The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 66 You're The Only One



WARNING...!!!


Mengandung konten dewasa, diperuntukan hanya untuk yang berusia 21 tahun keatas dan sudah menikah. Mohon bagi yang dibawah umur, tolong di-skip saja ya. Mohon lebih bijak untuk memilih bacaan. Terima kasih banyak ya..


*************************


MANSION SALL & SANCHIA - BALI, INDONESIA


Angin dingin yang menerpa kulit punggung Sall yang polos, mengusik tidur Sall yang baru terlelap satu jam yang lalu. Ternyata pintu balkon yang lupa ditutup dan dikunci dengan benar itu, terdorong oleh angin yang berhembus cukup kencang saat ini.


Sall melirik jam dinding yang baru menunjukan pukul 4 pagi. Sall berniat turun dari tempat tidur, namun tubuhnya terasa tidak rela melepas pelukannya dari Sanchia yang tertidur lelap dalam dekapannya. Senyum Sall terulas indah di wajahnya, saat pikirannya kembali menerawang pada pergulatan mereka tadi malam, yang berlangsung selama berjam-jam. Ending yang sangat sempurna, setelah berhasil menyelesaikan kesalahpahaman mereka selama beberapa hari ini.


Sall mengecup lembut kening Sanchia, lalu perlahan melepas pelukannya dan membungkus tubuh Sanchia dengan selimut tebal, sebelum akhirnya turun dari tempat tidur.


Sesaat setelah menutup dan mengunci pintu balkon, Sall mendudukkan dirinya di atas sofa, yang menjadi salah satu saksi penyelesaian permasalahan mereka, sekaligus saksi pergulatan mereka tadi malam.


FLASHBACK ON


Selepas kepulangan Bryllian dan Zivara yang terkesan buru-buru, padahal waktu masih menunjukan pukul 9 malam, Sall langsung mengajak Sanchia untuk berbicara di kamar pribadi mereka. Sall seolah tidak mau membuang waktu lagi, untuk segera menyelesaikan masalah mereka yang berlarut-larut.


Sesampainya di kamar, Sanchia mendudukkan dirinya di atas sofa bersebelahan dengan Sall. Terlihat Sall menghela nafas panjangnya sebelum mengeluarkan kata-kata yang sudah dia siapkan di dalam pikirannya. Tidak berbeda dengan Sall, Sanchia juga sibuk menyusun kalimat yang akan diucapkannya pada Sall.


"Maafkan sikapku selama beberapa hari ini, yang membuatmu sedih dan tidak nyaman. Sejujurnya, aku bukan hanya marah dan kecewa karena kamu mendatangi laki-laki itu, tapi aku juga bertanya-tanya tentang perasaanmu padanya. Karena aku tahu apa yang kamu katakan tentang perasaanmu terhadapnya."


Sanchia tetap tidak dapat menahan dirinya untuk tidak terkejut, sekalipun sudah bisa menebak mengenai kemungkinan Sall mengetahui apa yang dikatakannya pada Shuga saat itu.


"Honey, aku tidak menyalahkanmu, karena memang akulah yang sudah membuatmu salah paham. Maafkan aku yang sangat terlambat menyadari alasan perubahan sikapmu padaku. Aku pikir kamu sangat marah dan kecewa, karena aku mendatangi markas Shuga tanpa izinmu, tapi ternyata lebih dari itu. Tolong dengarkan aku Honey.. Aku memang pernah menyukainya saat SMA, yang saat itu aku kenali sebagai perasaan cinta, meskipun aku tidak tahu apakah benar-benar jatuh cinta atau sekedar rasa suka. Tapi setelah dia meninggalkanku, aku benar-benar berusaha menghilangkan dia dari pikiranku. Melupakannya bukanlah hal yang sulit Honey, karena mungkin kami pun belum terlalu lama dekat, aku juga fokus dengan pembentukan klan-ku. Kisahku dengannya hanyalah setitik kisah dalam masa remajaku yang tidak indah."


Sall yang sejak tadi, mendengarkan penjelasan Sanchia masih belum mengubah ekspresinya yang datar.


"Tapi kenapa kamu terlihat sangat kecewa dengan apa yang dilakukannya padamu?"


"Iya memang aku kecewa Honey. Coba kamu pikirkan, disaat aku terbiasa dekat dengan sahabat-sahabatku yang tidak tulus padaku, tiba-tiba ada yang bersikap baik dan membuatku nyaman. Namun pada akhirnya dia menyakitiku dengan tuduhan-tuduhannya yang kejam, apa aku tidak boleh kecewa? Aku pikir masih ada orang baik di sekitarku, tapi ternyata tidak. Itulah yang membuatku kecewa, Honey."


Seolah masih belum puas dengan jawaban Sanchia, Sall kembali memberondong Sanchia dengan pertanyaan lainnya.


"Apa saat bertemu dengannya, rasa cinta itu kembali hadir? Apa kamu merindukannya juga?"


"Tidak Honey, aku benar-benar sudah melupakan semua perasaanku terhadapnya. Sama sekali tidak ada yang tersisa. Di dalam hatiku hanya ada namamu dan perasaan cinta padamu, tidakkah kamu merasakan itu? Tolong jangan pernah meragukan cintaku yang sangat besar ini, karena hanya kamulah satu-satunya yang aku cintai, Sall Sherwyn Knight."


Sall refleks memeluk dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Sanchia, perasaan sesak yang memenuhi dadanya seketika menguap begitu sama, bersamaan dengan namanya yang disebut begitu lengkap oleh Sanchia.


"Thank you, Sweetheart.."


Tiba-tiba tangis Sanchia pecah, membuat Sall kebingungan dengan reaksi Sanchia. Sanchia memang lebih sensitif setelah mengandung, tapi Sall sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada istrinya itu, sampai menangis tersedu-sedu seperti ini.


"Honey.. Terima.. kasih..Aku sudah.. lama menunggu.. ka..mu memanggilku.. dengan panggilan.. sayang itu lagi. Aku bahagia.. Honey.."


Perkataan Sanchia yang terdengar terbata-bata, kini tergantikan tangisnya yang semakin keras.


Sall sama sekali tidak menyangka, kalau panggilan "Sweetheart" yang hilang dari kalimatnya selama beberapa hari ini, sudah begitu berpengaruh bagi Sanchia.


"Sweetheart, Maafkan aku.. Karena aku sudah sangat menyakitimu. Aku menyesal karena tidak langsung menanyakan hal ini padamu, dan malah mengambil kesimpulan sendiri. Aku begitu bodoh karena meragukan perasaan cintamu padaku, Sweetheart."


"Aku juga terlalu bodoh, karena tidak menyadari masalah yang membuatmu berubah sikap."


Sall mengambil beberapa lembar tissue yang ada di atas meja, lalu mengusap perlahan air mata yang ada di pipi Sanchia. Sesaat Sanchia begitu terlena dengan kelembutan Sall yang sudah kembali menghangatkan hatinya, namun sesaat kemudian Sanchia naik ke pangkuan Sall dengan posisi saling berhadapan.


"Jangan pernah meragukan perasaanku lagi, karena hatiku sudah diisi sepenuhnya oleh namamu, tak ada yang lain."


Bibir Sanchia mendarat sempurna di bibir Sall, yang langsung menyambut ciuman itu dengan begitu liar dan rakus. Sall memeluk pinggang Sanchia dan semakin mengikis jarak diantara mereka, hasratnya yang sudah terlalu lama dia kendalikan, kini menguar tanpa ingin dia tahan.


Sanchia menahan tangan Sall yang sudah begitu siap menjelajah. Sehingga Sall hanya mengikuti permainan, dengan menikmati perlakuan Sanchia yang membuatnya terbang melayang, memantik gairahnya yang semakin menggebu-gebu.


Sampai akhirnya mereka sampai di menu utama yang sudah mereka tunggu-tunggu. Kegiatan favorit mereka yang bisa membuat mereka lupa segalanya. Namun kali ini Sanchia tidak membiarkan Sall memimpin permainan, seolah ingin memanjakan suaminya dan meluapkan perasaan, kalau hanya Sall-lah yang Sanchia cintai sepenuh hati.


*************************


Sall masih larut dalam pikirannya, saat terdengar suara yang begitu lembut memanggilnya.


"Honey.."


Sall segera menghampiri istrinya dan naik kembali ke atas tempat tidur, setelah meminum segelas air yang disimpan di atas nakas.


"Aku juga mau minum Honey.."


Sall langsung memberi Sanchia segelas air, yang langsung habis dalam sekali teguk. Sanchia kembali merebahkan tubuhnya, disusul Sall yang mendekap kepala Sanchia di dadanya. Setelah sebelumnya mencium sekilas bibir Sanchia.


"Lelah ya Sweetheart?"


"Tidak.. Bahkan kalau kamu masih mau tambah, aku masih sanggup." Lirih Sanchia seraya menundukkan kepalanya.


Sall tertawa mendengar perkataan Sanchia yang merupakan penawaran menggiurkan itu.


"Aku sebenarnya masih belum puas Sweetheart, meskipun tadi kita melakukannya berkali-kali. Tapi ingat, ada baby dalam perutmu, Sweetheart. Kita tidak boleh melakukannya terlalu sering, dan harus selalu hati-hati. Semalam kalau aku tidak mengingatkanmu, kamu pasti sudah mengeluarkan seluruh kemampuan terbaikmu. Meskipun sesungguhnya aku begitu suka, saat kamu.."


Sanchia membekap mulut Sall sebelum Sall menyelesaikan kalimatnya. Wajah Sanchia sudah memerah seperti kepiting rebus, membuat Sall gemas dan terkekeh geli, meskipun telapak tangan Sanchia masih membekap mulut usilnya.


"Honeeeyy.. Berhentilah membahasnya!"


Sanchia baru melepas bekapan tangannya, lalu membalikan badannya membelakangi Sall. Sall tentu tahu istrinya sedang merajuk karena malu.


"Maaf Sweetheart, aku tidak akan membahasnya lagi. Lebih baik kamu tidur lagi ya."


Sall melingkarkan tangannya dan memeluk Sanchia dengan posesif dari belakang. Tentunya dengan senyum yang masih belum luntur dari wajahnya. Namun kata-kata Sanchia berikutnya, membuat Sall merasa sesak nafas.


"Honey.. Rasanya aku ingin makan puding strawberry buatanmu."


"Hah? Aku tidak bisa membuat puding Sweetheart."


Sanchia membalikkan badannya menghadap Sall, dengan tatapan yang sangat memelas. Membuat Sall tidak tega menolak keinginan istri juga anaknya itu.


"Baiklah.."


Sanchia mendongakkan kepalanya dan mencium sekilas bibir Sall, membuat Sall melengkungkan senyum tampannya.


"I Love you so much, Honey.."


"I Love you more, Sweetheart.."


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight