
MANSION SALL & SANCHIA - BANDUNG, INDONESIA
Sanchia baru saja terlelap, saat jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul 3 dini hari. Setelah Dokter datang ke mansion dan mengobati luka di lehernya, Sanchia berusaha mengistirahatkan dirinya. Namun kabar yang diterimanya dari Leroy, membuat Sanchia tidak bisa mengistirahatkan tubuh dan otaknya dengan baik. Bagaimana tidak, kabar yang diberikan Leroy begitu mengganggu pikiran Sanchia, dan membuat otaknya tidak henti memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk melindungi Shawn.
Sesuai dugaannya, ketiga laki-laki yang menyerangnya adalah preman suruhan orang kepercayaannya Nick, yang bernama Amran. Tapi ketiga laki-laki itu bukanlah anak buah langsung dari Amran ataupun Nick, melainkan anggota sindikat perdagangan anak yang dibayar untuk mencari keberadaan Shawn.
Amran menganggap anggota sindikat perdagangan anak yang sudah terbiasa melakukan pencarian dan penculikan anak itu akan lebih mudah menemukan Shawn, akan tetapi pertemuan ketiga penjahat itu dengan Sanchia dan Shawn di mall bukanlah suatu kesengajaan. Mereka bahkan belum menyadari kalau bayi yang berusaha mereka culik itu adalah bayi yang selama ini mereka cari, apalagi stroller Shawn dilapisi kain tipis yang tidak bisa menampakkan wajah Shawn. Mereka hanya berniat menculik bayi yang ibunya terlihat begitu cantik, sehingga berpikir anaknya pun akan se-rupawan ibunya. Hal itu setidaknya membuat Sanchia sedikit tenang, apalagi ketiga orang itu sudah berada di ruang bawah tanah mansionnya. Hanya saja, usaha Nick untuk menemukan Shawn, tentu masih membuat Sanchia cemas dan tidak bisa hanya sekedar berdiam diri.
Oeeeekk..Oeeeekk..Oeeeekk..
Sanchia terbangun karena tangisan Shawn yang cukup keras di sampingnya. Shawn terlihat lebih rewel sejak semalam, dan berkali-kali terbangun dengan tangisan yang cukup memekakan telinga. Karena itulah Shawn tidak tidur di dalam box bayi yang berada di kamarnya, melainkan di kamar pribadi orangtuanya.
Karena tidak ada masalah dengan popok yang dipakai Shawn, Sanchia segera memberikan susu pada botol yang memang sudah tersedia di kamarnya. Namun Shawn tidak mau meminumnya, dan malah menangis seraya menyemburkan susu yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
"Kenapa Sayang? Sini Mommy gendong ya."
Sanchia segera menggendong dan menimang-nimang tubuh Shawn, yang beberapa saat kemudian mulai menghentikan tangisnya. Malah bayi mungil itu mulai menutup matanya karena mengantuk kembali, setelah begitu nyaman digendong oleh sang Mommy.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Sanchia melirik ponselnya yang berada di atas nakas, lalu segera mengambil ponselnya dan menerima panggilan video dari Sall yang sudah sangat ditunggunya. Namun Sanchia terlebih dahulu memakai syal yang dia lilitkan ke lehernya, agar Sall tidak bisa melihat perban di leher Sanchia. Saat ini posisi tangan kanan Sanchia memegang ponsel, dengan tangan kiri yang masih menggendong Shawn, namun dengan posisi duduk di tepi tempat tidur agar lebih nyaman.
"Sweetheart, kamu sedang bersama Shawn rupanya."
Sall terlihat tersenyum dengan posisi merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Wajahnya berbinar menatap Sanchia dan Shawn yang begitu dia rindukan. Namun raut bahagia itu seketika berubah sendu dan menyiratkan kecemasan, yang langsung disadari oleh Sanchia.
"Maafkan aku meneleponmu jam segini, entah kenapa perasaanku begitu tidak enak sejak pagi tadi. Seperti ada yang tidak beres, namun tadi aku belum bisa meneleponmu, karena aku ada pertemuan dengan beberapa pengusaha untuk membahas proyek pembangunan hotel dan apartment. Saat pulang ke mansion, aku ingin meneleponmu, tapi aku tidak ingin mengganggu tidurmu. Kamu baik-baik saja kan Sweetheart?"
Sanchia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, berusaha menenangkan Sall yang terlihat begitu khawatir.
"Aku ingin bercerita Honey, tapi sebentar aku akan menidurkan Shawn dulu."
Sanchia menidurkan Shawn yang mulai terlelap di atas tempat tidur, Sanchia dan Sall begitu gemas dengan tingkah Shawn yang mencari posisi nyaman dengan menyampingkan badannya seraya mengelus pipi dengan tangan mungilnya. Lalu Sanchia merebahkan tubuhnya dengan terlebih dahulu menumpukkan dua buah bantal untuk alas kepalanya.
"Cerita apa Sweetheart? Aku selalu siap mendengarkanmu."
Sall mengulas senyum tampannya yang dibalas senyuman lembut dari istrinya tercinta. Sanchia melepas perlahan syal di lehernya, yang seketika menghapus senyum di wajah Sall. Sall mendudukkan dirinya seraya memfokuskan pandangannya pada leher Sanchia yang berbalut perban berwarna putih.
"Apa yang terjadi Sweetheart? Siapa yang melukai kamu?"
"Tenanglah Honey, aku baik-baik saja. Aku akan menceritakan semuanya."
Mengalirlah cerita tentang kejadian kemarin dari mulut Sanchia, tanpa ada sedikitpun yang ditutup-tutupi. Termasuk informasi dari Leroy yang sudah disampaikan pada Sanchia.
Rahang Sall mengeras dengan tangan terkepal kuat, mendengar semua untaian kalimat dari mulut Sanchia. Sall berdiri dan berjalan bolak-balik seraya meremas kuat rambutnya dengan sebelah tangan.
Sall saat ini bukan hanya sedang menahan amarah pada ketiga orang yang melukai Sanchia juga Nick dan Amran, tapi juga pada Leroy dan anak buahnya yang sudah begitu lalai melaksanakan tugas.Terlebih hati Sall begitu sesak dan nyeri, melihat perban yang menutupi luka Sanchia di leher sebelah kanannya.
"Jangan khawatir Honey, hanya sayatan kecil saja. Beberapa hari juga sembuh. Nanti aku oleskan krim penghilang bekas luka ya, agar bekasnya tidak kelihatan."
"Mereka sudah melukaimu Sweetheart, dan itu bukanlah perbuatan yang bisa aku maafkan."
Sall mengepalkan tangannya lebih kuat, dan mata tajam berkilat yang Sall tunjukkan, membuat Sanchia paham, kalau suaminya sedang menahan amarahnya sekuat tenaga.
"Aku sudah memberi mereka pelajaran Honey."
"Tidak.. Belum cukup Sweetheart. Mereka akan mendapatkan pelajaran dariku. Aku tutup teleponnya ya, Sweetheart. Love you.."
Sanchia menghela nafas panjang, begitu Sall mengakhiri panggilan video-nya. Ditatapnya wallpaper ponselnya yang menampilkan gambaran bahagia dari photonya bersama Sall dan juga Shawn, putra mereka.
"Kami baik-baik saja Honey, jangan khawatir."
Diletakannya ponsel miliknya di atas nakas, lalu Sanchia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, sebelum alarm akan kembali membangunkannya untuk shalat subuh nanti.
*************************
Siang hari yang cerah, cukup menggoda Sanchia untuk menghabiskan waktu makan siangnya di gazebo belakang mansionnya, seraya menemani Shawn yang kini terlihat begitu bahagia memandangi pemandangan taman dari dalam strollernya.
"Sini Sayang, kita lihat ikan yuk.."
Shawn terlihat bahagia, saat Sanchia menggendong dan membawanya berjalan-jalan di pinggir danau buatan yang ada di sebelah kanan gazebo. Mata Shawn berbinar dengan kaki dihentak-hentakkan, setiap kali Sanchia menggoda Shawn dengan berpura-pura akan menapakkan kaki Shawn di atas tanah.
"Tidak Sayang, belum waktunya. Nanti kalau kamu sudah mulai bisa berjalan, Mommy akan membiarkan kamu berjalan-jalan di atas tanah."
Seolah mengerti dengan perkataan Mommy-nya, kini Shawn hanya mengedarkan matanya kesana kemari, melihat pemandangan asing yang baru pertama kali dia lihat.
Beberapa saat kemudian, Leroy datang diikuti seorang laki-laki dibelakangnya. Laki-laki itu menatap Sanchia dengan senyuman di wajahnya yang tenang, namun berbanding terbalik dengan Sanchia yang memasang wajah terkejutnya, saat melihat laki-laki itu.
"Sanchia, akhirnya kita menemukannya.. Kenalkan dia Kendra.."
"Hah, jadi yang dimaksud Kendra itu Bang Aras? Apa kabar Bang?"
Leroy menautkan kedua alisnya merasa heran dengan interaksi Sanchia dan Kendra yang terlihat sudah saling mengenal. Sedangkan Sanchia yang masih menggendong Shawn terlihat saling mengulas senyum dengan Kendra.
"Mungkin kamu lupa nama lengkapku, Kendra Arasditama. Alhamdulillah.. Aku baik-baik saja Sanchia, jauh lebih baik setelah kalian menemukanku. Aku terkejut saat diberi tahu Leroy, kalau yang mencariku adalah sepasang suami istri yang kini menjaga Putra Bos-ku. Aku lebih terkejut lagi, ketika mendengar namamu.. Dan dugaanku ternyata tidak salah."
"Aku juga tidak menyangka kita bisa bertemu lagi Bang Aras."
"Iya Sanchia."
Kendra terlihat senang dan terharu melihat Shawn yang begitu nyaman dalam gendongan Sanchia. Kendra merasa Shawn yang bernama asli Steve itu, berada di tangan yang tepat.
"Tolong jelaskan padaku, bagaimana kalian saling mengenal? Kalian membuatku terlihat seperti orang bodoh."
Sanchia terkekeh geli, diikuti Kendra yang hanya mengulum senyum kalemnya menanggapi ekspresi Leroy yang terlihat kesal.
"Bang Aras ini adalah guru beladiriku saat SMA. Tapi saat aku lulus, Bang Aras pindah ke Jakarta."
"Oh jadi begitu.. Baguslah, aku jadi ada lawan kalau berlatih."
Leroy menyilangkan kedua tangannya di depan dada, seolah menantang Kendra yang hanya menggelengkan tangan seraya mengulas senyum tipisnya.
"Baiklah, kalau kalian bertanding, beri tahu aku. Biar aku yang menjadi jurinya." Ujar Sanchia.
*************************
Sanchia baru kembali ke kamarnya setelah menidurkan Shawn di kamar Shawn. Malam ini ada 2 orang babysitter yang menemani dan menjaga Shawn di kamarnya. Kedua baby sitter itu juga tampak nyaman, karena kamar Shawn dilengkapi 1 buah tempat tidur king size untuk mereka mengistirahatkan tubuhnya.
Sanchia merasa tubuhnya terlalu lelah dan beberapa kali perutnya sedikit sakit. Merasa itu adalah alarm berbahaya yang mengancam, Sanchia memutuskan untuk menyerahkan Shawn pada baby sitter, agar Sanchia bisa tidur lelap malam ini.
Saat jam dinding menunjukan tepat jam 12 malam, tiba-tiba Sanchia terbangun karena merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggang dan perutnya, dengan sesuatu yang terasa hangat mendekap punggungnya yang semula dingin.
'Apakah yang memelukku hantu?' Batin Sanchia dengan ekspresi ketakutan.
Sanchia refleks melepas sesuatu yang berada di pinggangnya dan bergerak maju untuk beranjak dari tempat tidur. Namun badannya ditahan sebuah tangan kekar yang kembali mengejutkannya.
"Sweetheart.. Mau kemana?"
Mulut Sanchia membulat sempurna saat menyadari kehadiran suaminya yang terlihat santai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Honey? Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu masih di Inggris?"
"Aku sudah pulang Sweetheart, buktinya saat ini aku ada dihadapan kamu. Apa kamu pikir aku hantu sampai kamu takut begitu?"
Sall terkekeh geli melihat raut wajah Sanchia yang kini merengut kesal. Perlahan Sall menarik lembut tangan Sanchia, agar Sanchia kembali merebahkan tubuhnya disamping Sall.
"Aku merindukanmu Sweetheart.."
Sanchia tersenyum namun dengan mata yang mulai berkaca-kaca, seraya merangsek masuk ke dalam dekapan dada Sall yang bidang.
"Aku juga merindukanmu, Honey.."
Sall menciumi puncak kepala Sanchia dengan sangat lembut. Tidak lupa juga mengabsen kening, pipi kanan, pipi kiri, hidung, dagu dan berakhir di bibir ranum Sanchia, meluapkan rasa rindu yang begitu besar pada sang istri tercinta.
***********************
Image Source : IG Toni Mahfud
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Maaf banget, karena aku baru bisa up lagi..Banyak PR juga buat mampir ke novel Kakak Author yang udah pada mampir kesini. Aku pasti mampir Kakak2..🤗
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight