The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 52 Saling Memaafkan



Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi semua Readers & Author yang merayakan..


Mohon maaf lahir batin ya..Mohon maaf atas semua salah dan khilaf, selama penulisan novel-novelku.


Maaf karena novel ini penulisannya belum bagus, kurang menarik, dan maaf juga karena belum bisa rutin up.. Semoga aku bisa belajar lebih baik lagi kedepannya ya..


Selamat berkumpul bersama keluarga & liburan di rumah juga, tapi jangan lupa tetap jaga protokol kesehatan ya.. Love u all.. 🤗


*************************


VILLA SALL - JEJU ISLAND


Sanchia mengikuti langkah besar Sall, menuju kamar mereka. Sall terlihat jelas menahan marah dan enggan menghentikan langkahnya dan mengeluarkan suaranya, meskipun Sanchia berkali-kali memanggilnya dan meminta maaf dengan suaranya yang terdengar sangat tulus juga memelas.


Sesampainya di kamar, Sall langsung merebahkan tubuhnya dan menutup matanya dengan tangan kanannya. Nafas Sall terdengar naik turun, saat Sanchia ikut naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disamping sang suami. Sanchia memandang lekat wajah Sall dari arah samping, dengan penuh rasa bersalah.


“Honey, tolong maafkan aku. Aku bermaksud memberitahumu, setelah aku selesai memberitahu Kevin. Aku harap kamu mengerti, karena aku begitu khawatir dengan anggota klanku.”


Tanpa mengubah posisinya, Sall menghela nafas begitu dalam. Sall sesungguhnya sedang menenangkan dirinya, agar tidak sampai meluapkan kemarahannya pada Sanchia. Terlebih saat ini Sanchia sedang mengandung, Sall tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada istrinya itu.


“Kamu tahu pasti betapa terpuruknya aku, saat kamu menghilang. Aku terus menerus menyalahkan diriku karena tidak mampu menjaga dan melindungimu. Aku merasa sudah gagal sebagai suami. Dan saat ini..”


Sanchia menunggu kelanjutan perkataan Sall yang terjeda karena helaan nafasnya yang begitu dalam dan kasar. Namun setelah beberapa detik berlalu, Sall tidak kunjung melanjutkan perkataannya, membuat Sanchia semakin tidak enak hati.


“Tolong jangan mendiamkanku, aku benar-benar minta maaf.”


Sall mendudukan dirinya di atas tempat tidur, lalu menatap Sanchia sekilas, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sanchia mencoba membuat Sall menatapnya dengan memegang dan mengguncang perlahan lengan Sall.


“Tolong tatap aku, Honey. Jangan seperti ini. Aku benar-benar minta maaf.”


Sedetik kemudian, Sall menolehkan wajahnya ke arah Sanchia, dan menghunuskan tatapan tajam berkilat, yang membuat Sanchia memundurkan tubuhnya karena takut.


“Belum lama kita membahas soal ini, kita sudah sepakat untuk terbuka dalam hal apapun. Tapi kenapa kamu mengingkarinya. Yang mereka ancam itu kamu Sanchia. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu untuk yang kesekian kalinya. Apa kamu pikir aku bisa memaafkan diriku, jika itu sampai terjadi, Sanchia? Keluargamu adalah keluargaku juga, dan aku peduli pada klanmu juga. Tapi kenapa kamu menganggapku seolah orang lain, Sanchia?"


Perkataan Sall yang hanya memanggil namanya tanpa panggilan sayang, membuat netra Sanchia mulai mengalirkan air mata yang kini membasahi pipinya. Namun dengan kasar Sanchia langsung menghapus air matanya itu. Sall seolah baru menyadari, perkataan dan nada bicaranya yang meninggi, sudah menyakiti perasaan istrinya. Tapi Sall menahan dirinya untuk tidak lekas luluh dan memaklumi sikap Sanchia sebelumnya.


“Perbuatanmu kali ini benar-benar membuatku marah. Aku akan mengirim sebagian anak buahku yang ada disini untuk menjaga keluarga kita dan klan di Indonesia. Dan untuk sementara, aku akan meminta bantuan Brandon, untuk meminjamkan anak buahnya, sebelum anak buahku dari Inggris datang. Kamu tidak usah khawatir lagi.”


Sall beranjak dari tempat tidur, bergegas meninggalkan Sanchia yang kini kembali menangis sesenggukan, menyesali sikapnya.


**************************


2 hari sejak kepulangan keluarganya ke Indonesia, Sanchia bisa sedikit bernafas lega, karena menurut info dari Kevin, keberadaan orang yang memberi ancaman kepada Sanchia melalui pesan singkat dan email itu sudah ditemukan.


Sesuai dugaan Sanchia, si pengancam adalah petinggi klan yang dulu pernah bermasalah dengan Sanchia. Dan tanpa Sanchia duga, Sall-lah yang menemukan posisi orang-orang itu, dibantu oleh Leon.


'Ternyata karena inilah, selama 2 hari kemarin, kamu terus sibuk di dalam ruang kerjamu bersama Leon. Aku pikir kamu begitu marah padaku, sehingga enggan menemaniku. Tapi jujur, sikap dinginmu selama 2 hari ini benar-benar membuatku sedih, Honey.' Ratap Sanchia dalam hatinya.


Meskipun Sanchia begitu yakin pada kemampuan dan kekuatan anggota klannya dan anak buah Sall, begitupun dengan kemampuan anak buah Bryllian dan anak buah Larry yang ikut membantu, tapi Sanchia tidak ingin meremehkan kekuatan klan pengacau itu. Meskipun jumlahnya hanya tinggal beberapa puluh saja, Sanchia belum merasa tenang, jika semua anggota klan itu belum ditemukan. Karena posisi anggota klan itu ada di Singapore, maka Sall menyerahkan semua urusan penangkapan para pengacau itu pada Kevin.


Sanchia mengetuk ruang kerja Sall, namun tidak ada sahutan dari dalam, sehingga Sanchia memberanikan diri dengan dengan membuka pintu ruang kerja itu. Sanchia melangkah perlahan di dalam ruangan yang cukup luas itu, sampai terlihat Sall tertidur di kursi kerjanya, dengan posisi kepala bersandar seraya menyilangkan kaki, membelakangi meja. Dengan sentuhan yang lembut, Sanchia merapihkan anak-anak rambut yang jatuh di dahi suaminya. Namun sentuhan lembut itu ternyata berhasil membangunkan dan memancing gerak refleks Sall, yang langsung mencengkeram pergelangan tangan Sanchia yang ada di dahinya.


Sall membuka matanya, dan begitu terkejutnya Sall, saat netranya menangkap ekspresi Sanchia yang meringis kesakitan. Sedetik kemudian, Sall segera melepas cengkeraman tangannya yang ternyata sudah berhasil meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangan Sanchia.


"Sweetheart.."


Sall melihat pergelangan tangan Sanchia yang memerah itu dengan tatapan bersalah. Sall sama sekali tidak menyangka kalau yang menyentuh dahinya adalah Sanchia. Biasanya Sall sangat mengenali wangi parfum Sanchia, bahkan bisa dengan mudah menyadari kedatangan Sanchia. Namun tidur lelapnya, membuat Sall terlambat menyadari kehadiran Sanchia, sehingga refleks menyerang siapa yang menyentuhnya.


Sall memegang lembut tangan Sanchia dan meniupi pergelangan tangan Sanchia yang memerah karena ulahnya.


"Maafkan aku Sweetheart, aku kira bukan dirimu yang datang. Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja."


Sanchia menatap dalam netra suaminya yang jernih, lalu matanya mulai berkaca-kaca sehingga membuat Sall bertambah panik. Sall menarik pelan tubuh Sanchia agar duduk di pangkuannya.


"Maafkan aku, karena kecerobohanku, pergelangan tanganmu jadi sakit begini. Aku punya obat khusus agar sakitnya cepat hilang."


Sall membuka laci di sebelah kanan meja kerjanya, dan mengambil sebuah botol kecil yang ada di dalam laci itu. Lalu dengan cekatan namun tetap dengan penuh kelembutan, Sall mengolesi pergelangan tangan Sanchia dengan obat berbentuk cream itu.


"Honey, apakah kamu sudah memaafkan kesalahanku?"


"Aku tidak pernah bisa marah terlalu lama padamu Sweetheart. Karena aku begitu mencintaimu. Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa aku begitu kecewa dengan sikapmu beberapa hari yang lalu, dan aku ingin kamu tidak mengulanginya lagi Sweetheart."


Sanchia mengangguk yakin, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sall dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sall.


"Aku janji tidak akan pernah menyembunyikan apapun lagi darimu. Dan akan memberitahumu pertama kali dibanding orang lain, dalam hal apapun."


Sall tersenyum senang seraya mengelus rambut Sanchia dengan perlahan.


"Kamu sudah berjanji Sweetheart, dan kamu tahu akibatnya, jika kamu berani mengingkarinya."


Sanchia mendongakkan kepalanya dan memandang ekspresi Sall yang terlihat begitu serius dan menakutkan. Sanchia memilih menganggukkan kembali kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


**************************


Sall terlihat menggandeng tangan Sanchia di pinggiran pantai. Wajahnya tak henti memandang wajah Sanchia yang dihiasi senyum manis, melihat keindahan yang tersaji dihadapannya. Entah ini bagian dari acara mengidam Sanchia atau bukan, tapi Sall langsung mengabulkan permintaan Sanchia yang ingin menikmati pemandangan pantai di sore hari, dan melihat banyak orang yang sedang berlibur menikmati pantai di musim semi.


Sall sebenarnya enggan sekali berjalan-jalan di bagian pantai yang ramai, namun keinginan Sanchia ibarat perintah yang tidak mungkin Sall tolak.


"Honey, ayo kita pulang, aku sudah puas berjalan-jalan. Sepertinya aku dan anak kita sudah lapar."


"Baiklah Sweetheart, ayo kita pulang."


Namun saat mereka baru saja melangkah kembali, sebuah teriakan menghentikan langkah mereka.


"Sanchia.."


Refleks Sanchia juga Sall menolehkan kepala mereka ke sumber suara, seketika mata Sanchia berbinar melihat seorang perempuan cantik dengan gaun santai bermotif floral terlihat menghampirinya.


"Hai Dhiany, apa kabar?"


Sall melepas pegangan tangannya, sehingga Sanchia lebih leluasa memeluk perempuan bernama Dhiany tersebut.


"Kabarku baik Sanchia. Apa yang kamu lakukan di Korea?"


Sanchia dan Dhiany saling melepas pelukan mereka, lalu Sanchia kembali menggenggam tangan Sall.


"Aku sedang berlibur disini Dhiany. Aku tidak menyangka kita bertemu disini, setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Oh iya kenalkan ini suamiku, Sall Sherwyn Knight."


Dhiany membulatkan matanya, saat menyadari siapa pria tampan yang berada dihadapannya itu.


"Oh My God.. Bukankah kamu arsitek terkenal sekaligus pengusaha properti sukses di Inggris?"


Dhiany mengulurkan tangannya yang lentik ke arah Sall, yang dibalas sekilas oleh Sall.


"Aku Dhiany Ratari Hamid, senang sekali berkenalan dengan anda."


Sall terlihat tidak senang, bahkan enggan menanggapi perkataan dan senyuman Dhiany, berbeda dengan Sanchia yang terlihat bahagia bertemu dengan sahabat masa SMA-nya itu.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight