shawn dan Shanaya tidur. Apa kita pakai 2 stroller saja, Honey?" Tanya Sanchia pada Sall. Arah pandang Sall pun ikut tertuju pada Shawn dan Shanaya yang tertidur lelap di atas car seat, dengan seatbelt menahan tubuh mereka.


"Aku akan meminta dua orang  pengawal juga dua orang babysitter untuk pulang lebih dulu bersama Shawn dan Shanaya. Beberapa mobil pengawal akan menjaga mereka dari depan dan belakang, kamu tidak usah khawatir ya. Jadi mereka bisa tidur di mansion dengan nyaman, dan kamu pun bisa bernostalgia tanpa rasa khawatir." Senyuman terbit di bibir Sanchia, karena suaminya begitu pengertian padanya.


Jadilah Shanaya dan Shawn pulang lebih dulu ditemani babysitter dan para pengawalnya. Sedangkan Sall dan Sanchia memasuki cafe dengan tangan saling merangkul pinggang dengan sangat erat.


Beberapa pelayan Cafe yang menyambut mereka pun terlihat kagum melihat pasangan ini, hingga tidak bisa menyembunyikan ekspresi mereka yang terlihat sangat antusias.


Sall dan Sanchia memilih duduk berhadapan di balkon cafe lantai 2, agar bisa melihat langsung ke arah sekolah Sanchia dulu. Lagipula perut mereka masih sangat kenyang untuk menikmati menu Restaurant yang terbilang berat. Sanchia lalu memesan secangkir cappucino dan sepotong cheese cake, sedangkan Sall memilih memesan secangkir americano dan 2 buah croissant. Keduanya seolah kembali ke masa-masa sekolah, saat mereka menikmati makanan seraya memandangi anak-anak SMA yang baru keluar dari sekolah, setelah mengikuti kegiatan ekskul di sekolah mereka.


"Dulu cafe ini belum sebesar dan sebagus ini, dulu hanya sebuah cafe sederhana yang selalu dipenuhi anak sekolah setiap jam istirahat dan pulang sekolah." Ujar Sanchia lalu menyesap cappucino-nya sampai tersisa setengah.


"Jadi disini tempat biasa kamu bersantai bersama teman-teman palsumu itu?" Tanya Sall dengan ekspresi datar.


"Hmm, tetap saja mereka bukan sahabat yang baik, kalau membiarkanmu dibohongi, dimanfaatkan bahkan difitnah." Jawab Sall sedikit menunjukkan emosinya. Namun Sanchia justru tersenyum seraya menggenggam tangan Sall.


"Sudahlah Honey.. Aku paham apa yang mereka rasakan, mereka juga tidak ingin menjadi sasaran amukan Dhiany, Desita atau Raras. Aku justru berterima kasih karena masih ada yang bersikap tulus padaku." Sall menyesap americano-nya terlihat tidak menanggapi perkataan Sanchia, namun Sanchia tahu, kalau Sall masih kesal karena dulu Sanchia diperlakukan tidak baik oleh teman-teman SMA-nya.


"Andai saat itu aku sudah bertemu denganmu, pasti aku akan selalu melindungimu, Sweetheart."


"Hmm, sepertinya tidak, mungkin saja kamu akan menindasku. Awal pertemuan kita saja sudah tidak baik, bahkan kamu nekad menculikku." Ucap Sanchia diikuti dengusan kesal.


"Meskipun awalnya buruk, tapi kan berakhir indah, Sweetheart." Jawab Sall seraya mengelus lembut pipi Sanchia, sehingga menarik lengkungan di kedua sudut bibir Sanchia.


"Iya Honey, aku pun tidak menyangka awal yang buruk itu berubah bahagia." Sall menggenggam kedua tangan Sanchia dengan kedua tangannya, lalu menciumnya dengan sangat lembut.


"I love you Sweetheart.."


"I love you too, Honey.." Kedua tersenyum selama beberapa saat, sampai kemunculan seorang pelayan laki-laki mengusik kemesraan mereka berdua.


"Maaf, bolehkah kami mengambil photo anda berdua untuk kami tempel di Wall khusus sebagai tamu special hari ini?" Sall menggeleng pelan, namun Sanchia justru menarik lembut tangan Sall agar berdiri bersamanya.


"Silahkan.. Satu photo saja kan?"


"Iya.. Satu photo saja." Jawab pelayan cafe itu dengan sangat bersemangat, lalu mengambil photo Sall yang melingkarkan tangannya di pinggang Sanchia. Sanchia tampak tersenyum ke arah camera, berbanding terbalik dengan Sall yang hanya menunjukkan wajah datarnya.



"Perfect.. Kalian sangat cocok, terima kasih banyak." Ucap pelayan itu, lalu pergi dengan senyum mengembang di wajahnya yang imut.


"Kita makan lagi Honey.." Sanchia duduk kembali tanpa melepas genggaman tangannya dari tangan Sall.


"Hmm, Sweetheart.. Aku ke toilet dulu ya. Jangan kemana-mana!" Sall mencubit hidung Sanchia dengan tangan yang bebas dari genggaman tangan Sanchia, membuat Sanchia mendengus kesal.


"Iya Honey, aku tidak akan kemana-mana." Sanchia melepas genggaman tangannya, membiarkan Sall pergi menuju toilet di salah satu sudut cafe. Sanchia memilih membuka ponselnya untuk menghilangkan rasa bosan karena menunggu Sall.


Tiba-tiba sebuah panggilan mengejutkan Sanchia yang sedang sibuk dengan gadgetnya.


"Sanchia.."


Sanchia seketika mengarahkan pandangan ke arah sumber suara. Rasa terkejutnya semakin menjadi, saat netranya menangkap sekumpulan orang, dan beberapa diantaranya adalah sosok yang sangat dikenalnya. Meskipun seiring bertambahnya usia, penampilan mereka tentu sudah banyak berubah.


'Fanya, Flora, Nancy, Desita, Raras, Ezra, Davis, dan.. Shuga?' Lirih Sanchia dalam hati.


************************


Image Source : Instagram Toni Mahfud & Im Jin Ah (edited), photonya nyusul setelah lolos review ya


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta


Alhamdulillah bisa up setelah lebih dari seminggu sibuk di dunia nyata.


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight