
Sanchia mendorong stroller Shanaya, hendak pergi meninggalkan restaurant. Merasa sangat kesal dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Bukan hanya karena perempuan asing itu yang memeluk Sall tanpa malu, tapi reaksi Sall yang tidak langsung melerai pelukan perempuan itu, yang membuat Sanchia begitu marah dan kecewa.
"Sweetheart.. Mau kemana?" Sall mencekal tangan Sanchia yang kembali mendorong stroller Shanaya.
"Pergi, nafsu makanku sudah hilang." Emosi Sanchia semakin menjadi, karena perempuan itu kini berdiri di sebelah Sall, seraya menatap tidak suka ke arah Sanchia. Mendengar Sanchia menggunakan bahasa Indonesia, perempuan itu pun menggunakan bahasa Indonesia untuk bertanya pada Sanchia.
"Kamu siapa?" Mendengar pertanyaan perempuan itu, Sanchia bukannya menjawab, tapi memilih memandang wajah Sall yang terlihat khawatir padanya.
"She is my wife, get out of here! (Dia adalah istriku, enyahlah dari sini!)" Usir Sall dengan nada yang dalam, sekaligus tatapan tajam.
"Oh My God.. Perempuan ini istri kamu? Dia bahkan tidak secantik aku."
"Shut up your mouth, Jovanka! (Tutup mulutmu, Jovanka!)" Sall mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah perempuan bernama Jovanka itu. Sementara Sanchia berusaha menahan emosinya, meskipun sesungguhnya tangannya sudah gatal ingin mencakar wajah Jovanka. Tapi tatapan tamu restaurant, membuat Sanchia lebih mengontrol dirinya, apalagi beberapa diantaranya terlihat siap mengarahkan ponsel mereka ke arah Sanchia, Sall dan Jovanka.
"Sall, bisakah kita seperti dulu? Menghabiskan malam panas berdua.." Sanchia menatap nyalang ke arah Sall.
"Jovanka, jangan bicara sembarangan, kamu benar-benar mencari masalah denganku. Sweetheart, ayo kita pergi dari sini." Sall segera mendorong stroller Shanaya seraya menggenggam tangan Sanchia, menariknya pelan menuju meja cashier. Tapi cekalan tangan Jovanka, menahan Sanchia untuk menghentikan langkahnya.
"Meskipun kamu sudah menjadi istrinya, kamu harus tahu, kalau akulah perempuan pertama yang suamimu cintai." Sall melepas paksa tangan Jovanka yang mencekal kuat tangan Sanchia.
"Apa kamu sudah gila? Aku tidak pernah mencintaimu.. Dekat denganmu pun tidak."
"Sall.. Kita bahkan menghabiskan malam berdua, tapi kamu bilang tidak pernah mencintaiku?" Sanchia mengeluarkan dompetnya, lalu membayar bill makanan yang dipesannya, dan memilih pergi meninggalkan Sall dan Jovanka.
"Jovanka, kamu sedang menggali kuburanmu sendiri!" Perkataan Sall justru dibalas Jovanka dengan senyum puas tanpa rasa takut.
"Sweetheart, tunggu.." Sall mengejar langkah Sanchia, namun tetap mendorong stroller Shanaya dengan lembut. Tidak ingin membangunkan bayi perempuannya yang begitu lelap tertidur, tanpa terganggu keributan disekitarnya.
Sanchia memandang keluar melalui jendela mobil, menghindari tatapan Sall yang terus mengarah padanya. Sall yang duduk berdua dengan Sanchia di kursi penumpang, tampak menggendong Shanaya yang masih saja lelap dalam kehangatan dekapan sang Daddy.
Sampai mobil tiba di mansion pun, Sanchia masih belum mau membuka mulutnya untuk menanggapi panggilan Sall padanya. Sanchia memilih turun dari mobil dan langsung menuju kamarnya. Bahkan Sanchia mengabaikan Leon, Leroy, Leticia dan Leandra yang berada di ruang keluarga setelah menemani Shawn bermain, sebelum Shawn tidur siang saat ini.
Pandangan mata Leon, Leroy, Leticia, dan Leandra kini mengarah pada Sall yang muncul sambil menggendong Shanaya dengan sangat hati-hati. Ekspresi Sall terlihat suram, tidak jauh lebih baik dari ekspresi Sanchia sebelumnya.
"Ada apa? Kenapa Sanchia pulang dengan wajah kesal begitu?" Tanya Leon mewakili rasa ingin tahu tiga orang disebelahnya.
"Ada orang gila yang membuat Sanchia marah padaku." Jawab Sall datar, namun raut wajahnya tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Orang gila? Siapa yang kamu maksud?" Kali ini Leroy tampak sudah tidak sabar mendengar jawaban Sall.
"Jovanka, perempuan gila itu tiba-tiba muncul dihadapanku, dan berbicara sembarangan pada Sanchia." Bukan hanya Leon dan Leroy yang terkejut, tapi Leticia dan Leandra pun merasakan hal yang sama.
"Leon, cari tahu keberadaan perempuan gila itu. Jika masalahku dan Sanchia tidak selesai, maka aku akan membuat perempuan gila itu menyesal." Sall berjalan menuju kamar, tanpa menunggu jawaban dari Leon. Sementara Leon dan Leroy saling berpandangan, merasa heran dengan situasi yang tidak mereka sangka. Seseorang yang bahkan sudah tidak mereka temui hampir 10 tahun lamanya, tiba-tiba muncul di Indonesia.
*************************
Setelah menidurkan Shanaya di kamarnya, dan meminta dua orang babysitter menjaga bayi perempuannya itu, Sall segera masuk ke dalam kamarnya. Terdengar bunyi gemericik air dari kamar mandi, Sall berpikir Sanchia mungkin sedang mandi, sehingga Sall memutuskan untuk membawa pakaian ganti dan mandi di kamar lain.
Sekembalinya ke kamar dalam keadaan tubuh yang lebih segar setelah mandi, Sall tidak mendapati istrinya disana. Begitupun saat Sall mencari ke kamar Shawn dan Shanaya, Sanchia juga tidak ada disana. Akhirnya Sall mencari keberadaan Sanchia melalui pantauan camera CCTV di tab-nya.
Nafas lega Sall terdengar jelas, saat netranya menemukan sosok Sanchia yang terlihat sedang duduk di pinggir kolam renang indoor yang ada di lantai 1. Sall paham, pasti saat ini Sanchia sedang memikirkan kejadian di restaurant tadi, tapi Sall tidak ingin Sanchia marah terlalu lama dan salah paham pada dirinya. Sehingga Sall segera menyusul istrinya ke kolam renang dengan langkah lebarnya.
Langkah Sall yang begitu semangat, tiba-tiba terhenti, karena pintu ruangan kolam renang indoor itu dikunci Sanchia dari dalam. Bahkan pantauan camera CCTV yang memperlihatkan keadaan Sanchia pun sudah berubah gelap. Tanda Sanchia sudah menutupi camera CCTV yang berada di kolam renang itu dengan sesuatu.
Sall hampir saja memanggil anak buahnya untuk membuka pintu ruang kolam renang itu secara paksa, namun isi pesan Sanchia seketika mengurungkan niatnya.
My Love
Berikan aku waktu, sebentar saja.. Jangan katakan dan jelaskan apapun, aku hanya ingin sendiri.
Sall memukul dinding disebelahnya, dirinya begitu kesal, karena kehadiran Jovanka sudah berhasil membuat Sanchia salah paham. Meskipun Sanchia ingin sendiri, tapi Sall tidak berniat mengabulkan permintaan istrinya itu. Sall benar-benar tidak ingin Sanchia larut dalam pikirannya sendiri, yang pastinya berpikir macam-macam. Jadi Sall berusaha terus menerus menelepon Sanchia, meskipun terus menerus ditolak oleh Sanchia.
Drrrtt.. Drrtt.. Drrtt..
Sanchia membuka matanya, dan langsung mengangkat panggilan masuk dari Nieva, adiknya.
"Kakak.. Tolong kami. Nick dan anak buahnya menggeledah mansion. Dia mencari keberadaan Shawn, karena sudah mengetahui kalau Kendra bekerja pada Kevin. Semua pengawal di mansion, sudah dikalahkan oleh anak buah Nick. Anak buah Nick sangat banyak Kak." Sanchia membelalakan matanya mendengar penjelasan Nieva, yang terdengar berbisik itu.
"Kamu dimana?" Tanya Sanchia khawatir.
"Aku di kamar Keiva. Tadi Nick mengantar aku dan Kevin pulang dari Rumah Sakit, tapi ternyata itu hanya akal bulusnya saja untuk menemukan Kendra dan Shawn. Tapi Kendra sedang berada di markas besar. Aku langsung menuju kamar Keiva, tapi ternyata Nick langsung menyandera Kevin, Mama dan Pa.."
Dug..Dug..Dug..
Sanchia semakin khawatir karena Nieva begitu panik mendengar gedoran yang sangat keras di pintu kamar Keiva, sementara Nieva sendiri memeluk bayinya semakin erat. Raut panik disertai keringat dingin terlihat jelas di wajah Nieva.
"Tolong kami Kak.."
Brug..Brug..Brug..
Sanchia segera berlari menuju pintu dan membuka kunci dengan sangat terburu-buru. Sall yang melihat Sanchia keluar dari kolam renang indoor, tampak sedikit lega. Namun raut lega itu seketika berubah penuh tanya melihat Sanchia yang berlari kencang menuju kamarnya.
"Sweetheart..Ada apa?" Sall menahan langkah Sanchia dengan mencekal tangannya di depan ruang keluarga, dimana Leon, Leroy, Leticia dan Leandra masih mengobrol disana.
"Tolong siapkan anak buahmu juga anggota Ble Asteri, mansion Nieva diserang Nick dan anak buahnya." Tanpa menunggu respon Sall, Sanchia melerai cekalan tangan Sall, lalu kembali berlari menuju kamar.
Leon, Leroy, Leticia dan Leandra berdiri dari duduknya, mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar dari mulut Sanchia. Sall langsung menelepon Kendra dan memberitahukan apa yang sedang terjadi. Kendra dan anggota klan Ble Asteri segera bergerak menuju mansion Nieva dan Kevin. Leroy pun segera mengumpulkan beberapa puluh anggota klan Toddestern untuk melakukan misi penyelamatan, tapi tidak lupa memperketat penjagaan di mansion Sall dan Sanchia, terlebih ada Shawn dan Shanaya yang harus mereka pastikan keselamatannya.
Selang beberapa menit kemudian, Sall, Sanchia, Leon, Leroy dan Leandra sudah berkumpul ruang tamu lantai 1 setelah berganti pakaian dan membawa peralatan untuk bertempur. Leticia menggenggam tangan Leandra, mengkhawatirkan adiknya serta sahabat-sahabat barunya yang hendak melakukan misi kali ini. Dia begitu kecewa karena tidak bisa ikut bergabung dengan mereka, padahal melawan Nick adalah moment yang sangat dia tunggu selama ini.
"Maafkan aku karena tidak bisa bergabung dengan kalian. Apa ada yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian?"
"It's okay..Kamu cukup doakan kami berhasil." Jawab Leroy seraya mengelus bahu Leticia.
"Ayo cepat kita berangkat." Sall berusaha menggenggam tangan Sanchia, namun Sanchia justru berjalan meninggalkan Sall menuju halaman mansion.
Leon dan Leandra menyusul mengikuti langkah Sall dibelakang Sanchia. Namun saat Leroy akan mengikuti mereka, Leticia menarik ujung jaket Leroy, sehingga menghentikan langkahnya.
"Apa tadi aku tidak salah dengar. Apa benar Nyonya Sanchia meminta Tuan Sall untuk menghubungi anggota klan Ble Asteri? Aku dengar pendiri sekaligus ketua pertamanya adalah seorang wanita, namun saat ini sudah digantikan adik iparnya. Aku sering mendengar kehebatan ketua mafia perempuan itu, bahkan sejak beberapa tahun yang lalu. Aku begitu penasaran ingin melihat dan bertemu dengan perempuan itu."
"Kamu sudah bertemu dengannya.. Dia adalah Sanchia Arelia Knight.."
Leticia membelalakan matanya berusaha mencerna perkataan Leroy, sebelum akhirnya teriakan Leon yang memanggil Leroy, membuat Leticia tersadar dari keterkejutannya.
***********************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight