The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 22 Karena cemburu



Hujan deras yang mengguyur sejak dini hari tadi, membuat beberapa penghuni mansion malas sekali untuk sarapan dan berkumpul bersama di ruang makan. Seperti Kevin dan Nieva, yang lebih memilih untuk meminta pelayan mengantarkan sarapan mereka ke kamar, dibanding ikut bergabung dengan Papa Leonard dan juga Mama Annesya di ruang makan. Sebetulnya bukan hanya karena malas, tapi juga morning sickness Nieva yang seringkali mengganggu acara sarapan mereka, membuat Nieva lebih memilih sarapan di kamar, ditemani Kevin yang selalu siaga mendampinginya.


Papa Leonard dan Mama Annesya baru saja menyelesaikan sarapan mereka, saat Sanchia masuk ke ruang makan diikuti Sall di belakangnya. Sanchia mendudukkan dirinya di sebelah Mama Annesya, sedangkan Sall menyapa kedua calon mertuanya seraya mendudukkan dirinya di sebelah Papa Leonard, sehingga posisinya berhadapan dengan Sanchia.


"Selamat Pagi Papa..Mama.."


"Selamat Pagi Sall.."


Papa Leonard dan Mama Annesya menjawab  bersamaan diiringi senyum di wajah mereka, memandang calon menantu mereka yang begitu tampan dan juga sopan. Meskipun ada rasa heran, karena Sall dan Sanchia terlihat sedang bertengkar. Terlebih Sanchia yang terus saja menekuk wajahnya, memperlihatkan kekesalan yang begitu jelas.


Sanchia terlihat begitu acuh tak acuh, seolah tidak peduli dengan keberadaan Sall yang sesekali memandangnya dengan tatapan memelas. Bahkan Sanchia terlihat menghindari kontak mata dengan Sall, dan memilih menyibukan diri dengan mengambil nasi goreng untuk menu sarapannya, diikuti menuangkan susu ke dalam gelas yang berada tepat  di hadapannya.


Sall masih diam mematung, melihat Sanchia yang mulai menyuapkan nasi gorengnya tanpa terganggu dengan tatapan Sall yang tidak lepas terhadapnya. Sanchia memang masih kesal dengan sikap kekanak-kanakan Sall tadi malam. Setelah Sanchia tidak menggubris keluhan Sall karena masalah panggilan Alrico terhadapnya, dan memilih meninggalkan Sall untuk masuk ke dalam kamarnya, ternyata tidak membuat Sall berhenti merengek pada Sanchia.


Semalaman Sall menelepon Sanchia berkali-kali, namun Sanchia enggan mengangkatnya. Sall pun mengirimkan banyak voice note yang berisi rengekan dan permintaan yang sama seperti sebelumnya. Padahal Sanchia berharap, Sall akan meminta maaf dan menyadari sikapnya yang semakin keterlaluan. Tapi ternyata, Sall terus saja merengek melalui voice note yang dikirimnya, sampai akhirnya Sanchia mematikan ponselnya karena kesal dengan sikap Sall.


"Sayang, kok Sall tidak kamu ambilkan? Harus mulai belajar melayani calon suamimu Sayang. Sebentar lagi, kalian akan menikah.


"Iya Ma.."


Sanchia mengambilkan waffle cokelat dan secangkir jasmine tea, lalu meletakannya tepat di depan Sall yang terlihat begitu senang dengan apa yang dilakukan Sanchia. Sall menatap lekat wajah Sanchia, meskipun Sanchia terus saja menghindari kontak mata dengan Sall.


"Thank you Babe.."


Sanchia hanya mengulas senyum tipisnya, tanpa mengatakan sepatah katapun. Papa Leonard dan Mama Annesya saling berpandangan, karena merasa aneh dengan sikap anak dan calon menantunya.


Sanchia fokus menikmati sarapannya, berbeda dengan Sall yang  memandangi wajah Sanchia dengan penuh cinta, seraya menyuapkan waffle ke dalam mulutnya. Karena terlalu asyik memandangi wajah Sanchia tanpa memperhatikan makanan yang masuk ke dalam mulutnya, Sall tiba-tiba tersedak, sehingga membuat Sanchia dan kedua orangtuanya terkejut.


Tanpa diminta, Sanchia langsung mengambilkan segelas air minum, menghampiri dan meminumkannya pada Sall, hingga Sanchia merasa lega melihat Sall yang baik-baik saja. Perasaan hangat menyeruak di hati Sall, karena calon istrinya selalu peduli padanya, sekalipun dalam keadaan marah.


"Terima kasih ya, Babe.."


"Dari tadi bilang terima kasih terus. Sudah lanjutkan sarapannya."


Setiap kali Sanchia memperlakukannya begitu manis, hati Sall selalu menghangat dan berbunga-bunga. Meskipun saat ini Sanchia masih marah padanya, tapi tidak mengurangi rasa bahagia Sall yang begitu bersyukur mempunyai calon istri yang begitu manis dan menggemaskan.


Senyum  di wajah Sall memancing lengkungan di kedua sudut bibir Papa Leonard dan Mama Annesya. Sikap Sall yang begitu lembut dan tetap tersenyum saat Sanchia bersikap ketus, membuat kedua orangtua Sanchia begitu bahagia. Mereka sangat yakin, bahwa mereka sudah membuat keputusan yang sangat tepat dengan menyerahkan Sanchia untuk Sall nikahi. Karena Sall adalah laki-laki yang paling tepat untuk menjadi pendamping hidup Sanchia.


"Ya sudah, kalian lanjutkan sarapannya. Papa dan Mama mau minum teh di gazebo belakang, mumpung hujannya sudah berhenti. Oh iya, jangan lupa, nanti jam 10 kalian harus fitting baju pengantin. Mama sudah meminta Desainer kenalan Mama untuk membawa beberapa baju pengantin untuk kamu dan Sall coba."


"Oke Ma.."


"Sekalian photo pre-wedding juga ya Sayang, hanya di mansion saja kok. Wedding Organizernya sudah mengatur konsep dan dresscode-nya. Kalian hanya tinggal ikut saja."


"Oke..Siap Ma.."


"Iya Baik Ma.."


Sall dan Sanchia menjawab perkataan Mama Annesya hampir bersamaan. Lalu Papa Leonard dan Mama Annesya pergi meninggalkan ruang makan, meninggalkan Sall dan Sanchia yang kembali melanjutkan sarapan mereka.


"Babe..Aku mau nasi goreng yang kamu makan."


"Ya sudah, aku ambilkan."


Sanchia hendak mengambil piring untuk Sall, namun tangan Sall seketika menahan pergerakan Sanchia.


"Aku mau makan nasi goreng milikmu, suapi aku Babe."


Sanchia memutar kedua bola matanya seraya memasang raut kesal, tapi tetap saja menurut dengan menyuapi Sall yang tidak dapat menyembunyikan ekspresi senangnya. Sanchia menyuapi Sall, bergantian dengan menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya, sampai akhirnya nasi goreng itu habis tak bersisa.


"Kenyang Babe..Sebelumnya kan aku sudah memakan waffle juga. Apa kamu kenyang Babe, kalau belum, tambah saja."


"Tidak aku juga kenyang."


Sanchia meminta pelayan untuk membereskan meja makan, kemudian berjalan keluar meninggalkan Sall begitu saja. Sall langsung berjalan cepat menyusul Sanchia yang ternyata menuju ruang latihan menembak yang berada di bangunan belakang mansion.


Namun sebelum masuk ke dalam ruang latihan, Sall menahan pergelangan tangan Sanchia dan menariknya pelan sampai tubuh Sanchia menubruk tubuh Sall sedikit keras. Sall mengeratkan tangannya di pinggang Sanchia yang ramping.


"Ih apa-apaan sih?"


Tatapan mata Sanchia yang jelas terlihat kesal, tidak membuat Sall melepaskan pelukannya.


"Babe.. Maaf.. Karena sudah membuat kamu kesal. Sikapku yang terlalu cemburu pasti membuatmu tidak nyaman. Maafkan aku yang begitu takut kehilanganmu. Aku terlalu mencintaimu, Babe.."


Sall menempelkan hidungnya tepat di hidung Sanchia, seraya menutup matanya. Seakan meresapi perasaannya yang begitu dalam, hingga membuat perasaan Sanchia luluh seketika. Bukan tak paham, Sanchia jelas mengerti kenapa calon suaminya itu bersikap sangat overptotective dan cemburuan, tapi terkadang sikap Sall membuat Sanchia merasa tidak nyaman.


"Honey.. Aku mengerti perasaanmu. Tapi terkadang sikapmu membuatku merasa tidak dipercaya. Sikapmu seakan meragukan perasaanku padamu Honey."


"Tidak Babe, bukan itu maksudku. Aku hanya tidak suka dengan panggilan Alrico padamu, aku sama sekali tidak meragukan perasaanmu padaku. Aku hanya tidak suka melihatnya yang menatapmu penuh cinta."


Sanchia menarik mundur wajahnya, dan raut  terkejut tidak dapat Sanchia sembunyikan dari tangkapan mata Sall. Sanchia mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat, mencoba menghindari tatapan mata Sall yang berubah mengintimidasi.


"Babe, apa kamu tahu kalau Alrico mencintai kamu?"


Tatapan mata Sanchia masih saja mengarah ke samping, membuat Sall sedikit tidak sabar dan menangkup wajah Sanchia agar menatap tepat ke manik matanya.


"Babe.. Jawab aku.. Apa kamu tahu kalau dia mencintaimu?"


Sanchia masih ragu untuk membuka mulutnya, tapi tatapan Sall jelas tidak akan membiarkannya lolos kali ini. Akhirnya, dengan terpaksa Sanchia menganggukan kepalanya sepelan mungkin.


"Iya, aku tahu, Honey.."


"Dan kamu pura-pura tidak mengetahuinya?"


"Iya Honey.."


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata dan sepasang telinga yang mengawasi Sall dan Sanchia sejak tadi. Seolah bagai tersambar petir di siang bolong, jawaban Sanchia cukup membuat tubuhnya melemas tidak bertenaga. Bukan hanya kecewa, tapi dia merasa  Sanchia tidak pernah menghargai perasaannya.


************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


(IG : @zasnovia #staronadarknight)