The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 40 Please, dont leave me alone..



Langit belum lama berubah gelap, saat tiga Stealth Helicopter mengudara dari helipad Rooftop Hotel milik Brandon Wang. Sall yang berada di dalam salah satu helicopter, tampak begitu serius dan tidak berbicara sepatah katapun, dia memilih mempersiapkan beberapa  pistol, peluru dan juga senjata laras panjang berperedam yang akan digunakannya nanti. Tidak lupa beberapa jenis racun buatannya, yang mungkin berguna untuk melumpuhkan musuh-musuhnya nanti. Sebenarnya beberapa dari racun-racun itu dibuat dari formula rahasia milik Sanchia. Sall sengaja mengembangkannya saat kembali Inggris.


Sall menyodorkan beberapa jarum, botol, dan suntikan berisi racun pada Kevin yang duduk di sebelahnya. Kevin menerima racun-racun itu dan memasukannya pada tas khusus berukuran kecil yang akan dia bawa. Kevin pun terlihat memasukan 2 buah pistol di balik pakaiannya, lalu memasukan peluru ke dalam senjata laras panjangnya.


Tidak jauh berbeda dengan Sall dan Kevin, Leroy yang berada di dalam helicopter lainnya, dua orang anak buah Sall yang bertugas sebagai pilot dan co pilot, dan semua anak buah Sall yang ikut dalam upaya penyelamatan Sanchia ini, sudah dibekali dengan persenjataan yang lengkap, termasuk granat, bom waktu, obat bius, racun dan lain-lain. Tidak lupa, Sall dan semuanya mengenakan rompi anti peluru dibalik pakaian mereka.


Dalam misi ini, Brandon tidak diizinkan ikut oleh Sall, mengingat Sharon istri Brandon saat ini sedang hamil besar. Sall khawatir misi kali ini akan membuat Brandon terluka, dan Sall tidak mau Sharon bersedih. Jadilah Brandon meminta Jared, sepupu sekaligus tangan kanannya untuk memimpin anak buahnya dalam membantu misi ini.


(Kalau baca Star on A Dark Night, pasti tahu Jared, sepupu sekaligus orang kepercayaannya Brandon.)


Jared dan anak buahnya beserta Leon dan sebagian anak buah Sall, sudah berangkat lebih dulu menggunakan mobil. Mereka akan mengawasi keadaan villa musuh menggunakan camera drone yang akan mengintai dan melihat seberapa banyak musuh yang harus mereka kalahkan.


Kevin pun sebenarnya sudah Sall minta untuk tidak ikut, tapi Kevin bersikeras untuk tetap ikut. Terlebih Nieva, istri Kevin malah meminta Sall untuk mengizinkan Kevin ikut dalam misi penyelamatan Kakaknya, Sanchia. Dan Sall tentu tidak punya alasan lagi untuk membuat Kevin tetap tinggal di hotel.


"Sall seharusnya kamu mendengarkan aku, sebaiknya kita menunggu agak malam, saat mereka lengah dan tertidur. Sekarang bahkan belum lewat jam makan malam. Mereka pasti masih waspada berjaga."


"Kevin, aku tidak mau mengambil resiko. Bagaimana kalau orang-orang brengs*k itu menyakiti Sanchia. Aku tidak mau datang terlambat Kevin, meskipun aku harus egois dan membuat banyak orang beresiko terluka karena misi ini."


"Iya Sall, aku mengerti kekhawatiranmu. Maafkan aku."


"Tidak apa Kev.."


Pandangan mata Sall sudah bisa menangkap villa mewah, tempat Sanchia disekap. Terlihat ada 4 buah helicopter berkapasitas masing-masing 4 awak di helipad rooftop villa itu. Sall mengkode pilotnya mendekat ke area pinggir kolam renang yang ada di bagian samping villa yang terlihat bebas dari pengawasan pengawal.


Sall menurunkan tangga darurat berbentuk tali untuknya turun, karena helicopter yang ditumpanginya tidak akan mendarat. Sall turun lebih dulu, disusul oleh Kevin. Sesaat kemudian Leroy dan semua anak buah Sall yang berada dalam helicopter lainnya, mulai menyusul turun di bagian villa. Karena mereka berniat menyerang semua musuh-musuhnya secara bersamaan dari segala arah.


Kevin menekan earpiece-nya seraya melihat ke arah beberapa camera CCTV di sekitarnya.


"Leon apa kamu sudah mematikan semua camera CCTV-nya?"


"Semua camera CCTV sudah mati sejak tadi Kev. Semua alarm juga sudah aku matikan."


"Ok..Thanks."


Sementara itu itu Sall menekan earpiece-nya, untuk berkomunikasi dengan Jared.


"Apa kamu dan anak buahmu sudah bisa masuk ke dalam villa?"


"Beri aku 1 menit Hyung, aku hampir selesai."


Jared masih berusaha menerobos sistem keamanan di pintu gerbang villa yang ternyata cukup ketat.


"Baiklah, kita serang dalam waktu 3 menit dari sekarang."


Setelah berkomunikasi dengan Jared, Sall pun menghubungi Leroy dan memberikan instruksi yang sama untuk semua anak buahnya.


Tepat 3 menit kemudian dari saat Sall memberi perintah pertama pada Jared, penyerangan segera dimulai secara bersamaan dari segala arah, dengan senjata laras panjang atau senjata laras pendek di masing-masing tangan mereka.


Tampak keterkejutan dari wajah-wajah penghuni villa, saat melihat Sall juga partnernya bisa masuk melewati keamanan yang begitu ketat. Namun sebelum habis rasa terkejut mereka, serangan-serangan dari senjata atau racun sudah langsung melumpuhkan mereka, tanpa membutuhkan waktu yang lama.


Sall berusaha mencari ruangan dimana Sanchia disekap, namun tiba-tiba Sall, Kevin dan 4 orang anak buahnya yang bergabung, dihadang oleh 9 orang laki-laki yang menampakan ekspresi datarnya. Tiga orang diantaranya berdiri lebih depan dengan seringai di wajah mereka yang cukup meremehkan.


Kedua kubu saling mengarahkan senjata dengan jarak hanya sekitar 4 meter aja. Semuanya bersikap waspada dan bersiap dengan segala kemungkinan terburuk.


"Wow.. Akhirnya kita bisa berhadapan secara langsung Der Killer Ritter. Aku akan menguji apakah julukan itu memang layak untukmu atau tidak, hahaha.."


Dua orang di sebelah Javier ikut tertawa ke arah Sall yang tetap bersikap tenang.


"Javier Shawn Adams, Rodrigo Alvaraz, dan Dario Cortez.. Saya pun cukup senang bisa bertemu dengan Ketua Klan ZDT yang menurut kabar cukup kuat ini."


"Dimana Sanchia?"


"Calm down.. Istrimu baik-baik saja, meskipun tadi pagi aku memberinya beberapa pelajaran, hahaha.."


Tawa Javier tidak bertahan lama, karena Sall tiba-tiba mendekat dengan langkah lebar, dan menekankan pistolnya tepat di depan dahi Javier, tidak peduli dengan banyak senjata yang seketika mengarah kepadanya. Hatinya begitu sakit saat mendengar Javier menyakiti istrinya.


Kevin sedikit  panik dengan langkah yang diambil Sall, namun ekspresinya berubah lega saat melihat pergerakan Jared dan anak buahnya yang masuk dan bersembunyi di dekat sofa di belakang Javier dan anak buahnya. Sall pun menyadari kedatangan mereka. Sementara itu, Leroy dan anak buahnya masih sibuk melumpuhkan anak buah Javier yang berada di bagian belakang villa Javier.


Sall sudah akan menarik pelatuknya, namun perkataan dan gerakan Javier yang mengeluarkan sejenis remote berukuran kecil yang merupakan alat pemicu bom dari saku celananya, seketika mengurungkan niat Sall.


"Sall Sherwyn Knight, kebetulan sekali, aku sudah memasang bom di tubuh istrimu. Aku mengancamnya agar tidak coba-coba melarikan diri dari sini. Cukup menekan alat ini, kamu akan kehilangan istrimu. Jadi jangan coba-coba melakukan hal yang akan kamu sesali nantinya, hahaha.."


Tubuh Sall melemah, hatinya sakit mendengar perkataan Javier. Ingin sekali dia mencari keberadaan Sanchia, namun Sall tidak ingin bersikap gegabah, karena keselamatan Sanchia sedang dipertaruhkan.


"Jatuhkan semua senjata kalian!"


Sall dan semua anak buahnya tidak mau menuruti perintah Javier, sehingga Javier mulai naik pitam dan melepaskan tembakan ke betis Sall.


Sall memekik pelan, menahan rasa sakit yang dirasakannya. Javier akan melepaskan tembakan keduanya, namun tiba-tiba anak buah Javier turun dengan terburu-buru dan langsung membisikan  sesuatu ke telinga Javier.


Ekspresi marah tidak dapat disembunyikan Javier, sehingga Sall dan yang lainnya bisa menebak ada sesuatu yang telah terjadi. Javier mengkode Rodrigo, Dario dan anak buahnya untuk tetap tinggal, sementara dia akan memeriksa ke atas. Javier dan anak buah yang membisikinya tadi, segera naik ke lantai 2.


Setelah Javier tidak terlihat, tanpa membuang-buang waktu, Sall dan Kevin memanfaatkan kesempatan dengan melepaskan tembakan ke arah lawan mereka. Bersamaan dengan Jared dan anak buahnya yang keluar dari persembunyiannya, menembaki lawan mereka dengan membabi buta dan ikut mengepung lawan mereka. Tidak sampai 5 menit, semua lawan mereka sudah tumbang dengan luka yang tidaklah ringan.


Sall, Kevin dan sebagian anak buah Sall segera menyusul Javier yang ternyata menuju Rooftop villa-nya. Sall bisa melihat Javier yang begitu emosi saat salah satu helicopter dari 3 helicopter yang berada di helipadnya sudah mengudara dan menjauh dari villa.


"Alrico sialan, beraninya kamu berkhianat dan membawa pergi perempuan itu. Membusuklah kau di neraka."


Sall langsung bergerak cepat menghampiri Javier, namun usahanya terlambat. Javier sudah menekan alat pemicu bom-nya, dan seketika helicopter itu meledak.


Buuuuummm...


"Sanchiaaaaa.."


Teriakan Sall mengalahkan bunyi ledakan yang begitu keras itu. Seketika Sall mengarahkan pistolnya tepat di dahi Javier dan melepaskan tembakannya dengan penuh emosi. Tubuh Javier roboh dengan luka mengerikan di dahinya.


Tubuh Sall-pun seketika melemah, dan akhirnya jatuh dengan posisi bersimpuh seraya memandang ke arah meledaknya helicopter tadi.


"Sweetheart..Please don't leave me alone.." Lirih Sall dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight