
Langit cerah berhias awan putih yang berarak, menyembunyikan sang mentari yang baru beranjak dari peraduannya. Hangatnya mentari pun masih terkalahkan dinginnya udara pagi karena sisa hujan dini hari tadi.
Sall dan Sanchia sedang menikmati menu sarapan pagi mereka yang cukup terlambat di gazebo yang terletak di belakang mansion, tertinggal sarapan bersama Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin. Sanchia juga menyuapi Shawn yang duduk di dalam stroller dengan makanan pendamping yang sudah mulai diberikan sejak beberapa minggu yang lalu.
"Tampannya Mommy, ayo buka lagi mulutnya. Aaaa.."
Shawn kembali menyambut dan melahap makanan yang disodorkan oleh Sanchia dengan sangat bersemangat. Senyum Sanchia dan Sall terbit, melihat Putra mereka yang sedang berusaha mengunyah bubur bayi bertekstur lembek yang ada di mulutnya, dan sesekali mengeluarkan celotehannya yang sangat lucu.
Senyum bahagia tidak hentinya menghiasi wajah Sall saat memandangi interaksi Sanchia dan Shawn yang begitu menghangatkan hatinya. Bahkan fokus Sall hanya pada istri dan putranya itu, sampai makanan Shawn tandas.
Sall mendekati stroller Shawn dan menggendong Shawn yang berceloteh kegirangan. Sementara Sanchia melanjutkan sarapannya yang sempat terjeda karena menyuapi Shawn.
"Hei Son, tampaknya kamu sudah semakin berat sekarang, pipimu juga semakin chubby. Tumbuhlah dengan baik, dan jadilah pria tampan seperti Daddy."
Shawn tergelak melihat ekspresi Sall yang sangat percaya diri, seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Daddy-nya itu. Berbanding terbalik dengan Sanchia yang justru mendengus kesal, bersiap melayangkan protes pada sang suami.
"Jangan hanya mendoakannya agar tampan Honey, doakan juga dia menjadi laki-laki baik, jujur, pintar, sukses, penyayang, mandiri dan setia."
"Tentu saja Sweetheart, aku mendoakannya agar menjadi laki-laki dengan paket lengkap, sama sepertiku."
"Oke Honey.. Aku setuju jika Shawn mewarisi sikap baikmu, tapi tidak dengan kenekadanmu, yang menculik perempuan yang kamu sukai dan menyekapnya selama lebih dari 1 bulan."
Sall bukannya tersinggung dengan keterbukaan istrinya, Sall justru malah terkikik geli menyadari kesalahan dan kebodohannya dulu.
"Tapi jika aku tidak melakukannya, aku tidak mungkin bisa menikahi perempuan cantik ini." Bisik Sall di telinga Sanchia, membuat wajah Sanchia seketika memerah karena malu. Terlebih saat Sall menempelkan bibrnya di bibir Sanchia dengan sangat lembut.
Sesaat Sanchia dan Sall memejamkan matanya, namun tiba-tiba sebuah tangan mungil mencengkeram dagu Sall, memaksa Sall dan Sanchia melepas pertautan bibir mereka. Seketika tawa Sall dan Sanchia lepas, bagaimana mereka bisa lupa kalau Shawn yang berada dalam gendongan Sall tentunya memperhatikan tingkah mereka berdua. Shawn seolah sedang menunjukkan protes, karena kedua orangtuanya malah bermesraan dan melupakan keberadaan dirinya.
"Kenapa kamu malah menciumku di depan Shawn, kita jangan memperlihatkan kemesraan di depan Shawn, apalagi anak kita masih terlalu kecil."
"Tidak Sweetheart, justru kita harus memperlihatkan wujud cinta dan kasih sayang kita di depan Shawn. Aku ingin kelak dia bisa menjadi pria penyayang yang bisa menunjukkan perasaan cintanya pada seseorang yang dia cintai."
"Tapi kita harus memberinya pengertian, kalau setiap kemesraan yang dia lihat, hanya dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Aku takut dia meniru dan mempraktekannya pada seorang perempuan." Sall terkekeh menanggapi raut wajah Sanchia yang merengut seketika.
"Anak kita bahkan belum berusia 1 tahun, tapi kita sudah khawatir dengan kehidupan percintaannya kelak." Sall kembali terkekeh geli, berbeda dengan Sanchia yang mendengus kesal.
Tatapan mata Sanchia kini mengarah pada sang putra yang masih terlihat heran, setelah menyaksikan perdebatan kedua orangtuanya.
"Sayang, maaf ya.. Sini sama Mommy."
"Tidak apa Sweetheart, biar aku yang menggendong Shawn. Kamu lanjutkan saja sarapanmu, susu dan rotimu masih belum habis."
"Baiklah, terima kasih Daddy keren."
Sall terlihat sangat senang mendengar pujian Sanchia padanya, dia lalu mengajak Shawn berjalan-jalan di sekitar taman dengan tetap menggendong Shawn yang terlihat sangat bersemangat. Kini giliran Sanchia yang tidak henti mengulas senyumnya melihat interaksi diantara Sall dan Shawn, namun sesaat kemudian senyum bahagia itu berganti sedih saat pikirannya mulai teringat pada bayinya dalam kandungannya yang sudah pergi.
Sanchia tahu, selama ini bukan cuma dirinya yang merasa sedih karena kehilangan anak dalam kandungannya, tapi juga Sall, meskipun Sall seringkali menutupi kesedihannya dari Sanchia. Sanchia seringkali melihat Sall diam-diam memandangi photo hasil USG Sanchia di layar ponselnya. Namun setiap kali Sanchia menghampirinya, Sall akan langsung menyembunyikannya, dan memasang wajah ceria, seolah semua baik-baik saja.
'Ya Allah.. Aku begitu bersyukur karena Engkau menghadirkan malaikat kecil yang tampan dan selalu menjadi sumber kebahagiaan bagiku dan suamiku. Tapi aku mohon, berilah aku kesempatan untuk memiliki anak yang bisa aku kandung dan lahirkan dari rahimku sendiri. Aku mohon Ya Allah..Semoga Engkau berkenan mengabulkan doaku. Aamiin..' Doa Sanchia dalam hati.
Sekitar 10 menit kemudian, Sall kembali menghampiri Sanchia dan meletakkan Shawn dalam stroller-nya, karena Shawn terlihat mulai mengantuk.
"Sweetheart, lusa kita pulang ya. Pekerjaanku tidak bisa aku tinggal lebih lama lagi. Aku memiliki banyak jadwal pertemuan penting dan project-project yang harus aku tangani, Sweetheart."
"Iya Sweetheart.. Oh iya, siang nanti kita beli oleh-oleh juga ya, untuk kita bawa ke London."
"Baiklah Honey.. Kita masuk yuk, aku harus menyiapkan keperluan Shawn juga."
Sall tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, tangan kanannya merangkul mesra Sanchia, sementara tangan kirinya menggendong Shawn yang begitu nyaman menyandarkan tubuhnya di dada bidang Daddy-nya.
"Sanchia.."
Kedatangan seseorang yang tidak Sall dan Sanchia duga, cukup mengejutkan mereka. Sesosok laki-laki menyebalkan yang sempat membuat Sall terpancing emosi, kini berdiri dihadapannya, mungkin lebih tepatnya dihadapan Sanchia.
"Satya?" Satya mendekat ke arah Sanchia, menyisakan jarak sekitar 2 meter saja.
"Sanchia.. Aku minta maaf."
"Maaf untuk apa?" Sanchia bersikap seakan-akan tidak tahu, meskipun pikirannya sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan Satya saat ini.
"Perkataan burukku tentangmu, yang aku katakan pada Sall kemarin. Tolong beri aku waktu untuk berbicara denganmu berdua saja." Sanchia hendak menjawab, namun perkataan Sall membuat Sanchia mengurungkan niatnya.
"Hei Dude.. Aku suaminya, apa yang ingin kamu bicarakan berdua dengan istriku?"
"Aku juga sahabatnya, aku hanya meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan istrimu."
Sall dan Satya saling menghunuskan tatapan tajam, tentu hal ini membuat Sanchia khawatir kejadian kemarin akan terulang kembali. Apalagi Sall saat ini sedang menggendong Shawn, Sanchia tidak ingin ada keributan sekecil apapun itu.
"Honey, tolong izinkan aku berbicara dengan Satya ya."
Sall bukannya menjawab, tapi malah mengerutkan keningnya sebagai tanda protes dan tidak setuju dengan permintaan istrinya. Namun Sanchia justru mengulas senyum manisnya seraya mengelus lengan Sall dengan manja.
"Sebentar saja Honey.."
Helaan nafas panjang yang diikuti anggukkan kepala Sall, mengembangkan senyuman di wajah Sanchia. Sall terpaksa menyetujui permintaan istrinya, meskipun hatinya sangat tidak nyaman dengan keberadaan Satya.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight