
Topeng yang menutupi wajah sang malaikat maut yang mengancam nyawa Alrico itu akhirnya terbuka. Sesuai dugaan Sall juga Alrico, perempuan yang kini berada di hadapan Alrico adalah Sanchia yang begitu dingin menatap Alrico, bahkan tidak mengindahkan keberadaan Sall yang berdiri disampingnya.
Selama beberapa saat, Sanchia tetap tidak gentar menodongkan pistol yang digenggamnya tepat di dahi Alrico. Bahkan Sanchia tidak peduli ratusan anak buah Alrico mengarahkan senjata mereka ke arahnya, yang sudah dengan berani mengancam keselamatan nyawa Boss mereka.
Sall, anak buahnya dan orang-orang yang datang bersama Sanchia pun tidak kalah siaga, mereka pun mengarahkan senjata mereka ke arah Alrico dan anak buahnya.
"Katakan, kenapa kamu tega menyuruh orang untuk membunuh bayi dalam kandunganku? Dan kenapa kamu malah membunuh orang itu? Apa kamu ingin menghilangkan jejak?"
Seolah tidak menduga sama sekali dengan pertanyaan yang dilontarkan Sanchia, Alrico terlihat sangat terkejut dan wajahnya seketika berubah pucat pasi. Sall yang ikut mendengar pertanyaan Sanchia pun tampak terkesiap, tidak menyangka kalau Sanchia mengetahui fakta penting yang bahkan belum dia ketahui.
"Aku tidak menyangka, kamu tega menyuruh orang untuk menyiksaku, menginjak perutku bahkan meminumkan racun yang bisa membunuh bayiku bahkan diriku."
"Aku tidak pernah berniat membunuhmu, aku tentu tidak mau kehilangan kamu."
Tatapan Alrico begitu sendu, tidak ada lagi seringai kejam seperti sebelum Sanchia datang. Namun raut wajah yang hanya bisa lembut dihadapan Sanchia itu, tidak membuat Sanchia luluh, Sanchia malah menekan kuat dahi Alrico dengan ujung pistolnya, sampai meninggalkan bekas di dahi Alrico. Tentu saja hal yang dilakukan Sanchia ini, membuat anak buah Alrico semakin bersiaga untuk melesatkan peluru mereka. Namun Alrico justru memberi kode, agar mereka menurunkan semua senjata mereka. Dan dengan terpaksa, akhirnya mereka menurunkan senjata mereka, meskipun beberapa diantaranya masih memasang mode siaga.
"Jangan jadi pengecut, akui saja perbuatanmu."
"Aku memang sudah membunuh orang itu, aku sangat marah, karena dia sudah menyiksa bahkan menginjak perutmu. Aku benar-benar tidak mau kamu mati Sanchia. Aku ingin kamu bersamaku, menjadi Ratu-ku."
Kepalan tangan Sall semakin mengeras mendengar perkataan Alrico yang memancing emosinya. Namun Sall masih berusaha menahan dirinya, mempersilahkan istrinya untuk meluapkan kemarahannya kali ini.
"Tapi kamu menyuruh dia untuk membunuh bayiku dengan racun." Pekik Sanchia penuh penekanan.
"Aku melakukannya karena aku tidak ingin anak itu menjadi penghalang bagi kita."
"Aaaaarrgh.. Brengs*k.."
Secepat kilat Sanchia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menyuntikkan cairan di leher Alrico yang tidak sempat mengelak. Mendahului Sall yang sudah siap melesatkan pelurunya, sesaat setelah mendengar perkataan Alrico yang membuat darahnya mendidih.
Dor..Dor..
Dua buah tembakan tepat mengenai bahu dan kaki Sanchia, membuat Sall seketika menarik tubuh Sanchia ke dalam pelukannya, dan balas melesatkan beberapa peluru pada orang yang sudah berani menembak Sanchia.
Dor..Dor..Dor..
Adu tembak diantara kedua kubu tidak dapat terelakkan lagi, mereka saling menyerang dan bertahan. Sedangkan Sall menggendong Sanchia untuk bersembunyi di tempat aman, dengan Leon sebagai perisai, yang menembaki musuh yang menjadikan Sanchia dan Sall target mereka.
"Sweetheart.. Bertahanlah."
Sementara Alrico yang mulai lemas dan jatuh ke lantai, masih sempat mengulurkan tangan seraya menatap nanar tubuh Sanchia yang dibawa pergi oleh Sall.
'Chia.. Bertahanlah..' Batin Alrico.
Adu tembak masih berlangsung, jumlah orang yang bertarung pun bukannya semakin berkurang, tetapi justru semakin bertambah. Bersamaan dengan munculnya dua wajah orang yang sangat berpengaruh di dunia mafia Inggris saat ini.
"Bryllian.. Larry.."
Leon terkejut melihat keberadaan Ketua Klan Chrysos Dragon dan DS Scorpion. Keduanya hanya menganggukkan kepala, memberi kode kalau mereka siap bertarung untuk membantu Toddestern. Leon ikut menganggukkan kepalanya, lalu ketiganya melanjutkan aksinya menumbangkan musuh dengan senjata-senjata mereka.
Dor.. Dor.. Dor..
*************************
Sall duduk di tepi tempat tidur, memandangi Sanchia yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di ruang rahasia Markas Besarnya. Dokter Renald yang selalu ada di Markas Besar sedang berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu dan kaki Sanchia. Sesungguhnya Sall tidak suka jika Sanchia diobati oleh dokter pria, tapi kali ini dia tidak punya pilihan lain, nyawa Sanchia lebih penting dibanding egonya. Apalagi Dokter Renald adalah dokter terbaik yang dia rekrut khusus untuk menangani seluruh petinggi dan anggota klannya.
Sall yang harusnya menunggu giliran untuk ditangani, memilih membuka baju dan rompi anti pelurunya yang sudah rusak karena diberondong begitu banyak peluru. Kemudian Sall mengambil sebagian peralatan Dokter Renald untuk mengeluarkan sendiri peluru yang bersarang di lengannya dan menjahit luka di lengannya.
*************************
Hari yang penuh darah dan amarah sudah berganti pagi yang cerah, tapi sama sekali tidak bisa menggantikan raut cemas di wajah Sall, karena Sanchia masih belum sadar dari pengaruh anestesi.
Sanchia yang segera dibawa kembali ke mansion, setelah pertempuran berakhir, langsung mendapat perawatan intensif dari Dokter Renald dan Dokter Anna, yang sudah memastikan kalau Sanchia sudah melewati masa kritisnya. Namun hal itu juga tidak berhasil membuat Sall bernafas lega.
Semalaman Sall merebahkan dirinya disamping Sanchia seraya menggenggam tangan Sanchia, tanpa tertidur sekejap pun. Tubuhnya begitu lelah, tapi kekhawatirannya seolah memaksa matanya untuk tetap terbuka memandangi istri yang begitu dicintainya. Permohonan maaf-pun tidak henti keluar dari mulut Sall, yang begitu merasa bersalah atas kejadian buruk yang menimpa istri tercintanya.
Drtt..Drrtt..
Sall mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, dan mengangkat panggilan yang ternyata berasal dari Leon itu.
"Sall, ada Bryllian dan Larry. Mereka ingin menjengukmu dan Sanchia."
"Leon, temani mereka di ruang keluarga lantai 1, aku akan segera turun."
"Aku turun dulu ya, aku harus berterima kasih pada sahabat-sahabat kita. Bangunlah Sweetheart, aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu."
Perlahan Sall menuruni tempat tidur, lalu keluar dari kamar menuju ruang keluarga lantai 1, untuk menemui kedua tamu berharganya. Baru saja melewati pintu, Sall mengulas senyum tipisnya, saat netranya menangkap empat sosok yang begitu berjasa untuknya. Tanpa banyak kata, Sall memeluk mereka bergantian. Leon, Leroy, Bryllian dan Larry..
"Thank you brothers.."
Suasana berubah haru, bagaimana pun pertempuran kemarin adalah pertempuran besar yang tidak Sall duga. Alrico memanfaatkan klan-klan musuh Toddestern untuk bergabung dan menyerang seluruh cabang Toddester secara bersamaan. Keputusan Sall untuk mengirimkan bantuan dari Markas besar ke seluruh markas cabang Toddestern ternyata sesuai dengan tujuan utama Alrico yang mengosongkan Markas Besar sebelum menyerang Sall.
Pada akhirnya kekuatan di Markas cabang semakin besar dan bisa mengalahkan musuh dengan mudah, sedangkan Markas besar justru kesulitan mengalahkan musuh. Untunglah Sanchia datang memberikan bantuan, begitupun Bryllian dan Larry yang menyusul dengan anggota klan mereka.
"Sall, ada yang perlu aku luruskan. Aku dengar dari Leon, kamu sempat berpikir kalau Sanchia pergi menemui Alrico, tapi itu tidak benar. Sebenarnya Sanchia menemuiku, dan meminta bantuanku untuk mencari tahu tentang Alrico dan klan-klan yang menjadi musuhmu. Aku langsung menghubungi Larry, bersama-sama mengumpulkan informasi yang dibutuhkan oleh Sanchia."
Terlihat senyuman tipis di wajah Sall, ada rasa lega di hatinya mengetahui kalau pikiran buruknya sama sekali tidak terjadi.
"Terima kasih, kalian berdua sudah membantu istriku. Aku juga bersyukur dia tidak menemui Alrico. Tapi kenapa dia selalu tidak terbuka padaku? Kenapa dia memilih meminta bantuan kalian dibanding bertanya padaku dan meminta bantuanku?"
Bryllian memajukan tubuhnya, sedangkan Larry memilih menjadi pendengar setia seraya menyesap secangkir teh hitam di tangannya.
"Coba kamu ingat-ingat, apa sebelumnya ada hal yang kamu sembunyikan dari Sanchia?"
Seolah tertohok mendengar pertanyaan Bryllian, Sall menganggukkan kepalanya samar, menyadari kalau dirinya pun sudah bersikap tertutup seperti Sanchia.
"Sanchia mengetahui faktanya, dan dia begitu kecewa dengan sikap kamu yang menutupi hal sebesar itu darinya. Sall, yang Alrico suruh untuk membunuh bayi kalian adalah putra dari salah satu pengkhianat yang kamu bunuh. Awalnya Sanchia mungkin menganggap kematian bayi kalian adalah karma, karena kamu sudah membunuh para pengkhianat itu. Tapi sebenarnya, Alrico-lah yang mencuci otak laki-laki itu sampai akhirnya mau mengikuti perintahnya untuk membunuh bayi kalian." Papar Bryllian.
Sall meremas kuat rambutnya, rasa perih di hatinya kian meluas. Dadanya pun terasa sesak, saat mengingat bayinya yang sudah tidak ada. Sall ingin sekali menghabisi nyawa Alrico, tapi sepertinya Sanchia sudah memberikan hukuman yang lebih menyakitkan untuk Alrico.
"Sall, aku juga ingin meluruskan kesalahpahaman tentang photo yang dikirim Alrico."
Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Sall, tapi kerutan di dahi Sall jelas menunjukkan kalau Sall sedang menunggu penjelasan Leroy selanjutnya.
"Itu photo Sanchia saat di mansion adiknya. Kamu pasti tidak tahu kalau photo itu diambil.di Indonesia, karena latarnya sudah dibuat buram. Dan asal kamu tahu, Alrico mencium paksa Sanchia, aku datang saat Sanchia sedang memberontak berusaha lepas dari Alrico."
"Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini padaku, Leroy?" Tanya Sall penuh penekanan.
"Maafkan aku Sall, Sanchia hanya tidak ingin mengganggumu yang sedang sibuk dan fokus pada pekerjaan dan urusan klan."
"Leroy.. Saat ini aku benar-benar ingin menghajarmu. Aku sudah bilang, jangan ada yang kamu sembunyikan dariku, sekalipun Sanchia yang memintanya."
Kepalan tangan Sall seolah sudah siap mendarat di wajah Leroy, dan Leroy pun tampak pasrah jika sebentar lagi menjadi samsak untuk Sall. Namun ternyata Sall malah menarik nafas panjang, memandang Leroy dengan wajah datarnya.
"Ah sudahlah.. Semua karena salahku, Sanchia bukan tidak ingin menggangguku, tapi dia begitu marah padaku. Dia tahu, kalau aku sampai mengetahui hal ini, aku akan datang ke Indonesia untuk menghajar Alrico, sedangkan Sanchia tidak mau bertemu denganku saat itu. Yang terpenting saat ini, aku sudah mengetahui kalau Sanchia tidak pernah mengkhianatiku atau berpura-pura mengkhianatiku di depan laki-laki brengs*k itu."
Leroy, Leon, Bryllian dan Larry menganggukkan kepala mereka bersamaan setuju dengan apa yang dikatakan Sall.
Tiba-tiba Dokter Anna menerobos masuk tanpa mengetuk pintu, membuat Sall dan keempat sahabatnya menoleh bersamaan ke arah Dokter Anna.
"Tuan Sall, Nyonya Sanchia sudah sadar, dan Nyonya Sanchia ingin bertemu anda saat ini."
Sall segera melesat pergi, meninggalkan keempat sahabatnya juga Dokter Anna yang mengulas senyum mereka secara bersamaan.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight