The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 53 Fake Bestfriend



2 hari sejak pertemuan Sanchia dengan Dhiany sahabat masa SMA-nya, Sanchia menerima ajakan Dhiany untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kawasan wisata Ossuloc Tea Museum yang terkenal di Pulau Jeju. Sall yang sedang sibuk mengurus group perusahaannya dari jarak jauh, terpaksa mengizinkan Sanchia untuk berjalan-jalan tanpanya. Namun Sall tetap mengutus sekitar 20 orang anak buahnya untuk mengawasi Sanchia dari kejauhan.


Terlihat Sanchia dan Dhiany sedang mengobrol sambil menikmati secangkir tah hijau di sebuah café yang terdapat di area museum. Keduanya tampak senang, karena sesekali senyum dan tawa mereka pecah saat mengenang cerita-cerita di saat mereka sekolah dulu.


“Dulu kamu selalu mengenakan kacamata berbentuk bulat dan sengaja membiarkan rambut panjangmu berantakan, untuk menyamarkan kecantikan kamu. Tapi semua teman laki-laki kita seolah tidak bisa dibohongi hanya dengan sebuah kacamata dan rambut berantakanmu itu.”


Lagi-lagi tawa Sanchia lepas tanpa bisa ditahannya, saat mengingat tingkah konyolnya di masa lalu. Tapi semua yang Sanchia lakukan, memang untuk menghindari perhatian kaum adam yang selalu saja mengerubunginya sejak dia pindah ke Indonesia dari Spanyol di usianya yang menginjak 15 tahun.


“Kamu tahu kan kalau aku tidak suka, jika ada banyak laki-laki yang mendekatiku. Terlebih sikap mereka begitu agresif, sehingga membuatku sangat tidak nyaman.”


“Ah apa benar kamu tidak menyukainya? Aku lihat kamu sangat menikmati, saat semua laki-laki memujimu dan memberimu banyak hadiah, hahaha..”


Sanchia mengernyitkan keningnya, begitu mendengar komentar Dhiany yang terdengar mengejek di balik candaannya. Namun Sanchia berusaha untuk menyembunyikan rasa tersinggungnya di balik senyuman manisnya yang hangat.


“Kalau aku menikmatinya, mungkin aku sudah menerima semua bentuk perhatian mereka, dari mulai surat-surat cinta, hadiah bahkan pernyataan cinta mereka yang ekstrim.”


“Hahaha... Aku sahabatmu Sanchia, aku tahu kamu menyukai perlakuan mereka yang selalu menyanjungmu, lalu kenapa sekarang kamu bilang kalau kamu tidak nyaman dengan perlakuan mereka. Aku tahu, saat itu kamu bahkan sempat dekat dengan Shuga, Davis dan  Ezra.”


Tiba-tiba raut muka Sanchia, berubah kesal dan muram, sedangkan Dhiany sama sekali tidak terpengaruh dengan raut muka yang ditunjukan oleh Sanchia. Dia terus saja tertawa, seolah apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang sangat lucu.


“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa aku pernah dekat dengan Shuga, Davis dan Ezra? Aku bahkan tidak pernah bercerita apapun padamu. Dan mereka tidak pernah menunjukan perasaan mereka secara terang-terangan di hadapan orang lain.”


Seolah baru menyadari sesuatu, tiba-tiba Dhiany menghentikan tawanya. Bahkan senyum tipis pun tidak lagi tersisa di wajahnya yang cantik itu.


“Aku hanya menebak saja, lagipula meskipun kamu bilang kalau mereka berdua tidak pernah menunjukan perasaan mereka secara terang-terangan, tetapi aku tahu kalau mereka berdua memang menyukaimu.”


“Sudah Dhiany, berhenti membahas hal yang tidak penting.Aku benar-benar tidak menyukainya.”


“Oke..oke.. Maafkan aku, aku tidak akan membahasnya lagi Sanchia.”


Perkataan Dhiany yang diakhiri seringai tipis, ternyata sempat ditangkap oleh netra tajam Sanchia. Seketika Sanchia mengulas senyum tipis penuh arti, menyembunyikan sebuah rahasia yang Dhiany tidak sadari.


************************


Sall menyambut kedatangan Sanchia yang baru saja turun dari mobil sport merahnya. Rentangan tangan Sall langsung merengkuh tubuh Sanchia yang seketika merangsek masuk ke dalam dekapan dada bidang Sall.


“Kenapa lama sekali Sweetheart?”


“Maaf Honey, tadi aku dan Dhiany terlalu asyik mengenang masa SMA kami, sampai lupa waktu.”


Sall menangkap raut wajah sendu di wajah Sanchia, sehingga Sall yakin pertemuan Sanchia dan Dhiany tidak semenyenangkan yang Sanchia katakan.


Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna pink masuk ke halaman villa, diikuti beberapa mobil yang ditumpangi 20 orang anak buah Sall yang mengawal Sanchia sejak pagi tadi. Alangkah terkejutnya Sanchia juga Sall, saat melihat Dhiany keluar dari mobil sport berwarna pink di hadapan mereka.


Sall seketika mengarahkan  tatapan tajamnya ke semua anak buahnya yang baru saja keluar dari mobil mereka masing-masing. Seolah meminta penjelasan sekaligus memberikan peringatan, kenapa bisa Dhiany mengikuti Sanchia bahkan diizinkan masuk ke dalam villa Tapi semua anak buah Sall, hanya saling berpandangan dan tidak mengetahui letak kesalahan mereka dimana. Karena mereka pikir, Dhiany adalah sahabat Sanchia, dan dia  mengikuti mobil Sanchia atas izin Sanchia sendiri. Sehingga yang mereka lakukan adalah mengawal mobil Sanchia juga mobil Dhiany sampai tiba di villa dengan selamat.


"Hmm, Dhiany.. Bagaimana kamu bisa ada disini? Bukankah kamu tadi hendak pulang ke apartemenmu?"


"Aku berubah pikiran Sanchia, aku pikir di apartemen pun aku hanya sendirian. Aku memutuskan untuk menginap di villa indahmu ini Sanchia, kamu tidak keberatan kan?"


Sanchia membulatkan matanya mendengar perkataan Dhiany yang terlalu percaya diri itu. Sesaat kemudian Sanchia menatap wajah Sall seolah meminta pendapat, namun Sall langsung menajamkan matanya, berusaha menunjukan pada Sanchia, kalau Sall keberatan jika Dhiany menginap di villa mereka. Dhiany yang menyadari tatapan keberatan dari Sall, mendekatkan tubuhnya tepat di hadapan Sall, sehingga refleks membuat Sall memundurkan tubuhnya.


"Tuan Sall.. Aku adalah sahabat terbaik istrimu, bagaimana bisa kamu tidak mengizinkanku menginap di villa kalian? Lagipula, aku begitu merindukan sahabat terbaikku ini Tuan Sall."


Sejujurnya Sall sangat keberatan mengizinkan Dhiany untuk menginap di villa-nya, sehingga Sall lebih memilih masuk ke dalam villa, setelah memberikan tatapan memperingatkan ke arah istrinya.


*************************


Makan malam kali ini terasa sangat tidak menyenangkan untuk Sall, meja makan berbentuk oval yang hanya berisi Sall, Sanchia dan Dhiany pun begitu sepi. Hanya terdengar denting pisau, garpu dan piring yang saling bersahutan. Penampilan Sall dan Sanchia yang terlihat sangat simple dengan pakaian santai mereka, sedikit kontras dengan gaun malam yang dikenakan Dhiany malam ini. Tampaknya Dhiany sudah menyiapkan gaun terbaiknya untuk makan malam kali ini, terlebih potongan gaun berbelahan dada rendah yang dipakainya seolah menantang Sall yang duduk tepat di hadapan Dhiany, dengan Sanchia duduk disebelahnya.


"Sanchia, aku tidak menyangka kamu akan menikah dengan Tuan Sall, aku pikir kamu akan menikah dengan salah satu pacarmu saat SMA."


Sall mengerutkan keningnya menatap Dhiany yang terlihat mengulas senyum super manisnya, namun sesaat kemudian, tatapan Sall sudah beralih ke wajah Sanchia. Tatapan yang  mengintimidasi itu jelas menunjukan rasa marah yang dirasakan Sall saat ini. Sanchia memang khawatir dengan reaksi Sall, namun yang dirasakannya saat ini adalah rasa kesal terhadap Dhiany yang seolah sengaja memancing kemarahan Sall pada Sanchia.


"Dhiany, bukankah sudah aku katakan, kalau aku tidak pernah dekat dengan siapapun, apalagi sampai berpacaran."


"Oh maafkan aku, mungkin aku cukup menyebutnya teman tapi mesra ya. Karena tidak pas rasanya kalau hanya dibilang teman, hahaha.."


Tawa Dhiany kembali pecah, dielusnya tangan Sanchia yang berada di atas meja dengan sangat lembut.


"Maafkan aku Sanchia, aku sungguh tidak berniat membuatmu marah. Jangan terlalu dianggap serius, aku kan hanya bercanda."


Sanchia mengalihkan wajahnya ke arah lain, karena rasa muak yang menyeruak pada Dhiany yang semakin menyebalkan. Sementara Sall mulai merasakan cemburu, karena mendengar apa yang dikatakan Dhiany tentang Sanchia.


Tiba-tiba seorang pelayan muncul dan menghampiri Sanchia yang baru saja menyelesaikan makan malamnya.


"Nyonya Sanchia, maaf ada telpon dari Tuan besar di Indonesia. Apa anda akan menerimanya disini?"


"Saya akan terima telponnya di kamar saja."


"Baik Nyonya."


"Honey, aku terima telepon dari Papa dulu ya."


Sall mengangguk pelan dengan memandang Sanchia dengan tatapan datarnya, sesungguhnya saat ini Sall merasa sangat cemburu dan ingin memberikan Sanchia pertanyaan-pertanyaan yang akan memuaskan rasa ingin tahunya. Tapi Sall harus menahannya, sampai nanti mereka berdua kembali ke kamar tidur mereka.


Setelah Sanchia pergi ke kamarnya, Dhiany mulai melancarkan aksinya untuk mencuci otak dan menggoda Sall dengan penampilannya yang sangat terbuka.


"Hmm, Tuan Sall, anda sangat beruntung memiliki istri yang merupakan primadona sekolah. Dulu banyak sekali yang menyukai Sanchia, karena Sanchia sangat ramah dan cantik sekali. Dia tidak pernah tega menolak laki-laki yang mendekatinya, sehingga semua laki-laki itu diterima Sanchia sebagai pacarnya. Tentunya Sanchia harus bisa membagi waktunya dengan semua pacar-pacarnya itu, hahaha.."


Emosi yang memuncak membuat Sall mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya, rasanya dia sudah tidak tahan ingin mencabik-cabik perempuan di hadapannya yang tidak berhenti menjelek-jelekkan Sanchia, tapi di sisi lain Sall juga merasa sangat cemburu saat mendengar apa yang dia katakan Dhiany tentang istrinya itu.


Sall begitu penasaran dengan semua laki-laki yang disebut Dhiany pernah menjadi pacar Sanchia, karena selama ini Sanchia mengatakan kalau dia tidak pernah berpacaran sekalipun, sebelum akhirnya bertemu dan menikah dengan Sall.


Dhiany memutari meja makan, lalu membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sall, yang terlihat begitu tidak suka dengan kelakuan Dhiany.


"Tuan Sall, jangan bilang kalau selama ini anda sudah dibohongi oleh Sanchia. Dia tidak sepolos dan sebaik yang anda kira."


Dhiany hendak menyentuh pipi Sall, namun Sall segera mencengkeram tangan Dhiany, dan menghempaskannya begitu kasar. Sall menunjukan seringai menakutkannya seraya menatap tajam netra Dhiany, yang kini berubah ketakutan.


"Pergi dari sini, jangan tunjukkan wajahmu di hadapan istriku lagi!"


Namun seolah belum menyerah, Dhiany kini mendaratkan tubuhnya di atas pangkuan Sall dan melingkarkan tangannya di leher Sall dengan sangat posesif. Tentu saja Sall berusaha melepaskan diri dari jebakan Dhiany, yang akan membuat Sanchia salah paham. Namun semuanya terlambat, karena mata jernih Sanchia kini sudah terbelalak sempurna, melihat pemandangan menyesakan di hadapannya.


"Teganya kamu, Sall.." Lirih Sanchia, dengan air mata yang mulai mengalir di pipi ranumnya. Lagi-lagi hormon kehamilannya lebih mendominasi, sehingga Sanchia yang semakin sensitif, tidak mampu mengendalikan perasaan dan akal sehatnya.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Pada kangen ga nih sama aku, eh cerita ini, hihi.. Maaf banget ya, aku baru bisa up lagi.


Nah kan bahaya nih Dhiany.. Tapi sebenarnya masih ada kaitannya nih sama klan yang mengancam Sanchia.


Penasaran ga nih, sama apa yang bakal dilakuin Sanchia selanjutnya? Kalau iya, tunggu di next part ya 😆


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight