
MANSION KEVIN NIEVA - BANDUNG, INDONESIA
Sejuknya udara pagi berbaur dengan hangatnya sinar mentari yang diam-diam merangkak naik, meskipun tertutupi kumpulan awan putih yang berarak di langit. Senyuman-senyuman indah berpadu dengan langkah-langkah kaki yang semangat, tertangkap jelas oleh netra para pemilik mansion, yang seketika menghambur pada rombongan tamu yang begitu ditunggu-tunggu.
Ya, Sanchia dan Sall sudah tiba di mansion Kevin dan Nieva di Bandung, disambut oleh Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin. Tidak lupa Shawn dan Keiva yang sedang bersantai dalam stroller mereka.
Tidak ketinggalan juga, Leon, Leroy, Mary, dan puluhan pelayan serta pengawal yang ikut serta bersama Sall dan juga Sanchia.
"Ya ampun Sayang, Mama pikir Mama salah lihat. Alhamdulillah, kamu bisa ke Bandung. Kamu sudah benar-benar sehat kan Sayang?" Mama Annesya memegang dahi Sanchia, mengulas senyum di wajah Sanchia yang mendadak sendu.
"Aku sudah baik-baik saja Mama."
Dipeluknya erat Mama Annesya begitu lama. Ada perasaan sedih karena harus menutupi keadaannya yang sempat tertembak dua peluru di bahu dan kakinya, dan beracting seolah dirinya hanya mengalami sakit demam dan kelelahan, sehingga tidak bisa segera datang ke Bandung untuk menjemput Shawn.
"Syukurlah kalian bisa datang ke Bandung, kita semua merindukan kalian, terutama Shawn." Ujar Papa Leonard.
Sanchia melerai pelukannya beralih memeluk Papa Leonard, Nieva dan Kevin. Nieva terlihat berkaca-kaca, namun berusaha menahan dirinya untuk tidak menangis dan bersikap berlebihan. Bagaimanapun juga, Mama Annesya dan Papa Leonard tidak boleh mengetahui tentang insiden penyerangan Alrico ke Markas Besar Sall, terutama insiden yang menimpa Kakaknya. Untung ada Kevin yang segera merangkul dan mengelus lembut bahu Nieva agar lebih tenang.
Sall menyusul untuk memeluk kedua mertua dan juga kedua adik iparnya, menyampaikan perasaan rindunya untuk berkumpul dengan keluarga, sebelum akhirnya menggendong Shawn yang sudah menatapnya dan Sanchia dengan mata berbinar, sejak mereka tiba.
"Hai Putra Daddy yang paling tampan. Bagaimana kabarmu? Tentu kamu sehat dan bahagia kan disini? Ada Kakek, Nenek, Tante Nieva, Om Kevin, apalagi ada Si Cantik Keiva yang selalu menemanimu bermain?"
Sall mendekatkan tubuh putranya ke stroller Keiva, dan seolah mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sang Daddy, Shawn yang sudah berusia setengah tahun itu, mulai tertawa dan mengeluarkan suara menggemaskannya seraya mengulurkan tangannya ke arah Keiva. Ajakan mengobrol dari Shawn tentu terus ditanggapi Sall dengan antusias, begitupun Sanchia yang mendekat dan mulai menciumi wajah dan tangan sang putra.
"Anak Mommy, semakin sehat dan tampan. Sekarang bahkan kamu sudah bisa duduk tegak ya. Maafkan Mommy yang melewatkan beberapa perkembanganmu. Setelah ini, kita tidak akan berpisah lagi Sayang."
Shawn mengulurkan tangannya, menghapus air mata Sanchia yang menetes di kedua pipi Sanchia. Hal ini bukan hanya menghangatkan hati Sanchia dan Sall, tapi juga keluarga dan semua orang yang melihat interaksi ibu dan anak itu.
"Shawn tidak suka melihat Mommy menangis ya? Begitupun Daddy. Jadi cepatlah besar, jaga dan lindungi Mommy-mu dengan baik."
Celotehan Shawn sebagai jawaban perkataan Daddy-nya, mengurai tawa semua orang, lain hal dengan Sanchia yang hanya menggelengkan kepala, bentuk protes atas perkataan suaminya pada sang putra tercinta.
"Dia masih kecil, jangan menyuruhnya cepat besar dan memberinya beban berat. Kamu yang harus menjaga dan melindungiku seumur hidupmu, Honey."
"Tentu saja Sweetheart.. Aku akan selalu menjagamu, melindungimu, mencintaimu dan membahagiakanmu sampai akhir hayatku."
Cup..
Kecupan mendarat di bibir Sanchia, bukan hanya mengejutkan Sanchia, tapi juga keluarganya dan semua orang yang ada di ruangan itu. Meskipun sesaat kemudian raut bahagia terpancar di wajah semua orang, kecuali Leon dan Leroy yang terlihat jengah seraya menggelengkan kepala mereka.
"Kenapa mereka senang sekali memamerkan kemesraan dihadapan jomblo seperti kita." Protes Leroy.
"Ah sudahlah, sahabatmu itu memang tidak tahu tempat." Jawab Leon datar, namun memancing tawa semua orang.
************************
Seminggu sudah Sall dan Sanchia berada di Bandung, menikmati kebersamaan mereka bersama seluruh keluarga, dan juga melihat langsung setiap perkembangan Shawn yang sudah jauh lebih pintar dan bisa melakukan banyak hal. Sanchia dan Sall tentu sangat bersyukur dengan perkembangan pesat putranya tersebut, dan mereka selalu mengabadikannya dalam bentuk photo dan video.
Seperti di siang hari yang cukup mendung dengan awan hitam yang siap menurunkan hujannya, Sanchia menggendong Shawn yang mulai mengantuk, setelah bermain bersama kedua orangtuanya di taman belakang mansion. Sanchia membawa Shawn ke kamarnya, tanpa ditemani Sall yang memilih bergabung bersama Papa Leonard dan Kevin yang sedang membicarakan bisnis di ruang keluarga.
Sepuluh menit kemudian, Sanchia yang sudah berganti pakaian memasuki ruang keluarga, menghampiri suaminya yang sedang begitu serius berdiskusi bersama Papa mertua dan adik iparnya.
"Sweetheart, kamu mau kemana?"
"Honey, aku ke mall dulu ya sebentar, aku mau membeli beberapa perlengkapan Shawn, ada banyak yang habis. Shawn ditemani dua babysitter-nya kok."
"Ok.. Aku ganti baju dulu ya."
Sall berdiri dari duduknya hendak meninggalkan ruang keluarga dengan segera, namun perkataan Sanchia membuat langkahnya terhenti.
"Aku ditemani Mary saja."
"Tidak, aku akan mengantarmu. Jangan protes, aku hanya akan mengganti kaus-ku saja."
Sall segera berlari menuju kamarnya, tidak ingin membiarkan Sanchia menunggu lama, dan memilih pergi ke mall tanpa dirinya. Sementara Sanchia memilih mendudukkan dirinya di sebelah Papa Leonard.
"Sayang, jangan pernah menolak jika Sall ingin menemanimu kemanapun kamu pergi. Biarkan dia menunaikan tugasnya untuk melindungimu. Kamu tetaplah seorang wanita yang memerlukan seorang laki-laki untuk selalu menjagamu."
"Iya Papa.. Tadinya aku pikir, Sall sedang asyik berdiskusi dengan kalian, jadi aku tidak ingin mengganggunya."
"Iya Papa, aku mengerti."
Selang beberapa detik kemudian, Sall kembali dengan kemeja santai berwarna senada dengan kemeja biru yang dikenakan Sanchia.
"Ayo Sweetheart.."
"Ok..Papa, Kevin kita pergi dulu ya."
Sanchia beranjak dari duduknya dan membalas uluran tangan Sall, yang seketika menggenggam tangannya erat.
"Kalian hati-hati ya.." Nasehat Papa Leonard, sementara Kevin hanya mengangguk ke arah Sall dan Sanchia.
"Siap Papa.."Jawab Sall mendahului Sanchia yang ikut mengangguk, mengiyakan perkataan suaminya. Lalu keduanya segera meninggalkan mansion ditemani Leon, Leroy dan beberapa pengawal berpakaian santai.
*************************
Sall dan Sanchia memasuki mall terbesar di Bandung yang terlihat cukup ramai, bahkan sekalipun bukan akhir pekan, banyak sekali orang yang memilih merefresh otak mereka di mall itu. Sanchia dan Sall beberapa kali masuk dan keluar toko untuk membeli perlengkapan Shawn, sampai akhirnya ritual belanja mereka selesai setelah menghabiskan waktu lebih dari 2 jam.
Memilih melepas penat setelah berbelanja, Sanchia dan Sall masuk ke dalam restaurant sunda yang ada di mall itu, sedangkan Leon, Leroy dan para pengawal memilih masuk ke restaurant disebelahnya yang menghidangkan menu western food. Lidah mereka yang belum cocok dengan makanan sunda, membuat mereka memilih makan di restaurant yang berbeda dengan Sall dan Sanchia, setelah Sall mengizinkannya karena menganggap tidak ada hal yang akan mengancam keselamatan Sanchia selama Sall bersama istrinya itu.
Sanchia menikmati menu nasi liwet dan ikan bakar, lengkap dengan sayur kangkung dan sambal pedasnya. Sementara Sall begitu lahap menyantap nasi tutug oncom dan ayam bakar, lengkap dengan sambal, lalapan dan makanan pelengkap lainnya.
"Pelan-pelan makannya, Honey."
"Makanan ini sangat enak Sweetheart. Nanti kita pesan lagi untuk di mansion ya. Bawakan juga untuk Papa, Mama, Nieva dan Kevin."
"Aku senang sekali, lidahmu sudah sangat cocok dengan makanan Indonesia, Honey. Kita jadi bisa kompak saat berwisata kuliner. Jadi tidak ada protes dari kamu lagi."
Kekehan Sanchia langsung dipotong Sall yang tampak tidak terima dengan perkataan Sanchia.
"Eiiitt.. Makanan yang aku protes kan jajanan Sweetheart, kalau kebanyakan memang tidak baik untuk tubuhmu. Tapi kalau makanan seperti ini, aku setuju."
"Ok Honey.. Tapi kali ini, aku boleh membeli jajanan ya, untuk di mansion?"
"Memangnya apa yang kamu mau?"
Sall mengikuti arah pandang Sanchia yang ternyata fokus melihat beberapa nama di buku menu. Sall hanya geleng-geleng kepala melihat menu yang hendak dipesan oleh Sanchia. Seblak campur level 3, cilok goang, batagor kering, cireng isi, es goyobod, serabi manis, menjadi pilihan Sanchia, seolah sedang melepas rindunya pada Kota Bandung.
Selang beberapa belas menit kemudian, Sall dan Sanchia meninggalkan restaurant dengan menenteng banyak sekali tas berisi makanan favorit mereka, dan juga untuk seluruh penghuni mansion. Keduanya mengurai senyum senang dengan perut yang tentunya sudah kenyang. Bahkan keduanya membebas tugaskan Leon, Leroy, dan semua pengawalnya untuk menikmati waktu mereka hari ini, dan justru akan menghukum mereka yang ingin ikut pulang bersama mereka. Jadilah hari ini, Leon, Leroy dan beberapa pengawal melanjutkan acara makan-makan mereka, dan berencana menghabiskan waktu dengan bersenang-senang.
Baru saja Sall membukakan pintu mobil sportnya, untuk mempersilahkan Sanchia masuk, tiba-tiba seorang laki-laki memanggil nama Sanchia dan terlihat mendekat ke arah mereka. Sanchia memicingkan matanya memastikan siapa yang sudah memanggil namanya, dan bola matanya membesar, saat pandangannya menangkap sosok sahabatnya yang sudah lama tidak dia temui. Sementara Sall jelas memasang raut tidak senang, melihat keberadaan laki-laki itu.
Sahabat Sanchia yang sempat membuat Sall begitu cemburu, karena Sanchia rela mengorbankan dirinya untuk melindungi laki-laki itu. Meskipun Sanchia pernah menegaskan kalau dia hanya berhutang budi, dan bukan karena perasaan cinta, namun tetap saja terselip perasaan cemburu saat melihat tatapan Sanchia pada laki-laki itu.
"Satya.. Apa kabar?"
(Buat yang lupa sama Satya, bisa baca di Eps 1 ya, yang pastinya dia menjadi sebab bertemunya Sall dan juga Sanchia. Bisa baca Novel Cold Man Chased by Love ya, buat lebih tau soal Satya..)
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight