The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 70 Anugerah Tidak Terduga



MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA


Bunyi gemericik air hujan yang jatuh, menyapa telinga Sanchia yang baru terjaga dari tidurnya yang sangat lelap. Dinginnya udara kota Bandung, seolah membuai Sanchia, untuk tetap memejamkan matanya dan membenamkan tubuhnya dalam dekapan dada dan tangan kekar Sall, sang suami.


Sudah hari ke-2 sejak kepulangan Sanchia dan Sall ke Bandung, namun cuaca yang seringkali hujan membuat Sall dan Sanchia seolah begitu malas untuk keluar dari mansion mereka. Padahal begitu banyak jadwal penting yang harus mereka lakukan, terutama terkait pengurusan dokumen untuk kepindahan Sanchia ke Inggris bulan depan.


Untung saja Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan juga Kevin langsung mengunjungi Sall dan Sanchia setibanya Sall dan Sanchia di Bandung. Karena mereka begitu merindukan Sall dan Sanchia yang begitu lama menunda kepulangan dari Jeju dan malah pulang ke Bali terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke Bandung.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Ponsel Sall yang berbunyi di atas nakas, terpaksa membuat Sanchia melepaskan pelukan suaminya, dan mengambil ponsel milik Sall. Sebuah panggilan masuk dari Kevin, langsung diangkat oleh Sanchia, tanpe menyerahkannya pada Sall yang saat ini masih bergelung dengan selimut tebalnya.


“Iya Kevin, ada apa?”


“Sanchia, Sall ada? Ada hal yang harus aku diskusikan dengan Sall.”


“Sall masih tidur Kevin, nanti aku suruh Sall untuk menelpon balik ya, kalau dia sudah bangun.”


“Baiklah, thanks ya Sanchia.”


“Ok,sama-sama Kevin. Oh iya, apa Nieva ada Kev?”


“Nieva sedang di kamar mandi. Nanti kalau sudah keluar dari kamar mandi, aku minta Nieva untuk menelponmu ya.”


“Siiip.. Thanks Kevin.”


“Sama-sama Sanchia.”


***************************


Hujan yang deras mengguyur sejak malam tadi, kini sudah berganti cerahnya matahari yang bergerak naik menghiasi langit. Sall baru selesai berganti baju di ruang walk in closet, saat Sanchia memasuki kamar mereka setelah menyiapkan sarapan di ruang makan. Seketika Sanchia menghambur ke pelukan Sall, karena mencium aroma segar sekaligus maskulin dari tubuh Sall.


“Aku selalu senang, setiap kali kamu memelukku. Tampaknya aku harus banyak berterima kasih pada baby kita yang selalu ingin Mommy-nya dekat-dekat dengan Daddy-nya.”


Sanchia terkekeh geli mendengar apa yang dikatakan Sall padanya. Sesungguhnya Sanchia pun tidak mengerti, kenapa semenjak hamil, dia menjadi lebih manja dan senang memeluk dan menciumi aroma tubuh Sall. Tenttu saja Sall sangat tidak keberatan dengan kebiasaan baru istrinya itu. karena hal itu, termasuk kegiatan favoritnya, bahkan sejak awal mereka menikah.


"Oh iya Honey, tadi ada Kevin menelpon, sebaiknya kamu telepon balik, sepertinya ada hal penting."


"Tadi Kevin sudah menelepon lagi, aku juga bangun karena dia terus saja menelepon sampai aku kesal."


"Memangnya ada urusan apa, sampai Kevin terus menerus meneleponmu?"


"Setelah dari Bali, Bry dan Vara kan langsung berangkat ke Raja Ampat. Nah setelah mereka pulang, Kevin berencana mengadakan party sebelum Bry dan Vara berangkat ke Inggris. Kita akan bergabung kan Sweetheart?"


"Tentu saja mereka adalah sahabat baik kita, apalagi nanti kita akan pindah ke Inggris juga. Mungkin disana nanti, kita bisa saling mengunjungi."


"Iya kamu benar Sweetheart."


Tiba-tiba ekspresi bahagia di wajah Sanchia, berganti menjadi ekspresi ragu dan sedikit khawatir.


“Hmm, Honey.. Maukah kamu mengantarku ke suatu tempat? Tadi aku sudah meminta Nieva, tapi dia tidak bisa menemaniku karena ada jadwal kelas ibu hamil."


“Memangnya kenapa? Apa ada yang kamu inginkan?”


“Tiba-tiba aku ingin makan baso cuanki dan bajigur.”


“Hah? Makanan apa itu? Sweetheart, kamu jangan aneh-aneh deh, sering sekali kamu meminta jajanan pinggir jalan. Makanan itu tidak baik untuk tubuh kamu dan anak kita.”


“Tapi anakmu yang menginginkannya.”


“Sweetheart, baby kita masih berupa janin. Mana mungkin dia tahu seperti apa makanan yang kamu sebutkan tadi. Pokoknya kali ini aku tidak mau menuruti permintaan kamu.”


“Makanan itu sehat kok. Lagipula dijual di tempat yang bersih dan nyaman. Coba kita kesana dulu, kamu juga pasti menyukainya.”


“Pokoknya tidak.. Aku tidak akan menuruti apa yang kamu mau untuk kali ini.”


“Jadi kamu tidak apa-apa, jika anak kita ileran?”


“Kenapa sih kamu selalu mengatakan anak kita bisa ileran, kalau aku tidak menuruti mau kamu?”


“Tapi memang seperti itu kenyataannya Honey. Kalau mengidamnya ibu hamil tidak dituruti, katanya anaknya nanti ileran saat lahir.”


“Sweetheart..Kamu benar-benar menyebalkan sekali.”


Sall meninggalkan Sanchia untuk masuk ke ruang walk in closet, lalu keluar dengan membawa dua buah cardigan untuknya dan juga untuk Sanchia.


"Baiklah, tapi kita sarapan dulu ya."


Sanchia menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah Sall yang menarik pelan tangannya menuju ruang makan.


*************************


Sepulang dari makan baso cuanki dan bajigur di sebuah kedai tempo dulu yang klasik, ternyata Sanchia masih enggan menuruti keinginan Sall untuk pulang ke mansion. Sanchia malah memesan sekitar 100 box makanan dari restaurant favoritnya, membeli banyak mainan juga perlengkapan sekolah. Sedangkan Sall yang sudah paham maksud istrinya itu, begitu sigap membantu dan memasukan semua barang-barang itu ke mobilnya, juga mobil anak buahnya yang selalu siaga mengawal mereka kemanapun.


Sekitar beberapa puluh menit kemudian, Sall dan Sanchia tiba di sebuah bangunan Panti Asuhan yang terlihat tua dan kurang terurus, yang berlokasi di pinggir kota Bandung.


Kedatangan Sanchia yang baru turun dari mobil, langsung disambut sukacita oleh anak-anak Panti yang menghambur memeluk Sanchia tanpa ragu. Sall yang melihat kedekatan Sanchia dengan anak-anak itu, tersenyum bahagia. Sall meyakini kalau istrinya itu sering datang ke Panti, sehingga anak-anak itu terlihat begitu dekat dengan Sanchia.


"Kakak kemana saja? Sudah lama sekali, kakak tidak datang kesini. Aku kangen Kakak."


Seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun, terlihat menggelayut manja di lengan Sanchia. Sall mendekat menghampiri Sanchia yang dikerubungi anak-anak berusia 2-15 tahun itu, dengan senyuman tulusnya. Tentu saja keberadaan Sall mengundang tanya anak-anak itu, sekaligus mengundang kekaguman melihat Sall yang begitu gagah dan juga tampan.


"Maafkan Kakak, Kakak sedikit sibuk dengan pernikahan Kakak. Kenalkan ini suami Kakak, panggil saja Kak Sall."


"Hallo Kak Saaaallll.."


"Hallo.." Sall melambaikan tangannya ke arah anak-anak yang terlihat sangat antusias itu, tidak lupa memasang senyuman selebar mungkin.


"Suami Kakak sangat tampan, cocok sekali dengan Kakak yang sangat cantik dan baik hati. Pasti nanti anaknya akan secantik dan setampan kalian." Kata seorang gadis remaja berusia sekitar 14 tahun. Anak-anak lain pun terlihat setuju, karena memberikan komentar yang serupa dengan anak tadi.


Sall merangkul bahu Sanchia dengan sebelah tangan mengelus lembut perut Sanchia yang mulai membuncit.


"Kakak kalian ini memang sedang mengandung anakku. Doakan ya semoga kehamilannya lancar dan sehat."


"Wah selamat ya Kakak, semoga baby-nya selalu sehat dan sempurna lahir dan batinnya."


"Aamiin Ya Rabbal'alamiin.." Sahut Sall dan Sanchia bersamaan.


"Selamat Kakaaaakk.."


Ucapan selamat dan doa silih berganti terucap dari anak-anak itu. Suara berisik anak-anak di luar, mengundang rasa penasaran seorang perempuan paruh baya berkerudung putih yang dikenal sebagai Ibu Panti. Sesaat kemudian Ibu Panti keluar dengan ekspresi penasaran.


"Eh ada Nak Sanchia ternyata, pantas saja anak-anak begitu ramai. Sudah lama sekali tidak kesini, Alhamdulillah kamu terlihat sehat dan semakin berisi."


"Apa kabar Bu?" Sanchia menyalami dan memeluk Ibu Panti, diikuti Sall yang juga ikut menyalami Ibu Panti.


"Ibu baik-baik saja Nak..Siapa ini?"


Sanchia tersenyum menyadari arah pandang Ibu Panti yang terarah pada Sall yang masih merangkul bahunya dengan lembut. Namun sebelum Sanchia menjawab pertanyaan Ibu Panti, anak-anak Panti sudah terlebih dahulu menjawab rasa penasaran Ibu Panti.


"Suami Kakak Sanchia, Buuuu.." Sall dan Sanchia tertawa melihat anak-anak Panti yang terlihat senang dan bersemangat.


"Jadi ini suamimu Nak? Wah selamat ya Nak, atas pernikahanmu. Suamimu terlihat gagah dan tampan, sangat cocok menjadi pelindung kamu Nak.."


"Terima kasih banyak ya Ibu." Jawab Sanchia dengan senyum tulusnya.


Lagi-lagi hati Sall menghangat mendengar komentar positif dari para penghuni Panti Asuhan ini.


"Doakan kami selalu ya Bu." Kata Sall.


"Pasti Nak, semoga kalian berdua selalu sehat, panjang umur, pernikahan kalian selalu bahagia, semakin sukses, banyak rezeki, dan selalu ada dalam perlindungan dan keberkahan Allah.."


"Aamiiiiiiinn.."


Semua anak panti meng-Aamiinkan doa terbaik dari Ibu Panti dengan sangat semangat dan antusias. Sall dan Sanchia tampak terharu dengan respon anak-anak panti yang begitu hangat.


Sanchia, Sall juga Ibu Panti memandang mereka dengan senyum hangat dan rasa syukur yang begitu dalam.


Ibu Panti mengajak Sall dan Sanchia untuk masuk ke dalam ruangannya dan meminta salah satu anak panti untuk membawakan air minum.


"Terima kasih Nak, selalu membuat mereka tersenyum di setiap kedatanganmu. Mereka begitu merindukan kamu dan sering menanyakan kapan kamu akan datang. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kamu datang kesini."


"Iya Bu, maafkan saya. Karena beberapa bulan ini begitu sibuk dengan beberapa urusan dan juga pernikahan saya. Apalagi sekarang saya sedang hamil."


"Wah kabar bahagia lagi. Selamat ya Nak, yang penting kandunganmu sehat, dan kalian juga selalu sehat dan bahagia dimana pun kalian berada."


"Aamiin Bu.." Jawab Sall dan Sanchia bersamaan.


Anak yang tadi diminta membawakan air minum, kini sudah datang membawakan air minum dan sepiring pisang goreng dan singkong goreng.


"Maaf Kak Sanchia, hanya ada ini di dapur."


"Tidak apa-apa Jani, Kakak sangat suka pisang dan singkong goreng, terima kasih banyak ya." Gadis kecil yang dikenal Sanchia bernama Jani itu, kembali masuk setelah mengangguk dan tersenyum senang ke arah Sanchia, Sall juga Ibu Panti.


"Maaf Nak Sanchia dan Nak Sall, hanya ini yang dapat kami sediakan. Itu hasil berkebun anak-anak."


"Iya tidak apa-apa Bu. Saya sudah lama tidak makan pisang goreng dan singkong goreng, saya sangat suka Bu. Sall juga pasti akan menyukainya."


Lirik Sanchia pada Sall yang saat ini sedang memandang aneh ke arah piring dihadapannya.


"Oh iya Bu, saya lihat beberapa bagian bangunan ada yang rusak, dan atapnya terlihat bolong. Belum ada rencana di renovasi Bu?"


"Tidak ada biayanya Nak, donatur tetap kami hanya kamu Nak, bantuan pun semakin berkurang selama beberapa bulan ini. Jadi tidak ada biaya untuk renovasi, bahkan untuk biaya hidup pun, anak-anak terkadang berjualan jajanan di pinggir jalan."


"Ya ampun, maafkan saya Bu, karena berbulan-bulan tidak datang memberikan bantuan."


Sall tiba-tiba menggenggam tangan Sanchia, membuat Sanchia menolehkan kepalanya ke arah Sall.


"Izinkan aku bicara Sweetheart." Lirih Sall.


Sanchia hanya menganggukkan kepalanya, diikuti senyum manis di wajah Sall.


"Bu, saya berniat membiayai semua biaya renovasi panti ini, apakah boleh?"


"Benarkah Nak?"


"Tentu saja Bu.. Dan apakah saya boleh mengubah design bangunannya?"


"Lakukan saja Nak, kamu boleh mengubah desainnya. Ibu sangat bersyukur, akhirnya ada orang-orang baik seperti kalian yang begitu peduli pada nasib panti ini."


Ibu Panti terlihat mengusap tetesan air matanya dengan punggung tangannya.


"Ibu tidak perlu khawatir ya, kami akan mendesain ulang bangunan ini, lalu merenovasinya sampai selesai." Kata Sall dengan tatapan teduhnya.


Binar bahagia benar-benar tidak dapat disembunyikan Ibu Panti, dibalik air matanya yang terus mengalir. Sanchia menggenggam erat tangan Ibu Panti dengan kedua tangannya.


"Ibu juga tidak perlu khawatir, karena kami akan mencukupi kebutuhan panti setiap bulannya. Apa yang anak-anak butuhkan saat ini, tolong di-list, kami akan memberikan semua yang mereka butuhkan."


"Terima kasih banyak Nak."


Ibu Panti seketika memeluk Sanchia penuh rasa syukur. Rasanya beban berat di pundak Ibu Panti terlepas begitu saja.


Tiba-tiba Jani kembali datang dengan menggendong seorang bayi yang sedang menangis, membuat Sall, Sanchia dan Ibu Panti menolehkan kepala ke arah Jani. Ibu Panti mengusap air matanya dengan ujung kerudung putihnya.


"Kenapa Jani?"


"Maaf Bu, Dede Bayinya tidak mau berhenti menangis, susu sachetnya sudah habis."


Ibu Panti berniat mengambil alih bayi tersebut, namun Sanchia yang terlihat terpana saat melihat bayi itu, meminta izin untuk menggendong bayi tersebut pada Ibu Panti.


"Ibu biarkan saya yang menggendongnya ya."


Ibu Panti hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Sanchia mengambil alih bayi dari gendongan Jani, dan menggendongnya dengan posisi berdiri.


Sanchia menggendong seraya menggoyang-goyangkan bayi itu, sampai akhirnya tangisnya reda dan beralih memandang Sanchia dengan matanya yang indah.


Sall dan Sanchia tidak hentinya memandang bayi mungil tersebut dengan tatapan kagum. Bagaimana tidak, wajahnya yang sangat rupawan dengan kulit putih, hidung mancung dan bola mata biru begitu menarik perhatian siapapun yang memandangnya.


"Bayi laki-laki ini ditinggalkan di depan panti beberapa hari yang lalu. Entah siapa yang tega membuang bayi polos ini. Mungkin usianya baru sekitar 1 bulan, awalnya kami memberinya susu formula, namun karena keuangan kami semakin menipis, kami akhirnya hanya bisa memberinya susu balita sachet yang ada warung."


Penjelasan Ibu Panti membuat Sall dan Sanchia merasa begitu sedih. Terlebih melihat bayi itu yang terlihat sangat polos dan murni.


"Bu saat ini apa ada bayi lain di panti ini?"


"Hanya ada bayi ini, yang lainnya kebanyakan balita sampai remaja."


"Baiklah, nanti kami akan kirimkan bantuan perlengkapan bayi dan balita juga ya Bu."


"Terima kasih banyak Nak Sanchia." Lagi-lagi Ibu Panti mengusap kedua sudut matanya yang basah.


"Honey, tapi bayi ini perlu susu secepatnya, tolong minta anak buahmu untuk membelinya."


"Iya Sweetheart.." Sanchia tersenyum ke arah Sall yang langsung meminta Jani untuk memanggilkan dua orang anak buahnya. Sesaat kemudian dua anak buah Sall datang dan langsung menerima sejumlah uang yang diberikan Sall.


"Jani tolong temani dua paman ini ke mini market dekat sini ya. Nanti paman ini akan membeli susu formula, dan kamu juga bisa membeli jajanan yang kamu mau. Jangan lupa bagi teman-temanmu ya."


"Iya.. Terima kasih banyak Kak Sall."


Jani dan kedua anak buah Sall segera pergi menuju mini market. Sementara Sall dan Sanchia kembali fokus pada bayi tampan di hadapan mereka, yang kini terlihat menggenggam jari Sanchia dengan tangan mungilnya.


"Bu namanya siapa?"


"Belum Ibu beri nama Nak, karena anak ini sepertinya ada keturunan asing. Ibu bingung memberinya nama apa. Apa Nak Sanchia atau Nak Sall ada ide?"


Sanchia memandang Sall seolah meminta ide, karena dia sendiri merasa bingung harus memberi nama apa.


"Aku tidak tahu harus memberinya nama apa, apalagi nama lengkapnya. Tapi bagaimana kalau kita panggil dia Shawn untuk saat ini?"


"Bolehkah kami memanggilnya Shawn, Bu?"


"Tentu saja boleh, nama itu sangat cocok dengannya." Sanchia dan Sall tersenyum mendengar izin dari Ibu Panti.


"Shawn.. Sekarang namamu Shawn ya.."


"Hai Shawn, apa kamu menyukai nama yang kami berikan padamu?"


Perkataan Sanchia dan Sall seketika dibalas senyum manis dan kerjapan mata bahagia dari si bayi tampan.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Maaf aku baru up lagi, tapi langsung dikasih eps yang panjang banget nih..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight